
Ibu Syamsiah masih menangis meronta-ronta layaknya tangis akibat kematian yang sangat menyakitkan bahkan tragis. Wanita itu tidak terima jika dirinya sekeluarga yang harus membayar semua denda.
“Harusnya Nurma yang menanggung, tapi kenapa sertifi*kat rumah dan tanah kami yang diambil!” teriak ibu Syamsiah berusaha menyusul Suci.
“Itu urusan kalian. Ke saya bahkan Binar yang masih darah daging kalian saja, kalian tega. Kenapa kepada Nurma yang sudah kalian ketahui sebagai biangker*ok, kalian tidak bisa?!” kesal Suci tak mau lagi berurusan dengan Budi sekeluarga. “Satu lagi, ... jika setelah ini kalian masih menyalahkan aku apalagi menyalahkan Binar, dua kata buat kalian. GOBLO9, KEBANGETAN!”
Suci dan rombongan tetap pergi karena mereka memang sudah tidak ada keperluan.
“Balikin serti*f*ikat rumah dan tanah ini Ciiiiii. Balikinnnnn!” Ibu Syamsiah terus berteriak, dan terus begitu meski tetangga sekitar sudah menjadikannya sebagai tontonan.
“M-MAS ....” Nurma sadar sesadar-sadarnya, dirinya akan diamu*k oleh Budi melebihi apa yang pernah Suci dapatkan dari pria itu.
“Mau tidak mau, kamu harus bayar tuntas ganti rugi yang Suci minta, Nur! Apa pun yang kamu punya, jual! Ke orang tua kamu. Pokoknya wajib. Hari ini juga sudah wajib ada uang tiga ratus juta bahkan lebih! Kebangetan kamu!” tegas pak Munasir masih bertahan di sana. Ia bahkan tidak berniat menghentikan Budi ketika putranya itu menenpe*leng Nurma hingga Nurma berakhir meringkuk di sofa sana.
“Ngapain kamu kasih tahu Binar? Kenapa kamu sampai mumu*kuli dia?!” bentak Budi.
“Karena aku enggak mau kehilangan kamu, Mas!” balas Nurma hanya bisa menangis.
__ADS_1
“Memangnya aku kurang apa ke kamu?! Aku kurang apa, Nurrrr?!” lanjut Budi yang kali ini nyaris men*inju wajah Nurma andai wanita itu tak menghindar.
Jantung Nurma nyaris copot karenanya. “Ampun Mas ... ampun!” mohonnya.
“Ci, ngapain kamu ke sini lagi? Kamu mau balikin sertifik*atnya?” ucap ibu Syamsiah.
Dari luar, suara ibu Syamsiah terdengar tak histeris dari sebelumnya. Detik itu juga Budi terusik. Terseok-seok ia melangkah untuk memastikan. Di ruang sebelahnya, ternyata Suci memang kembali.
“Ci ...?” panggil Budi dan tak jadi melanjutkan ucapannya lantaran Suci tidak datang sendiri. Suci ditemani Sepri. Maksud keduanya datang untuk mengambil motor Suci.
“Kenapa kalian juga sampai membawa motor itu?!” histeris ibu Syamsiah makin stre*s meski ia sadar, yang dituntun Sepri itu motor Suci. Ia sempat menghalang-halangi, tapi Sepri nekat menabr*aknya hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain minggir.
“Buang istri suci demi janda kedaluwarsa ... ya Budi namanya, si suami durjana ...!” lantang Ojan sengaja berdendang lagu dangdut khasnya sambil menatap mengej*ek Budi yang mereka tinggalkan.
“Aku benar-benar dikib*ulin habis-habisan ya sama si Nurma!” batin Budi benar-benar emosi.
Budi melangkah cepat sekaligus kas*ar memasuki rumahnya yang dibisingkan oleh tangis dari ibu Syamsiah. Karenanya, ia sengaja menutup sekaligus mengunci pintu rumahnya.
__ADS_1
“NURMAAA!”
Suara Budi kali ini sampai ke telinga tetangga sekitar dan tadi sempat menonton. Mendengar itu, tetangga kompak meyakini nasib Nurma akan jauh lebih tragis.
“AKU BERSUMPAH, SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCERAIKAN KAMU APA PUN YANG TERJADI, BAHKAN MESKI SAMPAI KAPAN PUN, KAMU JUGA ENGGAK AKAN PERNAH AKU NIKAHI SECARA RESMI! AKU AKAN MENIKAHI WANITA LAIN SECARA RESMI DAN AKAN KUBUAT KAMU MENDERITA MELEBIHI SUCI SETELAH KAMU MERU*S*AK HUBUNGAN KAMI!” tegas Budi kepada Nurma yang kebetulan baru akan duduk dari sofa di sana.
Nurma masih memegangi bekas tempelen*gan Budi merasa bahwa apa yang Budi ucapkan tak ubahnya petir di siang bolong. Nurma merasa bahwa sum*pah ser*apah Budi barusan tak ubahnya awal malapetaka sekaligus mimpi bu*ruknya.
“Sekarang siap-siap, kita pergi ke rumah orang tua kamu. Tinggalkan Al dan El di sana, pastikan kamu membayar semua denda kepada Suci agar rumah dan pekarangan ini tidak melayang!” tegas Budi. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah lagi memberimu termasuk anak-anakmu nafkah, dan kalian tidak boleh bertemu agar kamu merasakan sakitnya dipisahkan dengan darah daging sendiri seperti yang sudah kamu lakukan kepadaku dan Binar!” lanjut Budi masih meledak-ledak.
Berbeda ketika Budi masih bersama Suci dan saat itu Nurma sangat berkuasa, kali ini Nurma tidak bisa berbuat apa-apa. Dibentak bahkan diam*uk hanya Nurma tanggapi dengan air mata.
***
“Tiga ratus juta memang tidak sebanding dengan luka-luka kami. Aku hanya ingin mereka merasakan sedikit kesakitan apalagi selama ini, yang mereka pikirkan hanyalah uang dan bagaimana caranya agar mereka memiliki dalam jumlah banyak sekaligus cepat. Mereka bahkan tetap tidak memikirkan Binar. Sepanjang tadi, yang mereka permasalahkan sekaligus tangisi hanya denda. Mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan Binar yang sudah dicekoki foto sekaligus video tak sen*on*oh yang diperagakan oleh papahnya. Binar sayang, ... Binar yang malang ... kamu yang kuat yah sayang. Mamah janji, ini menjadi akhir dari air mata sekaligus kesedihan kita. Karena mulai sekarang beneran akan menjadi awal kebahagiaan kita terlebih Mamah dan papah benar-benar akan berpisah!” batin Suci dalam hatinya. Sambil menunduk, ia yang masih duduk di sebelah Azzam menjadi rutin menyeka air matanya menggunakan kedua jari tangannya.
Sampai klinik, Suci memutuskan untuk menjalani infus di kontrakan. Suci kembali tinggal di kontrakan demi keamanannya maupun Binar. Karena jujur, meski ibu Manis sang mamah tinggal sendiri, Suci takut tinggal di sana. Suci takut didatangi Budi sekeluarga maupun Nurma. Jadi, untuk saat ini, kontrakan milik keluarga Sepri memang menjadi tempat paling aman untuk Suci maupun Binar.
__ADS_1
“Namun andai ada pilihan lebih baik, jujur aku ingin membawa Binar pergi jauh ke tempat di mana tidak ada yang mengenal kami. Tempat di mana kami tidak harus berurusan dengan Budi. Hanya saja, selain mencari pekerjaan tidak mudah, memiliki lingkungan sekaligus rekan kerja yang baik seperti di sini, juga susah. Ditambah lagi, Binar juga sudah cocok dengan teman sekolahnya. Bismillah, ... ini benar-benar akan menjadi lembaran baru buat kami!” batin Suci menghabiskan malamnya dengan mendekap Binar. Kedua matanya terus mengawasi wajah Binar yang memang sangat mirip dengan Budi.