
"Aku tidak peduli mereka punya hubungan atau tidak! Tapi dia tidak bersalah, kenapa kau harus melawannya?! Kau sungguh binatang rendahan!" ucap Rubah kecil itu dengan penuh emosi. "Apa katamu?! Binatang rendahan?! Kau pikir aku melakukan ini semua untuk siapa, hah?!" bentak Rubah Ekor Sembilan.
Rubah kecil itu menggigit bibir bawahnya. Dia sempat terbawa oleh ucapan Rubah Ekor Sembilan, namun Rubah kecil itu telah bertekad. Dia tidak akan membiarkan Rubah Ekor Sembilan melukai orang-orang yang tidak bersalah.
Petugas keamanan desa yang melihat banyak hewan yang lari dari hutan itu teralihkan. Mereka berpencar menjadi dua bagian. Yang satu untuk mengejar Qiu An, dan yang satunya lagi menjaga para hewan itu agar tidak merusak apapun.
Rubah Ekor Sembilan mengumpulkan energi dan membentuknya menjadi sebuah cakram lalu melemparnya dengan kuat. Cakram itu mengarah pada Rubah kecil itu. Rubah kecil itu terbelalak, namun dia tidak bisa menghindar atau cakram itu akan mengenai Qiu An.
Rubah kecil itu menutup matanya menunggu rasa sakit yang akan dia rasakan karena terkena cakram itu. Rubah Ekor Sembilan tertawa sambil menunggu cakram itu mengenai Rubah kecil itu.
Melihat hal itu, Qiu An langsung menghampiri Rubah kecil itu dan mendorongnya dari arah samping supaya tidak terkena cakram itu. Tubuhnya memeluk erat Rubah kecil itu.
Sayangnya, Qiu An tidak cukup cepat. Dia mendapat sebuah luka gores di lengan kirinya karena melindungi Rubah kecil itu. Rubah kecil itu bingung karena dia tidak merasakan sakit apapun. Dia malah mendengar suara orang yang terdengar kesakitan.
Rubah kecil itu langsung membuka matanya dan melihat lengan Qiu An yang tergores akibat cakram itu. Cakram tadi berbalik dan mengarah ke Qiu An. Qiu An yang melihat cakram itu mendekat langsung bersiap dengan pedangnya dan membuat cakram itu terbelah-belah karena Qiu An langsung memotongnya secepat kilat.
Rubah kecil itu terkagum-kagum dengan kemampuan pedang Qiu An. Qiu An melihat jubah yang tadi dilemparnya berada dekatnya dan merobek jubah itu. Kain yang dia robek tadi ia gunakan untuk membalut luka yang ada di lengannya.
Qiu An mencoba untuk berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Tiba-tiba luka yang ada di lengannya terasa sangat sakit seperti menembus tulangnya. "Sial! Apa mungkin di cakram itu terdapat racun?! Sialan! Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya" gumam Qiu An yang terduduk sambil menggertakkan giginya.
__ADS_1
"Hahaha! Bagaimana? Sakit bukan? Hahaha" ucap Rubah Ekor Sembilan dengan tawa yang menggelegar. "Heh, tidak aku sangka, kau bahkan tega melumuri cakram itu menggunakan racun untuk membunuh bangsamu sendiri?" ucap Qiu An tertawa meremehkan.
Rubah Ekor Sembilan menjadi sangat marah karena ucapan Qiu An. "Bangsaku? Memangnya aku sejenis dengan Rubah kecil yang lemah ini?! Hah, bahkan aku tidak rela disamakan dengan mereka yang lemah ini!" ucap Rubah Ekor Sembilan yang merasa seperti sedang dihina.
Rubah kecil tadi merasa sangat marah. Emosinya menyelimuti dirinya. Namun, dia mengesampingkan hal itu. Dia lebih memilih untuk membantu Qiu An untuk mengeluarkan racun.
Tanpa pikir panjang, Rubah kecil itu membuka kain yang membalut luka lengan Qiu An. Dengan tenaga dalamnya yang tidak banyak, dia mencoba untuk mengeluarkan racun yang ada pada luka lengan Qiu An.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Qiu An melihat Rubah kecil itu membuka kain yang membalut lukanya dan menempelkan tangannya pada luka itu. "Apa yang aku lakukan? Tentu saja aku sedang membantumu. Kau sudah menghalangi cakram itu dari melukaiku, maka aku hanya membalas kebaikanmu saja" jawab Rubah kecil itu yang masih fokus pada luka Qiu An.
Perlahan-lahan sebuah cairan hitam keluar dari luka di lengan Qiu An. Rubah kecil itu masih terfokus untuk mengeluarkan racunnya karena racun di lengan Qiu An belum sepenuhnya keluar.
Dia mencoba menghancurkan pelindung yang dibuat oleh Qiu An, namun pelindung itu begitu kuat, butuh waktu baginya untuk dapat menghancurkannya.
Racun di luka Qiu An sebagian besar telah dikeluarkan, hal itu tidak akan lagi mengganggunya. Rubah kecil itu ambruk seketika setelah selesai mengeluarkan sebagian besar racunnya. Dia sangat lelah dan tidak mempunyai tenaga lagi.
Qiu An telah bersiap untuk menghadapi Rubah Ekor Sembilan. Dia mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat menuju ke sini. Qiu An langsung membuat sebuah pelindung supaya tidak ada lagi yang mengganggunya.
Dia juga melempar Rubah kecil ke bagian luar pelindung, hal itu bertujuan untuk keselamatan Rubah kecil. Qiu An mencolek darah di lukanya menggunakan telunjuknya dan menggambar sebuah segel di tangannya.
__ADS_1
Dia menatap Rubah Ekor Sembilan beberapa detik dan kembali terfokus untuk membuat segel. 'Jika cara apapun tidak bisa mengalahkannya, maka cara ini bisa menahannya dari berbuat kerusakan yang parah. Setidaknya mereka bisa menanganinya saat aku menghilang' batin Qiu An.
"Langit dan Bumi, kurung kekuatan makhluk jahat ini dalam tubuhku!" ucap Qiu An lalu membentuk segel yang mengurung Rubah Ekor Sembilan. Rubah Ekor Sembilan menjadi panik. Dia mencoba keluar dari segel yang mengikatnya, tapi tidak bisa.
Tidak peduli sekeras apapun dia mencoba, dirinya tidak bisa terlepas. "Segel ini...! I-ini tidak mungkin!" ucap Rubah Ekor Sembilan panik. Dia menatap tajam Qiu An. Rubah Ekor Sembilan marah dan meronta-ronta, namun segelnya malah mengikatnya semakin kuat.
Qiu An terlihat kesulitan karena harus menahan Rubah Ekor Sembilan. "Segel!" Qiu An menyerap keluar semua kekuatan Rubah Ekor Sembilan. "Tidaaak!!!" teriak Rubah Ekor Sembilan. Kini tubuhnya semakin kecil seiring kekuatannya terus diserap.
Kekuatannya kini telah tersegel di tubuh Qiu An. Karena kekuatan Rubah Ekor Sembilan terlalu besar, tubuhnya tidak sanggup untuk menerimanya dan batuk darah. Namun dirinya tidak mempedulikan hal itu.
Rubah Ekor Sembilan yang telah sepenuhnya tersegel di tubuh Qiu An pingsan. Qiu An juga ambruk, dia tersenyum tipis menatap para Penjaga Desa yang melihat kejadian tadi.
Qiu An dapat melihat ekspresi panik dari para Penjaga Desa. Matanya berkaca-kaca dan air mata pun mulai menetes karena tidak mampu terbendung lagi. "Kalian...tolong jaga desa dan Nenekku" pintanya pada para Penjaga Desa.
Pelindung yang dia buat menghilang dan memudah para Penjaga Desa untuk mendekat. Namun, sebelum mereka sempat untuk membawa Qiu An, tubuhnya perlahan menghilang. "Maaf, Nenek" gumamnya sembari memejamkan matanya dan membiarkan air matanya mengalir deras.
Flashback End
Fiuh...akhirnya kelar juga flashback nya🤧
__ADS_1