
“Pri, ayang Suci digandeng dong, nanti dikira belum disegel! Masa iya, harus aku yang gandeng!” bawel Ojan yang sudah langsung menghampiri.
Ojan sudah terlalu bosan mengganggu ibu Syamsiah. Terlebih pria berkumis tegar itu juga sampai merasakan sabe*tan maut dari tongkat ibu Syamsiah. Lebih tepatnya, mengganggu orang buta yang sangat berisik dan tak segan mengamuk, dirasa Ojan sangat membosankan lantaran yang Ojan mau justru me*ndo*rong ibu Syamsiah ke jurang.
Di lain sisi, Sepri yang tak mau Suci digandeng pria lain bahkan itu oleh Ojan, segera meraih sekaligus menggandeng Suci. Sepri melakukannya dengan spontan dan benar-benar kaku. Namun, Suci yang masih di belakang Sepri juga langsung siaga. Suci segera membalas menggenggam tangan Sepri. Jemari tangan mereka mengisi ruas satu sama lain, sementara tatapan mereka refleks bertatapan dalam. Mereka tak hanya melakukan gerakan spontan. Sebab apa yang mereka lakukan menegaskan bahwa mereka tak terpisahkan. Meski sampai detik ini, mereka harus membatasi setiap komunikasi. Baik dari segi tatapan, ucapan, apalagi sentuhan.
“Sini, Binar sama Mbah,” ucap ibu Manis, tapi Binar tetap tidak mau termasuk itu menyalami Budi—Binar juga tidak mau dan berdalih karena Budi sudah jahat.
“Salim dulu, Mamah sama Om di sini,” tuntun Sepri yang sampai agak membungkuk agar Binar mau salaman dengan Budi. Ia masih melakukannya dengan lirih sekaligus lembut.
Sambil tetap menempel ke Sepri, Binar yang memang tak mau turun dari embanan Sepri, menyalami sang papah dengan takzim. Ia buru-buru mengakhirinya lantaran masih marah sekaligus kecewa. Apalagi sejauh ini, Budi masih saja bersama Nurma.
__ADS_1
Tak beda dengan Nurma, diam-diam Budi juga kepincut pada perubahan Suci yang makin cantik. Suci yang makin glowing, selain pakaian Suci yang tampak jauh lebih berkelas. Budi baru melihat setiap pakaian maupun kerudung yang kali ini menyempurnakan penampilan Suci. Termasuk pakaian Binar dan ibu Manis, Budi baru melihat semua itu yang juga Budi pastikan semuanya serba baru.
Layaknya Suci, kini Sepri juga tampak jauh lebih menjaga sandang pakaiannya. Meski untuk urusan wajah, Sepri memang masih tergolong di bawah standar tampan. Malahan, Sepri tampak belum melakukan perawatan wajah secara khusus. Hingga yang ada, Budi tetap merasa lebih tampan, lebih gagah. Bahkan meski kini, Budi sadar kedua kakinya lumpuh. Kebiasaannya mengolo*k-ol*ok Sepri, mengatai pria itu bunt*ung, bisa jadi akan membuat orang lain melakukan hal serupa kepadanya. Semua itu tidak masalah bagi Budi yang tetap merasa lebih depan dari Sepri.
“Gimana sih, Bud? Belum juga serah terima Suci secara baik-baik, sekarang kamu malah lumpuh! Kamu sadar enggak, ini ibarat aza*b nyata dari Allah buat suami ringan tangan sekaligus hobi zi*na seperti kamu?” sengit ibu Manis. “Terus kamu lagi, Nur. Astaghfirullah, sudah enggak dikasih jatah kosmetik sama baju dari Suci, nasibmu kok yo ngenes gini. Emang gini sih, akhir dari wanita parasit yang hobi ambil punya orang. Kalau sekadar kosmetik, pakaian dan barang, oke ya karena dia emang enggak mampu memiliki secara waras. Lah, suami ipar saja sampai diambil, enggak kira-kira banget, kan? Tapi ya sudah bukan hal aneh apalagi mengejutkan sih. Yang enggak berkualitas kan cocoknya sama yang murah*an kayak kamu! Maaf ya, Bud, Nur, Suci terlalu berharga buat jadi bagian dari kalian. Dan Suci beneran bahagia setelah lepas dari kalian. Jadi ini, gini saya juga sengaja sekalian buat terima kasih. Terima kasih banyak karena sudah jadi pasangan bia*dab. Semoga kalian langgeng meski hidup kalian jauh dari kata bahagia. Jangan lupa buat lirik wanita lain terus zin*a tiada henti dengan wanita lain, biar Nurma merasakan apa yang pernah Suci rasakan yah, Bud. Syukur-syukur kalau kamu berzi*na dengan wanita yang masih saudaranya Nurma. Ini beneran paket komplit sekaligus kombo sih!” ucap ibu manis panjang lebar dan sengaja meluapkan kemenangannya.
“Lawan Mbah, lawan! Aku suka, aku suka banget kalau ada yang gelud menggelud begini! Pokoke lawan, Mbah!” Ojan sangat bersemangat dan tak segan memijat pundak ibu Manis. Ia mendadak menjadi fans sejati ibu Manis.
“Ingat, ya ... bukan Suci dan Binar yang dibuang, tetapi Suci dan Binar yang membuang kalian. Silakan tonton kebahagiaan Suci dan Binar yang sempat kalian hanc*urkan sampai tak berupa. Saya masih sangat ingat, Binar mirip orang kera*s*ukan hanya karena kangen ke Budi. Namun saat itu, Budi masih cinta picek(buta) ke Nurma. Jadi, sekadar minta perhatian sekaligus tanggung jawab dari bapaknya saja, Binar harus ngem*is dulu. Sekarang lihat hasilnya. Kamu sendiri loh Bud yang bikin anak kamu enggak mengharapkan kamu, dan malah lebih lengket dengan calon ayahnya. Ya soalnya gini, Binar kan pinter, tahu mana yang tulus sama mana hang bu*lus!” lanjut ibu Manis masih mendapatkan dukungan penuh dari Ojan.
Sepri sudah sigap memberikan Binar kepada Suci. Sepri berniat melindungi calon ibu mertuanya. Namun ternyata, ibu Manis dengan berani merebut tongkat ibu Syamsiah kemudian melemparnya asal ke sekitar. Tak hanya sampai di situ. Karena ibu Syamsiah dengan cepat memiti*ng, dan berakhir memban*ting ibu Syamsiah hingga ibu Syamsiah refleks berseru, “Hegh!!”
__ADS_1
“Mbah Manis kerennnnnnn! Mirip mbak Septi kalau gelud jurus pit*ing bant*ing selalu dikeluarin!” heboh Ojan kegirangan memeluk ibu Manis dari samping.
Sepri mengembuskan napas lega. Fokus perhatiannya tertuju kepada Budi yang masih duduk di kursi roda dan ada di hadapannya. “Ke depannya, tolong lebih jaga kelakuan orang tua kamu khususnya ibumu!” tegas Sepri. “Karena sekali lagi kalian berulah, itu akan jadi alasan kalian mendekam di penjara!” Setelah berucap demikian, Sepri juga menjelaskan bahwa apa yang ia katakan bukan hanya gertak sambal. “Ayo, Mah ... Binar ... kita makan. Mbah, Jan, masuk. Jangan buang-buang waktu kita yang berharga buat orang enggak berkualitas seperti mereka!” ucap Sepri sambil mengambil alih Binar lagi, selain ia yang kembali menggandeng sebelah tangan Suci lagi.
Karena Sepri langsung buru-buru pergi, kenyataan tersebut langsung membuat Nurma panik. “Ih, aku harus tebar pesona!” yakin Nurma.
Kebetulan, Nurma yang ada di depan tujuan langkah Sepri maupun Suci, sengaja melangkah mendekat. Nurma bermaksud menabra*k manja Sepri menggunakan buah da*d*anya yang besar sekaligus kenyal, dan selama ini menjadi senjata pamungkasnya memikat laki-laki tanpa terkecuali Budi.
Sepri memang tertabrak, tapi dengan cepat, Ojan sengaja mengejar Nurma, menjamb*aknya, kemudian mendoron*gnya sekuat tenaga hingga wajah Nurma berakhir nyungsep ke pangkuan Budi.
“Ojaaaannnn!” jerit Nurma benar-benar histeris.
__ADS_1
“Eh Budi, istrimu ke*gate*lan. Beliin dia cabe jab*l*ay, terus dihalusin, diolesin ke mata buat masker, kepala, sama itunya, biar dia normal!” semprot Ojan sangat kesal dan memang sudah langsung ngambek gara-gara ulah Nurma dan baginya kelihatan banget sedang tebar pesona kepada Sepri. “Mau tebar pesona kok ke Sepri, Sepri kan punya aku, pawangnya segala ulat gatal! Hahahaha!” Kali ini, Ojan benar-benar tertawa dan tak segan jingkrak-jingkrak sambil mendekap Sepri. Binar yang masih diemban Sepri jadi ikut tertawa.
“Masya Allah Mas Ojan, ternyata Mas Ojan protektif banget ke Mas Sepri. Baru juga aku merasa Nurma kayak sengaja deketin mas Sepri, eh ternyata selain punya pendeteksi sinyal janda, Mas Ojan juga punya pendeteksi pengaruh enggak baik ke Mas Sepri!” batin Suci yang kemudian menoleh ke belakang. Sambil menatap Nurma maupun Budi, ia tersenyum puas memamerkan kebahagiaannya. “Ini beneran belum apa-apa. Karena selanjutnya, kalian akan melihat sederet kebahagiaan kami tanpa kalian!” batinnya dan baginya tengah melakukan apa itu yang dinamakan “balas dendam elegan”.