
Suci melihat ada pelangi yang menari-nari bahkan menyelimuti kebahagiaan sang putri hanya karena interaksinya dengan Sepri.
“Itu apa, Om?!” lantang Binar penasaran. “Mr. Krabs yang di Spongebob?” hebohnya.
Sepri yang dari tampang saja sudah sangat lelah, masih dengan sabar memomong Binar.
“Itu yang buat mainan tuy*ul, Binar! Bawa pulang, Pri!” heboh ojan sambil memakan satu bekakak ayam bakar. Ia kepo dengan kehebohan Binar.
“Mau dimasak, Mas?” tanya Suci yang ikut melongok sekaligus memastikan.
Sambil memakan lahap ayam bakarnya, Ojan berkata, “Jangan. Buat jaga-jaga tabungan di rumah. Soalnya tu*yul sekarang enggak takut sama rambut, bawang, cabe, sanbetan, atau malah tulisan alquran. Kemarin aku ikut ngegosip bareng ibu-ibu di pasar pas beli sayur sama mbak Septi. Jadi tuh sekarang, wajib sediain mainan buat tuy*ul di sebelah tabungan kita. Katanya sekarang wajib ada kedele, yuyu, sama kaca. Cermin gitu, biar tuy*ulnya narsis lupa sama tugasnya, malah ngaca terus, sok ganteng dikiranya bisa melebihi kegantenganku!”
“Yang narsis dan sok ganteng itu kamu. Dengan kata lain, jangan-jangan kamu tuyu*lnya!” semprot Sepri sambil melepas tudung di kepalanya.
Suci langsung menahan tawanya. Segera ia menyiapkan segelas es teh yang sebelumnya sudah ia buat di termos khusus berukuran besar. Ia mengambilkan satu gelas besar dan tentu saja untuk Sepri, tapi Ojan yang tersedak, sudah langsung merebutnya. Karenanya, setelah tetap memberikannya kepada Sepri, Suci segera menggandeng Ojan untuk duduk dekat termos es. Hingga selain mengasuh Binar, mereka juga turut mengasuh Ojan.
“Mas Sepri makan dulu. Sudah matang semua!” ucap Suci sengaja berseru.
“Aku malah sudah kenyang. Tapi karena ayam bakarnya terlalu enak, aku enggak bisa berhenti makan!” ucap Ojan setelah ia selesai minum es teh yang Suci ambilkan.
Ketika Suci langsung mesem, Sepri sudah langsung geleng-geleng.
“Pri, itu nanti yuyunya dibawa, buat jaga-jaga tabungan di rumah!” sergah Ojan kembali bawel lagi.
“Memang beneran yah, Mas?” tanya Suci yang memang penasaran.
__ADS_1
“Iya, Mbak. Kemarin satu cele*ngan di rumah, kosong beneran kosong. Yang kebetulan enggak dikasih cermin. Karena tabungan di rumah kan ada beberapa. Nah sebelumnya juga ada bos padi sama gula merah yang cerita. Eh pas aku cek, beneran kejadian kecol*on*gan. Ya sudahlah, bukan rezeki!” jelas Sepri.
“Tenang, Pri. Uang kamu banyak. Hilang satu cel*engan, datang sepuluh yang bahkan obesitas!” ucap Ojan.
“Aaamin!” sergah Sepri yang kemudian menghabiskan esnya.
Suci hanya mesem di tengah suasana berisik yang mewarnai kebersamaan di sana. Ia berangsur jongkok di sebelah Binar yang masih terkagum-kagum memandangi isi ember pemberian Sepri. Karena selain kepiting dan yuyu, di sana juga ada beberapa ikan.
“Ini ikannya dapat di mana, Mas? Kayaknya daru tadi enggak ada air deh di sawah. Cuma lumpur,” ucap Suci.
“Justru di lumpur memang lebih banyak, Mbak!” balas Sepri.
“Sepri dari kecil lebih keren dari bolang, Mbak. Ular saja ditangkap sama dia, dibakar terus dikecapin, dimakan deh!” ucap Ojan masih sibuk mengabiskan satu bekakak ayam bakar. Padahal, Sepri yang setengah hari ini mengarit satu sawah tanpa dibantu Ojan, dan memang yang dimasakkan oleh Suci, sama sekali belum makan.
“Bersih-bersih dulu,” ucap Sepri yang sampai saat ini masih memakai sepatu boot dan tingginya sampai ke paha.
Suci mengangguk-angguk dengan senyum hangatnya yang benar-benar khas. Senyum hangat yang membuat jantung Sepri menjadi tidak baik-baik saja. Ojan yang diam-diam mengawasi jadi tersenyum geli, gemas sendiri pada interaksi Sepri kepada Suci.
“Apaan sih kamu, Jan! Bikin kaget saja. Sawah ini, sepi. Nanti dikira kesuru*pan!” omel Sepri yang akhirnya kehabisan kesabaran lantaran Ojan mendadak ngakak dan tampak jelas tidak bisa mengontrol diri.
“Ya salahnya kalian gemes-gemesin gitu. Ya, Mbak Suci, nanti beres masa idah, kalian langsung nikah. Kalian saling melengkapi kok. Kelihatan banget keluarga bahagianya!” ucap Ojan. Ia tetap bicara meski Sepri sudah mendelik-mendelik kepadanya dan jelas itu kode keras agar ia diam.
“Menikah lagi?” batin Suci yang belum apa-apa sudah merasa minder. Ia masih sangat ingat ucapan Budi yang mengaku jij*ik sekaligus mati rasa kepadanya, hingga ia jadi kehilangan rasa percaya diri sebagai seorang wanita apalagi istri.
“Om ... ikannya boleh aku rawat enggak? Aku masukin ke aquarium, ya?” rengek Binar tetap asyik dengan ikan maupun kepiting dan yuyu yang ada di ember pemberian Sepri. Hingga ia tidak tahu perjodohan terselubung yang Ojan ciptakan untuk Sepri dan Suci.
__ADS_1
“Boleh banget sayang, ... sini ... sini dikasih air dulu biar ikannya enggak kering soalnya cuacanya panas banget,” ucap Sepri lembut dan memang akan langsung sabar kalau sudah menghadapi Binar.
Suci yang melihat kepedulian Sepri kepada Binar, jadi tidak enak hati. “Binar sayang, sini biar Mamah yang urus. Om Seprinya kan masih capek. Om Sepri suruh istirahat terus makan dulu,” lembutnya membujuk Binar.
Dalam diamnya, Ojan sengaja beraksi. Ia sengaja mengambil ponsel Sepri dari meja di hadapannya, kemudian menggunakannya untuk memfoto sekaligus merekam video kebersamaan Sepri dengan Suci dan Binar. “Kalau Sepri tetap enggak mau gerak cepet, biar mbak Septi yang nikung dan ambil menantunya sendiri. Jurus ibu-ibu apalagi sekelas mbak Septi kan biasanya lebih ampuh!” batin Ojan yakin dengan keputusannya.
—Mbak Septi, ini aku Ojan. Lihat, wajahku ganteng, kan? Tuh Mbak Lihat? Sepri sesayang itu ke Binar sama mamahnya Binar. Direstuin saja, biar Sepri ada yang urus, enggak sibuk kerja terus. Enggak apa-apa Suci janda, cantik gitu dan pekerja keras juga. Pokoknya, pas Suci beres masa idah nanti, aku bakalan bawa janur kuning buat lamar mbak Suci buat Sepri! Eh Mbak Septi, kok lubang hidup aku mirip terowongan Casablanca ya? Hahaha ... sudah dulu lah, takut ketahuan Sepri. Makanya yah mbak Septi, beliin aku hape. Biar aku bisa jadi wartawan, soalnya pakai lator-lator, enggak bisa gini!—
“Binar, tangannya jangan dideket-deketin ke kepiting ya. Nanti dijapit, sakit.” Sepri wanti-wanti kepada Binar yang langsung mengangguk-angguk paham.
“Hari ini benar-benar menjadi pengalaman berharga buat Binar karena sebelumnya, liburan di saung, manen padi, dapat kepiting, yuyu sama ikan, ini beneran belum pernah Binar alami,” batin Suci yang segera mengulurkan kedua tangannya kepada Sepri yang baru saja melepas sepatu bootnya.
Sepri menatap bingung uluran tangan Suci.
“Pegangan, Mas!” Karena biar bagaimanapun Suci tidak akan lupa, bahwa kaki kanan Sepri hanya kaki palsu.
“Aku bisa, Mbak. Sudah terbiasa soalnya. Justru kalau pegangan ke Mbak, takutnya malah jatuh bareng,” ucap Sepri.
Suci tersenyum masam, pasrah. Ia memaklumi anggapan Sepri lantaran kini, ia memang sangat kurus.
“Ciie ... yang pengin jatuh bareng!” ledek Ojan masih membawa bekakak ayam bakarnya yang tinggal separuh.
Mendengar itu, Binar ikut tertawa kecil.
“Tuh, Binar saja ngerti! Ya Binar, ya!” heboh Ojan. Lain dengan yang disindir dan sudah langsung kikuk sambil meminta maaf satu sama lain.
__ADS_1