Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
91 : Kelanjutan Kabar Nurma dan Budi


__ADS_3

Keadaan Nurma yang sekarat membuat puskesmas maupun klinik setempat tidak bisa menangani. Nurma diboyong ke rumah sakit besar, tapi masalahnya terhalang oleh biaya. Kondisi wanita itu terlunta-lunta. Seolah Tuhan memang sengaja menghukumnya. Hingga ibu Sumarni yang sudah ikut serta di sana, merasa apa yang menimpa Nurma, masih berkaitan dengan Suci.


Dirasa ibu Sumarni, alasan Nurma sampai merasakan siksaan layaknya sekarang, lantaran Nurma menjadi penyebab utama luka-luka Suci maupun Binar. Terlebih ibu Sumarni paham, posisinya memang Nurma yang salah. Yang mana, ibu Sumarni juga yakin, sang putri belum sempat atau malah tidak berniat meminta maaf kepada Suci.


“Hidup dan mati kamu ada di tangan Suci. Ini kamu pasti kualat karena yang namanya orang sakit hati, mau dibuat sabar kayak apa, pasti dalam hati tetap mengump*at sekaligus bersumpah serapah!” pikir ibu Sumarni lagi.


Setelah mondar-mandir di sekitar IGD sana, ia sengaja mendekati Budi. Budi yang sempat diamankan warga memang sengaja dilepas untuk mengurus keadaan Nurma, khususnya mengurus biaya pengobatan. Namun ibu Sumarni berniat akan langsung menjebloskan Budi ke penjara andai pria itu sudah mengurus biaya rumah sakit Nurma.


“Sekarang juga kamu telepon Suci, Bud. Telepon dia, dan minta maaf lah. Minta maaf juga untuk Nurma dan calon anak kalian. Cepat! Jangan lupa uang buat biaya juga kamu siapkan. Saya enggak mau tahu, pokoknya kamu wajib siapkan bagaimanapun caranya! Jual apa yang bisa, pokoknya saya enggak mau tahu!” kesal ibu Sumarni yang sebenarnya sudah sangat ingin mengamuk Budi.


Sadar Budi akan memberi alasan, dan itu semacam tak sanggup mengeluarkan uang biaya rumah sakit, ibu Sumarni berkata, “Pokoknya saya enggak mau tahu! Salahmu, sudah enggak becus kasih nafkah, malah dihaja*r begitu. Kamu itu manusia, Bud. Bukan malaikat pencabut maut! Masa iya kejadian Suci tetap belum bisa bikin kamu kapok atau setidaknya belajar!”


Budi yang muak karena terus diceramahi, dituntut dengan hal yang jelas-jelas hanya mencider*ainya, mendengkus kesal.


“Heh, kamu jangan kabur, ya! Di depan ada aparat desa yang bakalan urus kamu. Namun sebelum kemu dibawa ke penjara, kamu wajib urus biaya Nurma!” sergah ibu Sumarni.

__ADS_1


Hanya saja, Budi yang ia curigai memang bukan manusi, tapi malah benar-benar malaikat maut, justru pergi tanpa pamit meski itu sekadar basa-basi kepadanya.


“Kamu mau ke mana, Bud?!” kesal ibu Sumarni.


“Cari pinjaman! Dikiranya andai saya tetap di depan IGD, duit yang kita butuhkan bisa jatuh dari langit?” balas Budi benar-benar sinis.


Ibu Sumarni menggeleng tak habis pikir terlebih Budi sudah langsung pergi. “Istri dan anakmu sedang sekarat loh Bud di dalam!” kesalnya sengaja dengan suara lantang.


Ibu Sumarni memang tak sepenuhnya menyalahkan Budi. Karena dari Budi diprediksi lump*uh, ia sudah sibuk wanti-wanti agar Nurma berpisah saja. Terlebih tak beda ketika kepada Suci, Nurma juga dijadikan sapi pe*rah. Biaya menebus tuntutan denda dari Suci saja malah menggunakan sawah milik ibu Sumarni, bukan modal menggunakan sawah atau tanah keluarga Budi.


Namun tiba-tiba saja, Budi teringat kata-kata Suci. Mengenai KDRT yang tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Juga, KDRT dan selingkuh yang sudah digolongkan sebagai penyakit. Kedua penyakit yang sulit sembuhnya layaknya penyakit kelam*in.


“Kalau gini caranya, mending Nurma dan bayinya mati. Daripada aku harus keluar banyak biaya, uang dari mana? Mending masuk penjara kan paling enggak seberapa. Pasal KDRT hukumannya ringan. Di penjara pun pasti lebih enak, enggak harus pusing kerja buat urus kebutuhan,” yakin Budi mantap minggat. “Mending ke ibu Hera, enak. Jalan-jalan, senang-senang, hidup dijamin,” lirihnya yang seketika mendadak panik lantaran ia yang melewati sebuah mobil kijang warna hitam di tempat parkir depan rumah sakit, mendadak diringkus dipaksa masuk ke dalam.


“Heiiiii, apa-apaan, ini?!” sergah Budi yang berangsur diam, setelah sederet bogem ia rasakan menghujani sekujur wajahnya. Terakhir, tengkuknya dihanta*m dengan benda sangat kuat, dan itu membuatnya sekarat.

__ADS_1


Tiga orang pria berpenampilan layaknya preman dan sempat meringkus sekaligus mengero*y*ok Budi, bergegas membawa Budi pergi dari sana, menggunakan mobil kijang hitam keberadaan mereka.


Karena makin lama keadaan Nurma maupun bayinya makin mengkhawatirkan, ibu Sumarni tak memiliki pilihan lain selain memohon bantuan biaya kepada aparat desa yang datang. Apalagi setelah pamit pergi, Budi tak kunjung kembali, padahal pria itu sudah pergi berjam-jam.


Setelah semuanya diproses penuh drama, ibu Sumarni yang menjadi satu-satunya keluarga Nurma yang ada di sana, diberi pilihan sulit. Sebab diantara ibu dan bayi harus ada yang dikorb*ankan agar salah satu dari mereka bisa selamat. Karena andai tetap dipaksa, hasilnya justru sama-sama tidak ada yang kuat.


Kabar tersebut membuat ibu Sumarni gemetaran hebat. Wanita itu meraung-raung di tengah hatinya yang mendadak hancur. Terlebih andai dititipi cucu apalagi anak, ibu Sumarni masih sanggup mengurus karena ia bukan keluarga Budi yang pemalas, tapi apa-apa serba ingin enak. Sambil mencari Budi, dalam hatinya ibu Sumarni tak hentinya bersumpah serapah dan ia tujukan kepada Budi. Aparat desa yang masih ada di sana, ibu Sumarni mintai bantuan untuk menghubungi Budi. Namun, jangankan pesan, telepon yang terus mereka lakukan saja, tidak ada yang digubris.


“Ya sudah Bapak-Bapak, ini kalian ada yang punya nomor mbak Suci enggak? Mbak Suci mantannya Budi. Mamahnya Binar!” sergah ibu Sumarni yang juga yakin, sampai detik ini, Budi belum menunaikan arahannya agar minta maaf ke Suci.


“Minta maaf boleh, tapi jangan menyeret-nyeret istri apalagi anak saya lagi. Sudah cukup sampai di sini terlebih sejauh ini, semua yang Nurma dan Budi lakukan hanya melukai kami!” tegas Sepri dari seberang sana dan kebetulan, Sepri juga yang langsung dihubungi.


Sebagai juragan padi, gula merah, dan juga usaha sembako lainnya, Sepri yang kerap terlibat dalam banyak kegiatan masyarakat memang cukup dikenal baik sekaligus dihormati warga maupun aparat. Karenanya, sangat mudah bagi warga desa mereka untuk menghubungi Sepri, layaknya kini.


Lantas, apa yang selanjutnya terjadi kepada Nurma dan juga bayinya? Juga, bagaimana nasib Budi? Siapa yang telah meringkus bahkan dengan sengaja mengero*knya?

__ADS_1


__ADS_2