Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
59 : Memohon Restu Kepada Bapak Kandung Suci


__ADS_3

Rumah pak Kusno bapak kandung Suci, nyatanya tidak lebih baik dari rumah ibu Manis. Di sekitar rumahnya yang tidak seluas rumah ibu Manis, penuh dengan kandang ayam, termasuk itu yang sekadar kurung. Beberapa ayam jago bangkok tampak menjadi penghuni kandang maupun kurungannya.


“Mas, kayaknya bapakku masih suka ju*di deh.” Suci berbisik-bisik, ia bahkan tak berani melangkah lebih dulu dan memilih melangkah di belakang punggung Sepri. Tangan kanannya berpegangan pada ujung kemeja bagian punggung pria itu. “Sa*bung ayam kayaknya juga masih.”


“Kalau memang meresahkan, kandangin saja Mbak ke penjara. Bukan masalah atau malah durhaka. Maksudnya kan baik juga, biar bapak jadi lebih baik lagi. Dulu, bapak kandungku pun meski kakinya sudah diamputasi, kelakuannya tetap min*us. Tapi memang enggak semuanya berpikiran seperti aku sih yah, Mbak. Kalau aku kan, kalau memang enggak berguna, ya sudah lempar saja ke mana bagaimanapun caranya, asal dia jadi lebih baik. Namun andai dia masih berulah, ya mau gimana lagi, hatiku bukan hati yang bersih dan malah sengaja doain dia mati. Ketimbang hidup tapi cuma bikin orang lain susah sekaligus terluka, kan?” ucap Sepri berbisik-bisik. Ia sudah ada di depan pintu kayu bercat pudar.


“Ya Alloh, deg-degan banget!” batin Suci. Sebab memiliki bapak berperilaku jauh dari terpuji, benar-benar membuatnya malu. Apalagi jika ia harus mengenalkannya kepada keluarga calon suaminya. Andai wali nikah tidak harus bapak kandung, Suci memilih untuk menutup komunikasi dengan sang bapak yang dari ia kecil sudah sangat keji.


“Yang biayai kamu sekolah sampai jadi perawat, mutlak ibu?” tanya Sepri masih berbisik-bisik.


Suci yang refleks mengangguk-angguk, berkata, “Iya, Mas! Pas masih tinggal saja memang serba ibu. Apalagi setelah pisah. Datang ke rumah ya cuma buat minta uang. Kalah jud1 apa gimana lah. Banyak dramanya Mas. Jujur, meski aku sudah usia segini, aslinya aku malu banget sama kelakuan bapak. Tapi aku juga takut banget dan memang enggak berani. Pernah aku ngamu*k karena dulu, bapak masih suka ambil uang ibu, pas aku masih SMA. Eh, diamuk balik. Jadi, ibu yang enggak terima ... ya ribut, Mas. Pas itu ibu sengaja keluarin go*lok dan beneran mau bunuh bapak, semenjak itu bapak enggak pernah ke rumah lagi. Setahuku ya, enggak tahu setelah itu.


“Kalian siapa? Eh, kamu Suci, ya?” Suara berat seorang pria, terdengar dari belakang mereka.


Detik itu juga Suci terdiam. Takut sekaligus malu, menggebu-gebu jadi satu. Ia sampai panas dingin menahan semua itu, selain ia yang buru-buru kembali bersembunyi di belakang Sepri.


Pria gendut berkulit sawo matang dan perutnya seperti wanita hamil sembilan bulan di hadapan mereka memang pak Kusno. Pak Kusno hanya memakai kolor hitam, membiarkan perutnya yang sangat besar tak tertutup bahkan tak jarang dipatok ayam jago yang dibawanya.

__ADS_1


Dari wajahnya saja, pak Kusno memang sudah terlihat sangat galak. Pria berberewok tipis dan penuh uban itu juga sudah langsung menatap tajam Sepri maupun Suci.


“Assalamualaikum, Pak Kusno. Selamat sore, dan maaf mengganggu waktunya.” Sepri sengaja basa basi.


Pak Kusno hanya mengangguk tanpa balasan berarti. “Kamu bos padi yang rumahnya di klinik Suci kerja, ya?”


Dit*odong begitu, Sepri yang Suci minta untuk merahasiakan identitasnya sudah langsung bingung. “Memangnya kenapa, Pak?”


“P-pak ... maksud kedatangan kami ke sini untuk silaturahmi. Boleh, kami berbicara serius dengan, ... Bapak?” Suci memberanikan diri angkat suara dan terdengar gemetaran.


Pak Kusno sudah langsung menatap bengis Suci. “Memangnya sama Budi, kamu sudah cerai, kok sudah bawa gandengan baru?”


“Kata siapa? Buktinya, saya masih sehat. Saya bahagia, dan saya sangat menikmati hidup saya,” ucap pak Kusno sengaja menyombongkan diri. Sebab ia sungguh tidak percaya pada apa itu yang namanya azab, teguran, dan juga semacamnya dan sumbernya dari Tuhan.


“Pak, ini kami enggak disuruh masuk? Di rumah ada mamak?” tanya Suci masih takut setengah mati.


“Di rumah sudah enggak ada siapa-siapa. Semuanya sudah pada minggat, kabur enggak jelas!” balas pak Kusno.

__ADS_1


Sudah dipastikan, alasan istri dan anak-anak pak Kusno minggat karena mereka tidak tahan hidup bersama orang seperti pak Kusno. Hidup dengan pria kasar tak tahu aturan, dan selalu menganggap dirinya paling benar, siapa yang tahan?


Yang membuat Suci sekaligus Sepri tidak nyaman, tentu mengenai pak Kusno yang tak kunjung menyambut sekaligus memberikan sambutan baik kepada mereka.


Sepri segera menurunkan dua dus yang awalnya ia tenteng. Ia maju menghampiri pak Kusno, kemudian mengulurkan tangan kanannya sambil agak membungkuk sebagai wujud rasa santunnya. “Pak, mohon maaf. Maksud kedatangan kami ke sini, kami ingin meminta restu.”


Pak Kusno hanya menatap angkuh Sepri dan lebih memilih mendekap ayam jagonya.


Kesabaran Sepri benar-benar diuji, yang mana ia memilih mundur karena tak kunjung ditanggapi. “Saya dan Suci akan menikah, sekitar dua bulan lagi. Jadi, mohon doa restunya.” Ia menatap tegas pak Kusno yang jujur saja sudah sangat ingin membuatnya memb4nt*ing pria itu. Tak ada sedikit pun rasa sayang yang terpancar dari tatapan apalagi sikap pak Kusno kepada Suci. Pantas saja Suci tak mau membuat Binar mengenal pak Kusno.


“Bagaimana tanggapan Bapak?” sergah Sepri lagi dan kali ini sengaja memastikan.


“Enggak penting banget!” sinis pak Kusno yang memilih meninggalkan Sepri. Ia juga melewati Suci begitu saja dan malah menendang salah satu dus bawaan Suci.


“Pak, mohon restui kami!” mohon Suci walau menghadapi sang.bapak, memang membuatnya takut setengah mati. Ia sampai gemetaran hebat, dan baru agak baik-baik saja ketika tangan kanan Sepri yang telapak tangannya terasa sangat ka*sar, menggenggam tangan kirinya.


“Bapak maunya bagaimana?” tegas Sepri sebelum pak Kusno benar-benar masuk. Pintu yang baru pak Kusno buka justru jatuh, ru*ak parah.

__ADS_1


Bukan hanya Suci yang terkejut, sekelas Sepri saja kaget. Namun sekitar dua puluh menit kemudian, Sepri yang serba bisa sudah langsung membenarkan pintu rumah pak Kusno. Segala macam baut pintu diganti. Termasuk handle pintu yang awalnya hanya menggunakan kain lus*uh bekas pakaian. Suci membantu Sepri, tanpa bermaksud ikut membereskan isi rumah pak Kusno yang sangat berantakan.


Di rumah berdinding bilik rapuh tersebut, beberapa perabotan termasuk kursi, dalam keadaan terserak di lantai yang masih berupa tahan. Seolah memang baru ada perte*ngkaran besar, sementara t*a*i ayam ada di mana-mana. Suci sampai tak betah, mual. Karena rumah dan penghuninya sama saja.


__ADS_2