Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
67 : Rencana Perjodohan?


__ADS_3

“Ini gimana sih, Sepri ... berisik salah, diem malah ditinggal. Mana ketemu tuy*ul lagi. Iya kalau tuy*ulnya kasih duit atau malah istri! Et deh, tuh tuy*ul malah pergi. Seenggaknya kasih aku istri, Kek!” kesal Ojan yang kemudian loncat-loncat di sana guna mengundang perhatian siapa pun yang melihat.


“Tapi tumben ini kok sepi gini sih?” keluh Ojan lagi.


Ketika Ojan menyerah dan memilih duduk pasrah di tengah keringat yang terus mengalir dari sekujur tubuhnya, tak lama kemudian, pria itu justru mendengar suara bocah dan sempat yakini sebagai tu*yul.


“Heh? Tu*yulnya datang lagi?” batin Ojan yang kemudian sengaja melongok. “Weeeeh! Tuh tuy*ul beneran mau kasih aku istri?! Widih, cantik! Berkerudung! Masa iya? Sejak kapan tuy*ul temenan apalagi sohib sama bibidari—eh, bidadari? Eh tapi mereka manusia!” batin Ojan yang detik itu juga langsung girang.


Ojan sudah langsung loncat-loncat, sementara di luar, si wanita yang ia anggap sebagai bidadari dan sebelah tangannya menggandeng bocah laki-laki dan Ojan yakini sebagai tuyu*l, terdengar meminta bantuan.


“Benar-benar bidadari. Ada orang kesusahan dan itu aku, sudah langsung dicarikan bantuan. Cihuyyyyy! Semoga bidadari itu memang jodohku!” girang Ojan kembali loncat-loncat.


“Ya Allah, Jan ... Jan. Kenapa kamu di situ?” tanya Sepri terdengar mengomel.


“Nah, kenapa kamu tinggalin aku?!” balas Ojan tak kalah mengomel.


“Lah ... kirain kamu sudah turun, enggak biasanya sepi kan. Aku panggil-panggil, tadi kamu juga enggak nyaut!” balas Sepri segera menggeser tempat duduk penumpang di sebelahnya.

__ADS_1


“Lah Pri, tadi aku ketiduran, tapi bukan bermaksud belajar mati, apalagi kalau sudah lihat ... bidadari uhuy!” ucap Ojan yang memang tidak bisa jika tidak langsung menggo*da wanita berkerudung jingga di belakang Sepri dan sampai detik ini masih menggandeng bocah laki-laki dan sempat Ojan kira tuy*ul.


“Eh, Pri ... kamu bisa melihat mereka juga?” heran Ojan menatap tak percaya ketiga orang di hadapannya yang memang tampak bisa melihat satu sama lain.


“Apaan sih? Dikiranya mereka bayang-bayang atau malah saitan? Ini adiknya mas Excel. Namanya mbak Rere! Mas Excel sama keluarga besarnya memang lagi main ke sini,” ucap Sepri lagi-lagi mengomel.


Meski kembali diceramahi oleh Sepri, adanya wanita bernama Rere di sana dan Sepri kata merupakan adiknya Excel suami mbak Azzura, sama sekali tak mengurangi semangat apalagi kebahagiaan seorang Ojan.


“Priiiii, sinyal jandaku mendadak kuat. Jantungku jeglak-jeglek! ... Mbak Rere ini, janda, ya?” bisik Ojan masih sangat bersemangat.


Berbeda dari sebelumnya, kali ini Sepri tidak langsung bisa menjawab. Namun, tatapannya refleks mengawasi Rere maupun bocah laki-laki yang ia ketahui bernama Adam dan memang anaknya Rere.


“Eh, Jandaaaa!” refleks Ojan padahal Sepri belum menjawab.


Sepri yang tak mau Ojan rusuh, sengaja menarik kemeja hitam bagian punggung yang Ojan pakai. Sepri tidak mengizinkan Ojan ru*suh. Karena ia sendiri belum tahu kenapa Excel mendadak memboyong keluarga besar sekaligus berkunjung di sana. Selain itu, rombongan Excel juga baru pulang dari Jakarta dan belum sempat mampir ke rumah keluarga pak Kalandra yang masih menjadi tempat tinggal Azzura.


Dari kontrakan, Suci yang mendengar rame-rame di luar dan itu di teras rumah Sepri, sengaja mengintip. “Tumben rame-rame. Ada apa, ya?” pikir Suci yang juga mendapati Sepri maupun Ojan, menjadi bagian di teras. Tampak juga ibu Septi, dokter Andri, dan juga eyang Fatimah. Sepri menemui tamu yang belum Suci ketahui siapa, dalam formasi keluarga lengkap.

__ADS_1


“Mobilnya Alphard. Mobil mahal, kode areanya Jakarta. Oh, mungkin keluarga dari Jakarta!” sergah Suci yakin dengan tebakannya. Ia dapati, ada seorang pria tinggi tegap dan memang sangat tampan. Ada seorang wanita bercadar yang selalu pria tersebut gandeng. Seorang wanita berkerudung jingga yang menggandeng bocah laki-laki dan kiranya masih berusia satu tahun. Selain seorang wanita muda nan cantin yang mendorong kursi roda berisi seorang wanita tua.


Yang membuat Suci heran bahkan merasa tidak nyaman, tak lain karena si wanita muda berambut panjang dan bagian bawahnya dikeriting gantung, tak hentinya menatap Sepri sambil terus tersenyum. “Wanita itu kenapa, ya? Kok menatap Mas Sepri sampai segitunya?”


Bukan hanya Suci yang merasa aneh, merasa bahwa cara Elena—adik perempuan Excel yang paling muda, menatap sekaligus memperhatikan Sepri dengan sangat berlebihan. Sebab Sepri yang memang peka juga menyadarinya.


“Ini si Lena kenapa, ya? Kok dia menatap aku semanis itu? Memangnya dia nggak tahu kalau aku mau nikah? Memangnya, apa yang menarik dari diriku? Duh, andai Suci tahu, pasti bisa jadi masalah baru!” batin Sepri sengaja pamit untuk mengontrol keadaan di gudang gula merah.


“Mas ... jangan langsung ngomong sekarang yah, mengenai rencana Mas yang ingin jodohin aku sama mas Sepri,” lembut Elena benar-benar lirih kepada Excel.


Sampai detik ini, selain minimnya komunikasi, juga hubungan Sepri dan Suci yang terbilang kilat sekaligus tertutup, memang membuat Excel sekeluarga sama sekali belum mengetahui rencana pernikahan Sepri dengan Suci. Jadi Excel sekeluarga santai-santai saja, terlebih niat mereka ke sana memang baik. Silaturahmi kepada keluarga Sepri yang memang dikenal sangat baik dan sudah seperti keluarga sendiri.


“Mas Excel bilang, Mas Sepri tipikal laki-laki yang sangat tanggung jawab. Mas Excel percaya, aku akan bahagia dunia akhirat jika bersama sekaligus menikah dengan mas Sepri. Meski seorang difabel, asal mas Sepri bisa meratukanku dan mampu menjadikan aku menjadi wanita lebih baik lagi, aku benar-benar mau menerima perjodohan ini. Terlebih dari tadi, Mas Sepri juga santun banget. Ini semua, ... dari rumah megah, pekarangan luas, klinik, kontrakan, gudang usaha, semua ini milik keluarga mas Sepri,” batin Elena yang sengaja pamit untuk menyusul Sepri dengan dalih, ingin melihat-lihat keadaan di sana termasuk melihat klinik.


Elna memang calon dokter muda dan semuanya tahu. Karenanya, ibu Septi dan sang suami sudah langsung heboh mengarahkan Elena untuk melihat semuanya. Lain dengan Ojan yang masih getol usaha mendekati Rere. Hanya saja, sampai detik ini, Rere masih takut kepada Ojan, apalagi jika melihat kumis tegar Ojan yang kini sampai ditarik-tarik oleh Adam.


“Duh Gustiiiiii, kumis tegarkuuuu! Sabar ... sabar, Jan. Ingat, tips mendapatkan janda yang sudah punya anak. Deketi anaknya, nikahi mamahnya!” batin Ojan berusaha menyemangati dirinya sendiri yang sedang jadi kuda-kudaan di ruang keluarga bersama Adam.

__ADS_1


Semuanya sedang berkumpul di sana, kecuali Elena yang beberapa saat lalu pamit untuk melihat-lihat keadaan di luar rumah.


__ADS_2