Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
92 : Hukuman yang Paling Cocok


__ADS_3

Sepri merasa sangat marah, jika sang istri masih saja dikait-kaitkan dengan Budi. Terlebih, sebisa mungkin Sepri menjaga mental Suci maupun Binar, tapi Budi dan segala ulahnya masih saja dilimpahkan kepada Suci bahkan Binar.


Layaknya kini, mendadak dimintai maaf dan mengetahui apa yang Budi lakukan kepada Nurma, Suci tak hanya tak bisa berkata-kata. Karena Suci yang terlalu syok juga refleks terduduk lemas. Puncaknya, dua jam berselang, Suci yang tengah di kamar mandi dan nyaris Sepri tinggal untuk menjenguk Rere, mendadak heboh mengabarkan bahwa wanita itu mengalami flek.


“Flek itu bagaimana? Bayinya, apa bagaimana?” tanya Sepri yang memang tidak tahu-menahu. Selama ini yang Sepri tahu hanya kerja, kerja, sekaligus cari uang. Benar-benar tidak lebih meski papah sambungnya seorang dokter dan orang-orang di sekitarnya sekaligus lingkungannya berkecimpung di dunia medis.


“Keluar darah kayak pas mens baru mau mulau atau mau beres mens, Yah!” jelas Suci yang terlalu parno. “Kalau kita habis campur enggak apa-apa, aku maklum, meski tetap wajib cek ke dokter. Ini kan, enggak sementara usia kandunganku sudah besar.”


“Ya sudah, ya sudah, ayo kita ke rumah sakit. Tapi Binar lagi tidur, ya.” Setelah diam sejenak, Sepri sengaja menitipkan Binar kepada Chole.


“Ya sudah, nanti kalau Binar sudah bangun, aku nyusul!” yakin Chole yang mengantar hingga teras depan rumahnya. “Hati-hati, ya. Nanti langsung kabari. Langsung masuk ke IGD saja, enggak usah nunggu antre. Ibu hamil biasanya lebih diutamain!” sergah Chole. Meski yakin Suci yang notabene seorang perawat sudah paham pada hal tersebut yaitu prosedur berobat, biasanya, yang namanya manusia, bisa langsung jadi mendadak tidak bisa berpikir bahkan mendadak tidak tahu apa-apa, jika keadaannya sedang kalut layaknya yang menimpa Suci.


“Mas, maaf, ya. Aku benar-benar minta maaf,” sesal Suci tak lama setelah Sepri menjalankan mobilnya.


Sepri yang fokus mengemudi berkata, “Iya, enggak apa-apa. Tapi tolong, kamu jangan sampai setre*s, takutnya makin enggak bagus buat kamu sama anak kita. Kasihan, baru enam bulan,” ucap Sepri.


“Bismilah, Mas,” ucap Suci sambil mendekap perutnya menggunakan kedua tangan.


“Jangan mikirin Budi lagi. Sudah, biarin saja dia!” tegas Sepri yang memang yakin, alasan Suci terlalu str*es dan sampai mengalami flek, memang gara-gara Budi.


“Urusan mbak Binar, nanti aku yang pelan-pelan ngobrol ke dia. Mbak Binar itu pintar, Ci. Andai pun tingkah bapaknya bikin sakit hati, dia pasti bisa saring sekaligus ambil hikmahnya,” lanjut Sepri. Namun, Suci yang tidak menjawab malah ia pergoki jadi berlinang air mata.

__ADS_1


Segera, Sepri menggunakan tangan kirinya untuk mengelus-elus perut Suci. “Enggak apa-apa. Mas sama Mamah pasti sehat.” Apa yang baru saja ia katakan, tak semata menyemangati sang istri maupun sang jabang bayi. Sebab ia juga sengaja menyemangati dirinya sendiri.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Suci diwajibkan bed rest sekaligus infus karena kondisi fisik Suci termasuk pikiran wanita itu tidak baik-baik saja. Namun andai di pemeriksaan esok semuanya baik-baik saja, Suci diperbolehkan pulang dan menjalani bed rest mandiri di rumah.


“Semangat, ya. Kamu kecapaian. Namun andai aku enggak ajak kamu, aku juga kepikiran. Belum lagi kita enggak tahu, sampai kapan kita di sini. Doanya sih, Rere cepat siuman dan semuanya baik-baik saja.” Sepri yang masih berkaca-kaca, menggenggam erat tangan kanan Suci yang tidak diinfus.


“Binar gimana, Yah?” tanya Suci.


“Tadi, Chole bilang masih tidur. Nanti kalau sudah bangun baru dikabari,” balas Sepri.


Tak lama kemudian, Suci mengawasi suasana sekitar. “Kalau dibawa ke sini. Rumah sakitnya lagi penuh, dan ini saja kita dapatnya kamar biasa. Kasihan juga kalau Binar nginep di sini,” ucap Suci yang juga jadi mengkhawatirkan Binar.


Malam makin larut dan duka tampak menyelimuti wajah ibu Sumarni. Wanita itu hanya ditemani seorang pria berpakaian batik lengan panjang. Ibu Sumarni terduduk lemas di depan ruang operasi.


“Namanya Budi, tapi kelakuannya innalilahi. Sudah tahu dia juga salah. Sudah tahu, istri dan anaknya harus operasi dan butuh dana secepatnya! Semoga kamu dapat hidayah, Bud. Bukan mati, tapi tersiksa seumur hidup. Mati enggak, hidup pun kesakitan!” batin ibu Sumarni.


Padahal di tempat berbeda, laki-laki yang ibu Sumarni sumpahi justru dalam keadaan terikat kedua tangan maupun kedua kakinya. Budi yang akhirnya tersadar mendapati dirinya ada di sebuah gudang kayu. Beberapa kusen ia dapati di sudut depan, tapi yang membuat Budi bertanya-tanya, kenapa dia sampai ada di sana?


Hal terakhir yang Budi ingat, dirinya akan minggat dari rumah sakit demi menghindari Nurma dan ibunya. Namun setelah itu ....


“Sudah bangun, kamu?” ucap suara berat sekaligus lirih khas suara dari pria tua dan terbilang tak asing di telinga Budi.

__ADS_1


Namun sebelum memastikan pemilik suara tersebut, Budi merasa ada yang aneh dengan kepalanya. Termasuk kedua alisnya yang polos. Sementara ketika ia melihat ke sekitar bawahnya, di sana banyak rambut dan Budi mengenalinya sebagai rambutnya, meski kini, suasana terbilang temaram.


“Kenapa? Bukan hanya kamu! Karena lont*e yang terbiasa kamu gaul*i juga mendapatkan balasan setimpal.”


Kali ini Budi makin yakin, suara pria tua itu merupakan suara pak Dipto, suami Hera dan tak lain bos mobil travel tempat Budi bernaung. Pak Dipto memang memiliki dua istri. Hera merupakan istri muda, sementara alasan Hera mau dengan pak Dipto tentu karena pria gempal dan perutnya mirip wanita hamil sembilan bulan itu kaya raya. Namun, Budi sungguh tidak menyangka, jika pak Dipto yang ia ketahui bucin akut kepada Hera, tega membotaki kepala Hera, selain wajah Hera yang juga sudah bab*ak belur. Di hadapannya, Hera tergeletak terlentang tak berdaya.


Definisi cantik tak ada lagi pada sosok Hera. Terlebih, alasan Hera yang tak berbus*ana dan semua pakaiannya terserak di sekitarnya, dikata oak Dipto karena Hera baru saja mendapatkan hukuman.


“Dia berani-beraninya main sama kamu, bahkan ternyata kalian sudah biasa senang-senang di belakangku, padahal kamu kacungku! Ya sudah, biar dia lebih puas, digil*ir sekalian sama belasan orang!” tegas pak Dipto benar-benar emosi.


Merinding, Budi bahkan jadi tak berani melihat Hera. Karena selain tak berbu*sana, Hera yang nyaris sekarat juga ia pergoki pendarahan. Padahal, Hera sedang hamil muda. Tubuh ramping dan hanya agak buncit di bagian perutnya itu, beberapa kali ia pergoki menggeliat gemetaran. Budi yakini, selain kesakitan, digi*lirnya Hera oleh belasan pria layaknya kabar dari pak Dipto, juga menjadi trauma tersendiri untuk Hera.


“Setelah ini kalian wajib menikah. Namun sebelum itu,” ucap pak Dipto sengaja menggantung ucapannya.


Tak lama kemudian, tubuh Budi dibopong oleh dua orang berpenampilan preman yang sempat meringkus kemudian menger*oyok Budi.


Di jalanan sekaligus suasana sekitar yang sangat sepi dan tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain mereka, tubuh Budi diletakan di depan gudang tempat Budi berada. Kemudian Budi yang yakin dirinya akan bernasib tak kalah tragis dari Hera mendapati mobil kijang hitam yang sempat membawanya dari rumah sakit.


Seperti yang kalian duga, Kedua kaki bahkan tubuh Budi digil*as berulang kali. Bahkan meski Budi sudah meronta-ronta kesakitan sekaligus meminta ampun.


“Ini hukuman buat tukang selingkuh seperti kalian. Biar mereka-mereka di luar sana jera. Apa-apaan, mau main-main kok dengan saya! Daripada dilaporkan ke polisi, lebih baik dibikin cac*at sekaligus trauma seumur hidup, biar kalian kapok! Terlebih yang namanya selingkuh ibarat penyakit yang susah sembuhnya. Ini beneran hukuman yang paling cocok buat kalian!” Pak Dipto menatap puas apa yang menimpa Budi sambil berkecak pinggang.

__ADS_1


__ADS_2