
“Mbak Binar mau ikut, apa sama Mbah Putri saja?” tanya ibu Septi yang menghampiri kebersamaan keluarga kecil Sepri, di lantai atas.
“Pri, Pri. Aku sekalian ikut, ya. Mau beli mainan buat Adam. Kan kemarin aku sudah dapat duit!” ucap Ojan kelewat ceria.
Suci langsung menatap Ojan penuh syukur. Lain dengan Binar yang sudah langsung tersenyum riang, sangat kontras dengan Sepri yang tetap serius cenderung meragukan kebahagiaan Ojan.
Layaknya Sepri, ibu Septi yang penasaran mengenai sumber uang Ojan, bertanya, “Kamu dapat duit dari mana, Jan? Kamu kan enggak kerja. Lagian, kamu kan sudah mau nikah, kok masih saja kamu belum mulai kerja? Mbak sampai bingung harus bagaimana? Harus ditaruh di mana wajah Mbak kalau kamu jadi nikah sama Rere tapi kamu saja masih kayak toke!”
Setelah Ojan yang menyimak serius kebingungan menatap Septi, ia sengaja berkata, “Jangan taruh wajah sembarangan, takutnya malah ilang, nanti Mbak Septi enggak punya wajah, Mbak!”
Sadar sang mamah sudah akan langsung mengomel kepada Ojan, dengan sabar Sepri bertanya kepada Ojan, “Kamu dapat uang dari mana?”
Ragu-ragu Ojan melirik Sepri. “Kemarin kan, Eyang bilang, sekarang aku boleh mulai urus kontrakan. Asli Pri, kemarin aku bersihin tuh kontrakan. Ya halamannya, ya dalama*nnya. Mau aku robohin biar lebih bersih, eh dimarahin sama Eyang. Terus, sekarang uang sewa juga masuknya ke aku.” Karena selama ini serba Sepri yang mengurus, Ojan yang merasa telah mengambil jatah Sepri berkata, “Maaf ya Pri. Aku bukannya bermaksud ambil jatah kamu. Sumpah Pri, maaf Pri. Sampai kapan pun kita bes-ta*i. Kita kan dari kecil sudah sedekat ini. Ibaratnya, aku anakmu dan kamu bapak sekaligus bab*uku!” Ojan berakhir menangis-nangis sambil mendekap kedua kaki Sepri.
“Astaghfirullah, Jan ... Jan. Selama ini, itu hasil kontrakan juga aku kasih ke Eyang buat urus kebutuhan kamu. Lah memangnya kamu pikir, selama ini kamu hidup dari mana? Uang yang dipakai buat beli ini itu, dari mana? Ya dari usaha keluarga. Namun karena sekarang kamu sudah mau menikah, ya ayo kita sama-sama urus. Sama-sama kerja, memangnya kalau bukan kamu yang kerja, siapa? Rere? Tega kamu!” ucap Sepri masih sangat sabar. Apalagi, ia melakukannya di depan Suci dan Binar.
“Tapi kayaknya yang bakalan kerja memang Rere deh, Pri. Maksudnya, aku kebagian jadi bapak rumah tangga. Nanti aku yang urus rumah, masak, termasuk urus anak. Kalaupun aku yang disuruh hamil, aku juga siap. Kan aku sudah banyak belajar dari bojomu!” balas Ojan, benar-benar serius. Namun tentu saja, bukan itu yang ingin Sepri maupun yang lain dengar. Karena memang tak seharusnya Ojan berpikir demikian.
“Astaghfirullah ....” Sepri menggeleng tak habis pikir, tak bisa berkata-kata.
“Ya Allah, kasihan banget Rere. Bisa-bisanya, dia dijodohkan sama Ojan. Rezeki buat Ojan, musibah buat Rere,” ucap ibu Septi menunduk pilu.
__ADS_1
“Ih, Mbak Septi kok gitu? Dapat aku pun rezeki loh, Mbak!” protes Ojan merasa terzali*mi.
“Sudah ... sudah. Mah, Mamah juga tolong siap-siap, ya. Ini kan mau beli persiapan lahiran, tapi aku kan kurang ngerti. Mending nanti pilih-pilihnya sama Mamah saja. Toh, selera kalian juga hampir mirip. Paling nanti aku yang bayar selain aku yang momong Mbak Binar,” ucap Sepri yang lagi-lagi dirempongkan oleh permohonan Ojan. Ojan memaksa ikut dan mau-mau saja ditaruh di dalam bagasi, asal Ojan tetap ikut karena Ojan akan membeli beberapa hadiah untuk Adam, selaku anak Rere yang otomatis akan menjadi anak sambungnya, andai Ojan benar-benar menikah dengan Rere.
Sampai di mal, Ojan sudah langsung mengambil troli. Pria itu mengambil troli paling besar, tapi Sepri dengan segera mengambil alih.
“Kamu bawa yang kecil saja. Beli mainan secukupnya, selebihnya uangnya bisa disimpan buat biaya sekolah Adam.” Penuh pengertian Sepri mengatakannya, tapi kali ini Ojan sudah langsung paham.
“Apa mending enggak usah beli yah, Pri. Si Adam biar cukup minjem ke temannya? Kalau begitu jadi lebih irit, kan, Pri?!” ucap Ojan berharap diberi arahan dari Sepri. Namun, Sepri malah menoyo*r kepalanya.
“Memangnya kamu lihatnya, aku begitu ke Mbak Binar?” ujar Sepri.
Ojan langsung menggeleng karena yang ia tahu, Sepri sangatlah royal kepada Binar. Baik untuk urusan membeli mainan, makanan, pakaian, dan semua keperluan termasuk keperluan yang hanya untuk bersenang-senang.
Pada akhirnya mereka tetap belanja termasuk, Ojan. Namun dari semuanya, Ojan yang paling heboh sekaligus terlihat paling bingung. Karena ketika mainannya cocok dengan Ojan, harganya tidak cocok. Begitupun sebaliknya. Karena ketika harganya cocok, barang atau mainannya justru jauh dari yang Ojan harapkan.
“Mau beli ranjang bayi?” tanya ibu Septi kepada Suci.
“Ranjang bayi kan sudah dibikin sama mas Sepri, Mah. Mas Sepri bikin secara khusus setelah aku kasih contoh model ranjang bayi yang aku pengin. Masya Allah bagus banget. Lebih Masya Allahnya lagi, suamiku kok seserba bisa itu!” lembut Suci sambil tersenyum menatap mamah mertuanya.
“Oh iya? Mamah kok enggak tahu?” lirih ibu Sepri sudah langsung heboh.
__ADS_1
Berbeda dengan ibu Septi yang selalu bar-bar, Suci kembali menyikapi dengan penuh kelembutan. Kendati demikian, mereka tetap cocok, bahkan sangat cocok, dan memang jauh berbeda dari ketika Suci bersama ibu Syamsiah.
“Omong-omong ibu Syamsiah, si Nurma apa kabar, yah? Sudah lahiran belum? Kok enggak ada tanda-tanda persalinan,” batin Suci sudah langsung tersenyum kegirangan ketika ibu Septi membawa beberapa kaus kaki, sarung tangan, beserta topi bayi berwarna serba biru.
“Lucu banget, Mbak!” heboh ibu Septi tapi kali ini berbisik-bisik kepada Suci.
“Iya, Mah. Lucu banget!” balas Suci.
“Langsung masuk troli saja, Mbak. Biar di bayar suamimu!” sergah ibu Septi yang kali ini cekikikan.
“Mbak Binar mau cari apa?” tanya Sepri yang kemudian terusik oleh telepon masuk di ponselnya.
“Aku mau cari hadiah buat dedek bayi, Yah. Aku mau cari ke situ!” girang Binar sambil menoleh sekaligus menatap Sepri, sebelum ia buru-buru berlari. Terlebih, sang ayah sudah langsung tersenyum bahagia menatapnya setelah ia mengabarkan akan membeli hadiah untuk calon dedek bayinya.
“Memangnya Mbak Binar enggak mau pilih juga?” lembut Sepri sambil menyusul dan mulai menempelkan ponselnya ke telinga kanan. Ia sedang menerima telepon dari Azzam, jadi ia santai-santai saja karena obrolan mereka pasti tidak begitu serius.
“Ap-pah ...? R-rere dan Adam kecelakaan? Mobilnya terlempar dari jalan layang ...?!” lirih Sepri sudah langsung panik. Lebih panik lagi, di hadapannya terdengar suara jatuh dari sebuah barang yang menyentak dan itu karena Binar. Namun ketika Sepri melihat wajah sang putri sambung, ia mendapati Binar sudah berlinang air mata. Binar terlihat sangat terpukul.
“Mbak Binar, ... Mbak kenapa?” sergah Sepri segera menghampiri. Ia bahkan mengesampingkan telepon dari Azzam yang mengabarkan kecelakaan Rere maupun Adam.
“P-pa ... Pah!” lirih Binar karena suaranya tertahan di tenggorokan. Ia menoleh ke sumber yang membuatnya menangis layaknya sekarang.
__ADS_1
Di seberang sana, Sepri memang mendapati seorang pria necis dan itu Budi, tengah mengobrol penuh senyuman dengan wanita tak kalah necis yang dirangkul. Wanita itu tampak bukan dari kalangan biasa, tapi Sepri yakin, si wanita sedang hamil lantaran perutnya terbilang buncit.