Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
46 : Seprimen


__ADS_3

Sepri baru kembali dan membekali Binar yang masih bersamanya dengan banyak jajan. Satu kantong besar Sepri tenteng menggunakan tangan kiri dan itu milik Binar, sementara satu kantong berisi sedang sengaja ia khususkan untuk Suci karena isinya saja sudah berbeda.


“Pri, ayo, Pri. Nanti kita ketinggalan. Azzam bilang yang telat datang, cuma dikasih teh pait sama tusuk sate!” rengek Ojan sambil mengemu*t permen ceker.


“Sabar,” lembut Sepri yang memang akan sangat sabar jika di hadapan Binar.


“Sudah, Binar dibawa saja. Kita kan bukan cul*ik. Lagian kalau aku ramal, kamu sama mamahnya Binar bakalan HALAL!” lanjut Ojan yang masih saja berisik.


Walau diam, dalam hatinya Sepri justru langsung mengaminkan apa yang baru saja Ojan katakan sembari menghela napas pelan sekaligus dalam.


“Itu tadi pasiennya luka parah, ya? Semoga dirawat di sini lama, tapi habis itu mati, biar tukang gali kubur dapat rezeki!” lanjut Ojan sambil melongok suasana IGD yang tampak masih sangat sibuk. Suci dan satu orang perawat, tengah ada di sana membantu dokter Andri—selaku papah sambung Sepri. Terlepas dari semuanya, Ojan juga belum tahu jika pasien di dalam justru Budi. Namun andai Ojan tahu yang di dalam justru Budi, bisa jadi hidup Budi makin tidak baik-baik saja.


Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya Suci, seorang perawat, dan juga dokter yang menangani Budi, keluar dari IGD. Bersamaan dengan itu, Nurma datang membawa ibu Syamsiah yang sampai detik ini masih meraung-raung mengeluhkan kedua matanya yang dikeluhkan sangat perih.


“Ini ngapain ada ke sini? Ini tanda-tanda kalian sudah kena ajab apa bagaimana?” Heboh Ojan yang kebetulan sudah langsung mengenali Nurma dan ibu Syamsiah yang dirempet oleh pak Munasir menggunakan motor.

__ADS_1


“Ya ampun Nurma, kok kamu makin enggak sedap pandang. Nanti yang ada si Budi kawin lagi. Yang sekelas mbak Suci saja disia-siakan, apa lagi yang kayak kamu dan ... iyuhhh, bau tanah!” Ojan masih berisik.


Lain dengan Ojan yang terang-terangan menye*rang Nurma maupun orang tua Budi, Sepri justru sengaja membawa Suci pergi dari sana atas permintaan khusus dari Binar. Binar tak mau mamahnya dilukai oleh Nurma maupun orang tua Budi lagi. Emosi Binar bahkan jadi tidak baik-baik saja.


“Jan ... Jan, ke sini!” seru Sepri sambil terus melangkah keluar dari klinik. Tangan kirinya yang menenteng dua kantong berisi jajan untuk Binar dan Suci, juga sampai menggandeng sebelah tangan Suci. Karena seperti yang Binar mau, Sepri sengaja menuntun sekaligus membawa Suci pergi dari sana.


“Si Suci, beneran mau sama Sepri. Mending gitu sih karena pasti jadi ratu. Langsung tajir melintir si Suci kalau beneran sama Sepri. Apalagi dilihat sekilas saja, Sepri kelihatan sayang banget ke Suci lebih-lebih ke Binar. Enggak apa-apalah kaki kanan Sepri bun*t*ung, pakai celana apa sarung panjang kayak gitu saja enggak kelihatan. Terus mengenai dia yang kurang good looking, bisa diurus sambil jalan sih. Toh, uang Sepri kan banyak, pokoknya beneran bukan masalah. Kira-kira, Sepri mau enggak yah, kalau aku deketin dia? Ini aku beneran wajib modal kosmetik sama pakaian bagus deh, biar dilirik Sepri sama pria kaya lainnya. Soalnya kalau mengandalkan mas Budi, beneran kayak udah enggak ada harapan,” batin Nurma diam-diam mengawasi kebersamaan Sepri dan Suci. Interaksi keduanya bersama Diam yang cenderung diam, benar-benar manis karena dipenuhi perhatian dari Sepri.


“Bilang ke Papah Andri, Suci enggak bisa bantu Nurma dan pasien yang baru datang itu,” sergah Sepri ketika Ojan menghadap kepadanya.


“Sudah jangan ditangani saja. Tanganinya pelan-pelan sengaja dilambatkan saja, biar makin sakit. Biar nyaho! Mereka pasti juga enggak tahu kalau penangananya lambat! Tapi bentar deh, aku pura-pura urus. Doaku satu, berobat di sini agak lama biar dapat bayaran banyak, terus habis itu mereka mati, biar tukang kubur juga dapat rezeki!” ucap Ojan menjadi sibuk sendiri.


“Mata mantan ibu mertuamu ru*sa*k, Mbak!” bisik Dessy, rekan perawat Suci kali ini.


Mendengar itu, tentu Suci sudah langsung terkejut. “Oh, iya ...? Terus gimana? Dirujuk?”

__ADS_1


“Tunggu sampai besok pagi, kata dokter Andri. Kalau tetap enggak ada perubahan, wajib dirujuk ke kabupaten atau malah Purwokerto,” balas Dessy masih berbisik-bisik.


“Aneh, kok malah matanya yang kena? Bukannya selama ini, yang berisik itu mulut ibu Syamsiah?” pikir Suci yang kemudian memperhatikan Binar. Di dalam konter ruang kerjanya dan ada di sebelah pintu masuk, Binar tengah duduk sambil menggambar. Setelah Suci amati, ternyata sang putri menggambar karakter super hero Superman.


“Seprimen ...? Hah?” batin Suci yang sengaja jongkok kemudian memastikan, apa yang Binar tulis memang benar.


“Iya, ini namanya Seprimen. Kan memang om Sepri!” ucap Binar dengan santainya tanpa sedikit pun melirik yang lain bahkan sang mamah. Namun beberapa saat kemudian, ia meminta sang mamah untuk membantunya menggambar hamparan sawah yang penuh padi menguning.


“Gambarin saungnya juga yah, Mah. Nanti aku yang warnai. Om Sepri kan sering di sawah!” mohon Binar.


Mendengar itu, Suci refleks tersenyum dan perlahan tersipu. “Si Binar, imaginasinya sudah enggak kalah dari mas Ojan,” batinnya yang sudah berangsur duduk di sebelah Binar karena ia memang sengaja menggambarkan apa yang sempat Binar minta. Karena bagi Binar, Seprimen yang sudah menjadi super heronya, sibuknya di sawah yang penuh padi menguning, dan di tengah sawah ada saungnya.


“Andai mas Budi tahu, pasti langsung nangis batin karena keputusannya cuek ke Binar, bikin Binar menemukan sosok yang beneran tulus tanpa syarat,” batin Suci lagi masih menyelesaikan gambarnya.


Setelah semua pesanan Binar tergambar, Suci sengaja pamit untuk melakukan pemeriksaan atau itu kontrol rutin kepada setiap pasien.

__ADS_1


Entah kenapa, dunia Suci sudah langsung berputar lebih lambat hanya karena ia memasuki ruang rawat ibu Syamsiah. Di ruang rawat berisi tiga orang termasuk dengan ibu Syamsiah tersebut, suasana benar-benar sepi. Ibu Syamsiah masih meringkuk di ranjang rawat, sementara pak Munasir duduk di kursi plastik yang sudah disediakan. Lain dengan mertuanya, Nurma yang kaki dan tangannya tampak berlumpur, selain aroma lumpur khas sawah yang tercium kuat dari tubuh wanita itu, justru berdiri sambil menunduk dalam di depan ranjang rawat ibu Syamsiah.


“Permisi, pemeriksaan rutin, ya,” ucap Suci sengaja memberanikan diri. Detik itu juga, dirinya sudah langsung menjadi pusat perhatian. Ketiga orang di sana sungguh langsung menoleh sekaligus menatapnya, termasuk ibu Syamsiah yang berusaha mencari sosok Suci sambil berusaha menatap.


__ADS_2