
Setibanya Yun Yue dan Rubah kecil, mereka melihat pertengkaran antara Xiao dan Fenghuang yang sudah biasa terjadi. Juga Rouruan yang selalu memasang muka acuh tak acuh dan dingin.
"Hore!! Akhirnya aku menang! Fenghuang, sekarang kau harus menerima hukuman karena kau peringkat terakhir! Ayo ayo!" ucap Xiao yang tertawa senang karena Fenghuang selalu kalah darinya.
"Tidak mau! Kau saja yang menerima hukuman! Kau pikir aku tidak tahu apa?! Kau curang tadi!" ucap Fenghuang yang tidak mau mengaku kalah.
"Hei kalian! Apa kalian tidak bisa berhenti hah?! Tidak lihat aku di sini?! Apa kalian mau melanjutkannya?!" ucap Yun Yue dengan marah.
Saat dirinya datang malah melihat pertengkaran antara Xiao dan Fenghuang. Memang sudah biasa terjadi, dan Yun Yue juga sudah tidak tahu cara mengatasinya. Mungkin biarkan saja.
"Dan Rouruan, kenapa kau tidak menghentikan mereka?" tanya Yun Yue.
Rouruan terkejut saat mendengar namanya dipanggil. Dia bingung, kenapa harus dirinya? Rubah kecil hanya menjadi penonton dan memilih untuk diam.
Fenghuang dan Xiao kini sudah merasa terancam. Mereka menggigil ketakutan. Yun Yue dengan sebuah senyuman menakutkan langsung mendekat ke arah Xiao dan Fenghuang.
"Supaya kalian jera, kalian dihukum untuk membersihkan kolam ikan" ucap Yun Yue.
"Apa?!"
Fenghuang dan Xiao ingin menolak karena ikan ikan itu sangatlah jahil. Pernah mereka membersihkan kolam itu. Tapi ikan ikan itu malah menggigit mereka berdua.
"Rubah kecil, kau harus terbiasa. Kedepannya, kau akan sering melihat kejadian ini. Oh iya, apa kau sudah punya nama?" tanya Yun Yue.
"Belum" jawab Rubah kecil.
"Baiklah, aku akan memberimu nama. Namamu sekarang adalah...Fei! Bagaimana?" tanya Yun Yue menanyakan pendapat Rubah kecil.
"Terserah kau saja" jawab Fei.
"Sekarang kau bisa bermain dengan Rouruan. Aku pergi dulu!" ucap Yun Yue lalu keluar dari Ruang Dimensi.
__ADS_1
"Namamu Fei bukan?" tanya Rouruan.
"Iya" jawab Fei.
Rouruan menatap Fei lalu menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Fei ragu-ragu untuk duduk, lalu dia memberanikan diri untuk melangkah maju.
"Kemari, temani aku bermain. Apa kau bisa main mahjong?" tanya Rouruan pada Fei.
"Em...aku tidak yakin, tapi sepertinya aku bisa" ucap Fei ragu-ragu.
Setelah lama bermain, Fei selalu memenangkan permainan. Rouruan terkejut dan menatap Fei dengan tatapan tidak percaya.
'Apa?! Kita sudah bermain beberapa putaran dan dia selalu manang?! Bagaimana bisa aku kalah dengan spirit yang baru memainkan ini?! Astaga!! Tidak, mungkin ini hanya keberuntungannya saja(?)' batin Rouruan.
Beralih ke Yun Yue. Yun Yue yang telah keluar dari ruang dimensi berjalan keluar dari hutan itu. Tapi hutan itu masih saja diselimuti aura yang mencekam.
"Kenapa ini? Bukankah aku sudah mengontrak Fei? Kenapa hutan ini masih ada aura mencekam? Ini aneh" gumam Yun Yue bingung dan memilih untuk tidak memikirkannya lagi.
Sepasang mata merah yang sedang menatap tajam ke arah Yun Yue bersembunyi di semak-semak. Pandangannya selalu tertuju pada Yun Yue.
Sepasang mata itu masih menatapnya dengan penuh kebencian. Tumbuhan yang berada di sekitarnya layu. Dan juga hewan kecil di sekitarnya pingsan karena aura mencekam yang menyebar.
Hutan itu sekarang menjadi lebih menyeramkan, banyak tanaman yang layu dan hewan yang pingsan karena tidak kuat dengan aura mencekam itu. Hutan itu sekarang lebih mirip dengan hutan mati, mungkin lebih parah.
Yun Yue melewati sebuah pasar. Pasar itu lumayan ramai, bahkan sangat berisik karena penjual yang sedang menawarkan dagangannya pada para pembeli yang lewat.
Yun Yue melihat ada seorang penjual tanghulu, dia pun menghampirinya dan berniat untuk membeli tanghulu itu. Di sana lumayan sepi, hanya ada seorang anak kecil.
"Paman, berapa harga tanghulu ini?" tanya Yun Yue menujuk salah satu tanghulu yang ada di sana.
"Oh, ini. Harganya hanya 2 keping perak nona. Apa nona ingin membelinya?" jawab pedagang tanghulu itu.
__ADS_1
"Oh, tentu saja. Aku ingin membeli sepuluh tusuk!" ucap Yun Yue tersenyum senang seperti anak kecil.
Pedagang tanghulu itu terkejut. Dia seperti melihat seseorang yang sedang dia tunggu. Ya, walaupun jualannya agak sepi pembeli, tapi pedagang itu tetap bertahan karena seseorang.
Pedagang itu masih dalam mode terkejut. Yun Yue memanggil-manggil pedangbtahulu itu, tapi tidak ada respon apapun darinya. Yun Yue menjentikkan jarinya menyadarkan si pedagang tanghulu.
"Paman! Paman! Halo, apa paman baik-baik saja?" tanya Yun Yue.
"Ah, Qiu An. Paman baik-baik saja. Semua jadi 20 perak saja" jawab Paman itu yang membuat Yun Yue bingung karena dirinya dipanggil...'Qiu An'?
"Maaf Paman, tapi namaku bukan Qiu An. Sepertinya Paman salah mengenali orang" ucap Yun Yue.
"Ah oh, begitu rupanya. Sepertinya aku memang salah mengenali orang. Hahaha. Maaf ya. Gadis itu selalu membeli tanghulu padaku, tapi sejak hari itu, dia tidak pernah membeli tanghulu lagi. Aku juga sudah lama tidak melihatnya. Haih" jawab Paman itu tertawa canggung sambil menggaruk-garuk tenguknya yang sama sekali tidak gatal.
"Tidak apa-apa Paman. Memangnya tidak kabar apa pun mengenai dirinya? Dia tinggal di mana?" tanya Yun Yue yang penasaran dengan gadis bernama Qiu An itu.
Kalau dipikir-pikir, saat Yun Yue tersenyum, Nenek Zhou juga terkejut. Namun lebih tepatnya sedih. Terkejut bercampur dengan sedih. Nenek Zhou juga seperti memanggil 'Qiu An'.
"Oh, tempat tinggalnya di desa yang berada di dekat sini. Kalau tidak salah, nama desa itu adalah Desa Fangxi. Memangnya ada apa?" tanya pedagang itu.
Yun Yue terbelalak saat mendengar nama desa yang penjual itu sebutkan, Desa Fangxi! Bukankah itu desa yang ditinggali oleh Nenek Zhou dan yang kini Yun Yue tempati? Bagaimana bisa ini kebetulan?
"Oh, tidak apa-apa Paman. Hanya saja, aku pernah mendengar nama itu" jawab Yun Yue yang segera tersadar.
Yun Yue membayar tanghulu yang dibelinya tadi dengan 1 koin emas. Penjual itu terkejut. Harganya hanya 20 koin perak, tapi Yun Yue memberinya 1 koin emas?! Berapa banyak kembaliannya?!
"Uh, nona...maaf, tapi..." ucapan penjual itu terhenti dengan lambaian tangan Yun Yue.
Yun Yue pergi meninggalkan penjual itu sambil memakan tanghulu yang ada di tangannya dan melambaikan tangan pada penjual tanghulu.
"Haih, anak ini..." gumam penjual tanghulu menatap punggung Yun Yue yang semakin menjauh dan tidak terlihat lagi. Penjual tanghulu itu hanya mengusap wajahnya dan memasang ekspresi sedih
__ADS_1
Yun Yue yang sudah jauh dari pasar mengeluarkan jubah hitam dari dalam dimensinya dan mengenakannya.
...🍃🍃🍃...