
Segelas kopi hitam baru saja Suci sajikan di tikar karakter ia terjaga untuk kebersamaan Sepri dan Binar. Baru saja, pria itu datang bersama Binar membawa ember yang Suci yakini berisi ikan hias. Keduanya tampak sama-sama serius, sama-sama satu pemikiran bahkan hobi.
“Kopinya, Mas,” ucap Suci lembut, tapi khusus kali ini, ia mengucapkannya sambil deg-degan.
“Iya, Mbak, makasih,” singkat Sepri tanpa sedikit pun melirik Suci. Ia terlalu fokus dengan aquarium yang sedang ia urus bersama Binar.
“Nah memang orangnya kaku gitu, enggak kaget sih, meski jujur, aku ingin Mas Sepri lebih manusiawi kalau memang mau seriusan. Belajar pelan-pelan lah ya,” batin Suci memilih ikut nimbrung pada keseruan Binar dan Sepri.
Suci melongok aquarium yang masih dihiasi ikan bogo, betik, dan juga beberapa ikan sepat meski di sana baru saja diberi ikan warna-warni sekaligus ikan sapu-sapu.
“Eh ...?” refleks Suci kaget ketika mendapati sesuatu berwarna putih agak hijau, jatuh dari kemeja putih bagian punggung yang Sepri kenakan.
Selain refleks jongkok sekaligus mengawasi dengan saksama, Suci berangsur memungutnya. Suci mengenali kedua kuntum itu sebagai melati pengantin.
“Kenapa, Mbak?” tanya Sepri yang juga berangsur jongkok sekaligus ikut mengawasi. Di matanya, dua kuntum itu mirip bunga melati, dan bentuknya seperti yang sempat menghiasi jilbab Nina, istrinya Akala ketika menjalani ijab kabul.
“Ini melati pengantin, Mas,” ucap Suci sambil menahan tawanya.
“Oh ....” Sepri sudah langsung kebingungan. Namun bagi kalian yang sudah membaca novel Akala dan Nina—Pembalasan Istri yang Haram Disentuh, alasan kenapa di kemeja bagian dalam punggung Sepri sampai ada melati pengantin, hal tersebut terjadi karena ulah Ojan. Ojan sengaja mencuri melati pengantin milik Nina karena konon, siapa pun yang berhasil melakukannya, akan segera menyusul menikah juga.
Karenanya, Suci yang paham mitos melati pengantin, jadi menertawakan Sepri. Meski tentu saja, ia hanya melakukannya dengan pelan karena memang sengaja ditahan.
__ADS_1
“Mas sengaja ambil?” lembut Suci.
Sepri yang masih menatap Suci, buru-buru menggeleng. “Enggak ... buat apa?”
“Loh, memangnya, Mas enggak tahu, mitos mencuri bunga melati pengantin?” balas Suci memang langsung terkejut dan menatap tak percaya wajah khususnya kedua mata Sepri. Di hadapannya, Sepri yang tampak tak tahu-menahu sengaja menggeleng.
“Enggak, Mbak. Memangnya kenapa? Kok sampai ada mitos-mitosnya segala?” balas Sepri.
Detik berikutnya, sambil tersenyum lembut dan menatap kedua mata Sepri penuh keteduhan, Suci menjelaskan.
“Oh gitu ... tapi kok bisa sampai ada di punggungku, ya? Ya sudah, Mbak, Mbak saja yang simpan. Toh nantinya, aku nikahnya bakalan sama Mbak!” ucap Sepri serius dan sangat lempeng.
“Eh, ternyata meski enggak ada Ojan, Binar juga bisa jadi makcomblang baik!” batin Sepri yang dalam hatinya juga sudah langsung tertawa. Ia membagi senyumnya kepada Suci kemudian izin untuk cuci tangan lebih dulu. Namun karena sedari tadi, Binar terus mengikutinya, Sepri juga sengaja membawa Binar untuk ikut serta cuci tangan bersamanya.
“Binar, ya ... beneran sudah berani terang-terangan makcomblangin mamah sama om Sepri!” batin Suci yang diam-diam menertawakan tingkah menggemaskan sang putri. “Ya sudah yuk Binar, kita bahagia bareng om Sepri sekeluarga,” batinnya lagi yang sudah langsung terusik oleh kesibukan di depan klinik sana.
“Kenapa, Mbak?” tanya Sepri sudah langsung kepo sekaligus menyikapi setiap ekspresi termasuk itu fokus perhatian Suci, dengan serius. Sebab mulai detik ini hingga nanti bahkan selamanya, ia tak mau Suci kenapa-kenapa, bahkan sekadar ada yang mengganggu pikiran wanita itu.
Tak butuh waktu lama, Sepri sudah ada di sebelah Suci. Ternyata wanita yang akan ia nikahi, tengah mengawasi suasana klinik.
“Ada mobil ambulan, Mas. Mau angkut atau ...,” ucap Suci sengaja menerka-nerka.
__ADS_1
“Mau rujuk pasien, kah? Atau malah ada yang meninggal?” ucap Sepri yang kemudian refleks menatap kedua mata Suci. Mereka sama-sama berdiri di depan pintu, tapi baru saja, Binar mendadak nyempil di tengah mereka, selain Binar yang kemudian menggandeng sebelah tangan mereka.
Setelah memperhatikan ulah Binar, baik Sepri maupun Suci, kembali fokus ke satu sama lain.
“Dari semua pasien, yang paling serius itu ibu Syamsiah sama pak Budi. Namun andai mereka beres menjalani pengobatan, mobil yang antar harusnya mobil biasa, bukan ambulans,” ucap Suci dan yakin, Sepri tahu itu karena meski tidak ikut bekerja di klinik, Sepri paham keadaan di sana.
“Coba kita ke sana bentar,” sergah Sepri menuntun kebersamaan. Ia masih menggandeng Binar yang juga menggandeng Suci.
Ternyata baik Budi maupun ibu Syamsiah akan dirujuk ke Banyumas. Sebab luka kedua orang tersebut lebih serius dari yang dokter Andri prediksi, hingga penanganan di klinik tidak bisa dilanjutkan.
“Kedua kaki pak Budi tampaknya lumpuh dan wajib menjalani pengobatan khusus ke Banyumas. Termasuk keadaan mata ibu Syamsiah, entah lensa matanya yang rusak dan bisa berakhir katarak, atau malah sudah kebutaan fatal dan wajib operasi besar,” jelas dokter Andri sangat lembut sekaligus sopan, sangat mirip dengan Sundari, sang putri.
Suci sudah langsung tercengang karena biar bagaimanapun, ia masih sulit percaya sebab musibah yang menimpa Budi dan ibu Syamsiah, benar-benar mendadak.
Karena ambulans yang membawa Budi dan ibu Syamsiah, akan pergi, dokter Andri yang masih memakai batik lengan panjang, bekas seragam kondangan ke acara ijab kabul Akala dan Nina, sengaja memberi wejangan. Yang mengantar Budi maupun ibu Syamsiah dan itu menggunakan mobil ambulans berbeda, bukan hanya sopir ambulans. Karena setiap mobil juga sampai disertai perawat. Budi ditemani Nurma, sementara ibu Syamsiah ditemani sang suami.
“Nurma mana, Nurma ... Nurma tanggung jawab kamu. Gara-gara kamu siram wajah aku pakai sup bakso si*la*n buatan kamu, mataku terancam buta! Balikin mataku! Balikin dan kamu wajib ganti rugi! Pokoknya, kamu akan saya laporkan ke polisi!” Ibu Syamsiah tak hentinya meronta-ronta. Sepanjang pemindahannya dari klinik memasuki mobil ambulans yang akan membawanya ke rumah sakit besar dan keberadaannya terbilang jauh, yang terus ia cari Nurma.
Ibu Syamsiah begitu dendam kepada Nurma dan sangat ingin menuntut sekaligus membuat Nurma merasakan apa yang ia rasakan bahkan lebih. Terlepas dari semuanya, ibu Syamsiah juga tidak bisa menerima vonis yang ia dapatkan perihal kedua matanya. Kedua matanya diprediksi bisa katarak bahkan buta, hingga ia wajib menjalani pengobatan mata secara khusus.
Tak kalah menyedihkan, tentu kenyataan Budi yang didorong menggunakan kursi roda oleh perawat laki-laki. Namun berbeda dengan sang ibu yang akhirnya sudah diboyong dengan ambulans, Budi justru hanya diam. Malahan, Budi berangsur menunduk, tampak malu tak lama setelah tatapannya bertemu dengan Suci maupun Sepri. Keduanya sama-sama menggandeng Binar yang masih saja cuek kepadanya.
__ADS_1