
Rasanya baru kemarin, Suci mendengar pengakuan cinta dari Sepri. Pelukan yang pria itu lakukan dan makin lama makin erat juga masih bisa Suci rasakan jejaknya. Namun kini, mereka tengah disibukkan memilih perlengkapan pernikahan lantaran satu minggu lagi, pernikahan mereka akan digelar. Suci sendiri sudah beres masa idah sejak dua minggu lalu. Sementara Binar juga sudah mulai memanggil Sepri dengan sebutan ayah seperti yang Sepri inginkan.
“Mas, bagus yang mana?” tanya Suci ketika memilih perhiasan untuk pernikahan mereka.
“Duh, aku beneran enggak tahu. Sudah, kamu saja yang pilih. Aku terima beres,” balas Sepri sambil memegangi Binar maupun satu kantong berisi jajan untuk mereka.
Nyaris ngambek, tiba-tiba Suci ingat, bahwa dirinya tidak boleh terlalu berharap Sepri memperlakukannya dengan romantis layaknya pasangan lain. “Iya, Mas Sepri kan emang kaku. Manisnya hanya di saat-saat tertentu. Meski lihat dia sibuk momong Binar, pakai bondu kelinci pink, itu sebenarnya sudah romantis,” batin Suci tak jadi ngambek.
“Mas, ini mau beli yang berapa gram? Buat cincin nikah, terus kalung sama yang lainnya juga gimana?” lanjut Suci meski sifat manusiawinya lagi-lagi membuatnya merasa iri. Terlebih di sekitar mereka dan sebagian besar berpasangan, kompak memilih perhiasan yang akan dibeli. Yang memilih sendiri di sana hanya Suci.
“Mau berapa gram enggak masalah. Yang penting kamu suka. Cincin buat kamu juga jangan hanya satu. Gelang, kalung, anting, ambil beberapa. Termasuk gelang kaki. Terserah kamu, soalnya aku enggak ngerti,” ucap Sepri yang mau-mau saja disuapi es krim oleh Binar dan baru saja ia gendong.
Suci yang melihat kerepotan Sepri mengurus Binar dan makin hari makin manja kepada Sepri, jadi sibuk menahan tawa. Namun, ia sengaja menggod*a calon suaminya itu. “Aku mau ambil dua-dua, yang gede-gede gramnya. Biar uang Mas habis!”
“Iya, ambil saja.”
Jawaban sama dari Sepri barusan, sudah langsung membuat Suci diam. Segera wanita itu kembali fokus memilih, meski sesekali, ia juga akan merepotkan Sepri karena sifat manjanya yang jadi keluar tanpa bisa dicegah, hanya karena Sepri selalu mengayominya.
“Sudah ...? Cincin, kalung, anting, gelang, enggak gelang kaki?” tanya Sepri memastikan. Suci memang sudah memilih semuanya serba dua di luar cincin nikah untuk mereka, tapi calon istrinya itu tak sampai membeli gelang kaki seperti yang ia arahkan.
“Enggak ah, malu Mas!” ucap Suci sambil menggeleng dan menatap tak nyaman kepada Sepri.
“Ya sudah, terserah kamu. Terus yang buat Binar, mana?” balas Sepri.
Terkejut. Iya, Suci sungguh langsung merasakan itu lantaran ternyata, Sepri juga mewajibkan Suci memilih untuk Binar juga.
__ADS_1
“Binar mau yang apa? Elsa, helo kity, Spongebob, apa bebek itu,” ucap Sepri sambil mengawasi sederet perhiasan untuk anak kecil yang terpajang di dalam etalase.
Gara-gara sering mengurus Binar, bahkan hampir setiap harinya tidak bisa tanpa Binar, ia jadi hafal beberapa animasi atau malah kartun anak, dan sebelumnya sama sekali tidak Sepri kenal.
“Ayah, kak Ojan dibeliin juga, enggak? Kalau iya, itu yang itu tuh yang pink. Gede cincinnya kayaknya muat!” ucap Binar heboh dan benar-benar tidak lupa kepada Ojan yang sudah menjadi bestie-nya.
Sepri dan Suci sampai hafal, tapi keduanya hanya menahan senyum tanpa mengusik kedekatan Binar dan Ojan.
***
“Sudah?” tanya Sundari lembut dan memang berbisik-bisik lantaran di pangkuannya, Azzam sang kekasih masih meringkuk sekaligus tidur pulas.
Pernikahan Sepri dan Suci memang menjadi rezeki nomplok bagi Azzam yang beberapa bulan terakhir harus LDR dengan Sundari. Karenanya, di setiap ada kesempatan, jika bukan Azzam yang main ke rumah Sepri hanya untuk bertemu Sundari, Sundari yang mengalah main ke rumah Azzam.
Sepri dan Suci baru saja sampai, tapi kehebohan Ojan yang begitu antusias menyambut kepulangan Sepri, sukses membuat Azzam terbangun.
“Di kompor lah Jam. Mbak Septi lagi masak daging sapi! Hahaha, kasihan deh loh, kebangun!” Ojan benar-benar kegirangan karena pada akhirnya, ia sukses mengganggu bahkan membangunkan Azzam yang baru datang sudah manja-manjaan kepada Sundari.
“Sana lari ke dalam sanaaaa. Aku mau ke belakang rumah buat ambil Sepri yang ada di kandang!” ucap Azzam buru-buru memakai sepatunya karena biar bagaimanapun, ia memang baru pulang kerja dan langsung ke rumah Sepri tanpa terlebih dulu pulang.
Di dalam rumah, Ojan yang awalnya lari terbirit-birit karena yakin Azzam akan langsung mengejarnya, menjadi sangat berisik sekaligus histeris.
“Jangan ih, Jammmmm. Jangan apa-apain Sepri yang di kandang. Itu lagi mencre*t dia gara-gara salah makan!” Ojan benar-benar heboh dan langsung pergi ke belakang rumah lewat samping rumah.
Saking buru-burunya, Ojan sampai lupa memakai sandal. Padahal di dalam bagasi mobil Sepri, Azzan sengaja bersembunyi, selain Azzam yang sengaja membantu Sepri dan Suci, menurunkan belanjaan keduanya. Belanjaan untuk pernikahan atau itu seperangkat seserahan dan memang akan disusun khusus oleh Sundari di baki.
__ADS_1
“Masya Alloh cantik-cantiknya. Ini langsung aku susun ya, Mbak, biar cepat beres. Soalnya banyak juga,” ucap Sundari yang belum selesai bicara karena Ojan yang berisik sudah kembali. Ojan heboh mengabarkan Sepri yang di kandang, kembali mencre*t.
“Ayo Pri, dibawa ke dokter lagi.” Ojan memohon-mohon.
“Loh, kan baru kemarin. Obatnya masih ada kan? Diminumkan enggak sih, sama kamu?” balas Sepri masih membawa dua bedcover berwarna biru laut dan juga pink salem.
“Enggak Priiii, kasihan kan kalau dikasih obat dia nangis!” ucap Ojan tersedu-sedu.
“Oalah ya pantes. Bentar, habis ini aku yang kasih obat!” sergah Sepri buru-buru membawa masuk kedua bed cover di tangannya.
“J-jangan ih, Pri. Jangan dikasih obatnya, kayaknya pait banget makanya dia nangis gitu kalau habis minum!” Ojan terus mengikuti Sepri.
Seheboh itu suasana di sana, meski jelas sedang tidak ada demo apalagi tawu*ran. Belum jika Azzam sampai jadi penghuni tetap setelah pria itu menikahi Sundari.
Jadi, setelah semuanya sibuk memindahkan belanjaan Suci dan Sepri, mereka kompak ke belakang rumah. Suci dan Sundari yang mengurus pengobatan untuk Sepri di dalam kandang yang memang sedang sakit.
“Makanya itu anak jangan dikasih nama samaan sama aku!” ucap Sepri yang lagi-lagi mengemban Binar. Binar yang sudah dihiasi perhiasan berkilau. Dari atas sampai bawah. Anting, kalung lengkap dengan liontin, gelang, beberapa cincin, juga gelang kaki. Suci yang memasangkan semua perhiasan tersebut sampai kasihan kepada Budi sekeluarga, dan Suci pastikan akan langsung menangis jika menyaksikan kebahagiaannya maupun Binar, setelah lepas dari keluarga toxic itu.
“Ya sudah, mulai sekarang namanya Ojin saja. Tapi wajib dibikinin bubur merah putih terus dikasih bendera merah putih juga, yak. Biar kesannya memang merdeka dan dia enggak dijajah penyakit lagi!” ucap Ojan sangat bersemangat, tapi orang-orang apalagi Azzam malah menertawakannya.
“Sem*p*rul kamu Jam. Aku doain kamu mencr*et juga biar kamu merasakan sakit yang Ojin rasakan. Sudah pokoknya mulai sekarang namanya jadi Ojin. Aku mau minta mbak Septi buat bikin bubur merah putih dulu. MBAK SEPTTTTIIIIIIIII ....”
Belum juga pergi, Ojan sudah berteriak leb*ay dan sukses membuat semua yang di sana termasuk Ojin—yang sedang mencre*t kaget.
“Nah loh ... Ojin langsung sakratu*l maut gara-gara bapak keibuannya! Hahahaha!” ucap Azzam yang tertawa karena penemuan ungkapan terbarunya yaitu, “bapak keibuan” dan baginya sangat cocok untuk Ojan.
__ADS_1
BTW, besok nikahan. Kalian semua wajib datang! ❤️❤️❤️