Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
55 : Cinta Boleh, Tapi Jangan Gobl09!


__ADS_3

“Kalau begini caranya, ... lebih baik kamu dipenjara saja, Nur! Iya, lebih baik kamu dipenjara saja!” ucap ibu Sumarni selaku ibu Nurma.


“Bu, aku mohon Bu!” mohon Nurma dengan air mata yang akhirnya berlinang membasahi pipi.


Namun di hadapan Nurma, ibu Sumarni yang menjadi tidak nyaman, menjadi sibuk menggeleng. “Yang mereka mau itu uang, uang, dan uang, Nur. Sawah dan tanah suami ibu sudah melayang. Sementara suami Ibu enggak seharusnya tanggung jawab karena kamu hanya anak bawaan Ibu. Ibu beneran enggak enak ke suami Ibu, apalagi di sini, ibaratnya Ibu numpang!”


“Ayolah Bu, aku mohon. Aku beneran mohon, Bu.” Kali ini Nurma tak segan menghampiri sang ibu, kemudian mendekap kedua lututnya.


“Ketimbang kamu, adik-adik kamu yang dari suami Ibu jauh lebih membutuhkan uang Ibu, Nur. Kamu kan sudah dewasa, cerai dari Budi pun kamu harusnya masih bisa kerja. Daripada dengan Budi tapi semua hasil kerjamu dimiliki mereka!” balas ibu Sumarni.


“Bu, aku punya dua anak, masih kecil-kecil. Mereka butuh figur papah, selain aku yang juga lagi hamil anak mas Budi!” Nurma tersedu-sedu, sangat kontras ketika ia memperlakukan Suci maupun Binar dan itu akan sangat kejam.


“Lah kamu ... Suci yang punya anak biologis dari Budi, dan Suci juga punya pekerjaan tetap saja milih pegat(cerai). Kok kamu malah ngotot bertahan? Cinta boleh, tapi jangan gob*log! Lagian kamu, dari dulu kecenti*lan dan bisa-bisanya hamil sama suami orang. Emang enggak bener kamu. Bikin malu. Ya sudah rasakan saja, anggap saja ini karma kamu!” balas ibu Sumarni makin sewot.


“Bu lah, aku mohon. Soalnya kalau aku enggak bisa biayai pengobatan ibu Syamsiah, aku beneran bakalan dilaporkan ke polisi, Bu!” mohon Nurma lagi dan kali ini sampai meraung-raung.


“Ya enggak apa-apa. Kamu dipenjara, Ibu siap urus kedua anakmu. Itu jauh lebih baik!” yakin ibu Sumarni lagi.


“Enggak, Bu. Aku enggak mau dipenjara—”


“Tapi dipenjara bakalan lebih enak daripada bertahan di rumah mertuamu yang lebih mengerikan dari neraka, Nur!” kesal ibu Sumarni. “Heran, dulu saja kamu bisa buang Budi demi Bandi. Lah kok sekarang, setelah Budi dikatakan lumpuh, kamu masih masu? Masa iya, ini juga kualat sekaligus karma buat kamu?”


“Mas Budi masih punya tiga mobil, Bu. Lumayan, bisa buat masa depan!” yakin Nurma.

__ADS_1


“Lah, itu kan mobil cicilan. Bayaran nunggak ya jadi almarhum mobilnya!” tanggap ibu Sumarni lebih sewot dari ketika ibu Manis menanggapi permintaan restu menikah Suci.


“Pasti lunas, Bu. Nanti aku yang lunasin, biar mobilnya buat aku!” yakin Nurma lagi.


Sementara itu, di siang menjelang sore, Sepri sengaja mengunjungi ibu Manis. Ia datang bersama Suci maupun Binar, juga Ojan yang membonceng di depan. Gaya membonceng Ojan benar-benar mirip dengan gaya membonceng Binar, hingga Binar tak hentinya cekikikan sambil mengajak Ojan mengobrol.


“Kak Ojan kenapa enggak bonceng di belakang saja? Biar Om Sepri enggak kesusahan gitu,” ujar Binar sambil terus menatap Ojan yang ada di belakangnya.


“Takut jatuh, Bin. Kamu enggak usah khawatir ke Sepri karena wajahnya memang wajah susah!” balas Ojan dengan entengnya.


Sepri yang mendengar itu, sengaja menggunakan tangan kirinya untuk mencubit sekuat tenaga hidung Ojan.


“Pri, Pri ... kalau hidung aku lepas gimana?” rengek Ojan sudah langsung heboh.


“Mentang-mentang lubang hidungku gede?” sewot Ojan sambil mengelus-elus hidungnya. “Pri, jalannya enggak kalah terjal dari wajah kamu, ya?!”


“Maksud kamu bilang gitu apa?!” kesal Sepri sambil terus mengemudi.


“Eh Pri, kamu sadar diri dong. Kamu sama aku beneran masih ganteng aku. Apalagi semenjak aku bikin kumisku tegar begini, mirip nasib percintaanku yang harus serba bersabar. Tapi ini sambil nemenin kamu ke rumah camer, aku juga mau menyelami janda yang ada deh Pri! Mumpung Rere belum ke sini. Syukur-syukur sih, nanti Rere mau sama aku. Kalau enggak mau juga, nanti aku cek*ek Authornya!”


“Yaitu ... calon ibu mertuaku kan janda, Jan. Kamu juga merasakan sinyal jandanya, kan? Dari tadi aku perhatikan, lobang hidung kamu kembang kempisnya makin cepet, khas kalau kamu merasakan sinyal janda!” balas Sepri.


“Mbajug kamu, Pri. Saru! Masa aku suruh jadi mertua kamu. Jadi anaknya papi Helios saja, katanya aku sudah m*erus*ak silsilah keluarga kita. Lagian mertua kamu pasti juga sudah ‘enggak enak’!” Untuk kalimat terakhir, Ojan sengaja berbisik-bisik.

__ADS_1


“Kak Ojan, Kak Ojan, nanti kita main layang-layang, yuk. Tuh lihat, layang-layangnya tinggi banget!” heboh Binar.


“Ayo ... nanti kita layang-layangan, mamah sama Om Sepri ayang-ayangan!” semangat Ojan.


Sepri langsung menjewernya dan ia hanya menengadah sambil tersenyum tak berdosa.


“Ayang-ayangan itu yang susah pipis. Yang pipisnya sakit dan biasanya wajib minum hangat biar cepat sembuh, kan?” balas Binar sengaja berseru kepada Ojan.


Sepri yang tak mau pikiran Binar dice*mari oleh Ojan, segera mengangguk-angguk.


“Yang tadi serius ya Pri!” ujar Ojan lagi.


“Yang mana?” balas Sepri sewot.


“Wajah kamu mirip luluran pake oli Pri. Sudah hitam, mengkilap dan berminyak!” ucap Ojan sengaja protes.


“Adanya begini!” balas Sepri tak kalah sewot.


“Ya usaha buat blowing dong Pri. Aku saja kalau pergi-pergi sama kamu sebenarnya malu, apa lagi mbak Suci. Lah ini untung kamu mulai mau pakai baju bagus. Biasanya kan, sudah bolong sobek-sobek saja masih kamu pakai. Sandal jepit pun kadang beda warna sama ukuran, diikat rapiah, masih kamu pakai. Usaha buat blowing deh, biar nginclong wajahnya. Pakai pemutih kek, pakai apa itu yang di tipi-tipi. Tapi kamu jangan pakai cuci muka yang kayak di iklan itu ya Pri. Masa di iklan bilang, kalau habis pakai tuh cuci muka, wajah kamu jadi bersih tak tersisa. Kan ngeri andai mata, mulut, bahkan hidung kamu hilang. Atau pri, kamu pakai itu tapi sedikit-sedikit. Biar daki sama berminyak kamu hilang. Tapi khusus minyaknya nanti diambil ya Pri. Minyak kan mahal, bisa dijual atau kasih mbak Septi buat masak!” Kal ini Ojan benar-benar menasihati.


Namun tentu, tak semua nasihat dari Ojan wajib dijalani. Sampai di rumah ibu Manis yang ada di tengah-tengah sawah, Sepri sudah langsung mendapat tatapan tajam sekaligus lirikan sinis dari wanita yang telah melahirkan Suci. Dua dus bawaannya, sudah langsung ia bawa ke dapur dituntun oleh Suci.


“Ini orang enggak suka ke Sepri apa gimana, ya? Hmmm, aku harus bantu Sepri!” batin Ojan masih duduk berhadapan dengan ibu Manis lantaran ia ditinggal dengan Binar di sana.

__ADS_1


“Ibu Manis punten, namanya Manis, tapi kok cemberut gitu?” ujar Ojan dan sudah langsung membuat wanita baya di hadapannya, mendelik.


__ADS_2