
“Ya sudah, Bu. Aku pamit dulu karena Binar harus sekolah,” ucap Suci sengaja pamit. Ia hendak menyalami tangan ibu Manis, tapi wanita itu malah mengemban Binar.
“Sekolah yang pinter, ya. Binar harus lebih sukses dari mamah. Minimal Binar harus jadi dokter. Mbah janji bakalan ikut bantu urus biaya. Nanti kalau mamah sampai nikah lagi, Binar ikut Mbah saja!” ucap ibu Manis sengaja dengan suara terbilang lantang lantaran agar Suci merasa tersindir.
Suci menghela napas dalam sambil menenteng tas gendong warna pink milik Binar.
“Enggak. Aku enggak mau sama Mbah. Aku mau sama Mamah sama om Sepri. Aku mau Mamah nikah sama om Sepri, biar aku punya papah baik dan keren serba bisa kayak om Seprimen!” jujur Binar.
“Seprimen?” batin ibu Manis sudah kebingungan.
“Mereka sudah dekat?” tanya ibu Manis masih melakukannya dengan sinis.
“Ya iya ... kan Ibu juga enggak amnesia, sepanjang aku menuntut keadilan ke yang itu (Budi), mas Sepri dan keluarganya yang selalu ada sekaligus bantu,” balas Suci berusaha meyakinkan.
Kali ini, ibu Manis sudah langsung tidak bisa berkata-kata apalagi julid ke hubungan Suci dan Sepri lagi.
“Mas Sepri bukan orang biasa kok, Mah. Dia dikelilingi orang-orang baik sekaligus keren,” lanjut Suci masih berusaha meyakinkan.
Lagi, ibu Manis tak bisa menjawab. Ia terlalu syok, khawatir, dan memang telanjur trauma. Terlebih ia masih tidak percaya, Suci mengikuti jejaknya yaitu, menjadi istri teraniaya, mengalami KDRT, menjadi sapi pe*rah keluarga suami, juga diselingku*hi. Sepanjang menikah, Suci benar-benar hanya mendapatkan balasan berupa air mata pernikahan. Sama persis seperti yang ibu Manis alami di masa lalu. Sementara yang paling ibu Manis khawatirkan, anak Suci perempuan sementara percaya tidak percaya, apa yang dialami orang tua termasuk KDRT dan perceraian, ada saja yang menurun ke anaknya.
“Jangan tinggal di kontrakan lagi. Tinggal di sini saja,” ucap ibu Manis berat dan masih belum mau menatap Suci.
__ADS_1
“Enggak, Bu. Di kontrakan paling strategis. Dekat dengan sekolah Binar, dekat dengan pekerjaan, dekat ke mana-mana,” ucap Suci sangat sabar.
“Dekat dengan om Sepri juga!” ucap Binar bersemangat dan sudah langsung membuat sang mamah tersipu. Lain dengan sang nenek yang langsung mendengkus malas.
“Dah Mbahhhh ....” Binar benar-benar ceria dadah-dadah kepada ibu Manis di tengah pagi yang segar sekaligus hangat kali ini.
Ibu Manis menyadarinya. Bahwa baik Binar maupun Suci menjadi jauh lebih bahagia semenjak keduanya lepas dari Budi. Masalahnya, yang ibu Manis khawatirkan, kenyataan tersebut tak bisa ia lihat lagi jika Suci benar-benar menikah lagi.
***
“Ya jangan dipaksa ... enggak usah langsung. Pelan-pelan saja,” ucap Sepri ketika Suci menceritakan alasan wanita itu murung dan itu karena permohonan restu yang belum Suci dapatkan dari sang ibu. Malahan, Suci tidak boleh menikah lagi.
“Aku-aku sendiri kalau jadi ibu kamu pasti khawatir, Mbak. Apalagi bisa-bisanya, Mbak mengalami apa yang juga pernah ibu Mbak alami.” Sepri masih sibuk melepas roda motor Ojan di bengkelnya.
“Mas, itu motor kok rodanya dilepas?” tanya Suci. Terlebih di bengkel milik Sepri dan keberadaannya masih satu paket dengan pekarangan rumah, beberapa motor dan sepeda antre menunggu ditambal. Namun roda motor Ojan yang tampak baik-baik saja, justru dilepas kemudian disimpan ke dalam bengkel.
“Biar yang punya enggak minggat-minggat terus!” ucap Sepri refleks emosi hingga ia sengaja meminta maaf kepada Suci yang juga jadi sibuk menahan tawa sambil mengangguk-angguk dan sesekali menatapnya.
“Memangnya mas Ojannya ke mana, Mas?” tanya Suci.
Belum sempat Sepri membalas, ada motor matic masuk ke area depan mereka, dan penumpangnya berakhir mental setelah ada adegan rem mendadak. Itulah jawaban dari pertanyaan Suci yang harusnya dijawab Sepri.
__ADS_1
Pemandangan di hadapan mereka sudah langsung membuat Sepri tertawa. Sepri terpingkal-pingkal karena ulah Azzam yang mirip pembalap level silu*man, malah membuat tubuh Ojan terlempar.
“Jam-jam!” rengek Ojan dan suaranya benar-benar lirih saking sakitnya. Bayangkan saja, wajah Ojan sampai nyungseb ke lantai tegel di sana. “Ini kalau wajahku jadi kayak Aish gimana? Berarti aku pria suci karena Aish saja, wanita suci!” rengek Ojan benar-benar sedih. Karena Sepri tertawa lepas dan tampak sangat bahagia, ia sengaja memeluk erat Suci yang memang menjadi satu-satunya sosok yang menolongnya, meski di sana ada Azzam maupun Sepri.
“Aku go*rok kamu Jan, kalau berani macam-macam ke Mbak Suci!” omel Sepri buru-buru menghampiri sekaligus mengambil alih Suci dari Ojan.
Azzam yang awalnya masih di motor, segera turun, kemudian melepas sandal jepitnya. “Enggak usah tanggung-tanggung, Pri. Gini saja, plak jangan enggak!” Ia sungguh praktik, menggunakan sandal kanannya untuk menim*p*uk kepala Ojan.
Lagi, Sepri kembali tertawa geli. Lain dengan Ojan yang langsung merengek-rengek. Mencari Eyang Fatimah yang entah di mana.
“Lagian kamu jadi orang kebangetan banget sih Jan. Nginep di rumah orang kayak diformalin! Dikiranya Eyang enggak kangen kamu? Sudah sana ditemuin di taman belakang!” semprot Sepri.
“Ya sudah Pri, mbak Suci, aku juga sekalian pamit. Ini aslinya aku sudah telat, ada rapat, tapi Ojan guling-guling minta dianterin!” yakin Azzam.
Sepri yang sempat kembali tertawa, berkata, “Soalnya kamu bilang, Sepri yang di kandang, sakit. Makanya dia jadi tantrum!” Karena dari semua peliharaan yang dimiliki, Ojan memang paling sayang ke Sepri.
“Sesayang itu mas Ojan ke Mas Sepri. Saking sayangnya, peliharaan kesayangannya juga dikasih nama Sepri,” ucap Suci memberanikan diri berkomentar.
“Tapi ya kira-kira, Mbak Suci ... Hahahaha ... yang dikasih nama Sepri, itu loh!” Azzam yang sudah rapi walau tanpa dasi apalagi jas, jadi sibuk menahan tawa.
“Jam ... sungkem. Berani macam-macam, aku kasih kartu kuning atau malah merah, ya!” omel Sepri.
__ADS_1
Azzam yang langsung takut tak dapat restu dari Sepri atas hubungannya dengan Sundari sang kekasih, tak segan menyalami tangan kanan Sepri yang penuh oli, dengan sangat takzim. Wajah Azzam yang terbilang glowing walau tanpa skincare, sampai jadi cemong. Suci yang ada di sana, memilih menunduk guna menyembunyikan senyum sekaligus tawa yang susah payah ia tahan. Karena seperti yang ia katakan kepada sang ibi, lingkungan Sepri benar-benar dipenuhi orang baik, kehangatan, sekaligus kebahagiaan. Terbukti, meski Azzam rajanya jail bin nyinyir, pria itu tetap takut kepada Sepri jika disinggung mengenai restu.