Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
42 : Awalnya Serius, Tapi ....


__ADS_3

Seharian di sawah, padi yang dipanen sudah langsung Sepri bereskan. Ojan memutuskan turun tangan lantaran Suci dan Binar juga ikut membantu.


“Sepri, dari tadi kamu bilang ke mbak Suci sama Binar, ‘awas gatel ... awas gatel’, tapi kok ke aku, enggak?!” protes Ojan.


Tepat sebelum adzan maghrib, semua padi berhasil ditleser dari batang, menghasilkan gabah atau padi yang benar-benar bersih, terlebih musim kemarau kali ini juga dibarengi dengan angin kencang yang membawa reruntuhan selain padi terbawa angin.


“Ya Allah Mas Sepri, aku sampai gemetaran hanya karena lihat kerja Mas secara langsung. Sawah seluas ini diurus sendiri. Tinggal dimasukan ke karung. Masya Allah. Robot saja belum tentu sebaik sekaligus sekuat Mas!” batin Suci diam-diam kagum kepada Sepri, di tengah kenyataan kulitnya yang sudah mulai gatal-gatal terkena padi. Namun, Suci yang malu sekaligus tak mau merepotkan Sepri, hanya diam tanpa mengeluhkan rasa gatalnya.


Terakhir, hampir dua puluh karung hasil panen kali ini, Sepri susun di jonder—grandong—atau itu traktor angkut. Suci dan Binar duduk di sebelah Sepri yang menyetir, sementara di belakang, Ojan duduk di tumpukan padi dan sesekali akan berteriak ketika melewati jalan terjal sekaligus tanjakan.


Liburan yang menyenangkan, Suci mengatakannya kepada Binar maupun Sepri. Binar yang langsung antusias, kegirangan sekaligus membenarkan.


“Tapi kulit kalian jadi gosong loh,” ucap Sepri sembari turun dari jonder.


“Om Sepri, besok aku ikut ke sawah lagi, ya!” semangat Binar sengaja berseru.


“Besok kan sekolah. Ikutnya kalau enggak sekolah, Binar,” ucap Suci. Segera ia mengambil ember berisi ikannya karena Binar juga memintanya.


“Jaaan!” seru Sepri.


“Aku masih hidup, Pri!” balas Ojan terdengar sangat menderita dan menjadi alasan Sepri, Suci, apalagi Binar, tertawa.

__ADS_1


Kepulangan Sepri sudah langsung membuat ibu Septi kepo. Ibu Septi yang masih memakai mukena sengaja melongok ke dapur, setelah sebelumnya sampai agak lagi sekaligus mengendap-endap. Ia dapati, sang putra yang tampak sangat semringah tengah melepas sepatu boot di depan dapur.


Namun ibu Septi tak berniat mengusik kebahagiaan sang putra. Ia sengaja membiarkan Sepri mandi terlebih dahulu. Barulah setelah mereka beres salat isya, ibu Septi berniat membahas kejadian hari ini, di kebersamaan mereka. Di ruang keluarga lantai bawah, sambil memangku sang cucu—anak dari Nissa— ibu Septi sengaja berdeham untuk memulai.


“Mas ...?” ucap ibu Septi.


Sepri yang awalnya sedang menikmati secangkir kopi hitam panasnya, sudah langsung terusik menatap sang mamah yang duduk bersebalahan dengan dokter Andri.


“Kenapa, Mah? Ada apa?” tanya Sepri sambil menatap wajah ibu Septi maupun wajah dokter Andri, silih berganti. Wajah Arkasa putra sang kakak sambung, juga tak luput dari perhatiannya.


“Kamu ada rasa ke mbak Suci?” tanya ibu Septi dan langsung membuat Sepri kebingungan.


Dito*ong mengenai perasaannya kepada Suci, Sepri langsung ketar-ketir.


“Jangan minder-minder lagi, Mas. Apalagi kami lihat, Suci itu beda dari wanita kebanyakan. Pelan-pelan saja dirangkul karena pernikahan sebelumnya, telanjur bikin hati sekaligus mental Suci babak belur. Yang penting, sekarang Mas tetap wajib bikin Binar nyaman. Karena kalau ibu seperti Suci, nomor satu ya anak sama keluarga, Mas. Buktinya, demi Binar saja, Suci rela nahan sakit lahir batin karena Budi sekeluarga apalagi Nurma yang bikin gara-gara,” yakin ibu Septi lembut.


“Masalahnya aku enggak bisa enggak minder. Malu ... ya, memang begini keadaannya, Mah ... Pah.” Hati Sepri menjadi gelisah, ia sungguh langsung tidak baik-baik saja.


“Jadi kamu lebih memilih Suci disakiti lagi? Kamu lebih memilih Binar makin terluka, sementara kamu sadar, kamu mulai bisa membuat nyaman, termasuk kamu sendiri yang sayang sekaligus nyaman bersama mereka?” lembut dokter Andri sambil menatap dalam kedua mata Sepri.


“Itu ....” Sekadar memberi tanggapan saja, Sepri tidak bisa hanya karena ia menyadari, dirinya mulai ingkar. Iya, Sepri mengakui dirinya menginginkan Suci maupun Binar. Namun, keinginannya itu tak lebih besar dari rasa mindernya hanya karena kaki kanannya. Ia seorang difabel, dan merasa itu fatal dalam hal apa pun sebaik apa pun selama ini ia bekerja keras.

__ADS_1


“Katakan ke Papah, sejauh ini, kamu selalu melakukan yang terbaik juga, kan, ke Suci dan Binar?” sergah dokter Andri. Di hadapannya, Sepri yang sempat diam sudah langsung diam menatapnya dengan banyak kepedihan. Namun, diamnya Sepri ia anggap sudah langsung membenarkan anggapannya.


“Bagaimana jika mereka justru jatuh ke orang yang salah hanya karena kamu enggak mau maju, Mas? Siap enggak siap, jika tidak harus berurusan dengan Budi lagi, Suci pasti akan jadi bahan rebutan apalagi Suci cantik, pekerja keras, dan bisa diandalkan. Tanpa kami jelaskan, harusnya kamu paham. Jadi saran kami, pelan-pelan rangkul Suci dan Binar.” Setelah berucap demikian, dokter Andri berkata, “Cinta dan rumah tangga enggak harus dimulai dengan kesempurnaan. Karena yang memulai hubungan bahkan pernikahan dengan saling cinta sekaligus sama-sama siap saja masih banyak yang bercerai. Semuanya beneran tergantung dengan cara kita berkomitmen sekaligus menjalaninya.”


“Iya, ya Mas. Pelan-pelan, nanti Mamah bantu.” Kali ini, ibu Septi benar-benar memohon. “Jadi wanita, jadi istri, apalagi jadi janda itu enggak mudah loh, Mas. Apalagi kalau sampai terus-terusan menolak pinangan. Di kehidupan kita yang ada di kampung begini, ... berat. Rasanya beneran berat meski jandanya enggak berulah.”


Sepri paham apa yang sebenarnya orang tuanya mau. Termasuk apa yang Sepri mau dan sebenarnya sama dengan arahan sekaligus harapan orang tuanya.


“M-maaas ... enggak hanya masalah kebaikan bersama. Suci janda cantik, nah kamu juga sangat pekerja keras. Kamu jangan minder terus ya. Nanti kalau sudah nikah, ya kamu jangan terus-terusan kerja, fokus urus anak istri. Bahagiakan mereka, kerjanya bayar orang saja. Ya pokoknya contoh saja yang sudah ada. Mamah Papah, apa keluarga Jam-Jam. Pernikahan kamu apalagi kalau dengan Suci yang kita semua sama-sama tahu, juga jadi kebahagiaan tersendiri loh, Mas. Kamu sayang, nyaman juga kan dengan Suci? Kamu sayang Binar?” yakin ibu Septi lagi.


“Mbak Septi ya, kalau akting enggak kaleng-kaleng. Maklampir saja nangis lihat Mbak melow-melow gitu. Hatiku sampai retak lihatnya. Cimiwi pokoknya!” ucap Ojan yang dengan entengnya senyum-senyum sendiri, kemudian mengambil duduk di sebelah dokter Andri.


“Mas Andri, Bojomu! Jos, kalau suruh akting sekaligus bant*i*ng-bant*i*ng! Hatiku saja langsung keban*ti*ng lihat air matanya!” bisik Ojan kepada dokter Andri, dan berakhir menjerit kesakitan karena dipuku*l nampan oleh ibu Septi.


“Sudah tua masih saja enggak mikir kamu Jan!” keluh ibu Septi benar-benar geregetan.


Dokter Andri dan Sepri yang menyaksikannya, tidak bisa untuk tidak tertawa. Namun dokter Andri memberi kode keras kepada sang putra sambung untuk melanjutkan pendekatannya terhadap Suci dan Binar.


“Pokoknya dilanjutkan, ya!” bisik dokter Andri.


Meski sempat ragu, Sepri berangsur mengangguk-angguk.

__ADS_1


__ADS_2