
Ditinggal Suci dan rombongan, ibu Manis merasa ada yang hilang. Suasana yang awalnya rame apalagi jika Ojan sudah bercanda dengan Binar, kini benar-benar senyap. Hanya tersisa beberapa piring sajian selain bawaan Sepri yang ternyata memang sangat banyak. Sisanya, gelas, piring dan juga sendok, sudah Suci cuci bersih dan tersusun rapi di rak kayu.
Sepi dan ibu Manis merasa kehilangan. Namun ketika ia teringat senyum Suci apalagi Binar hanya karena interaksi keduanya dengan Sepri maupun Ojan, ibu Manis merasakan ketenangan yang sedikit meredam kekhawatirannya.
“Semoga memang selalu baik. Jangan hanya di awal terus setelah itu justru seperti yang sudah-sudah.” Ibu Manis sangat berharap, apa yang ia harapkan itu benar-benar terjadi. “Semoga si Kusno juga enggak bikin masalah. Takutnya kalau tahu calonnya kaya raya, yang ada dia malah makin enggak tahu diri.”
Kusno atau pak Kusno merupakan ayah kandung Suci yang juga telah membuat ibu Manis maupun Suci, mengalami KDRT. Sosok yang juga membuat ibu Manis trauma dengan hubungan bahkan itu pada hubungan yang dijalani Suci. Namun dari semuanya, kenyataannya yang telah membuat Suci menjadi perawat berhasil, seolah menjadi keberhasilan tersendiri untuknya yang hanya seorang janda dan petani biasa. Walau terkadang ketika bukan musim tanam sekaligus panen, ia memang akan pergi ke kota menjadi pembantu rumah tangga. Karena demi anak, demi masa depan anak menjadi lebih baik lagi, ia rela melakukan apa pun asal halal.
🌷Bu, gamisnya dari aku, Suci🌷
Sebuah gamis lengkap dengan kerudung warna biru muda selaku warna kesukaan ibu Manis, menjadi isi kantong keresek putih berlabel toko pakaian. Mendapati itu, ibu Manis refleks menangis. Tangis yang makin lama sampai menjadi tersedu-sedu.
“Rasanya seberat ini. Terlalu trauma bikin aku jadi takut melepas Suci lagi. Apalagi aku pernah mengalami sendiri, dan yang enggak habis pikir, kok Suci sampai mengalami. Jujur kalau ingat ini, doaku hanya satu, semoga seumur hidupnya, Budi enggak pernah bahagia!”
Hari ini diakhiri dengan senyuman. Dari ibu Septi yang datang bersama Sepri ke kontrakan Suci, juga Binar dan Suci yang ditinggalkan. Malam makin larut menyelimuti kehidupan meninggalkan hiruk pikuk kesibukan. Mereka sepakat istirahat, tidur. Walau sepertinya hal tersebut tidak akan dilakukan oleh Sepri yang memang tak mau tinggal diam.
“Kebahagiaan sudah ada di depan mata, tapi sebelum bertemu bapak, rasanya tetap ada yang kurang,” pikir Suci, yang berangsur mendekap Binar, menuntun putrinya itu untuk tidur.
“Pri, Sepri. Ini sebelum tidur, pakai ini. Cuci dulu wajah kamu pakai sabun ini, habis itu pakai lulur warisan bapak moyang ya. Nih lihat ini, ada bacaannya.” Baru datang, Ojan sudah heboh sambil menghampiri Sepri.
Yang mengusik Sepri, bukan paket perawatan yang ia dapatkan dan dikantongi menggunakan kantong transparan warna pink. Namun kenyataan Ojan yang selain sudah memakai masker bedak putih, juga menggunakan banda kelinci berhias lampu warna warni.
“Beban hidupku sudah banyak, lihat kamu yang berkumis tegar dalam keadaan begini ... astaghfirullah, Jan. Astaghfirullah ....” Sepri benar-benar menjadi sibuk nyebut.
__ADS_1
Ibu Septi yang awalnya masih ada di lantai bawah dan hendak masuk kamarnya, sudah langsung terusik oleh kehebohan di lantai atas. Namun setelah wanita berkerudung instan warna merah hati itu memastikan, yang ada ibu Septi menjadi sibuk menahan tawa.
“Ayo kita sama-sama perawatan. Calon pengantin harus keset!” ucap Ojan membawa paksa Sepri dari sana.
“Keset apaan? Ah kamu makin enggak jelas, Jan. Ini kamu ma bawa aku ke mana?” protes Sepri berusaha menolak tuntunan Ojan.
“Ya bawa ke kamar mandi lah, buat perawatan!” balas Ojan masih semangat.
“Mau ngapai!!!” Sepri mulai tak baik-baik saja, terlalu parno. Termasuk ketika Ojan dengan beringas melakukan perawatan wajah kepadanya.
Gaya Ojan melakukan perawatan kepada Sepri benar-benar bar-bar. Tak kalah bar-bar dari tukang pijat refleksi di pinggir jalan yang ada di negara India.
“Jan ... Jan, ya Alloh. Ini apaan!”
“Kira-kira Jan. Ini kamu lagi perawatan atau malah KDRT ke aku?!”
Ibu Septi yang melongok dari sebelah pintu kamar mandi Sepri dan dibiarkan terbuka walau tak sepenuhnya, tak kuasa menghentikan senyumnya. Meski karena kebahagiaan yang seketika membuat hatinya berbunga-bunga pula, ia menjadi berlinang air mata.
“Memang bener ya, ... semuanya ada waktunya, termasuk bahagia. Dan bahagianya Sepri beneran ada di depan mata,” batin ibu Septi sambil menyeka sekitar matanya menggunakan ujung kerudung bagian depan yang ia kenakan.
“Ah, pek0k kamu Jan. Duh, sakit begini. Wajah berasa melebar ....”
“Tapi jadi enteng kan, Pri? Duh gusti lulur ramuan bapak moyangku rontok semua ini Pri?”
__ADS_1
“Gimana enggak rontok, kamu saja muk*ul sama gos*ok-gos*ok wajahku mirip orang kes*urupan!”
***
Pagi-pagi sekali karena kini saja belum sampai pukul setengah tujuh, Azzam yang sudah memaka pakaian kerja, mengemudikan motornya. Azzam tampak ceria dan tak segan menekan klaksonnya berulang kali demi meled*ek Ojan yang jadi latah parah.
“Jam-Jam ....” Kali ini, Ojan yang menenteng payung pink bergambar ponny, tak segan mengejar Azzam sambil menggunakan sandal bulu sebelah kanannya untuk dilemparkan ke pria yang sangat mirip dengan pak Kalandra itu—Baca novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga.
“Lagian kamu ngapain pakai daster make kardigan pink punya ibu mertuaku! Ini jangan-jangan kamu asal ambil?!” todong Azzam setelah wajahnya merasakan panasnya lemparan sendal bulu Ojan.
“Asal ambil bagaimana? Ini aku cuma pinjam, tapi emang enggak bilang. Toh kardigannya digantung, beneran enggak dipake,” sinis Ojan sambil memakai lagi sandal bulunya.
“Enggak jelas memang kamu. Pinjam enggak ngomong itu sama saja nyuri!” semprot Azzam.
“Berarti kalau gitu, janda-janda yang sudah bikin hatiku tercuri, berarti juga penc*u*ri yah, Jam?!” balas Ojan sudah langsung heboh.
“Alah, t4iiiii! Lagian, ngapain kamu pakai begini sementara karnaval Agustusan sudah lewat?! Enggak sekalian itu perut ditambahin biar mirip hamil sembilan tahun?!” Azzam buru-buru menepikan motornya, membiarkan Ojan yang cekikikan.
“Ini aku begin karena aku mau jadi babispikernya Binar. Hari ini kami bakalan jadi bestaiii. Aku kebagian antar sekolah, habis itu kami mau main masak-masakan, layang-layang juga. Kan hari ini, Suci sama Sepri mau ke rumah bapaknya Suci, mau memohon restu!” yakin Ojan kembali ceria.
“Beban hidup lagi banyak-banyaknya, apalagi nahan rindu ke Sundari saja sudah berat banget, kamu ngomong baby sister saja harus bawa-bawa kembaranmu. Ya Alloh gusti, tolong panjangkan umur Faojan karena dia kebanyakan tanggungan dosa di dunia ini!” ucap Azzam yang berdoa, tapi sengaja mengusapkan kedua tangannya ke wajah Ojan.
Bukannya kesal, Ojan malah tertawa riang. Memakai daster panjang bunga-bunga warna pink dipadukan dengan kardigan senada, juga kerudung tanpa cadar sementara kumis Ojan sangat tegar, lengkap dengan payung pink dan juga sandal bulu berwarna senda. Bisa kalian banyangkan bagaimana rupa Ojan!
__ADS_1