Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
60 : Ba*nting, Polisikan


__ADS_3

Pintu sudah dibereskan, tapi pak Kusno tak ubahnya mandor bahkan bos di sana. Pria itu mengawasi sambil bersedekap, dan sampai sekarang masih membiarkan perut besarnya tak tertutup.


Sampai detik ini pun, Suci memilik berlindung di balik punggung Sepri. Ujung jemarinya berpegangan pada kemeja biru langit bagian punggung yang Sepri pakai.


Sebenarnya Sepri bisa saja pergi dari sana. Tak harus ada adegan membenarkan pintu apalagi Suci juga terlihat sangat ketakutan. Ditambah lagi, adzan magrib sebentar lagi berkumandang. Dan pertemuan mereka pun tetap bertahan di luar rumah, di depan pintu. Hanya saja, Sepri pantang pulang sebelum dapat restu. Karena akan jadi beban tersendiri bagi Suci jika ia tak mengantongi restu pak Kusno, hari ini juga.


“Saya tahu kamu, kalian masih menunggu jawaban dari saya. Kalian ingin saya merestui sekaligus menjadi wali pernikahan kalian. Masalahnya, ... kalau saya menolak dan baru akan mengizinkan andai kamu memberikan sejumlah uang—”


“Pak!” Suci sengaja memotong sekaligus menghentikan ucapan pak Kusno. Rasa malu langsung ia rasakan dari ujung kak hingga ubun-ubun karena ucapan sang bapak yang makin tua malah makin tidak memakai ot*ak. Rasa malu yang juga sudah langsung membuat dadanya bergemuruh menahan amarah. Terlebih sejauh ini, pak Kusno memang tidak memperlakukannya dengan baik.


“Bapak ingin mengajukan syarat? Mengajukan permohonan sejumlah uang yang harus saya berikan kepada Bapak?” tanya Sepri sengaja memastikan dan sengaja masih berusaha sabar.


“Mas, jangan dikasih, Mas!” bisik Suci masih bertahan di persembunyiannya.

__ADS_1


“LAMBEMU ya, Ci! A-s-u kamu enggak tahu apa cari uang susah? Apa salahnya kalau bapak minta uang ke calon suamimu yang kaya ini biar kamu sebagai anakku jauh lebih berguna!” kesal pak Kusno yang sudah langsung geram setelah ia mendengar ucapan Suci yang berusaha melarang Sepri memberikan sejumlah uang kepadanya.


“Bapak sudah ngomongnya?” tanya Sepri sengaja memastikan. Meski di hadapannya, pak Kusno masih kebingungan, pak Kusno benar-benar belum memberinya jawaban, dalam sekejap ia berhasil memit*ing sekaligus memban*i*ng pria bertubuh besar itu.


Alasan Suci terkejut dan benar-benar syok sekaligus langsung menitikkan air mata, bukan karena ia menyayangkan ulah Sepri. Ia hanya terlalu puas karena hal itu juga yang selama ini sangat ingin ia rasakan. Hanya saja, ia terlahir menjadi pribadi introvert akibat lingkungan tumbuhnya. Akibat ketidakromantisan sekaligus kehan*curan keluarganya dengan keadaan bapaknya yang berperilaku jauh dari baik. Ia dipaks*a menerima kenyataan, dewasa terlalu dini dan lebih memilih melukai dirinya sendiri agar tak makin membuat sang ibu makin terbebani. Ditambah lagi, saat itu sang ibu yang tak memiliki keluarga dekat, begitu sibuk bekerja. Dulu, demi mendapatkan banyak uang untuk menyekolahkan Suci setinggi mungkin, yang ibu Manis lakukan hanyalah bekerja dan bekerja. Apa pun juga dijual asal jadi uang. Jadi, sejak kecil Suci juga sudah bantu-bantu jualan. Meski di awal-awal perjuangannya, adegan sang bapak olen*g, mengamu*k kemudia*an merampas hasil kerja kerasnya layaknya adegan bapak dakjal di layar kaca, sempat mewarnai perjalanan mereka. Kenyataan itu juga yang membuat ibu Manis sempat nyaris membu*nuh pak Kusno menggunakan golok dan wanita itu ambil dari dapur. Ibu Manis tentu lagi-lagi berjuang sendiri, sebab dari dulu, rumah mereka jauh dari tetangga.


Satu hal yang membuat Suci merasa sangat bersyukur. Karena meski Binar juga harus mengalami apa yang ia alami dan itu menyaksikan khancu*ran rumah tangga orang tuanya, Binar justru tipikal yang masih ekspresif. Binar jauh lebih kuat dari Suci dan tak segan melakukan pember*ontakan. Tak kalah istimewa, Binar dikelilingi orang tulus dan sangat menyayangi Binar, di lingkungan klinik. Sebab Sepri sekeluarga bahkan sekelas Ojan, sangat menyayanginya. Keadaan yang boleh dibilang telah menjadi keberuntungan Binar. Terlebih lepas dari Budi, Binar benar-benar bahagia dan tak mau lagi berurusan dengan Budi.


“Kalau gini caranya, saya pastikan, saya tidak akan menjadi wali di pernikahan kalian!” tegas pak Kusno masih ngos-ngosan. Jantungnya seolah mendadak copot karena ulah spontan Sepri yang dengan sangat cepat me*mban*tingnya hingga ia berakhir tersungkur. Mulutnya sampai dipenuhi tanah kering beraroma t*a—i ayam maupun kucing.


“Bapak berani mengancam apalagi tidak mau memberi kami restu? Yakin? Yakin Bapak mau saya laporkan ke polisi?!” tegas Sepri makin emosi.


“Jangankan polisi, ke malaikat saja atau malah Tuhan, saya tidak takut!” tegas pak Kusno masih saja melawan.

__ADS_1


Tanggapan sang bapak membuat Suci merasa sangat malu. Suci tidak bisa mengakhiri tangisnya lantaran bapaknya separah itu. Samp*ah bahkan jauh lebih baik ketimbang bapaknya. Belum lagi interaksi sang bapak dengan tetangga, atau malah nanti interaksi sang bapak dengan keluarga Sepri yang bukan dari orang biasa.


“Kalau begitu, saya benar-benar akan melaporkan Bapak ke polisi yah, Pak!” sergah Sepri tak sekadar mengancam. Sebab ia sudah langsung menelepon mas Aidan, meminta bantuan saudaranya itu untuk mengurus, mengirim pak Kusno ke kantor polisi.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, polisi dari kecamatan benar-benar datang menjemput pak Kusno. Mobil khusus sengaja dijadikan transportasi untuk mengangkut.


“Enggak usah ditangisi orang seperti itu, Mbak,” ucap Sepri. Meski jujur, ia tak enak hati kepada Suci karena biar bagaimanapun, pak Kusno bapak kandungnya Suci.


Suci yang menekap wajahnya menggunakan kedua tangan, mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Justru aku mau bilang makasih banget karena harusnya, memang ini yang dilakukan dari dulu. Soalnya, ke istri sama anak saja tega, apalagi ke orang lain khususnya tetangga? Belum lagi ke orang tua sekaligus keluarga Mas. Aku beneran malu, bingung gimana jelasinnya,” ucap Suci masih menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah. Sampai detik ini ia masih tersedu-sedu, malu, bingung, tapi lega juga karena akhirnya, sang bapak mendapat teguran keras.


Beberapa tetangga masih ada di sana. Mereka kompak mengeluhkan kelakuan pak Kusno. Termasuk alasan istri dan anak-anaknya minggat. Menurut informasi dari tetangga sekitar, dua hari lalu baru terjadi cek c*ok terbilang fatal. Pak Kusno nyaris men*yembeli*h sang istri hingga putra pertamanya dan berusia dua puluh tahun, meng*amuk tak terima.


Terlalu banyak kabar tidak enak tentang sang bapak yang Suci dapatkan dan itu sudah langsung membuat kepalanya seolah retak.

__ADS_1


__ADS_2