Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
80 : Kekhawatiran Anak yang Tak Sempurna


__ADS_3

“Y-yah ...?” ucap Suci yang awalnya tengah memasang seprai baru di tempat tidur utama.


Suci sudah langsung tersenyum lepas dan segera menghampiri Sepri, meski pria itu juga sampai mempercepat langkah hanya untuk segera sampai kepadanya. Tak beda dengannya, Sepri juga sudah langsung tersenyum semringah dan segera memeluknya. Pelukan yang makin lama makin erat hingga Suci bisa merasakan rasa cinta Sepri yang begitu besar kepadanya.


“Aku beneran hamil, Mas!” heboh Suci meski ia masih bersuara dengan lirih.


Sepri yang sampai membuat tubuh sang istri terangkat, berangsur mengangguk-angguk, terlepas dari dirinya yang belum ingin mengakhiri pelukan mereka. Jadi, walau Suci sudah berusaha menatapnya, istrinya itu tetap lebih tinggi darinya.


“Katakan padaku, Mamah pengin apa?” tanya Sepri.


Saking bahagianya karena Suci sudah langsung hamil, Sepri jadi tak bisa berkata-kata. Kendati demikian, pria itu juga jadi tidak bisa menyudahi senyumnya. Senyum yang juga mewakili sekaligus menjadi wujud dari kebahagiaannya. Padahal, kabar kehamilan Suci baru Sepri dengar dari sang mamah. Namun, rasanya semua itu begitu membahagiakan. Lebih tepatnya, pernikahannya dengan Suci membuatnya bertubi-tubi merasakan kebahagiaan.


Merengut manja, Suci berkata, “Yayah belum ucapin selamat!”


“M-makasih banyak, ya! Makasih karena kamu langsung hamil! Jadi, walau awalnya kebablasan, bismilah, memang berkah. Selamat juga karena bakalan punya momongan baru. Bisa jadi teman bahkan bestie lagi biar makin rame sama Binar!” ucap Sepri yang harus sangat berpikir keras hanya untuk mengatakannya. Karena sejauh ini, ia masih belum bisa berkata manis apalagi romantis layaknya orang kebanyakan. Bahkan ia mengakui, ia tetap kalah jauh dari Ojan.


Menyimak itu, senyum di wajah Suci jadi sangat tenang. “Adem banget dengar Yayah bilang begitu. Jarang-jarang kan, Yayah bicara manis dan itu lama!” ucapnya yang kemudian tersipu.


Mendengar itu, Sepri mengangguk-angguk pasrah dan perlahan menunduk sekaligus tersipu.

__ADS_1


“Oh iya, Binar mana Yah? Tadi kalian habis dari mana? Mamah pulang piket, kata mamah Septi, dari beres salat subuh kalian sudah pergi. Mas Ojan saja enggak diajak,” lanjut Suci yang perlahan minta diturunkan.


“Tadi habis jalan-jalan sekalian ke rumah temen buat beli belut. Mampir ke pasar beli cabe hijau, soalnya stok di kebun memang belum ada. Masih muda, eman-eman kalau dipetik sekarang,” ucap Sepri yang memang menurunkan Suci dengan hati-hati. Kendati demikian, Suci malah kembali merengkuh kedua lengannya.


“Belut sama cabe ijonya, buat dijual lagi apa ... ada yang ngidam?” lembut Suci yang sengaja menggo*da sang suami. Senyum jai*lnya sudah langsung membuat Sepri tersipu. Menandakan jika tebakan terakhirnya lah yang benar. Bahwa memang Sepri ingin makan apa yang baru saja dibeli, secara khusus.


“Dari kemarin pengin, tapi pesan belut lagi susah, dan pagi ini baru ada,” ucap Sepri.


“Ya ampun Pak Juragan kasihan banget. Ngidam dari kemarin-kemarin kok disuruh nunggu selama itu.” Suci yang masih jail kepada Sepri, jadi terkikik sendiri. Ia segera melanjutkan kesibukan sebelumnya yaitu mengganti setiap seprai di kasur mereka yang masih ada dua.


“Terus, ini kenapa mendadak diganti semua seprainya?” ujar Sepri yang juga menyusul Suci. Lebih tepatnya, ia membantu sang istri memasang semua itu.


“Pengin nginep di luar?” tanya Sepri yang sudah langsung menatap serius sang istri, tapi di hadapannya dan mereka dipisahkan oleh tempat tidur utama, Suci justru menahan tawa. “Ayo kalau mau. Ke mana? Asal pakai mobil harusnya aman.”


“Tapi aku penginnya nginep di rumah ibu dulu, Mas,” pinta Suci.


“Nginep di rumah ibu? Oke ... sampai besok malam juga boleh, mumpung Mamah masih libur!” yakin Sepri bersemangat.


“Ah, Binar-Binar ... Kak Ojan takut!” heboh Ojan. “Geliiiii!” Ia terus lari menghindari Binar yang sangat jago memegang sekaligus menangkap belut hanya untuk menakut-nakutinya.

__ADS_1


Kehebohan Ojan dan Binar di halaman belakang rumah dan memang ada di depan dapur, benar-benar membuat kebersamaan di sana hidup. Suci dan Sepri yang baru datang sudah langsung merasakan suasana kebahagiaan itu. Suci segera membantu sang ibu mertua masak, memotong setiap cabai hijau besar yang baru saja suaminya beli. Namun Sepri yang akan membakar belut tidak diizinkan oleh ibu Septi.


“Suci lagi hamil, jadi buat yang bunu*h membun*uh wajib dihindari ya. Ya meski sekadar urus ikan, ayam, dan sebagainya, mending mulai sekarang kalian terima jadi. Kalau potong sayur gini sih harusnya aman. Dan yang paling wajib kalian perhatikan, tolong jaga ucapan sekaligus sikap kalian. Jangan sampai, kalian seperti Mamah di masa lalu. Bismilah, sehat sampai dewasa dan enggak kekurangan apa pun,” ucap ibu Suci sambil mengelus-elus perut Suci. Karena jujur saja, kehamilan Suci yang sudah langsung membuatnya sangat bahagia juga dibarengi kekhawatiran bayi itu akan terlahir mengikuti Sepri.


“Bismillah, semuanya sehat enggak ada kekurangan apa pun. Dulu kan Mamah memang kurang kontrol. Pokoknya positif thinking saja, nanti semuanya pasti bantu jaga. Semua asupan, pola istirahat, olahraga, ... semuanya wajib diperhatikan. Semacam USG juga wajib rutin. Papah yakin, Mbak Suci paham apa yang Papah maksud,” ucap dokter Andri yang kebetulan baru datang. Setelah menepuk-nepuk bahu Suci dan ibu Septi secara bersamaan, ia segera pergi dari sana. Karena ia juga yang membakar setiap belut yang akan dimasak.


Sadar, kekhawatiran anak yang sedang dikandung terlahir tak sempurna tak hanya membuat ibu Septi galau karena Sepri juga langsung terlihat murung, Suci tak hanya memeluk ibu Septi. Karena ia juga sudah langsung menghampiri Sepri, kemudian memeluk manja suaminya itu.


“Positif thinking dong Ya. Enggak boleh bur*uk sangka dulu, nanti Allah marah. Bismillah, insya Allah berkah. Disyukuri, insya Allah semuanya dimudahkan,” lembut Suci sambil berbisik-bisik manja kepada sang suami yang juga masih ia peluk.


Jujur, kekhawatiran ibu Septi memang sudah telanjur mengganggu ketentraman pikiran Sepri. Kebahagiaan yang awalnya selalu terasa sempurna semenjak pernikahannya dan Suci, seolah sudah langsung tidak baik-baik saja. Sebab Sepri melupakan satu hal dan itu mengenai kesempurnaan fisik. Terlebih sejak menikah dengan Suci, hanya karena Suci menerima sekaligus mencintai kekurangan Sepri dengan sempurna, Sepri jadi lupa dengan kekurangannya sendiri.


“Bismillah ya, Mah. Cukup aku saja, dan semoga anak-anakku sehat semua, enggak ada yang kekurangan sedikit pun bahkan sekadar kasih sayang,” ucap Sepri benar-benar berharap. Seiring kedua tangannya yang membalas pelukan Suci, air matanya jatuh.


“Insya Allah, Yah! Insya Allah semuanya beneran baik-baik saja. Aku bakalan lebih jaga pola makan, pola istirahat, olahraga. Soalnya ... kalau bisa memang pengin punya banyak anak,” balas Suci yang menatap Sepri penuh harap. Melalui tatapannya ia ingin mengajak Sepri untuk sama-sama bersemangat.


“Semangat yah Sayang,” bisik Ojan sengaja melongok dari belakang punggung Sepri. Binar yang ada di belakangnya sudah langsung ngakak atas ulah jail Ojan.


“Eh Binar, kamu dari tadi ngakak terus. Ini kamu mau punya adik, kamu sudah tahu, belum?” ujar Ojan yang detik itu juga membuat Binar berhenti tertawa. Binar kebingungan, menatap tak paham Ojan maupun kedua wajah orang tuanya, silih berganti.

__ADS_1


__ADS_2