
Hidup tanpa papah membuat Binar merasa tetap ada yang kurang. Terlebih ketika Binar melihat teman sebayanya berinteraksi dengan papah masing-masing, Binar benar-benar iri. Namun adanya om Sepri yang selalu memperhatikan Binar, membuat kekurangan yang Binar rasa sedikit terobati.
“Pagi ini Om mau ke sawah, kalau Binar mau ikut juga, nanti Binar di gubug, ya. Gubuk mirip saung, biar Binar enggak kepanasan,” ucap Sepri. Di hadapannya, Binar sudah langsung semangat. Layaknya namanya, wajah Binar menjadi berbinar-binar.
Hanya saja, melihat kulit Binar yang terlalu putih mirip kulit Suci, tiba-tiba saja Sepri tidak tega. Tak rela rasanya jika kulit Binar sampai gosong karena tersengat sinar matahari berlebihan. Andaipun Binar dipakai pakaian serba panjang, dirasa Sepri itu tak akan berdampak banyak.
“Mamah, aku mau ikut Om Sepri ke sawah!” seru Binar mengabarkannya kepada Suci yang baru beres tugas malam.
Mendengar kabar yang disampaikan penuh kebahagiaan dari sang putri, Suci langsung terkejut. “Binar yakin mau ikut? Tapi yang pinter ya, jangan main-main sendiri. Harus izin sama Om Sepri,” lembut Suci. Meski sempat tak rela andai kulit putih mulus putrinya menjadi gosong karena panasnya suasana sawah terlebih akhir-akhir ini, matahari di tempat mereka tinggal sangat terik bahkan digolongkan terlalu panas, bagi Suci, pengalaman yang akan Binar dapatkan di sawah, akan menjadi salah satu pengalaman berharga yang Binar miliki. Terlebih sejauh ini, Binar tipikal yang sangat suka belajar khusunya mempelajari dunia baru.
“Iya, Mah. Binar janji!” yakin Binar.
Meski semuanya kompak setuju sekaligus bersedia, Sepri yang sangat menyayangi Binar justru tidak rela. “Enggak jadi ke sawah lah yah.”
Baru mendengar itu, ekspresi Suci apalagi Binar, kompak heran dan perlahan kecewa. Khususnya Binar, bocah itu sudah langsung menatap kecewa Sepri.
“Kenapa, Mas Sepri?” tanya Suci sengaja berbisik-bisik.
__ADS_1
“Nanti kulit Binar gosong, Mbak. Lihat aku, masa gang seputih Binar jadi kayak aku,” jujur Sepri berbisik-bisik juga.
Suci refleks mesem kemudian menggeleng. “Enggak apa-apa, Mas. Masih kecil ini. Nanti kalau gede pasti juga inisiatif perawatan sendiri. Yang terpenting sekarang di usia Binar, ya pengalaman. Andai dia enggak suka dan kapok, otomatis dia enggak akan mengulang. Sejauh ini yang saya tangkap begitu sih,” yakinnya.
“Mamah mau ikut?” sergah Binar bersemangat.
“M-mamah ...,” ucap Suci yang sudah langsung terusik oleh hadirnya wanita berhijab lengkap dengan cadar pink.
“Mamah kan belum istirahat, jadi sekarang Binar ke sawahnya sama ukhty Ojin!” ucapnya dan sudah langsung Sepri kenali sebagai Ojan.
“Kamu ngapain pakai gituan!” lirih Sepri sudah langsung menegur keras.
Nada suara sekaligus ekspresi takut Ojan sudah langsung membuat Suci apalagi Binar menahan senyum. Binar bahkan terbahak menertawakan payung pink berukuran kecil yang Ojan pakai. Payung kecil yang jika dipakai Binar juga masih kekecilan.
“Mas Sepri, kalau gitu saya siap-siap dulu, nanti baru nyusul. Saya bikin nasi liwet buat bekal, ya!” sergah Suci bersemangat terlebih Binar juga tampak tidak sabar. Binar tak segan mengajak sekelas Ojan yang sedang menjadi Ojin, bercanda.
“Masaknya di saung saja, Mbak. Di sana ada alat masak kok!” yakin Sepri yang tiba-tiba saja merasa sangat semangat. Karena tiba-tiba saja pula, rasa kagumnya kepada Suci sebagai mamah yang baik untuk Binar, makin membuncah. “Andai aku punya istri seperti mbak Suci yang penyayang banget ke anak,” batinnya sangat berharap.
__ADS_1
“Iya, Mbak. Masaknya di saung saja. Nanti aku bantuin. Bantu makan, hahahaha!” Ojan benar-benar tertawa lepas, meski setelah itu, ia justru disemprot Sepri. Sepri mengingatkannya perihal cadar yang dikenakan.
“Oalah iya ... astaghfirullah ... masya Allah aku lagi jadi ukhty Ojin!” ucap Ojan masih kesulitan mengakhiri tawanya.
“Ya sudah Mas, sebentar ya. Saya siap-siap dulu. Beneran bentar, kok!” yakin Suci yang kemudian berdalih akan menyiapkan beras sekaligus bumbu dapur.
“Pri, itu kamu mending tangkap ikan emas beberapa di belakang buat teman nasi liwetnya. Sekalian ayam, pri. Sekalian bawa kasur, Pri!” ucap Ojan yang masih saja sibuk dengan sederet permintaannya.
Suci yang sudah ada di dalam kontrakan, masih bisa mendengarnya. Hingga Suci tidak bisa untuk tidak tertawa apalagi di beberapa kesempatan, Binar juga ngakak. Dan ketika Suci melongok, ternyata Binar sudah dipanggul oleh Sepri, tapi Ojan yang masih berisik, terus berusaha mengejar. Ketiganya tampak akan ke halaman belakang rumah kediaman orang tua Sepri yang memang luas. Suci berpikir, Sepri benar-benar akan mengambil ikan emas dari sana layaknya arahan Ojan untuk teman nasi liwet yang akan Suci masak.
“Jujur, melihat Binar yang kecewa berat ke papahnya, memang sangat berat. Namun melihat lembaran baru Binar yang dipenuhi bahagia, rasanya keputusan kami menjalani lembaran baru tanpa papahnya Binar memang keputusan paling tepat. Apalagi sejak kemarin, dan perceraian kami langsung diputuskan sah.” Suci berbicara dalam hatinya. Perceraian resminya dengan Budi memang terasa sangat menyakitkan, meninggalkan duka sekaligus trauma mendalam baik untuknya apalagi Binar. Namun Suci ingin berpikir lebih realistis. Lebih baik pergi daripada bertahan tapi terus disakiti.
Sementara alasan perceraian Suci dan Budi dengan begitu mudah menghasilkan keputusan dan bahkan hak asuh Binar mutlak jatuh ke Suci, tentu karena berkas KDRT Budi yang sampai dimasukkan sebagai bukti. Namun dari kemarin, Budi yang juga tidak hadir di persidangan, belum menunjukkan reaksi apa pun. Meski mas Aidan maupun Sepri sekeluarga yakin, andaipun Budi tidak terima, pria itu tak mungkin bisa menuntut lebih.
“Hahahahaha!”
Gelak tawa Binar benar-benar pecah seiring kebersamaan mereka di sawah. Acara sekaligus kesibukan Sepri di sawah kali ini membuat pria itu betah lantaran adanya Binar dan Suci maupun Ojan. Sepri sibuk memanen padi, sementara di saung, Ojan dan Binar membantu Suci menyiapkan masakan. Namun karena Ojan yang tidak mau diam, Binar juga tidak bisa berhenti tertawa.
__ADS_1
“Tawa renyah dari anak, aroma masakan yang sangat lezat dan sampai bikin aku kelaparan, sementara aku juga jadi makin semangat kerja, kok rasanya sesempurna ini. Kok rasanya mirip keluarga bahagia ya,” pikir Sepri yang sudah nyaris memanen habis padinya sendiri.
Cara panen Sepri masih secara manual. Sepri tak sampai memakai mesin khusus. Pria itu menggunakan arit untuk memotong setiap batang padi, kemudian mengumpulkannya di depan saung. Barulah untuk pelepasan gabah atau itu padi, Sepri akan menggunakan mesin.