Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
70 : Mencintai Dengan Sempurna


__ADS_3

Sepri memboyong Binar, Suci, bahkan Elena ke rumahnya. Di hadapan keluarganya maupun Excel, ia mengenalkan Suci sebagai calon istrinya. Sepri melakukannya tanpa mengungkap rencana perjodohan yang sempat Elena bahas, sebelum gadis itu mengetahui hubungan Sepri dan Suci.


“Masya Allah ....” Azzura menjadi sosok yang menjadi merasa serba salah karena andai ia mengucapkan selamat kepada Sepri dan Suci, ada Elena yang akan terzalimi.


“Alhamdullilah kalau gitu, Mas. Kami juga turut bahagia jika memang begitu keadaannya,” ucap Excel sengaja angkat suara lantaran sadar, sang istri merasa serba salah. Sekadar mengucapkan selamat kepada Sepri dan Suci saja, Azzura tampak ragu. Sesekali, Excel akan menoleh, melirik, atau malah menatap Elena. Namun di sofa tunggal paling ujung di deretan yang ditempati keluarganya, Elena tampak legowo. Elena memasang wajah semringah dan kenyataan itu agaknya sedikit membuat Excel lega.


Tidak perlu ada yang dikhawatirkan—itulah yang Excel sekeluarga, maupun Sepri dan Suci rasakan setelah mereka memastikan tanggapan Elena.


“Elena, kamu masih sangat muda. Kamu cantik, kamu berpendidikan, perjalananmu masih sangat panjang. Tetap jadi anak yang baik dan jangan pernah takut enggak kebagian jodoh baik karena orang baik yang ada di dunia ini bukan hanya mas Sepri. Saya doakan, kamu juga akan mendapat jodoh terbaik—amin ya Allah,” batin Suci, diam-diam mendoakan Malini yang juga diam-diam awasi melalui lirikan.


Satu hal yang membuat Suci merasa sangat nyaman, sangat dihargai sekaligus dimiliki. Karena sampai detik ini, Sepri yang juga masih memangku Binar yang tidur, juga masih menggenggam sebelah tangannya.


Di tengah obrolan hangat bersama keluarga Excel, ibu Septi mengajak Suci menyiapkan minuman di dapur.


“Mah, ...?” panggil Suci basa-basi kepada ibu Septi yang memang sudah mewajibkannya untuk memanggil wanita itu “mamah”.


“Kenapa, Mbak?” tanya ibu Septi yang tengah mengisi panci dengan air untuk direbus.


Suci yang melepas setiap tali dari teh celup, masih kerap mengawasi sekitar. “Ini mas Ojan kok enggak kelihatan? Ketinggalan di mana, lagi?”

__ADS_1


“Lah iya, ... si Ojan ke mana lagi, ini? Wong tadi sudah diturunin dari mobil ... bentar, tadi kan dia main sama Adam. Terus kok, tiba-tiba ngilang, ya?” ucap ibu Septi yang jadi bingung sendiri.


Teh manis ibu Septi pilih menjadi jamuan. Ia sengaja membiarkan Suci menyiapkan es batu dan sengaja dihancu*urkan kemudian dimasukkan ke dalam termos es.


Beberapa camilan juga mereka sajikan. Termasuk buah dari dalam kulkas yang juga mereka potong secara khusus.


Malam ini, kebersamaan mereka diisi dengan obrolan hangat tanpa sedikit pun membahas perjodohan antara Sepri dan Elena. Setelah cukup lama bergabung dan Suci sengaja meminum satu gelas es teh buatannya demi mengimbangi tamu yang ada, Suci juga mengikuti Sepri yang berniat menidurkan Binar di kamar. Sepri membawa mereka ke kamar pria itu dan keberadaannya ada di lantai atas.


Kini menjadi kali pertama Suci menginjakkan kakinya di anak tangga bahkan lantai atas dan itu sampai masuk ke kamar Sepri. Kamar Sepri tidak begitu luas, tapi memiliki tempat tidur luas dan juga lemari pakaian maupun sepatu dan tas terbilang besar. Yang paling mencolok, selain di sana sampai ada aquarium, gambar buatan Binar yang diberi nama “Seprimen” juga turut menghiasi salah satu meja nakas di sebelah tempat tidur.


“Manis banget Mas!” sergah Suci berbisik-bisik sambil meraih bingkai pink berisi gambar buatan Binar.


“Dinding kamar masih kosong dan bisa buat gantung setiap bingkai berisi momen berharga kita,” ucap Sepri berangsur menidurkan Binar dengan sangat hati-hati di tengah tempat tidurnya.


“Tidur di sini saja, Mah. Nanti aku tidur di kamar tamu,” ucap Sepri yang entah sejak kapan begitu nyaman memanggil Suci “mah—mamah”.


“Makasih banyak Mas,” ucap Suci yang sudah menatap Sepri penuh rasa syukur.


Melihat Suci yang jadi berkaca-kaca menatapnya sambil terus tersenyum, hati Sepri sudah langsung terenyuh. Dengan sendirinya kakinya melangkah menghampiri Suci.

__ADS_1


Tak bermaksud menolak, Suci memilih untuk tetap berdiri di sana dan sengaja menunduk, menjaga pandangannya.


Keadaan kini tidak hanya membuat dunia Suci seolah berputar lebih lambat. Sebab Sepri.yang sengaja ingin lebih dekat dengan Suci, juga sampai merasa bahwa dunianya memang berhenti berputar dan sepenuhnya telah dimiliki Suci.


“Jangan nangis lagi,” lembut Sepri yang jujur saja, akan langsung merasa sangat sedih di setiap Suci tersedu-sedu layaknya tadi dan itu karenanya.


Suci yang masih menunduk, berangsur mengangguk-angguk. Detik berikutnya, ia mendengar Sepri yang menghela napas dalam seiring pria itu yang menunduk dan berakhir membenamkan wajah di ubun-ubun Suci.


“Ini ... apakah ini sikap manis versi Mas Sepri yang selama ini bahkan sampai sekarang, selalu kaku mirip kanebo kering?” batin Suci sudah langsung deg-degan tak karuan. Panas dingin ia rasakan karena terlalu gugup bahkan tegang. Karena meski dirinya seorang janda yang sebelumnya pernah mab*uk kepayang karena cinta, cara Sepri memperlakukannya benar-benar berbeda.


“Aku beneran sudah sayang banget ke kamu. Aku beneran sudah enggak butuh yang lain, asal kamu sama Binar mau sama-sama, sama aku. Biar kita bisa jadi keluarga bahagia seperti keluargaku yang beneran rukun. Ayo sama-sama bangun rumah tangga untuk keluarga kita.” Sepri bertutur sangat lembut sambil terus menunduk dan perlahan mendapatkan balasan tatapan dari Suci yang perlahan mendongak hanya untuk menatapnya.


“Aku tahu aku jauh dari sempurna. Aku tahu kamu terlalu sempurna buat aku,” ucap Sepri masih lirih sekaligus lembut, tapi kali ini ia sampai berkaca-kaca menatap Suci yang malah sudah langsung berlinang air mata.


“Jangan nangis,” ucap Sepri yang meski sempat bingung harus berbuat apa, berangsur mengelap air mata Suci menggunakan kedua jemari tangannya. Ia bahkan jadi membingkai wajah Suci menggunakan kedua tangannya.


“I-ini tangis bahagia, Mas! Aku benar-benar bahagia!” yakin Suci sambil menatap dalam kedua mata Sepri di tengah air matanya yang sibuk berlinang.


Sepri tak langsung menjawab atau setidaknya merespons. Kedua matanya terlalu fokus menatap kedua mata Suci yang juga masih menatapnya dengan tatapan salam. “Apa pun buat kalian, ... aku akan selalu melakukan sekaligus memberikan yang terbaik!” yakinnya.

__ADS_1


Mendengar itu, Suci sudah refleks mengangguk-angguk, membuat butiran bening dengan bersamaan luruh dari kedua sudut matanya. “Aku percaya Mas. Apalagi sejauh ini, Mas selalu ada dan selalu jadi pelindung kami, bahkan ketika kami masih dengan mas Budi. Dan aku sangat berharap, selamanya, Mas akan tetap menjadikan kami sebagai yang paling utama. Tanpa ada yang lain. Mas tahu apa yang sudah aku alami, kan? Terserah Mas mau anggap aku apa. Namun aku menolak dipoligami atau sekadar diselingkuhi. Andai Mas sudah bosan denganku, cukup bilang. Karena jika memang masih bisa diperbaiki, ayo kita jalani. Namun jika memang sudah enggak bisa, lebih baik kita akhiri secara baik-baik karena memulainya pun, kita dengan baik-baik!” ucap Suci wanti-wanti. Di hadapannya, Sepri yang masih menatapnya, berangsur mengangguk-angguk paham sekaligus patuh.


Suci pikir hanya sampai situ, tapi nyatanya untuk pertama kalinya dalam hubungan serius mereka, Sepri sampai memeluknya. Pelukan yang makin lama makin erat.


__ADS_2