Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
84 : Selingkuh?


__ADS_3

Kehamilan Nurma sudah makin besar karena memang sudah sangat dekat dengan HPL. Hingga pekerjaan dagang keliling rutin yang biasanya wanita itu jalani, tak lagi menghiasi hari-harinya. Kini, Nurma menghabiskan waktunya di rumah ibu Syamsiah sambil menyicil pekerjaan yang ada. Sebab seiring kehamilan yang makin besar, kesehatan Nurma juga makin bermasalah. Tubuh Nurma yang tetap besar dan jauh dari kata se*k*si menjadi makin ringkih, selain wanita itu yang sampai mengalami darah tinggi dan sangat berbahaya untuknya yang sedang hamil besar.


Tak lagi berdagang keliling juga membuat Nurma tak memiliki penghasilan. Karenanya, Nurma menjadi sasar*an empuk mulut pedas ibu Syamsiah. Apalagi makin hari, rabun wanita itu makin parah dan membuat ibu Syamsiah harus serba dibantu.


“Bentar, Bu. Itu ada yang beli. Warung lagi cukup rame, tapi kalau Ibu teriak-teriak terus, yang ada tetangga juga takut buat beli!” sebal Nurma masih saja tak dihargai oleh ibu Syamsiah. Padahal setiap harinya, meski tak langsung diselesaikan secara langsung, pekerjaan rumah tetap ia yang urus. Termasuk urusan mandi ibu Syamsiah, Nurma juga yang memandikan wanita jahara itu.


Tak beda dengan pekerjaan rumah, urusan warung pun masih Nurma yang urus, meski bukan Nurma yang belanja karena keadaannya tak memungkinkan. Budi yang mulai lancar jalan lah yang ditugasi belanja kebutuhan warung di tengah kesibukan pria itu menjadi sopir travel. Karena meski sudah tidak punya mobil pribadi, kini Budi bekerja kepada salah satu juragan travel ternama yang ada di kecamatan sebelah.


Keadaan ekonomi mereka sungguh tidak baik-baik saja. Semuanya tetap serba kurang meski mereka kerja siang dan malam. Hampir tiap harinya makan hanya seadanya, itu saja jika ada agar warung tetap bisa terisi. Jangankan urusan merawat diri, sekadar suplemen dan susu hamil, atau setidaknya periksa kehamilan secara rutin saja, tak Nurma jalani karena memang tidak ada uang maupun waktu untuk melakukannya. Nurma bahkan terpaksa mengungsikan kedua anaknya kepada sang ibu, tak mau kedua anaknya yang pasti kelaparan juga sampai menjadi sasaran ibu Syamsiah yang tak lagi percaya anggapan anak laki-laki menjadi sumber rezeki. Yang ada ketika ibu Syamsiah sedang kumat, merindukan Bandi maupun harta-harta yang dulu, Al dan El juga sampai dip*aksa menghidupkan Bandi yang bertahun-tahun sudah meninggal.


“Lampir Syamsiah memang gemblung!” cibir Nurma lirih sambil menatap sebal pintu kamar ibu Syamsiah. Sementara maksud dari kata gemblung sama saja dengan tidak waras.


Aroma parfum yang begitu wangi dan Nurma yakini berharga mahal, makin tercium kuat ketika akhirnya wanita bertubuh besar itu masuk kamar. Nurma tatap sebal sang suami yang makin hari makin necis, terlepas dari Budi yang memang memiliki wajah tampan di atas rata-rata, bahkan itu Bandi mantan suami Nurma.

__ADS_1


Jujur, Nurma bahagia karena memiliki suami yang kembali tampan mesk ketika melangkah, Budi masih terlihat pin*cang. Bahkan meski kesibukan mereka juga membuat mereka jarang bermesraan apalagi rutin melakukan hubungan ranj*ang. Sangat kontras ketika masih ada Suci dan apa-apa sudah serba tercukupi meski mereka tak bekerja sekalipun. Yang mana di saat itu, hampir setiap hari mereka bisa melakukannya lebih dari tiga kali. Hanya saja, jika Budi justru menghabiskan sebagian besar uang hasil kerjanya untuk perawatan diri Budi sendiri, Nurma merasa keberatan, tak setuju.


“Mas ....” Nurma berusaha membangunkan Budi yang tetap lelap tidur meski ia sampai mengguncang lengan pria itu dengan kuat.


“Aku capek Nur, jangan ganggu aku dulu. Nanti pu*kul sembilan aku sudah harus narik lagi. Nanti tolong bangunin,” balas Budi tak sedikit pun melirik Nurma.


Budi tetap tengkurap mengabaikan Nurma. Nurma yang dicueki dan tak sedikit pun diperhatikan, langsung merengut kesal.


“Mas, kamu sudah lama kerja, kok uangnya enggak pernah sampai ke aku?” ucap Nurma sengaja memberanikan diri untuk menyinggung gaji Budi. Ke mana uang hasil suaminya yang tiga bulan ini begitu sibuk narik travel hingga ia kekeringan kasih sayang apalagi materi?


“Mas Budi juga sampai pakai lipstik? Harus gitu, sampai segitunya? Mas Budi kan sopir travel, bukan artis apalagi wari*a yang sekelas bibir saja harus dipoles-poles. Tapi kalau bengkak, dia habis ditempel*eng orang atau malah habis gigi*t-gigi*tan?!” batin Nurma yang belum apa-apa sudah emosi. Dadanya bergemuruh hebat seiring darahnya yang juga seolah langsung mendidih.


“Nurrr, itu di warung ada yang beli! Ngapain kamu di kamar terus? Tahu suami pulang langsung gat*el! Kel*on terusssss!” seru ibu Syamsiah dari luar sana.

__ADS_1


Nurma yakin ibu Syamsiah berteriak dari depan pintu kamarnya. Nurma yang awalnya emosi sengaja mengesampingkan kemarahannya karen biar bagaimanapun ia butuh uang. Ia harus tetap mengurus warung dan sebisa mungkin menampung setia pembeli agar hari ini ia tetap bisa makan. Karenanya, ia juga tak segan mengambil dompet Budi secara diam-diam dari meja. Mumpung pemiliknya masih molor.


“Alhamdullilah tebel!” batin Nurma sengaja menyembunyikan dompet hitam milik suaminya di dalam daster bagian pinggang agar tidak terdeteksi oleh ibu Syamsiah yang memiliki pendeteksi sinyal duit akurat melebihi pendeteksi sinyal janda milik Ojan.


“Ke*lon terus!” omel ibu Syamsiah ketika akhirnya Nurma keluar dari kamar dan langsung kembali menutup pintunya dengan hati-hati.


“Lah sama suami sendiri ya kangen, lumrah. Memangnya Ibu enggak kangen ke suami? Tuh suami Ibu di Jakarta terus enggak pernah pulang, jangan-jangan dikel*on*in wanita lain!” balas Nurma tak kalah sinis pada ibu Syamsiah yang sampai detik ini masih memakai kacamata hitam sekaligus tongkat bantu.


“Lambem*u yah Nur, kalau ngomong!” emosi ibu Syamsiah tak segan menggunakan tongkat bantu jalannya untuk memuku*l Nurma.


Meski perut Nurma sudah besar, menghadapi wanita rab*un layaknya ibu Syamsiah, dirasa Nurma bukan masalah berarti. Nurma masih tetap bisa menghindar, meski bok*ongnya yang sudah nyaris mirip bokor wadah cucian, juga sampai merasakan tongkat ibu Syamsiah. Sebab kenyataan dompet Budi yang ternyata penuh bon tol maupun bekas belanja ro*ok dan minuman ke minimarket, lebih membuat Nurma sakit.


“Asli ini, seperak pun enggak ada?” batin Nurma sampai menengkurapkan dompet Budi yang sama sekali tidak dihiasi uang.

__ADS_1


Hanya bon yang menumpuk, selain sebuah KTP.


“Uang Mas Budi ke mana? Masa iya dia selingkuh karena enggak mungkin juga uangnya buat Binar karena aku paham, mas Budi gengsi pergi ke rumah Sepri!” lirih Nurma menatap frustrasi dompet dan beberapa bon yang menghiasi meja warung.


__ADS_2