
Kedatangan Budi bertepatan dengan Suci yang baru kembali dari kebersamaan Binar dan Sepri, membuat Suci merasakan gejolak emosi yang begitu kuat.
Budi datang bersama Nurma, dan keduanya tampak baik-baik saja. Malahan keduanya seolah sengaja pamer kepada Suci.
“Ibumu bilang, sekarang kamu tinggal di salah satu kontrakan sini?” sergah Budi dengan nada bicara layaknya sedang berbicara kepada musuh.
“Kenapa enggak WA saja?” Maksud Suci, kenapa Budi tidak mengabari lebih dulu.
“Ngapain aku WA kamu, nanti yang ada kamu makin gede rasa dikiranya aku masih ngarep ke kamu!” sinis Budi.
“Cukup tahu saja!” singkat Suci yang kemudian pamit. “Aku panggil ibu Septi dan mas Sepri dulu buat jadi saksi.”
“Memangnya serah terima denda wajib ada saksi?” sergah Budi masih sinis.
Suci menatap tak habis pikir Budi yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai mantan suaminya. Tak sampai satu minggu lagi, perceraian mereka diputuskan.
“Pri ... Pri, itu bukannya si Budi yang tidak budiman, ya?” ucap Ojan yang memang masih rusu*h kepada Sepri. Terlebih sampai detik ini, Sepri belum mau membelikannya ponsel baru.
Mendengar kabar dari Ojan, Sepri sudah langsung menanggapinya dengan serius. Apalagi setelah ia pastikan, kabar yang Ojan sampaikan kali ini, benar. Segera ia melangkah menghampiri kebersamaan di depan kontrakan sana. Yang mana ia juga dikejutkan oleh kenyataan Binar yang mendadak sibuk memberontak. Binar berusaha turun dari embanan Sepri. Binar terus begitu tanpa sepatah kata pun meski Sepri maupun Ojan sudah sibuk bertanya.
__ADS_1
Tanpa benar-benar melepaskan Binar yang tetap ia gandeng erat sebelah tangannya, Sepri berlari mengimbangi Binar. Binar berlari sangat kencang kemudian memeluk erat Suci.
“Jangan sakiti mamahku lagi! Aku benci Papah. Kau juga benci bude! Kalian sama saja!” isak Binar sambil tetap memeluk erat tubuh Suci.
Ulah Binar tak hanya membuat hati Suci hancur. Sebab Sepri yang mendengar itu juga sudah langsung emosi. Terlebih di hadapannya, Budi tak segan menggandeng sebelah tangan Nurma.
“Kalau dipikir-pikir, cinta memang pi*cek alias buta. Buktinya, Mbak Suci yang secantik ini, disia-siakan hanya untuk lontong plastik sekelas ibu manajer tukang parkir. Oalah, dunia memang sudah kreji(craz*y)!” ucap Ojan sambil menatap Suci maupun Nurma, silih berganti.
Karena meski kali ini Nurma yang tubuhnya telanjur melar, kembali merias wajah, Suci dengan kecantikan alaminya dan wajahnya memang jauh lebih terawat sekaligus cantik, tetap jauh lebih cantik bahkan di mata sekelas mata Ojan.
“Kenapa kalian ke sini?” tanya Sepri mengambil alih obrolan di sana.
“Bukan urusanmu!” tepis Budi sambil melirik sinis Sepri.
Jika dilihat dari fisik bahkan ketampanan wajah, Sepri memang kalah jauh dari Budi. Namun jika melihat dari tanggung jawab sekaligus kerja kerasnya, Sepri jauh di atas Budi. Karena jangankan Budi yang level kerjanya masih di bawah rata-rata. Mereka yang super pekerja keras saja tetap kalah oleh Sepri, dan Suci mengakui itu.
Sadar Budi langsung terpancing dan Budi tampak akan bermain kas*ar sekaligus fisik kepada Sepri, Suci sengaja menyudahi ketegangan di sana. Suci menanyakan maksud kedatangan Budi maupun Nurma ke sana. Ternyata, keduanya sengaja akan menukar sertifikat tanah maupun rumah milik orang tua Budi yang sudah Suci kantongi dengan sertifikat pekarangan sekaligus sawah milik orang tua Nurma.
Meski tidak sampai disaksikan secara langsung oleh mas Aidan selaku pengacara mereka, ketua RT maupun RW yang baru saja tiba meyakinkan jika sert*ifikat tanah maupun sawah milik keluarga Nurma yang dijadikan jaminan, asli.
__ADS_1
Masalah mereka benar-benar selesai dan dikuatkan dengan hitam di atas kertas lengkap dengan materai. Kebersamaan tersebut sampai diabadikan melalui foto oleh ibu Septi yang turut serta mengawasi bersama sang suami.
“Aku mau hak asuh Binar!” ucap Budi ketika akhirnya, serti*fikat rumah dan tanahnya, kembali ia terima dari Suci.
“Kita lihat saja besok, Pak Budi. Namun harusnya jika untuk Binar, karena sampai kapan pun, apa pun yang terjadi, kita tetap orang tua Binar. Seharusnya enggak harus ada yang dipermasalahkan. Toh, aku sudah keluar dari kehidupan pak Budi.” Suci masih menyikapi dengan tenang. Bahkan meski Budi memperlakukannya dengan semena-mena karena bertutur kata saja, pria itu sangat sinis kepadanya. Malahan kini, menatapnya saja, Budi terlihat jelas dendam.
“Selamat menikmati uang ha*r*am yang kamu alibikan sebagai denda! Andai pun kamu bilang itu buat Binar, aku enggak terima anakku dinafkahi pakai uang har*am!” tegas Budi.
“Kalau Pak Budi enggak terima, Pak Budi bisa apa? Bisa kasih lebih? Ganti rugi saja pakai tanah sekaligus sawah istri. Kita lihat saja ke depannya, andai Pak Budi lancar kasih nafkah ke Binar, aku bakalan sungkem ke Pak Budi!” tegas Suci lirih tapi sangat tenang.
“Kalau sampai enggak kasih atau pura-pura amesia, gimana Mbak Suci? Amputasi saja leher atau malah kepalanya, ya?!” ucap Ojan bersemangat.
Jujur, diamnya Sepri kali ini lantaran ia terlalu muak kepada Budi. Gayanya selangit padahal usahanya saja seuprit. Belum lagi, cara Budi bersikap kepada Suci sangatlah menyepelekan, memandang ren*da*h seolah dirinya berkuasa dan hartanya tidak akan habis jutaan keturunan.
Sambil terus menatap lurus Budi yang duduk di hadapannya, mereka sama-sama duduk di tikar karakter dan Sepri siapkan khusus untuk Binar dan Suci, Suci berkata, “Kalau Pak Budi sampai tidak kasih nafkah ke Binar, itu biar jadi urusan Pak Budi dengan Tuhan Pak Budi.” Dalam hatinya Suci berujar, ia tak akan lagi peduli kepada Budi, bahkan walau pria itu memperlakukannya layaknya musuh. Walau Budi memandangnya re*dah, seolah ia tak berarti bahkan lebih baik dari sam*p*ah yang masih didaur ulang.
Detik itu juga, Budi yang terus menatap tajam kedua mata Suci, dan sampai sekarang mata Suci masih dihiasi warna merah menggumpal layaknya darah, mengakhirinya. Iya, Budi sadar, warna merah menggumpal menyerupai darah di mata kiri Suci, merupakan bekas luka akibat KDRT yang ia lakukan.
“Binar ...?” panggil Budi kepada Binar yang sampai detik ini masih duduk di pangkuan Suci. Binar masih mendekap erat tubuh Suci, memejamkan wajah di dada Suci, dan bocah itu tampak tidak mau melihatnya. “Binar sayang ....”
__ADS_1
“Aku benci Papah! Pergi, jangan pernah datang-datang lagi!” tegas Binar emosional tanpa sedikit pun melirik apalagi menatap Budi.
Detik itu juga Budi diam. Kebingungan, sedih, sekaligus malu. Terlebih Sepri sekeluarga yang turut duduk di kanan kiri Suci dan Binar, sudah langsung memperhatikannya dengan tatapan miris.