Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
37 : Janda Terlarang


__ADS_3

“Jangan kerja terus kenapa Mas? Uang kamu sudah terlalu banyak! Sekarang kamu fokus cari istri saja!” rengek ibu Septi sambil menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah kediamannya. Awalnya, ia baru saja meninggalkan lantai atas, sementara Sepri yang putra sudah melangkah buru-buru sambil menenteng gulungan karung.


Ibu Septi yakin, Sepri akan mengurus usaha jual beli padi. Karena meski sang putra merupakan seorang difabel dan tak memiliki kaki kanan sejak lahir, Sepri tipikal yang sangat pekerja keras. Sang putra seolah tidak memiliki rasa lelah, hingga kerjaan segudang pun bisa pria itu selesaikan tanpa halangan berarti.


Sepri menghela napas dalam sambil menatap heran sang mamah. Di waktu bersamaan, sang mamah yang melangkah sambil berpegangan pada pegangan tangga justru nyaris jatuh. Andai ibu Septi tidak berpegangan, tentu hasilnya fatal.


“Mah ....” Sepri sudah buru-buru menghampiri sang mamah. Menggunakan tangan kirinya yang tidak membawa karung, ia menuntun sang mamah.


“Ini tanda-tanda kalau Mamah sudah harus emban cucu, Mas!” yakin ibu Septi sengaja memberi sang putra kode keras.


“Tiga tahun atau malah enggak nyampe, Ndari pasti nikah sama Azzam. Nanti mereka langsung suruh punya anak saja!” yakin Sepri.


“Bener Pri,” ucap Ojan dengan santainya dari lantai atas. Ia menjadi termangu hingga kedua orang di lantai bawah sana, menunggu.


“Besok yah, kalau aku sudah punya istri, aku mau langsung tancap gas bikin anak. Pokoknya gempur terus enggak boleh kendor. Soalnya malaikat Izrail sudah WA, katanya aku sudah jatuh tempo!” lanjut Ojan yang detik itu juga sudah langsung membuat kedua orang yang menyimak, tertawa sampai lemas.


“Di WA gimana? Maksudnya yang sampai jatuh tempo itu umur kamu, ya?” ucap Sepri di sela tawanya.


Ojan yang menyimak dengan serius, langsung mengangguk. “Bener, Pri! Katanya umur aku sudah mendekati masa kedaluarsa!”


“Nah itu nyadar!” semprot Sepri yang kemudian menggeleng tak habis pikir sambil tetap menatap Ojan.


“Lah, nyadar gimana? Dikiranya selama ini aku koma?” sewot Ojan.

__ADS_1


Tak mau makin runyam, Sepri sengaja pergi dari sana sambil menyalami tangan kanan sang mamah.


“Kamu mau ke mana, Mas? Sudah, kamu enggak usah kerja terus. Mendingan sekarang, kamu istirahat saja sekalian siap-siap cari istri!” pinta ibu Septi benar-benar memohon.


“Sekalian cariin satu buat aku juga yah, Pri!” heboh Ojan masih di atas sana. “Biar cepat-cepat bisa kejar target sibuk bikin anak!” Belum apa-apa, ia sudah sangat bersemangat.


Mendengar itu, Sepri langsung mendengkus pasrah. Urusan menikah memang masih menjadi hal yang sangat sulit ia lakukan. Tak semata karena dirinya yang seorang difabel dan membuatnya tak percaya diri, tetapi juga ia yang sampai detik ini belum yakin dengan perasaannya sendiri. Meski kepada Binar dan Suci, Sepri benar-benar ingin menjaganya. Sepri ingin memberikan yang terbaik untuk keduanya.


Dituntut untuk segera memiliki istri sekaligus memiliki keluarga kecil bahagia, membuat Sepri bingung sebingung-bingungnya. Sejak siang tadi, Sepri jadi kurang konsentrasi. Namun ia sengaja menjalani waktunya untuk bekerja di sekitar rumahnya. Kali ini ia tengah mengurus pengangkutan padi. Padi di gudang miliknya sedang dibongkar, tapi Binar yang tampaknya tertarik pada dua mobil truk yang berjejer di sana dan siap untuk mengangkut, tampak kepo.


Sepri sengaja mendekati Binar yang mendekap sebuah boneka beruang kecil berwarna cokelat. “Binar, ada apa?” ucapnya lembut sengaja jongkok di hadapan Binar agar wajah mereka sejajar dan mengobrol pun lebih enak.


“Truknya ada dua, Om!” ucap Binar masih jauh dari ceria.


Sepri baru saja mengemban Binar dan tak mengetahui jika di kontrakan sana, Suci lari ke sana kemari melongok ke segala penjuru. Suci tampak mencari-cari dan menghampiri Sepri yang tak luput dari tujuan pencariannya. Sebab cara Sepri mengemban Binar dan itu di depan dada, membuat Binar tak kelihatan jika hanya dilihat dari kejauhan. Ditambah lagi, Sepri terus memunggungi keberadaan Suci.


“Masya Alloh, Binar ...,” ucap Suci yang akhirnya bisa bernapas lega. Kemudian ia menatap Sepri yang menatapnya tak kalah terkejut.


“Dicariin?” tanya Sepri memastikan.


Suci yang sudah tak lagi memakai cadar, berangsur mengangguk-angguk menatap Sepri.


“Tadi Binar enggak pamit?” sergah Sepri sambil melongok wajah Binar. Ia sengaja bertanya kepada Binar.

__ADS_1


“Pamit, tapi suaranya enggak jelas soalnya tadi aku lagi nyuci dan air di keran kamar mandi, nyala, Mas!” ucap Suci yang sampai detik ini masih deg-degan.


Sepri langsung tersenyum masam. “Ya sudah kalau mau ditinggal, tinggal saja, Mbak. Kebetulan hari ini saya kerja di sekitar rumah. Lagi urus pengangkutan padi, dan saya pun enggak turun langsung buat angkut jadi aman, Binar jauh dari debu padi!”


“Cie ....” Ledekan singkat barusan terdengar mirip layaknya suara Ojan.


Benar, itu sungguh Ojan yang memakai serba hitam. Suci sudah langsung tersenyum sambil mengangguk ramah kepada Ojan. Lain dengan Sepri yang jadi sibuk mendelik, memberi Ojan agar secepatnya pergi.


“Mbak Suci ... Mbak Suci, ... itu si Sepri kenapa, Mbak? Kenapa mendelik-mendelik begitu. Mirip orang kekurangan kasih sayang! Kurang bela*ian itu!” heboh Ojan.


Suci yang awalnya menyikapi kekhawatiran Ojan dengan serius, menjadi tersenyum miris setelah mendengar lanjutan dari ucapan Ojan. Ia tatap wajah Sepri yang menjadi sibuk istighfar.


“Jan, enggak boleh gitu, ya. Takutnya Mbak Suci enggak nyaman. Enggak semuanya, termasuk meski mereka orang yang dekat sama kita, bisa diajak bercanda sembarangan. Aku cubit nanti bibir kamu pakai tang panas biar kamu kapok!” ucap Sepri kali ini benar-benar mengomel lantaran ia merasa tidak enak kepada Suci, meski Suci berdalih tidak apa-apa.


“Makanya Pri, beliin aku hape. Biar aku ada kerjaan ngabsenin cinta para janda. Soalnya kalau pakai lator-lator, enggak bisa WA apalagi kirim fotoku yang ganteng ini loh. Wajah ganteng aku bisa bulukan kalau kelamaan disia-siakan, Pri!” yakin Ojan sedang usaha.


Karena Suci yang ia pergoki menahan senyum justru pamit undur, ia sengaja menjadikan wanita itu sebagai bagian dari misinya.


“Mbak Suci, ayolah tolongin. Tolong bantu aku buat nikahin Sepri biar dia punya pawang dan ke aku pun enggak sepelit ini. Pri, orang pelit jodohnya bisa ditikung orang loh!” yakin Ojan. “Apalagi sebenarnya aku pengin nikung Mbak Suci. Penginnya beneran banget! Tapi aku sadar, mbak Suci ini janda telarang karena sudah jadi bahan incaran!” ucap Ojan terus nyerocos meski Sepri sudah sibuk mendelik kepadanya.


Berbeda dengan Sepri, Suci justru menanggapi Ojan dengan santai. Terlebih sejauh ini Suci paham, jika sudah berkaitan dengan Ojan, Azzam dan Sepri, ketiganya ini pasti akan sibuk bercanda. Justru, kini Suci tengah bertanya-tanya, kenapa pihak Budi tak kunjung mengabarinya, sementara hari ini menjadi hari jatuh tempo dari dendanya.


Benarkah Budi sekeluarga akan melepaskan rumah berikut pekarangannya kepada Suci, sebagai denda?

__ADS_1


__ADS_2