Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
34 : Tiga Ratus Juta


__ADS_3

“Sebentar ... foto dan video yang Binar lihat, maksudnya apa?” Budi menatap Suci penuh kejelasan di tengah emosinya yang meletup-letup lantaran ia juga baru mengetahui, ternyata justru Nurma yang memu*ku*li Binar!


“Pak Budi tidak usah berlaga bo*d*oh yah, Pak! Foto dan video apa lagi kalau bukan foto dan video sy*ur, saat kalian berhubungan s*e*k*s?! Ini juga yang bikin saya makin tidak terima. Sudah kalian menginjak-injak harga diri saya terlebih kalian yang baru menikah satu minggu saja, Nurma dengan bangga mengabarkan kehamilannya dan ternyata kalian hobi mengabadikan keg*ila*an kalian itu melalui foto dan video, sekarang kalian juga mer*usak mental anak saya melalui foto, video, dan juga KDRT!” Suci meledak-ledak. “Karenanya, saya mau dendam minimal tiga ratus juta dan harus dibayar paling lambat dalam jangka waktu tiga kali dua puluh empat jam dari sekarang!”


Yang Budi masalahkan bukanlah masalah denda. Yang sepenuhnya membuat Budi tak percaya, semata Nurma yang sampai memperlihatkan foto dan videonya dengan Nurma saat sedang berhubungan s*e*ks.


“Ini buktinya, ya. Hape Nurma, saya tidak asal bicara apalagi fitnah seperti yang Nurma!” tegas Suci sambi memamerkan ponsel Nurma yang layarnya sudah retak parah. Ia memberikannya kepada mas Aidan. “Ini biar jadi alat bukti Mas.”


“Nur ...?!” Saking emosinya, Budi sampai tidak bisa berkata-kata.


Panggilan geram dari Budi sudah langsung membuat Nurma panas dingin. Nurma kacau, dan Nurma sangat takut. Terlebih biar bagaimanapun Nurma sadar, Budi sangat menyayangi Binar. Alasan tersebut pula yang membuatnya nekat memfitnah Suci—mengatakan bahwa Suci yang memu*k*uli Binar.


“Tiga ratus juta ...?!” batin ibu Syamsiah benar-benar terkejut. Ia memandangi jemarinya yang kemudian ia hitung dalam hati. “Tiga ratus juta itu uang ... ngeriiiiii!”

__ADS_1


“Tiga ratus juta terlalu sedikit terlebih menyembuhkan luka mental, baik itu luka mental Mbak maupun luka mental Binar, butuh waktu seumur hidup, Mbak. Naikin saja jangan hanya tiga ratus juta!” ucap Sepri terdengar dingin bahkan di telinganya sendiri. Kenyataan tersebut terjadi karena ia terlalu muak sekaligus jiji*k berurusan dengan keluarga Budi.


“Tidak apa-apa, Mas. Tiga ratus juta asal sudah langsung terpenuhi dalam jangka waktu yang saya beri. Namun bukan berarti saya hanya akan diam menunggu. Karena sekarang, wajib ada jaminan. Surat tanah, surat kepemilikan kendaraan, surat kepemilikan apa pun. Urusan nantinya mau bagaimana, bisa menyusul. Baik mau ditebus dengan uang, atau dibiarkan dalam bentuk barang!” tegas Suci sengaja memisk*inkan Budi dan Nurma.


“Uang segitu terlalu sedikit. Ditutup pakai sawah saja beres. Mereka punya sawah, kan? Apalagi kepercayaan anak pertama wajib laki-laki kan berasa mirip keluarga berdarah biru!” ucap Sepri.


“Eh masa, Pri, darah mereka biru? Keren banget coba aku pengin lihat, Pri!” heboh Ojan dan sudah langsung dibungkam oleh Azzam.


“Darahnya biru Jam! Apalagi kalau darahnya sampai pink, aku koleksi deh si Budi!” yakin Ojan kepada Azzam yang sampai mendekapnya erat.


Kaget, dari semuanya ibu Syamsiah lah yang paling merasakannya. Ini sungguh mengenai kebenaran Nurma dan pekerjaan yang sempat ibu Syamsiah agung-agungkan. Malahan sampai detik ini, ibu Syamsiah masih menanti pembagian gaji mengingatkan ia telah diperlakukan bak pembantu di rumahnya sendiri demi sang menantu kesayangan yang nyatanya sumber kesi*alan di sana—Nurma.


“Jadi, kamu ... kamu bukan manager yang gajinya tembus sepuluh juta, belum lagi bonus-bonusnya, seperti yang kamu ceritakan, Nur?!” lemas ibu Syamsiah gemetaran saking syoknya. Karena dengan kata lain, perjuangannya menjadi bab*u di rumahnya sendiri!

__ADS_1


“Aduhhhhh ... kok b*o*m waktunya meledak barengan gini sih ... matilah aku ...!” Dalam hatinya, Nurma tak hentinya menjerit. Nurma bahkan refleks menangis meski tangisnya belum sampai disertai suara.


“Kenapa Nur? Kamu nangis karena kamu takut keboho*ngan kamu, akhirnya terbongkar, kan? Tangismu bukan karena kamu menyesal, kan? Sampai detik ini kamu lupa siapa aku dalam hidup kamu? Aku sudah menganggap kamu sebagai malaikat. Aku sudah menganggap kamu sebagai saudara sendiri. Apa yang aku beli aku bagi ke kamu, aku sampai titip anak dan suamiku ke kamu karena aku diwajibkan bekerja buat bantu ekonomi keluargaku. Namun, kamu dengan tega menghancu*rkan keluarga kecilku. Kamu dengan tega mengha*ncu*rkan mentalku, bahkan kamu dengan tega menjadikan anakku sebagai kor*ban keegoisan kamu!” berlinang air mata Suci mengatakannya dengan suara bergetar.


Mas Aidan yang sadar makin lama mereka di sana akan berdampak fatal kepada Suci, sengaja mengajak aparat setempat termasuk pak Kades untuk meresmikan denda yang Suci minta.


“Tiga ratus juta kami dari mana? Sudah penjarakan saja si Nurma. Atau, jual saja ginj*al kamu, Nur! Pokoknya sepeser pun, saya enggak mau keluar ya!” ibu Syamsiah meronta-ronta. “Sudah penjarakan saja si Nurma apalagi ternyata dari SMA, kamu sudah enggak bener! Kamu per*usak anak-anakku. Pacaran dengan Budi sampai hamil, terus sengaja abor*si dan selingkuh dengan Bandi hanya karena Bandi sedang sukses-suksesnya!” Ibu Syamsiah tak segan menen*dang sekaligus memuku*li Nurma.


Suci yang sampai detik ini masih menenteng botol infusnya, justru makin muak dengan kenyataan yang baru ia ketahui. Ia pikir, Nurma dan Budi hanya mantan terindah. Namun ternyata keduanya sudah sempat nyaris memiliki anak andai Nurma tak sampai aborsi demi mengejar cinta Bandi? Bisa jadi, berhubungan se*ks memang sudah menjadi hal biasa untuk keduanya.


“Ya Allah, sesakit ini. Semoga Binar anak hamba dijauhkan dari sifat tak terpuji mereka!” batin Suci telanjur ji*jik pada kelakuan Nurma dan Budi.


Meski sempat terjadi keributan dari ibu Syamsiah yang tetap tidak terima dengan kelakuan Nurma yang bagi wanita itu telah menghan*curkan anak-anak sekaligus keluarganya, Budi sekeluarga tetap dipa*ksa memberi jaminan denda kepada Suci. Namun ternyata Budi sekeluarga tidak memiliki sawah layaknya warga setempat yang masih berstatus sebagai petani dan menjadikan sawah sebagai matapencaharian. Sebab usut punya usut, sawah keluarga Budi sudah dijual untuk modal biaya travel. Jadi, keempat mobil Budi yang masih tahap cicilan itu ibarat pengganti sawah sekaligus ladang penghasilan.

__ADS_1


Setelah dirundingkan, se*rtif*ikat rumah beserta pekarangan Budi menjadi jaminan de*nda kepada Suci. Dan dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam, andai Budi sekeluarga tak mampu memberikan uang utuh sebesar denda yang harusnya dibayar, rumah berikut pekarangan otomatis resmi menjadi milik Suci, sementara Budi sekeluarga harus angkat kaki.


__ADS_2