Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
63 : Kita Berhak Bahagia!


__ADS_3

Tatapan sendu sudah langsung Suci dapatkan dari sang ibu ketika akhirnya mereka bertemu. “Sekali-kali, Ibu nginep di sini. Biar tahu suasana malam di sini. Sama mas Ojan, kalian cocok kan? Dari awal, kalian kelihatan cocok akrab banget begitu!” ucap Suci sengaja mengg*oda ibu Manis.


Dianggap cocok, bahkan akrab banget dengan Ojan oleh Suci, ibu Manis langsung melotot. “Dilihat dari mana kami cocok bahkan akrab banget?”


Tak mau berdebat, Suci hanya menahan tawanya. Ia pamit untuk mandi sekaligus salat ashar.


“Mamah, aku mau ke Om Sepri, ya!” ucap Binar bersemangat.


Suci yang nyaris masuk ke ruang di kontrakannya lebih dalam, refleks menoleh. “Om Sepri lagi antar gula merah, Sayang. Paling nanti pulangnya malam. Tadi sudah pamit ke Mamah, dan minta Mamah buat sampaikan juga ke kamu.”


Mendengar itu, Binar langsung terlihat murung. Namun beberapa saat kemudian, Binar berdalih akan main dengan Ojan. Karenanya Suci sengaja mengusulkan agar Binar pergi dengan ibu Manis, lengkap dengan Suci yang sengaja memberi sang putri uang jajan.


“Takut jantungan Ci, kalau Ibu terus-terusan sama Ojan!” ucap ibu Manis terdengar frustrasi bahkan di telinganya sendiri.


Suci yang mendengarnya malah jadi sibuk menahan tawa. “Diikutin saja, Bu. Takutnya mainnya kejauhan.”


“Iya juga sih. Si Ojan kan, mikirnya terlalu instan. Takut Binar diselong(disasarkan) juga sama dia!” ucap ibu Manis buru-buru membereskan seperangkat bedak maupun handuk bekasnya mengurus Binar.

__ADS_1


“Binar, perginya bareng Mbah, ya!” Ibu Manis terus wanti-wanti.


“Iya, Mbah. Tapi Mbah cepat, ya! Tuh, kak Ojan sudah bawa sepeda!” ucap Binar yang memang jadi heboh hanya karena mendapati Ojan sudah menggowes sepeda ontel.


Ibu Manis yang awalnya menyusul, tak lagi khawatir lantaran Ojan hanya membawa Binar naik sepeda keliling sekitar pekarangan rumah.


“Kamu sudah menemui bapakmu,” ucap ibu Manis memulai obrolan yang juga menjadi alasannya ke sana. Obrolan yang juga membuat perasaannya campur aduk karena belum apa-apa saja, ia sudah menangis.


“Meski jujur, rasanya enggak rela banget, kenapa dia menjadi bagian dari kita. Kenapa dia justru bapakmu—” ibu Manis memaksakan diri untuk terus berbicara.


Suci yang duduk di sebelah ibu manis, berangsur meraih sekaligus menggenggam kedua tangan sang ibu. “Lupakan dia, Bu. Lupakan dia karena kita berhak hidup bahagia tanpa dia!”


“Enggak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Karena kalaupun nantinya dia keluar dari penjara, kita cukup melawannya!” lanjut Suci. Meski memiliki bapak seorang N-AP-I yang selama ini tidak pernah baik kepadanya, juga sangat tidak ia inginkan.


Jika bisa, Suci ingin membuang sekaligus menghapus kenyataan tersebut. Hanya saja, Suci tidak bisa dan memang tidak mungkin melakukannya. Karenanya, satu-satunya hal yang mereka bisa ialah hidup bahagia sekaligus damai. Mereka cukup langsung melawan andai pak Kusno kembali datang.


Di teras kontrakan, di tengah malam yang mulai menyelimuti kehidupan, Suci dan ibu Manis saling menguatkan. Suci tak segan memeluk sang ibu yang dulunya juga pernah mengalami KDRT b*rutal layaknya dirinya. Bedanya, ibu Manis tak seberuntung dirinya hingga sampai saat ini, ibu Manis memilih tetap menjadi janda. Ibu Manis benar-benar merasa trauma, hingga wanita itu jadi tidak rela melepas Suci kembali berumah tangga. Terlebih sebelumnya, selain mengalami KDRT, Suci juga dijadikan sapi p*er*ah, bahkan dipoligami dengan Nurma yang selama ini hidupnya Suci tanggung.

__ADS_1


Tengah malam, ibu Manis yang sungguh menginap di kontrakan mendadak terbangun. Ia dapati, di tengah suasana remang yang menyelimuti karena lampu di kamar tak seterang yang di teras rumah maupun ruangan lain, Suci tidak ada.


“Jadi, tadi Mas antar sampai Banyumas?”


Mendengar suara lirih barusan, ibu Manis langsung mengernyit. Ia mengenali suara tadi sebagai suara Suci. Suaranya dari ruang depan, tapi ada suara lain selain suaranya Sepri dan baru saja terdengar membalas pertanyaan Suci. Setelah ibu Manis pastikan, di ruang depan ada orang lain selain Sepri dan Suci yang duduk sila bersebelahan, tengah makan-makan. Tiga orang pria berpakaian layaknya kul*i, tengah lahap makan nasi bungkus. Tampak pula Suci yang tengah melepas setiap daging sate dari tusuknya kemudian menaruhnya ke nasi bungkus yang Sepri santap.


“Kamu juga makan,” ucap Sepri kepada Suci, sementara Suci yang juga menyanding satu porsi nasi, langsung mengangguk-angguk.


“Terus, habis ini mereka langsung balik ke Banyumas?” lirih Suci mulai kembali makan nasi miliknya.


Sambil tetap makan dan memang kelaparan Sepri yang kembali menatap Suci berkata, “Mereka bukan orang banyumas. Mereka tetangganya ayah Angga yang jual aneka makanan flizer itu loh. Ayah kandungnya mas Aidan. Mmm, itu di belakang warung biasa mbak Mbi jualan pecel!”


Mendengar itu, Suci sudah langsung mengangguk-angguk paham. Layaknya yang ibu Manis lakukan sebab perkembangan hubungan Suci dan Sepri sangat pesat. Keduanya sudah mulai melibatkan diri satu sama lain ke dalam kesibukannya. Sekelas Sepri yang sangat flat—dingin, dan hanya akan bersuara jika kepada Binar apalagi Ojan, juga akan sangat hangat jika berinteraksi dengan Suci. Meski hangat versi Sepri memang beda dari pria kebanyakan bahkan Budi. Namun tampaknya, Suci nyaman-nyaman saja. Ditambah lagi, masa depan Suci maupun Binar memang akan sangat cerah jika Suci menikah dengan Sepri.


Ibu Manis memilih mengakhiri kesibukannya di sana. Ia memilih masuk ke dalam kamar lagi. Namun belum sempat melakukannya, Binar yang terbangun langsung keluar kamar lantaran bocah itu mendengar suara Sepri. Binar mengaku rindu, dan ingin bertemu, selain Binar yang tak segan langsung minta dipangku, dan ibu Manis juga jadi bagian dari acara makan-makan di sana. Masih ada tiga bungkus nasi lengkap dengan lauknya. Ibu Manis tidak mungkin menolak karena Suci dan Sepri tampak sangat berharap. Niatnya, ibu Manis juga ingin sambil memomong Binar, tapi jika sudah menempel kepada Sepri yang untungnya sudah mandi sekaligus ganti pakaian, Binar tak mau lepas.


“Ini Ojan enggak ke sini, kalau jam segini?” tanya ibu Manis sambil meraih beberapa satai dari piring saji.

__ADS_1


Detik itu juga Sepri menahan tawanya sambil menatap calon ibu mertuanya yang memilih duduk persis di sebelahnya. “Jangan bahas dia Bu. Soalnya sinyal instingnya kuat banget. Tiba-tiba beneran langsung bisa muncul!” ucapnya dan sudah langsung membuat ibu Manis takut. Karena seperti yang ia yakini, diam-diam, Ojan sudah menjadi pawangnya ibu Manis.


Suci yang menyimak refleks menahan tawanya sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya. Namun ketika tatapannya dan Sepri tak sengaja bertemu, ia tak lagi sanggup menahan tawanya.


__ADS_2