
Luka-luka Suci khususnya yang di wajah, benar-benar fatal. Binar sampai tak tega melihatnya. Binar hanya mengabarkannya kepada sang mamah yang kepo dan menyaksikan perawatan kepada Suci, secara langsung.
“Lihat Mbak Suci, ... wajah Ibu juga hasil perawatan rutin Sundari. Kalau lagi musim libur dan anaknya di rumah gini asli enak. Tia hari ada yang bantu rawat wajah. Bismillah, Mbak Suci juga cocok. Biar glow up apa, apa, bahasanya Dek? Hahaha, maafin Mamah yang enggak secerdas kamu karena pas sekolah, otak Mamah transmigrasi ke dunia lain!” Ibu Septi tersenyum pasrah.
Sundari yang menggunakan perlengkapan khusus, tak hanya sarung tangan dan masker, refleks menahan senyum. “Enggak usah minta maaf, Mah. Aku bisa sampai di titik ini juga berkat didikan, kasih sayang, termasuk cinta dan doa dari Mamah yang enggak pernah putus!” lembutnya.
“Masya Alloh, kelak semoga Binar bisa seperti mbak Sundari! Amin!” batin Suci. Orang tua mana yang tidak terenyuh mendengar jawaban Sundari barusan? Tentu, Suci yang sama-sama orang tua dan sampai mendengarnya, juga ikut merasa bangga.
Menyadari Binar begitu serius mengawasi setiap kinerja Sundari, Suci refleks tersenyum. “Sepertinya Binar mulai tertarik pada hal-hal keren yang dirasanya bisa membanggakan orang tua,” pikir Suci.
“Mbak Suci, setelah ini Mbak tetap perawatan rutin ke aku, ya. Selagi aku belum ke Yogyakarta, bismillah jadi Mbak Suci yang makin cantik. Terus, Mbak juga enggak usah mikirin biaya atau apa pun itu. Buat Mbak, saya kasih gra*tis. Mohon doanya saja semoga saya tetap dikasih kesehatan biar saya bisa tetap membantu sesama,” ucap Sundari masih serius memoles lotion di wajah Suci dengan sangat hati-hati.
Luka-luka di wajah Suci sangat parah. Namun Suci berdalih, wanita itu telah memoles setiap lukanya dengan alko*hol agar cepat kering dan tak menimbulkan bau. Terlebih sebelum rujuk kemarin, Budi sampai mengatai jiji*k ke wajah Suci yang selain sudah ibaratnya ru*sak, juga berbau amis antara nanah yang bercampur dengan darah. Alasan tersebut pula yang membuat hati Sundari makin tergerak untuk secepatnya membuat Suci kembali cantik lagi, bahkan bila bisa berkali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Ditambah lagi, keputusan Suci memoles luka di wajahnya menggunakan alko*hol, justru membuat bekas lukanya jadi hitam, selain kulit wajah Suci yang makin sensit*if.
“Pokoknya mulai sekarang, kamu wajib mempercantik diri, ya, Ci. Kamu harus jadi wanita karier yang tetap cantik sekaligus elegan. Enggak usah mau disuruh-suruh suami sama mertua kamu. Kerjakan sebisanya saja, jangan sampai kamu terus-terusan kerja setengah mati! Apalagi kalau mereka tetap enggak bisa hargai kamu, jangan!” tegas ibu Septi wanti-wanti.
__ADS_1
“Sebenarnya wajah Mamah kenapa, sih? Kok ru*sak gitu banyak bekas lukanya?” tanya Binar.
Detik itu juga ketiga wanita di sana, langsung kebingungan. Terlebih tak beda dengan Suci, ibu Septi dan Sundari juga tipikal yang tak tega melibatkan anak kecil dalam kas*us layaknya yang Suci alami. Ditambah lagi, anak kecil seperti Binar itu pintar. Wajib ada bukti dan itu terjadi secara langsung.
“Pokoknya kalau enggak lihat secara langsung, saya enggak berani cerita, Bu. Namun kalau keadaannya sudah seperti sekarang, saya beneran pasrah dan enggak akan ada yang saya tutup-tutupi lagi. Pagi ini saja, Binar ngamuk gara-gara lihat Nurma meluk papahnya!” ucap Suci tak lama setelah Sepri yang ibu Septi undang untuk datang, membawa Binar pergi dari ruang praktik milik Sundari dan masih ada di rumah ibu Septi.
Ibu Septi mengangguk-angguk setuju. “Bener, sudah gitu saja apalagi kalau mereka nekat KDRT lagi, biar Binar lihat secara langsung kelakuan mereka tanpa harus bikin kamu cerita. Biar Binar yang menilai. Soalnya kalau kita yang cerita, takutnya Binar malah marah ke kita dikira kita memfitnah papahnya!”
“Pokoknya yah, Mbak. Mulai sekarang, Mbak Suci main cantik saja. Mbak enggak usah capek-capek lagi seperti sebelumnya. Sekarang Mbak cukup fokus ke kebahagiaan Mbak dan Binar. Syukur-syukur, dalam waktu dekat, Binar segera tahu dan kalian jadi bebas pergi dari sana,” lembut Sundari masih fokus melakukan perawatan wajah Suci.
“Mbak Sundari, ini maaf banget ya. Saya mau tanya mengenai pekerjaan mas Azzam. Soalnya kemarin Nurma mengaku bahwa dia bekerja di pabrik mas Azzam sebagI manajer! Kira-kira, Mbak bisa tolong memastikan ke mas Azzam, enggak? Soalnya takutnya Nurma ngaku-ngaku dan disalah gunakan. Kalau memang benar sih enggak apa-apa, berarti Nurma memang keren banget. Tapi kalau enggak, takutnya mas Azzam sampai dirugikan!” ucap Suci masih memejamkan kedua matanya.
“Kalau urusan pekerjaan, sebenarnya aku kurang tahi, Mbak. Namun andai aku tanya, pasti mas Azzam bakalan jawab,” ucap Sundari yang detik itu juga langsung menghentikan kinerjanya karena biar bagaimanapun, baginya apa yang Suci sampaikan mengenai pekerjaan Nurma memang masalah serius.
“Ya sudah, nanti langsung ditanyakan saja ke Jam-jam, Dek!” yakin ibu Septi.
__ADS_1
“Nanti gini saja, saya akan rekam dan bikin Nurma ngaku dia kerja di pabrik mas Azzam, biar saya punya bukti!” sergah Suci. Main cantik, ia sungguh akan melakukannya demi membuktikan semua omongan Nurma.
Di tempat berbeda, ada Nurma yang sedang dikerjai Ojan. Ojan yang sengaja datang untuk memastikan apakah Nurma kembali jadi tukang parkir, sengaja membawa petasan dan tak segan menyalakannya kemudian melemparnya ke Nurma, demi mengagetkan Nurma.
“Heh, wong (orang) gemb*lung (gil*a)!” kesal Nurma nyaris jantungan. Apalagi biar bagaimanapun, petasan yang Ojan lempar dan besarnya ada sejempol kakinya, meledak tepat di depan wajah Nurma. Cadar yang Nurma pakai untuk menyamar agar tidak ketahuan, sampai compang mirip kain rombong.
Hanya saja, Ojan yang sudah dikenal sebagai sosok kurang waras oleh masyarakat sekitar, hanya ditegur ala kadarnya, selain sebagian dari mereka yang malah refleks menertawakan Nurma. Ditambah lagi, petasan Ojan juga sampai membuat wajah Nurma gosong sebagian.
“Sudah Jan, sana pulang. Nanti kamu dicariin Sepri!” tegur pengunjung pria yang kebetulan sampai keluar dari dalam alfa untuk memastikan petasan yang meledak nyaris mengenai wajah Nurma.
“S-sepri? Kok namanya kayak enggak asing, ya?” batin Nurma yang jujur saja sudah takut lantaran ia mulai jadi pusat perhatian. Namun ia berharap, ia mendapat pembelaan dan bila perlu, belas kasihan dari orang-orang akibat ulah gil*a Ojan.
“Lah lagian dia tahu ada tulisan “parkir grati*s” malah narik parkir. Enggak mungkin juga kan, dia enggak bisa baca. Masa iya, otak sama mata sama-sama transmigrasi? Kan kasihan orang-orang yang datang. Iya kalau di dalam alfanya lama. Kalau cuma sebentar, dua ribu kan tetap lumayan!” ujar Ojan dan sudah langsung membuat pengunjung termasuk pekerja di dalam alfa, membenarkan keluhan Ojan. Ditambah lagi, mereka tidak kenal Nurma. Nurma bukan warga sana dan tak seharusya asal jadi tukang parkir.
Gara-gara Ojan juga Nurma terusir. Dan Nurma tak memiliki pilihan lain selain menerimanya. Ia menggunakan motor milik pak Munasir untuk pulang. Namun kenyataan tersebut juga membuat Nurma berniat menggunakan kehamilannya untuk bermalas-malasan.
__ADS_1
“Oke, aku bakalan main cantik, pakai kehamilanku!” batin Nurma tak lagi ragu untuk pulang lantaran ia memiliki kehamilannya sebagai alasan.