Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
68 : Elena


__ADS_3

Elena mendapati ada seorang bocah perempuan yang sedang naik ke punggung Sepri dan sudah langsung Sepri gendong. Sepri membawanya masuk ke gudang gula merah yang memang sedang ramai. Tampak beberapa wanita tengah menyusun gula merah dimasukkan ke dalam plastik transparan. Ada gula merah yang berukuran kecil, ada juga yang ukurannya besar dan kiranya berberat setengah kilo gram, untuk setiap gula merah berukuran besarnya.


“Om, itu gulanya disusun begitu, biar tambah cantik, ya?” tanya Binar yang memang ingin banyak tahu.


“Iya, Dong ... masa iya, yang cantik cuma Binar?” balas Sepri dengan santainya, tapi sudah langsung membuat Binar terbahak-bahak.


“Tapi mamah Suci lebih cantik, kan, Om?!” heboh Binar lagi, mirip Ojan jika sedang bawel.


“Iya, Mamah Suci memang lebih cantik, tapi Binar juga tetap enggak kalah cantik!” balas Sepri masih sangat lembut.


Balasan dari Sepri barusan dan terdengar sangat santai sekaligus jujur, sudah langsung membuat Binar tertawa riang.


“Binar, ini sudah malam. Besok, Binar sekolah, kan?” ucap Sepri lagi sambil terus membawa Binar ke bagian belakang. Di sana masih ada beberapa pria yang sedang memproses pembuatan gula merah.


Sepri tersenyum kepada setiap mereka yang ada di sana sambil memberikan jempol tangan kanannya.


“Iya, Om. Besok pagi aku sekolah, dan kata kak Ojan, aku bakalan diantar kak Ojan lagi. Kak Ojan mau jadi makah Suci lagi!” ucap Binar yang kemudian tak segan mengajak ibu-ibu di sana berbicara.


“Kak Ojan, mintanya dipanggil kak Ojan, Uwa ...,” balas Binar dengan polosnya ketika salah satu dari wanita yang sedang menyusun gula menanyakan alasan Binar yang memanggil Ojan dengan panggilan “Kak Ojan”.


Sepri hanya mesem mendengar balasan polos dari calon putri sambungnya. Ia membiarkan Binar pamit kepada semua yang di sana sambil melambaikan kedua tangan. Satu hal yang membuat Sepri terkejut, ternyata Elena sudah ada di hadapannya. Kenyataan yang sudah langsung membuat Sepri yakin, memang ada yang tidak beres.


Elena memang tidak menunjukkan tanda-tanda wanita itu dengan terang-terangan menggoda*nya, layaknya apa yang Nurma lakukan siang menuju sore hari ini. Namun, cara Elena yang terus berusaha mendekati Sepri, diyakini Sepri memang memiliki maksud sekaligus tujuan khusus.

__ADS_1


“Kenapa Mbak Elena? Sendirian saja? Yang lain mana?” tanya Sepri sambil terus melangkah.


Elena masih ingat dengan pesan Excel sang kakak. Ia diminta untuk tidak melihat fisik Sepri. “Jangan lihat fisiknya, cukup lihat tanggung jawabnya. Karena jika kamu menjadi bagian sekaligus tanggung jawabnya, kamu akan menjadi wanita paling bahagia. Kamu akan diratukan olehnya, selain keluarganya yang juga baik semua. Lihat kak Rere dan Adam. Itu sudah lebih dari cukup jadi contoh, agar kamu sebagai wanita enggak hanya mencari pasangan berdasarkan kesempurnaan fisik!” Alasan yang membuat Elena mau mencoba menerima kenyataan menerima fisik Sepri. Toh sejauh ini, yang ia tahu dari Azzura sang kakak ipar, Sepri memang laki-laki baik. Terbukti, sekelas Ojan yang begitu saja selalu Sepri urus.


“Haiii ...?” sapa Elena kepada Binar. Bocah itu masih tersenyum manis kepadanya. “Itu siapa, Mas?”


“Ayo kenalan. Binar sayang, coba kenalan sama Aunty-nya,” ucap Sepri.


“Halo Aunty, ... namaku Binar. Sebentar lagi, aku kelas satu sekolah dasar!” Binar makin tersenyum ceria karena memang tak ada alasan untuknya untuk tidak memperlakukan Elena dengan baik. Terlebih selain masih muda dan sangat cantik, Elena juga terus bersikap manis. Jarang-jarang ada yang begitu, apalagi jika dibandingkan dengan Nurma.


“Halo Binar cantik, salam kenal! Perkenalkan, nama Aunty Elena. Aunty masih kuliah jurusan kedokteran!” balas Elena benar-benar ramah.


“Wahhhh, Aunty mau jadi dokter juga, ya? Hebat! Saat nanti aku besar pun, aku mau jadi dokter. Iya, kan, Om?” Binar sudah langsung heboh terlebih menjadi dokter merupakan impian sekaligus cita-citanya.


“Binar langsung tidur, ya. Sudah malam.” Sepri sudah ada di depan kontrakan yang Suci tempati.


Di dalam rumah, Suci yang sedang menyeterika pakaian di ruang paling depan selaku ruang tamu di sana, sudah langsung terusik oleh kehadiran suara Binar maupun Sepri. Suci langsung menyisihkan seterikanya kemudian mencabut colokannya. Segera wanita itu membuka pintu, kemudian memasang senyum terbaiknya. Sampai di titik itu, Suci tetap berusaha berpikir positif meski hadirnya Elena yang masih muda sekaligus sangat cantik, makin membuat benaknya bertanya-tanya.


“Langsung tidur, ya!” ucap Sepri yang langsung menurunkan Binar dengan sangat hati-hati. Namun karena Suci yang tampak kebingungan, ia pergoki kerap menatapnya, ia sengaja berkata, “Ternyata tadi Ojan ke kunci di mobil.”


“Loh ... Mas bilang sudah keluar?” refleks Suci.


“Ya ... biasanya kan dia berisik. Nah tadi sepi kan? Kirain pas tadi kita sibuk turun sambil nurunin barang-barang, si Ojan memang sudah turun terus pergi tanpa pamit,” balas Sepri yang kemudian menanyakan apa yang sedang Suci lakukan.

__ADS_1


“Lagi seterika pakaian, Mas. Sambil siap-siap buat piket besok,” jawab Sepri yang kemudian terusik oleh hadirnya Elena. Apalagi kini, tatapan mereka bertemu. “Ayo Mbak ... masuk.”


“Oh iya ... ini adiknya mas Excel suaminya mbak Azzura.” Sepri sengaja mengenalkan Elena.


Suci langsung terperangah. “Masya Allah, pantas wajahnya kayak enggak asing. Mirip siapa gitu, eh ternyata mirip suaminya mbak Azzura. Ayo Mbak, masuk!” Suci menanggapi dengan sangat ramah.


Meski interaksi akrab antara Sepri dan Suci justru menjadi alasan Elena bingung. “Ini, mereka siapa, sih? Wanita ini mamahnya Binar, kan? Nah, dia apanya mas Sepri? Saudara? Masa tinggalnya di kontrakan? Orang asing? Masa kenal kak Azzura bahkan kak Excel?” batin Elena masih bersikap sangat ramah dan tak hentinya mengumbar senyum.


“Aku haus, mau ke dalam bentar,” ucap Sepri yang memang langsung masuk ke kontrakan Sepri.


Bersama kepergian Sepri, Suci yang juga melepasnya berangsur tersenyum kepada Elena. Sekali lagi, Suci mengajak Elena masuk dan kali ini Elena masuk.


“Permisi yah, Mbak. Maaf malam-malam mengganggu,” santun Elena.


“Enggak apa-apa, Mbak. Ini Mbaknya langsung dari Jakarta?” balas Suci, tapi Binar sudah merengek ngantuk.


“Iya, Mamahnya Binar. Kebetulan saya dan rombongan memang baru dari Jakarta. Mau di kampung cukup lama bareng kak Azzura,” balas Elena yang sampai duduk di tikar karakter dan di pinggir temboknya dihiasi tumpukan kain selaku alasan Suci menyeterika.


“Mas Sepri, maaf, Mas. Kalau boleh tahu ...,” ucap Elena ketika Sepri kembali dari belakang dan pria itu juga duduk di tikar karakter, meski Sepri ada di ujung.


Di dalam kamar, di tengah sunyi yang menyelimuti, Suci yang tengah menidurkan Binar, sudah langsung menyimak. Sambil meringkuk mengelo*ni Binar, Suci mendadak deg-degan.


“Kok jadi deg-degan gini, ya? Otakku langsung susah fokus. Malah jadi ingat saat aku memergoki mas Budi dan Nurma malam-malam, tapi itu justru jadi awal mula aku mengalami KDRT bahkan ...,” lirih Suci sudah langsung galau. Ia refleks memejamkan mata, tapi benaknya justru menjadi dihiasi adegan Budi dan Nurma tanpa bu*san*na—malam-malam di kamar Nurma, sementara ia yang baru pulang kerja, kuyup sekaligus kedinginan karena hujan yang masih berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2