
Suci yang sadar, ibu Syamsiah akan mengump*at kepadanya dan itu ditegaskan dengan bibir wanita itu yang sudah langsung terbuka sempurna, sengaja berkata, “Jika kembali terjadi, yaitu kalian yang berani melukai saya apalagi Binar lagi, ... kalian apalagi pak Budi, akan langsung berurusan dengan polisi. Kalian akan dipenjara!”
Ibu Syamsiah yang harus menahan kesal, refleks mendes*ah. Ia terpaksa menerima penanganan Suci yang mengakhiri tugasnya di sana dengan mengabarkan, bahwa Budi juga tengah menjalani pengobatan intensif.
“Memangnya Nurma si istri sekaligus menantu idaman, tidak melihat pemberitahuan di hapenya? Tadi yang saya tahu, rekan perawat saya sudah mengabarkan.” Suci berbicara dengan sangat hati-hati.
“Dasar mantu p*e*kok kamu Nur. Istri enggak bec*us! Punya hape cuma buat ganjel kuping!” semprot ibu Syamsiah sudah langsung berdakwah dengan sederet kata menyakitkannya dan ia tujukan khusus untuk Nurma.
“Selamat tinggal masa lalu, ... aku beneran enggak akan pernah mendengar omelan rasa kutuka*n dari mertua keja*m seperti itu lagi,” batin Suci tak mau ambil pusing demi menjaga kewarasannya.
Setelah melakukan kontrol rutin ke setiap pasien, Budi menjadi pasien terakhir yang Suci kunjungi. Hampir tiga puluh menit berlalu, dan ternyata Nurma sudah terjaga di IGD Budi ditangani. Tadi, saat Suci, Dessy, maupun dokter Andri tinggalkan, Budi juga sudah dalam keadaan sadar. Usut punya usut, Budi mengalami kecelakaan di tikungan depan sebelum klinik.
Menurut cerita dari Budi yang disampaikan secara langsung kepada dokter Andri yang menangani, Budi mengalami kecelakaan tunggal karena kelelahan baru pulang dari Jakarta. Namun walau posisi Budi sedang tidak membawa penumpang, mobil Budi ringsek parah. Alasan yang juga membuat tubuh Budi luka berdarah-darah.
“Kontrol rutin, ya,” ucap Suci sebisa mungkin cuek kepada Budi.
“Binar ke mana?” tanya Budi sudah langsung betah memandangi wajah sekaligus penampilan Suci yang jauh lebih necis sekaligus lebih terawat, ketimbang ketika masih menjadi istrinya. Terlebih jika dibandingkan dengan Nurma yang ... sudah gendu*ut, bau lumpur sawah, kulit apalagi wajahnya juga gosong karena beberapa hari terakhir kerja di sawah.
“Lagi beresin gambarnya,” balas Suci masih cuek sambil tetap menutupi sebagian wajahnya menggunakan masker warna pink salem senada dengan warna pakaian yang ia kenakan. Alasan yang membuat kulitnya tampak lebih cerah meski kemarin, ia baru saja ikut ke sawah dengan Sepri.
“Gambar apa?” lanjut Budi masih memandangi wajah Suci yang tak sedikit pun meliriknya.
__ADS_1
Nurma hang gondok karena pemandangan sekarang, jadi sibuk berdeham. Mirip motor yang sedang dipanaskan mesinnya.
Suci yang juga sudah langsung merasa tidak nyaman, berangsur berangsur berdeham. “Lagi gambar supermen.”
Detik itu juga Budi tersenyum karena yakin, itu dirinya. Supermen yang Binar gambar, Budi yakini perwakilan perasaan Binar yang menganggap Budi sebagai super heronya, layaknya biasa.
“Coba panggil ke sini anaknya,” ucap Budi bertepatan dengan Suci yang mengambil termometer dari ketiaknya.
“Ci, tahu diri dikit kenapa? Kalian sudah mantan, sementara aku yang istri Budi, sedang hamil!” jengkel Nurma.
“Sori yah, Nur ... aku enggak doyan suami orang. Yang segel saja banyak yang antre, ngapain aku sama suami orang apalagi yang masa depannya suram? Maaf-maaf saja, meski sekarang aku janda, aku janda berkelas yang bakalan milih, enggak asal kasih kesempatan apalagi selan*gk*angan ke suami orang!” tegas Suci santai tapi tajam. Lirikannya kepada Nurma saja sangat tajam. “Permisi. Kalau infusnya habis, panggil saja. Mungkin sekitar dua jam lagi, infusnya perlu diganti.”
“Papah Binar lagi sakit, dilihat bentar. Bentar saja, sayang.” Susah payah Suci meyakinkan Binar. Ia sampai agak mendorong Binar agar masuk IGD selaku ruang keberadaan Budi.
“Enggak mau ah, Mah! Ngapain juga kita ke Papah, kalau Papah saja jahat ke kita!” balas Binar sampai detik ini masih menolak.
Budi yang mendengar itu secara langsung lantaran Binar menyampaikannya setelah bocah itu masuk ke dalam IGD, langsung bengong. Budi menatap Binar tak percaya.
“Binar ...?” panggil Budi berusaha duduk.
Binar sudah langsung melirik sinis Budi termasuk juga Nurma yang ia dapati ada di sana.
__ADS_1
“Binar, kata Mamah, tadi Binar lagi gambar? Coba Papah lihat, Binar gambar apa?” Budi masih berusaha bersikap semanis mungkin, melakukan pendekatan kepada Binar agar ia memiliki kesempatan memandangi wajah Suci yang cantiknya melebihi bidadari setelah tak lagi menjadi bagian hidupnya lagi.
Binar yang tetap tidak mau berurusan dengan Budi, benar-benar terpaksa mendekati Budi agar sang mamah tidak bersedih.
“Seprimen ...?” lirih Budi benar-benar terkejut melihat nama super hero terbaru dari anaknya. Budi yang hafal tulisan tangan Binar yakin, itu Binar sendiri yang menamai super hero terbarunya.
“Ya iya ... om Sepri kan memang mirip supermen yang hebat itu. Tapi menurutku om Sepri tetap jauh lebih hebat. Om Sepri serba bisa. Aku saja dibikinin aquarium buat ikan-ikan aku. Terus, om Sepri juga selalu ada buat aku sama Mamah. Bahkan om Sepri selalu bikin Mamah tersenyum!” ucap Binar jujur sejujur-jujurnya.
“Nangis batin, nangis batin kamu Mas!” batin Suci.
“Udah sini lukisannya, ... itu punya om Sepri. Ngapain juga Papah cari-cari kami kalau si Bude ada si sini?!” sinis Binar sengaja merebu*t buku gambarnya dari Budi.
Mental Budi sudah langsung terguncang karena perlakuan Binar barusan. Budi mendadak tak bisa berkomentar terlebih meski Suci kembali memak*sa Binar untuk menyalaminya, anak gadisnya itu tetap tidak mau dan benar-benar sinis.
“Binar Sayang, itu Papah sedang sakit,” bujuk Suci yang sebenarnya sengaja ingin mempertegas kepada Budi, bahwa ketimbang kepada Budi yang papanya, Binar justru lebih dekat sekaligus sayang dengan Sepri yang jelas orang asing.
“Enggak mau, Mamah. Papah itu jahat. Sudah biarin saja. Biar papah sama bude saja. Apaan sih, orang jahat kok!” ucap Binar tetap melenggang pergi.
Detik itu juga, tangan kanan Suci yang sempat menahan sebelah tangan Binar, perlahan melepaskannya. Begitu juga dengan tangan kirinya yang berangsur menutup pintu hingga mereka yang di dalam ruang IGD, tak lagi bisa menyaksikan apa yang ada di luar sekitar pintu IGD, termasuk itu aktivitas Suci maupun Binar.
“Kenapa Binar jadi begitu? Terus, si Suci beneran pacaran sama si buntu*ng Sepri? Kurang ajar memang si Suci. Dasar wanita kega*t*elan. Awas saja nanti ya. Enggak ngo*t*ak banget!” batin Budi benar-benar kesal. Andai kedua kakinya bisa bekerja dengan semestinya, ia pasti sudah menghampiri Suci kemudian menghaj*ar wanita itu agar kembali mendidik Binar dengan baik. Namun jangankan melangkah, membuat kedua kakinya berfungsi dengan semestinya, atau bahkan bergerak saja, tubuhnya masih sangat terbatas.
__ADS_1