
Mendapatkan dukungan secara khusus dari kedua orang tuanya, Sepri sudah langsung merenung serius. Di sepertiga malam, ia yang jadi tidak bisa tidur sengaja bermunajat kepada Allah, agar niat baiknya direstui sekaligus dilancarkan.
Beres bermunajat sekaligus salat, Sepri yang tetap belum bisa tidur sengaja mengunjungi klinik. Lebih tepatnya, ia ingin memastikan keadaan Suci. Tampak di ruang pendaftaran, Suci bangun dengan hati-hati sambil menenteng sajadah, selain Suci yang juga masih memakai mukena. Binar ada di sana, ikut jaga dan tidur di kasur lantai.
Suci sudah langsung terkejut ketika memergoki Sepri ada di luar. Ia mengangguk sopan di tengah keheningan yang membersamai suasana temaram di sana.
Suci memang tidak sendiri karena di sana ada seorang satpam dan seorang perawat yang lain. Namun dari semuanya termasuk Binar, Suci menjadi satu-satunya yang terjaga. Sepri yang tak mau menunda-nunda niat baiknya, sengaja menghampiri.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?” lirih Suci dengan suara yang masih segar, tak ada tanda-tanda dirinya lelah bahkan sekadar ngantuk.
“Mbak Suci belum tidur?” tanya Sepri tapi yang ditanya langsung tersenyum masam kemudian menggeleng.
“Enggak ngantuk blas, Mas.”
“Habis ngopi, ya?” tebak Sepri masih dengan suara lirih dan memang tak mau mengusik yang sudah lelap di sana.
Suci menggeleng pelan. “Enggak juga, Mas. Enggak tahu, enggak ngantuk gini. Ya enggak apa-apa juga, sih. Soalnya dari tadi, pasien lansianya bentar-benar panggil. Yang jaga juga sedang sakit, soalnya!” Tak beda dengan Sepri, Suci juga berbisik-bisik.
“Kalau gitu ... Mbak mau mi rebus, apa mi goreng?” lanjut Sepri.
“M-maksudnya?” Suci sudah langsung kebingungan. Rasa gugup yang tiba-tiba menyelusup memasuki dadanya, membuat bagian di sana berdebar-debar. “Kok gini?” batin Suci mendadak bingung pada perasaan sekaligus keadaannya sendiri. “Enggak usah gugup lah, Ci ... Mas Sepri kan emang baik banget!” batinnya menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
“Dua-duanya saja kalau gitu, ya. Kebetulan mendadak lapar banget. Asal enggak ada Ojan, harusnya aman dan damai,” ucap Sepri, jujur sejujur-jujurnya.
Mendengar Ojan dan segala tingkah pria terlalu aktif itu hingga dikeluhkan oleh seorang Sepri, Suci refleks mesem. “Memangnya jam segini, Mas Ojan belum tidur juga, Mas Sepri?”
Sepri menghela napas kemudian menggeleng. “Malam ini dia nginep di rumah mas Aidan. Soalnya lusa, Akala adiknya mas Aidan yang paling bontot, nikah. Biasalah Ojan.”
Sekitar dua puluh menit kemudian, dua porsi nasi goreng, dua mi rebus, dua gelas teh hangat dan juga dua botol air mineral, Sepri bawa menghadap Suci.
“Ayo, Mbak. Makan!” ajak Sepri lirih karena sampai detik ini, orang-orang di sana masih sangat lelap.
Suci makin kebingungan padahal sebelumnya, ia sudah menyangka kejadian kini akan terjadi. Namun karena Sepri yang menunggu di bangku tunggu seberang sampai menatapnya dan tampak sengaja menunggu, Suci tidak memiliki pilihan lain selain menyusul Sepri.
“Saya cuci tangan dulu, yah, Mas,” izin Suci sengaja melakukannya di keran wastafel depan pintu masuk.
“Persis kata Ojan, aku dan Suci bagaikan buru*k rupa dan si beauty!” batin Sepri. Ia membiarkan Suci menyiapkan nasi goreng sekaligus mi rebusnya.
“Makan yang banyak yah, Mbak. Biar kamu enggak kelihatan kurus banget. Jangan lupa bahagia, sudah enggak usah mikir yang berat-berat lagi. Sekarang, Mbak cukup bahagia bersama Binar,” ucap Sepri.
Dinasehati layaknya kini, hati Suci langsung terenyuh. Namun dengan kedua mata yang sampai berkaca-kaca, ia membagi senyum terbaiknya kepada Sepri. “Iya, Mas. Memang seperti itu yang sekarang saya lakukan.”
Tanpa Sepri dan Suci ketahui, Binar yang terbangun dan sudah langsung menemukan mereka, juga langsung tersenyum semringah menatap kebersamaan Sepri dan Suci, dengan wajah berbinar-binar.
__ADS_1
Binar tersenyum manis menyaksikan kebersamaan Suci dan Sepri. Ia masih melongok dari tembok sekat ruang yang baru saja ia tinggalkan dengan ruang kebersamaan Sepri dan Suci. Keduanya tengah duduk di bangku tunggu yang menghadap taman sekaligus kolam ikan berukuran mungil.
“Wajib begitu, Mbak. Wajib bahagia, apalagi sekarang sudah enggak ada bahan pikiran. Budi dan Nurma saja bahagia di atas luka-luka Mbak dan Binar,” ucap Sepri.
“Iya, Mas. Pokoknya sekarang, aku beneran membebaskan pikiranku. Terlebih biar bagaimanapun, kebahagiaanku sangat berdampak ke kebahagiaan Binar,” balas Suci.
Mendengar itu, Sepri sudah langsung tersenyum lega sambil menatap Suci yang ada di sebelahnya. Kali ini, mereka benar-benar dekat melebihi seorang teman. Meski tak bisa Sepri pungkiri, dari dulu, dari lima tahun lalu, Suci menjadi satu-satunya wanita yang selalu bersikap baik kepadanya. Jadi, hubungan mereka benar-benar bukan baru dimulai. Karena sebenarnya, mereka sudah kenal dan terbilang agak dekat, dari awal Suci bekerja di sana.
Ketika Sepri tak sengaja mengedarkan tatapannya, pandangannya mendapati Binar, tapi bocah itu buru-buru menggeleng sambil menutup kedua matanya menggunakan kedua tangan.
Binar berangsur putar balik, dan Sepri yakin bocah itu akan pergi. Namun Sepri sengaja memanggilnya.
“Sini ... sini makan bareng mamah sama Om. Binar mau makan apa minum apa?” lembut Sepri.
Perhatian Sepri kepada Binar, benar-benar tak terbendung. Sepri sangat menyayangi Binar, layaknya kepada darah dagingnya sendiri. Kini Sepri sengaja menghampiri Binar, mengembannya dan membuatnya duduk di antara dirinya dan Suci.
“Binar mau makan apa? Mau martabak? Mau sate? Nanti pesan antar saja pakai hape,” sergah Sepri yang sudah duduk di sebelah Binar.
Suci yang sempat berdiri berangsur duduk. “Mas Sepri memang tipikal kaku, dia bahkan keras apalagi kalau sudah marah contohnya pas ke mas Budi. Tapi ini bukan menandakan dia kas*ar. Mas Sepri begitu karena dia sangat tanggung jawab. Jangankan kepada Binar yang penurut dan memang manis sekaligus pintar, ke mas Ojan saja, Mas Sepri urus banget,” batin Suci yang berangsur duduk di sebelah Binar.
“Binar mau martabak?” tawar Sepri dan Binar sudah langsung mengangguk. “Bentar, Binar mau martabak yang apa? Pilih sendiri, nih pegang hape Om.”
__ADS_1
Bukan hanya hati Binar yang perlahan luluh dengan perhatian Sepri. Karena dalam hatinya, Suci yang terenyuh juga sudah berulang kali berterima kasih tas perhatian Sepri yang makin deras semenjak Suci dan Binar keluar dari rumah Budi.
“Sehat-sehat terus kamu, yah, Mas. Orang baik sepertimu wajib bahagia!” batin Suci. Di sepertiga malam kali ini, untuk kali pertama, ia menyebut nama orang lain di doanya, selain Binar, Budi, dan juga sang ibu.