
“Sini ...,” ucap Sepri yang sudah langsung mengemban Binar.
“Yayah, aku beneran mau punya adik? Memangnya kalau aku punya adik, memangnya kenapa?” tanya Binar.
“Ya jadi punya temen. Temennya jadi enggak hanya kak Ojan,” balas Sepri meyakinkan sambil tersenyum girang.
Suci yang yakin Sepri bisa meyakinkan Binar, memilih untuk melanjutkan persiapan masak belutnya. Ia kembali memotong-motong cabai hijaunya. Senyum manis terlukis di wajahnya bersama sang suami yang membawakannya kursi untuk duduk, meski Sepri masih mengemban Binar. Sampai detik ini, Sepri masih sibuk menjawab setiap pertanyaan Binar yang memang ingin banyak tahu.
“Loh, Mbak. Kamu kan baru pulang piket. Kamu belum tidur. Sudah kamu istirahat saja. Ini biar Mamah saja yang urus,” ucap eyang Fatimah dan kebetulan baru datang. Ia yang untuk jalan sudah dibantu oleh tongkat jalan khusus, langsung mengomeli ibu Septi. “Menantu lagi hamil muda ya disuruh banyak-banyak istirahat. Kamu mau jadi satu padepokan sama ibu Syamsiah?” ucapnya yang sudah langsung didukung penuh oleh Ojan.
“Sikat Yang, jangan sampai enggak. Lawan Mbak Septi, aku dukung penuh Eyang Fatimah. Ketik Reg spasi Fatimah, kirim ke alam baka! Hahahaha!” ucap Ojan yang terpingkal-pingkal.
Ibu Septi yang awalnya emosi kepada gaya Ojan, jadi ikut ngakak sambil merangkul punggung sang suami yang sedang mempersiapkan arang untuk membakar belut.
“Kak Ojan enggal boleh ngomong gitu, enggak sopan. Masa iya, Eyang Fatimah dikirim ke alam baka?” ucap Binar sengaja menegur Ojan.
“Si Ojan memang otaknya keberatan. Makanya dia mau apa pun ya oleng terus. Heh, Ojan!” omel eyang Fatimah, dan Ojan sudah langsung minta maaf sekaligus sungkem.
“Eyang ... aku juga pengin nikah. Lah si Sepri sudah mau punya dua anak, kok masa aku begini. Kemarin kan Eyang bilang, aku wajib pangkas kumis tegarku biar aku cepat dapat jodoh. Lah ini gimana? Tetap enggak ada perubahan kan, Yang?” rengek Ojan sambil duduk sila dan memegangi kedua kaki eyang Fatimah.
“Ya yang sabar, Jan. Kan sudan tiga apa empat kali Eyang nikahin kamu. Acaranya, semuanya jga serba mewah. Namun mau bagaimana lagi, jalannya harus begini,” ucap eyang Fatimah.
“Lah Eyang ... aku masa iya jadi duda tanpa malam pertama terus?” protes Ojan.
__ADS_1
“Lah terus suruh gimana? Memangnya Eyang bisa apa? Doa sudah, ikhtiar pun enggak karang-kurang!” balas eyang Fatimah yang masih saja mengomel.
“Coba sekali-sekali, aku dibawa ke duk*un, Yang. Usaha lah, Yang! Aku takut diji*lat seton soalnya aku masih perjaka. Kabarnya akhir-akhir ini lagi marak tumba*l perjaka dan nantinya di alam sana, dikawin*in sama perjaka juga!” rengek Ojan yang kali ini mendadak guling-guling, mirip bocah yang sedang tantrum parah.
“Di mana-mana, yang ada malah seton yang takut ke kamu, Paojan. Justru mereka yang takut. Mereka enggak doyan ke kamu!” omel eyang Fatimah. Hingga yang di sana dan awalnya melow termasuk Suci yang mengakui Ojan pria yang sangat baik, jadi tertawa.
“Ah Eyang kan, aku jadi diketawain!” rengek Ojan lanjut guling-guling di halaman belakang. Ia bahkan melakukan gerakan rol depan rol belakang. Binar sampai berdalih, Ojan mirip ebeg atau itu anggota kuda lump*ing yang sedang kesuru*pan.
“Mas, Mbak, istighfar. Klamit—amit-amit. Takut anak kalian mirip!” heboh ibu Septi yang kemudian mengelus-elus perut Suci. “Amit-amit ... amit-amit!” ucap ibu Septi panjang lebar. Ia sampai jongkok dan menatap perut Suci yang masih rata, dengan saksama. Terakhir, ia sampai menyembur perut menantunya itu.
“Say, kok sampai disembur, Say? Harusnya yang disembur kan Ojan,” ucap dokter Andri dengan santainya sambil mengipas-kipas arang yang sudah siap untuk membakar belut.
“Byuuurrrr!”
Binar menjadi orang pertama yang ngakak, terbahak tiada henti setelah Ojan yang tak mau diam mirip kuda lum*ping kesurupan, berakhir masuk kolam lele di sekitar sana. Ibu Septi juga sudah langsung heboh tertawa, lain dengan eyang Fatimah yang jadi makin sibuk mengomel.
Dokter Andri sudah sampai menangis akibat tawanya. Karena meski sudah terbiasa dengan ulah ajaib Ojan, adegan sampai nyegur layaknya sekarang juga benar-benar baru terjadi.
Suci yang sudah menangis juga sengaja masuk kamar mandi terdekat karena kebanyakan tertawa juga sampai membuatnya kebelet pipis.
Sepri yang sadar sang papah sambung tak mungkin bisa menolong Ojan karena dokter Andri saja sudah lemas tak hentinya tertawa, sengaja menurunkan Binar. Sepri sengaja membantu Ojan yang pipinya baru saja digigit lele.
“Eh, lele ... Pri, mulutnya nempel terus ke pipiku, Pri! Jangan-jangan ini silumin lele yang bakalan berubah wujud jadi janda cantik yah, Pri!” heboh Ojan yang berusaha melepas lelenya dari pipi kanannya.
__ADS_1
“Dasar tukang halu!” cibir Sepri langsung mendelik lantaran Ojan berusaha menariknya agar masuk juga ke dalam kolam lele.
***
“Tumben si Paojan enggak ikut?” ucap ibu Manis ketika Sepri mengunci mobilnya. Kali ini, Sepri memboyong keluarga kecilnya ke rumah ibu Manis, menggunakan mobil. Semua itu Sepri lakukan demi menjaga janin yang masih sangat renta di dalam rahim sang istri.
“Soalnya kami mau nginep, Bu,” ucap Sepri dengan sigap membawa dua dus yang sudah ia sediakan khusus untuk keperluan makan mereka selagi di sana. Tentunya, ada yang sengaja ia siapkan khusus juga untuk sang ibu mertua.
“Mah, itu tinggal saja, nanti aku yang bawa,” tegur Sepri buru-buru masuk membawa duanya.
“Sini, Binar saja yang bawa. Binar kan sudah gede dan sebentar lagi punya banyak dedek!” ucap Binar hendak mengangkat ransel jinjingnya.
Detik itu juga, ibu Manis yang masih ada di sebelah Binar maupun Suci langsung bengong menatap tak percaya Suci. “Sudah isi?” lirih ibu Sulis yang langsung membuat Suci yang ia tatap, tersipu.
“Beneran baru tahu tadi pagi, dan memang lagi pengin nginep di sini, Bu,” ucap Suci.
Mendengar itu, ibu Manis yang berangsur mengangkatkan ranselnya dan tetap dibantu oleh Binar yang memaksa, berkata, “Alhamdullilah kalau gitu. Ya mulai sekarang yang lebih hati-hati lagi. Yang sehat-sehat, tapi bismillah, kan suami sama mertua yang sekarang alhamdullilah baik banget. Berkah-berkah lah. Mereka langsung heboh dan bahagia banget kan, pas tahu kamu hamil? Eh, mereka juga memang sudah tahu, kan? Maksudnya, sebelum ke Ibu, kalian juga sudah kabarin ke mereka?” heboh ibu Manis.
Tak beda dengan keluarga Sepri, ibu Manis juga menyambut bahagia kehamilan Suci.
“Tadi di sana sempat pada khawatir. Mereka khawatir karena ayahnya anak-anak memang gitu. Namun ya, aku beneran enggak masalah andai pahitnya memang begitu. Bismillah, Allah pasti kasih yang terbaik. Doanya sih, anak-anak sehat dan enggak kekurangan apa pun,” lirih Suci sambil duduk di risban yang ada di ruang tamu di sana.
Mendengar itu, Sepri yang baru akan keluar dari dapur, langsung urung. Sepri memilih menyimak dari balik sebelah pintu yang memang masih hanya ditutup gorden. Karena meski sudah ditawari untuk melakukan renovasi rumah, ibu Manis menolak. Ibu Manis berujar, keadaan rumah layaknya sekarang, sudah sangat membuat wanita baya itu merasa sangat nyaman.
__ADS_1
“Gini loh Ci. Mikirnya jangan sempit. Oke, keadaan memang begini, tapi ya realistis. Zaman kan makin canggih, segalanya sudah serba ada obatnya, sementara keluarga suamimu, termasuk kamu itu paham dunia medis. Semuanya pasti baik-baik saja. Mereka begitu karena terlalu khawatir, trauma apa ya. Apa sih namanya tapi ya intinya gitu,” ucap ibu Manis berusaha berpikir lebih logis. Apalagi, setelah semua yang terjadi, dirasanya berpikir positif jauh lebih penting, lebih perlu, agar dampaknya pun bagus untuk kesehatan termasuk kesehatan Suci yang sedang hamil.
Dalam diamnya, Sepri sudah langsung setuju dengan anggapan ibu mertuanya. “Amin! Optimis saja. Yang penting semuanya serba dijaga!” batin Sepri menjadi lebih bersemangat.