
Xu Jing yang wajahnya dihiasi oleh bulir-bulir keringat dengan ekspresi wajah yang ketakutan, namun dia berusaha untuk menutupinya.
"S-siapa kau? Apa yang ingin kau lakukan padaku, hah?! Kau jangan berani untuk mendekat satu langkah lagi, atau aku akan mengadukan mu pada kakekku! Dia adalah Kepala Desa di sini" ucap Xu Jing dengan nada gemetar dan sedikit terbata-bata. Dia menggunakan ekspresi mengancam berharap Yun Yue akan takut.
Yun Yue tidak mendengarkan ocehan tidak berguna dari Xu Jing dan mengangkat tubuh bocah itu dengan energi spiritualnya. Xu Jing yang merasakan kalau kakinya tidak lagi menapak di tanah menjatuhkan pandangannya ke bawah dan melihat dirinya yang tengah mengambang di udara.
"Apa yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!" pekik Xu Jing meronta-ronta minta diturunkan, namun usahanya hanya sia-sia saja.
"Baiklah, sesuai permintaanmu" ucap Yun Yue berhenti menyalurkan energi spiritualnya. Xu Jing yang masih mengambang di udara pun langsung terjatuh.
"Aaaaaakh!" 'Bruk' "Aduh" Xu Jing mengerang keras karena terjatuh cukup keras. Dia berusaha untuk berdiri walaupun badannya merasakan sakit karena terjatuh tadi.
Warga yang melihat itu pun sangat terkejut. Bisa-bisanya Yun Yue berani melakukan hal itu pada cucu Kepala Desa! Namun, Yun Yue tidak akan mempedulikan hal itu.
"Apa dia sudah gila?.Itu mencari mati namanya!"
"Wow, dia sangat berani! Aku saja takut"
"Habislah sudah gadis itu jika Kepala Desa mendengar ini"
"Oh, bukankah kau menyuruhku untuk menurunkan mu? Kenapa kau malah marah? Cucu Kepala Desa yang terhormat" ucap Yun Yue menekankan kata yang tercetak tebal.
"Kau–!" Xu Jing menunjuk ke arah Yun Yue dengan ekspresi marah karena merasa terhina. Sedangkan yang ditunjuk hanya bersikap santai, namun pandangannya dingin.
"Apa?" Yun Yue memberikan pandangan dingin yang membuat semua yang melihatnya bergidik ngeri.
Seorang pria yang sedari tadi terus memperhatikan mereka dalam sekejap menghilang dari tempatnya berada seperti tidak pernah ada di sana. Tidak ada yang menyadari keberadaannya maupun kepergiannya.
***
Di rumah Kepala Desa, ruang kerja Kepala Desa. Pria yang tadi berada di tengah keramaian secara tiba-tiba muncul di depan Kepala Desa.
__ADS_1
Kepala Desa sama sekali tidak terkejut karena bawahannya sudah terbiasa seperti itu. "Ada apa, Chen?" tanya Kepala Desa tanpa melihat ke arah bawahannya.
"Tuan, Tuan Muda kembali berulah di dekat pohon besar, namun tadi ada seorang gadis yang menghentikan Tuan Muda dan memberinya pelajaran" ucapnya memberi laporan dengan berlutut.
"Xu Jing membuat ulah lagi? Aku ingin lihat siapa yang berani memberi pelajaran pada cucu sang Kepala Desa" ucap Kepala Desa bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari meja untuk keluar dari ruang kerjanya.
Chen menatap ekspresi wajah Kepala Desa, namun itu tak sesuai bayangannya. Chen mengira Kepala Desa akan marah setelah mendengar hal ini darinya, namun ekspresinya seperti tertarik dengan sesuatu.
'Apa ini masih Kepala Desa yang kukenal?' gumam Chen dalam hati.
"Apa yang kau lakukan, Chen? Apa kau akan terus berdiam diri dan berlutut di sana sampai lutut mu patah?" ucap Kepala Desa menoleh ke belakang dan melihat bawahannya hanya berdiam dan tidak mengikutinya.
"Maafkan aku, tuan" ucap Chen membungkuk untuk meminta maaf lalu menyusul tuannya menuju pohon besar.
***
Xu Jing gemetar saat matanya bertemu dengan mata dingin Yun Yue. 'Siapa dia? Kenapa aku gemetaran begini?' batinnya dalam hati sambil mencengkram tangan kirinya yang gemetaran.
'Kakek?! Hahaha, habislah kau!' wajah Xu Jing berubah dari takut menjadi kegirangan dan menatap Yun Yue dengan tersenyum sinis.
"Tuan, inilah gadis yang saya maksud" ucap Chen sembari melihat ke arah Yun Yue sekilas.
Kepala Desa memperhatikan Yun Yue dengan seksama dengan ekspresi tertarik. Lalu, pandangannya jatuh pada cucunya yang tengah terduduk dengan tangan gemetaran.
"Aku kira siapa yang berani memberi cucuku pelajaran, ternyata hanya seorang gadis" ucap Kepala Desa dengan tersenyum.
"Kakek, tolong aku, dia menindas aku!" ucap Xu Jing menunjuk Yun Yue. Yun Yue hanya memasang ekspresi datar tanpa ada ketakutan sekalipun.
'Habislah kau kali ini! Siapa suruh kau melawanku, Xu Jing!' batin Xu Jing dengan ekspresi gembira mengira Kakeknya akan menghukum Kakeknya, namun Kakeknya hanya terdiam.
"Kakek?" panggil Xu Jing.
__ADS_1
"Diam! Beraninya kau membuat rusuh?! Untuk sebelumnya, aku hanya terus membiarkanmu saja, tapi sekarang, aku tidak akan bersikap lunak lagi!" ucap Kepala Desa dengan ekspresi marah.
"Kakek, tapi–" sebelum ucapannya terselesaikan, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipinya.
Xu Jing memegang pipinya yang terasa panas dan berdenyut karena tamparan dari sang Kakek. Dia melihat ke arah Kakeknya yang terlihat seperti tidak peduli padanya.
"Sekarang, pulang dan tulis 'Aku minta maaf, aku menyesal' sebanyak 1000 kali!" perintah Kepala Desa dengan tegas.
Xu Jing yang ingin menolak segera mengurungkan niatnya. Jika dia membantah, hukumannya pasti akan bertambah.
"Baik, Kakek" Xu Jing berjalan dengan lemas menuju rumahnya. Dia menggertakkan giginya untuk menahan kekesalannya. 'Awas saja nanti!'
Yun Yue tersenyum puas melihat drama tadi. Sebenarnya, menurutnya hukuman itu masih terlalu ringan. Mengingat semua orang sedikit takut padanya, membuatnya tahu kalau Xu Jing sering menindas.
Yun Yue berjalan ke arah Yu Nan dan berhenti tepat di hadapan Yun Nan. Dia mengambil sebuah obat salep untuk pergelangan tangan Yu Nan yang terluka karena cengkraman dari Xu Jing.
Dia melempat obat salep itu dan langsung ditangkap oleh Yu Nan. "Gunakan itu untuk mengobati luka, dijamin akan cepat sembuh dan tidak akan meninggalkan bekas apapun" ucap Yun Yue berjalan pergi untuk melanjutkan memantau.
"Tunggu!" ucap Kepala Desa menghentikan langkah Yun Yue.
Yun Yue menoleh ke belakang untuk melihat Kepala Desa yang memanggilnya. "Oh?" Kepala Desa hampir ingin menyebutkan nama Qiu An,namun dia sadar di hadapannya bukanlah gadis yang dia maksud.
"Nona sangat mirip dengannya" ucap Kepala Desa. Yun Yue hanya terdiam sebentar. Pandangannya lurus ke depan sebelum dirinya menoleh ke belakang.
"Aku sudah sering mendengarnya" ucap Yun Yue berhenti menoleh ke belakang dan melompat ke atas pohon.
Kepala Desa hanya bisa terbengong melihat seorang gadis yang mudahnya berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya. 'Sungguh persis' batinnya.
Yun Yue merasa risih karena memakai hanfu yang membuatnya susah untuk bergerak bebas. Pergerakannya menjadi terbatas dan kecepatannya menjadi melambat.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1