
Setelah lama berjalan, Yun Yue telah sampai di gerbang yang bertuliskan "Desa Fangxi". Yun Yue berdiam di tempatnya untuk sementara dengan satu tusuk tanghulu yang tersisa di tangannya.
9 tusuk lainnya sudah habis dimakan di perjalanan menuju Desa Fangxi. Yun Yue memakan tanghulu di tangannya yang tinggal tersisa satu tusuk itu.
Jubah hitam yang dia kenakan terkena angin yang berhembus bercampur dengan debu. Yun Yue menutup matanya untuk menikmati keheningan di sana.
Yun Yue membuka matanya dan berjalan masuk ke Desa Fangxi. Kini tujuannya hanya satu, pergi ke rumah Nenek Zhou. Mungkin Nenek Zhou khawatir.
Sepanjang perjalanan, orang-orang melihatnya aneh. Pakaian yang dikenakan Yun Yue berasal dari zaman modern, tentu saja membuat orang zaman kuno terheran-heran, sekaligus kagum.
Yun Yue telah sampai di depan rumah Nenek Zhou. Diamengetok pintu rumah Nenek Zhou tiga kali. Terdengar suara Nenek Zhou yang berbicara dari dalam.
"Sebentar!" ucap Nenek Zhou dari dalam. Nenek Zhou membuka pintu dan melihat Yun Yue yang kembali dengan selamat tanpa ada luka sedikitpun.
Nenek Zhou tersenyum lega dan langsung memeluk Yun Yue. "Syukurlah, kau baik baik saja, Yun Yue" ucap Nenek Zhou sambil mengelus rambut Yun Yue.
"Iya, tentu saja. Aku pasti kembali, kau tidak perlu khawatir padaku, Nenek Zhou" ucap Yun Yue membalas pelukan Nenek Zhou. Sadar dironya memeluk Yun Yue terlalu lama, dia melepas pelukannya.
Nenek Zhou tertawa canggung dan mempersilahkan Yun Yue untuk masuk. "Hahaha, maaf ya, Aku memelukmu terlalu lama tadi. Ayo masuk. Aku membuat beberapa hidangan untukmu, aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti" ucapnya.
Yun Yue sebenarnya tidak memerlukan pakaian, karena tentunya di ruang dimensi sudah ada. Tapi, dia juga tidak enak pada Nenek Zhou yang sudah menyiapkan itu untuknya, akhirnya dia pun menerimanya. "Terima kasih" ucapnya sembari tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Seorang gadis yang kebetulan melihat Yun Yue masuk ke dalam rumah Nenek Zhou langsung terbelalak kaget. Matanya membat seakan tidak percaya. "Apa yang baru saja aku lihat?! Bukankah itu adalah Qiu An?! Tapi...bukankankah dia sudah mati? Mungkin saja sebenarnya dia tidak mati! Aku harus memberitahu orang-orang desa mengenai hal ini!" pekik gadis itu bersemangat dan berlari kecil.
Yun Yue meminta izin dulu untuk mandi di rumah Nenek Zhou. Jika dia mandi di ruang dimensi, pastinya akan selesai cepat. Dan juga, pastinya itu tidak masuk akal untuk orang yang tidak mengetahui mengenai ruang dimensi Yun Yue!
Oleh sebab itu, Yun Yue mandi di rumah Nenek Zhou. Yun Yue masuk ke dalam pemandian, menikmati dinginnya air di bathub untuk sekedar menghilangkan penat di tubuhnya.
Di bathub itu berisi air yang dicampur dengan bunga lavender. Wanginya lumayan. Yun Yue menyudahi mandinya dan berjalan menuju kamarnya dengan kain putih seoerti handuk yang menutupi tubuhnya.
Di sana sudah tersedia hanfu berwarna coklat muda yang menawan, dan juga ada tusuk konde yang juga berwarna coklat muda. Itu akan sangat cocok.
Yun Yue mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum mengenakan hanfu. Yun Yue mengenakan hanfu yang lumayan rumit itu. Dia sudah lumayan mengerti cara memakai pakaian itu saat dirinya masih menjari Yui.
Dia memlerhatikan bagaimana Yin memakaikan hanfu tersebut dengan teliti. Dia juga menggunakan tusuk konde yang berada di meja rias.
Yun Yue mengedipkan matanya berkali kali dan mengusap-usapnya. Dan bayangan itu menghilang. Dia merasa aneh, tapi dirinya tidak memusingkan hal tersebut dan menemani Nenek Zhou untuk makan.
Nenek Zhou menepuk-nepuk kursi di sebelahnya menyuruhnya untuk duduk di situ. "Duduklah," ucapnya. Yun Yue menuruti permintaan Nenek Zhou.
Dia duduk di kursi di depan Nenek Zhou dan mulai memakan masakan dari Nenek Zhou. Mata Yun Yue terbelalak, dia tidak percaya dengan rasa di lidahnya. "Wah, enak sekali masakanmu, Nenek Zhou!" ucap Yun Yue yang mengunyah makan di mulutnya dengan mata berbinar-binar.
"Hehehe, benarkah? Jangan berbohong padaku, katakan saja dengan jujur kalau masakanku tidak enak" jawab Nenek Zhou merendah.
__ADS_1
"Tidak, Nenek Zhou! Ini benar-benar enak sekali! Bahkan, aku belum pernah merasakan masakan seenak ini!" bantah Yun Yue dengan ucapan Nenek Zhou.
Nenek Zhou hanya menanggapi perkataan Yun Yue dengan sebuah senyuman. Namun, pada senyuman itu terlihat tatapan sendu. 'Qiu An, mengapa ada orang yang mirip sekali denganmu? Aku sudah mencoba mengikhlaskan kepergianmu, tapi kenaoa setiap meligat gadis ini, kau selalu ada di mataku?' batin Nenek Zhou yang hatinya merasa seperti teriris-iris.
Sedangkan di tempat gadis tadi, gadis itu sedang berada di sebuah kedai mi. Tentunya dia sedang menyebarkan berita mengenai Qiu An.
"Paman, apa kau tahu yang baru saja aku lihat?! Aku melihat Qiu An! Dia tadi sedang berada di rumah Nenek Zhou!" ucap gadis itu setengah berbisik. Bisa terlihat kalau gadis itu sangat senang.
Paman yang tadi diajak bicara oleh gadis itu terbelalak. Dia yang sedang menyiapkan mi untuk pelanggannya, dalam sekejap tangannya berhenti. Paman itu sedang mencerna apa yang dikatakan gadis itu.
"Lian Xin! Jaga ucapanmu! Kau kirabaku bisa dibohongi olehmu?! Terakhir kali kau mengatakan hal itu, tapi ternyata hanya belakannya saja mirip! Sudahlah!" teriak Paman itu dengan berbisik supaya para pelanggannya tidak terkejut dan merasa tidak nyaman dengan teriakannya.
"Paman, aku tidak bercanda! Aku serius! Jika tidak percaya, lihat saja di rumah Nenek Zhou! Kau bisa lihat aku berbohong atau tidak, Paman!" ucap gadis yang bernama Lian Xin berbisik, takut dirinya menggangu.
Paman itu tidak lagi berbicara, dia kembali melanjutkan membuat mi pesanan pelanggannya dan mengabaikan Lian Xin. Lian Xin mengerucutkan bibirnya kesal karena paman itu tidak percaya dan berjalan pergi dengan menghentakkan kakinya dengan kuat ke tanah.
"Ayah, apa yang Lian Xin katakan pada Ayah?" tanya seorang pria yang memakai celemek membawa beberapa mangkuk mi di nampan yang ada di tangannya.
"Tai'er, kau tidak perlu menanyakannya. Sudah jelas kalau Lian Xin itu sedang membual mengenai Qiu An. Haih, anak itu sepertinya tidak punya pekerjaan lain selain membual mengenai Qiu An" ucap Paman itu pada anaknya.
Pria yang dipanggil Tai'er itu hanya terdiam mendengar jawaban dari Ayahnya. Dia tersadar dari lamunannya dan berjalan menuju meja salah satu pelanggan dan meletakkan mangkuk itu di meja. "Selamat menikmati" ucap Tai'er ramah sambil membungkuk dan pergi meninggalkan dua orang yang duduk di meja itu.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...