
Suci sudah langsung menyalami tangan kanan Sepri dengan sangat takzim. Bersamaan dengan itu, lagi-lagi air matanya mengalir. Air mata yang masih merupakan wujud dari kebahagiaannya. Terlebih sejauh mengenal, semua perhatian sekaligus ketulusan Sepri, sudah telanjur membuat Suci mencintai.
Wanita mana yang tidak bahagia bersanding dengan laki-laki yang dicintai dan sejauh ini sudah langsung memperlakukannya dengan sangat istimewa?
Dari segi fisik, Sepri memang tidak sempurna. Sepri seorang difabel yang terlahir tanpa kaki kanan. Kaki kanan yang menyempurnakan penampilan Sepri sampai detik ini, tak lebih dari kaki palsu. Namun, Sepri mencintai Suci maupun Binar dengan sempurna. Termasuk kepada ibu Manis, Sepri juga sangat peduli. Lebih tepatnya, sepanjang hidupnya, dukungan dari orang terkasih membuat Sepri menjadikan kekurangannya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan kenyataan itu juga yang membuat rasa kagum diam-diam memenuhi hati Suci untuk seorang Sepri, dan kini telah resmi menjadikannya istri.
“Priiii, Mbak Sucinya disun, Pri!” heboh Ojan sambil memegangi bibirnya yang jadi agak mony*ong, efek ditab*ok menggunakan sepatu Azzam.
Permintaan Ojan tersebut sudah langsung membuat yang lain ikut heboh. Suci dan Sepri langsung kebingungan dan berakhir salah tingkah. Keduanya beberapa kali saling tatap dan perlahan tersipu.
“Dipeluk, Mas. Dici*um pipi, dahi, hidung, bibir juga boleh!” yakin ibu Septi memberi sang putra arahan. Sampai detik ini, ia masih kerap menitikkan air mata. Air mata bahagia karena pada akhirnya, putra kesayangannya yang tak sempurna, mau menikah juga.
“Ih Mbak Septi! Aku kan masih di bawah umur. Belum boleh lihat yang silaturahmi bibir!” protes Ojan dan sudah langsung digeprek menggunakan kipas lipat yang ibu Septi pegang.
Pada akhirnya, meski masih tampak ragu sekaligus malu. Baik Suci maupun Sepri berusaha bekerja sama. Tanpa berani menatap terang-terangan atau itu secara gamblang, keduanya sengaja mendekat, membuat tubuh mereka benar-benar tak berjarak. Suci sengaja menempelkan tubuh bagian samping kirinya ke tubuh Sepri kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mendekap pinggang Sepri.
“CIIIIIIIIIIIIIEEEEE!” kompak semuanya dan memang dipimpin oleh Ojan sekaligus Azzam ketika pada akhirnya, Sepri balas memeluk Suci.
__ADS_1
“Jangan hanya cie ... cieee. Ini tolong difotoin, jangan lupa!” ucap Sepri sengaja protes. Ia masih memeluk Suci sambil menahan senyumnya. Senyum yang sudah langsung membuat wajahnya merah merona.
“Akalaaa, cepat difoto jeprat-jepret! Jangan makan gaji buta apalagi makan hati kamu!” semprot Ojan kepada Akala yang ia pergoki tengah jongkok di hadapan Nina. Akala tengah mengganti sepatu Nina dengan sandal jepit. Dan seperti biasa, Akala hanya menanggapi dengan senyum yang sangat sabar sekaligus hangat.
“Eh, Paojan! Sembarangan kamu marah-marah ke adikku!” semprot Azzam tiba-tiba, dan kebetulan masih ada di hadapan Ojan. Lebih membuat Ojan terkejut lagi, Azzam sampai menepuk keras bahu kiri Ojan.
“Tapi kan aku saudaranya Sundari, Jam-Jam!” lirih Ojan yang langsung membuat Azzam kebingungan.
“Oh iya, ya? Kok dunia kita sempit banget ya Jan?” balas Azzam.
“Kan sudah halal, Pri! Ayo sun. Sengak—sengok!” berisik Ojan lagi dan langsung disoraki oleh yang lain, agar Sepri dan Suci mulai romantis juga, layaknya pasangan yang sudah ada.
“Mas Aidan coba tolong maju, dicontohin ke Sepri, gimana harusnya romantis ke istri!” ucap Azzam yang terbawa suasana. Namun detik berikutnya, ia sudah langsung ketakutan karena Sepri mendadak mendelik kepadanya.
“Maaf, Kang Sepri. Maaf! Bibir sama mulutku belum dibeliin rem. Dari kemarin sudah direncanain, tapi Ojan bilang, jangan hanya dibeliin rem, wajib pakai portal lengkap dengan polisi tidur juga!” ucap Azzam yang buru-buru sungkem kepada Sepri. Sungkem yang benar-benar spesial ala rakyat re*ndah dalam drama kolosal, yang begitu menghormati paduka rajanya.
Setelah menandatangani surat nikah sebagai tanda sahnya pernikahan, Suci dan Sepri kembali mengabadikan momen bahagia mereka dalam beberapa foto. Binar ikut serta. Kadang bocah itu di tengah, tapi lebih sering diemban oleh Sepri. Saat-saat seperti itu juga, rombongan Budi yang masih duduk di kursi tamu paling belakang dekat pintu masuk, tampak iri sekaligus nelangsa.
__ADS_1
Khusus untuk Budi, mereka memang terlihat condong ke nelangsa—menyesal karena telah membuang Binar dan Suci. Namun khusus untuk Nurma yang sudah mengabiskan banyak sate hingga tusuk bekasnya menumpuk di piring, mantan pela*kor dalam hubungan Suci dan Budi itu, benar-benar iri. Lagi-lagi Nurma sangat ingin memiliki apa yang Suci miliki yaitu Sepri dan segala kemewahannya.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan sungkem kepada orang tua. Di sini, eyang Fatimah yang paling dituakan dan yang disalami lebih dulu. Namun, kursi di sebelah eyang Fatimah sengaja dikosongkan. Itu menjadi permintaan khusus Sepri yang berharap, Pak Gede alias Pak Haji Abdul Kodir yang tak lain merupakan kakek kandungnya Ojan, dan telah menikahi eyang Fatimah, datang ke sana. Tempat duduk tersebut Sepri khususkan untuk beliau yang memang sudah sangat berjasa kepada Sepri sekeluarga. Karena jasa beliau juga, ibu Septi berjodoh dengan dokter Andri, hingga Sepri menjadi Sepri dewasa dan terbilang sangat berhasil, layaknya kini—baca novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga.
Tangis haru terdengar tersedu-sedu menyatukan kebersamaan di sana dalam rantai air mata. Anehnya, entah nyata atau hanya angan semata, Sepri dan Eyang Fatimah melihat sosok Pak Gede kakek kandungnya Ojan, tersenyum memandangi mereka dengan tubuh memancarkan cahaya. Pak Gede memakai lengan panjang nuansa keemasan layaknya anggota keluarga pengantin lainnya.
***
“Aduh ...,” refleks Suci yang kemudian mengawasi sekitar.
“Kenapa, Mah?” tanya Sepri yang juga langsung mengawasi sekitar. Mereka masih duduk di sofa pelaminan, tapi Suci mengaku seperti ada yang menjambaknya.
Tentu itu Ojan yang baru bisa mencuri melati pengantin Suci. Sepri yang melongok ke belakang sambil berdiri mendapati sepatu ping Ojan di sana. Bisa dipastikan, demi mencuri melati pengantin milik Suci, Ojan rela tiarap di bawah sofa pelaminan Sepri dan Suci duduk.
“Tadi nyangkut kayaknya. Bentar, ini mahkotanya agak geser melorot gini.” Sepri tak berniat mengungkap ulah Ojan. Ia segera duduk setelah membenarkan mahkota kecil yang mempercantik penampilan Suci.
“Tapi kok tadi kayak ada yang jam*b*ak, tarik-tarik gitu ya? Nah, buktinya mahkotanya saja sampai melorot kan?” pikir Suci yakin. Kendati demikian, ia tak berniat memperkarakannya kepada sang suami. Karena yang ia lakukan malah diam-diam membaca ayat kursi dalam hati. Sebab Suci yakin, tadi ada demi*t yang sengaja jail.
__ADS_1