
“Sssstttttttt ... siiiiiiiiiiitttttt! Punya duit buat bayar, enggak? Kalau enggak, coba itu gotong aspal di jalan, dikilo, siapa tahu laku!” Ojan masih jadi yang paling jail, menjadi yang paling bahagia atas nasib Budi sekeluarga.
Terlebih kepada Nurma, Ojan tak segan menghin*a. Malahan terasa ada yang kurang kalau belum menghin*a Nurma jika keadaannya sedang di tempat yang sama layaknya sekarang. Lebih kebetulannya lagi, meja mereka bersebelahan. Meja rombongan Sepri ada di depan persis meja rombongan Budi.
“Mamah sama papah Mas, dibungkusin, kan? Yang penting dipisah, pasti masih enak,” ucap Suci makan dengan sangat rapi.
Mendengar itu, Ojan yang sudah habis dua porsi soto babat di sana, sengaja agak maju sambil berbisik-bisik, “Kalau makan di rumah jadi enggak enak, berarti sotonya diluda*hi demid!”
Setelah cekikikan dan membuat rombongannya menahan tawa, Ojan menoleh ke belakang. “Kalau aku ludah*in soto mereka, aku tergolong demit, bukan ya?” bisiknya dan sudah langsung diomeli Sepri.
“Sudah jangan bikin gara-gara. Kita sudah bahagia dengan jalan masing-masing,” bisik Sepri yang memang sengaja menjaga perasaan Binar. Di sebelahnya, Binar sedang makan. Namun karena ia sudah selesai sementara Suci belum selesai, ia sengaja menyuapi Binar.
“Om Sepri yang terbaik!” ucap Binar sambil menyodorkan kedua jempol tangannya kepada Sepri.
Untuk urusan mengurus sekaligus merawat anak kecil, Sepri memang sudah tidak diragukan karena sudah terbiasa mengurus Ojan yang mirip bocah seribu nyawa. Namun untuk urusan romantis apalagi berkata-kata manis kepada wanita, Sepri masih harus banyak belajar.
“Eh Binar, nanti kalau mamah nikah sama Om Sepri, kamu mau panggil apa? Isded ya! Eh, isded kan koid. Mmm, Daddy ya! Daddy Sepri! Hahahaha. Kok kedengarannya keren ya, Daddy Sepri!” ucap Ojan bertanya sendiri, dijawab sendiri, kemudian cekikikan sendiri.
“Enggak usah aneh-aneh panggilnya, panggil ayah saja. Gampang, bermakna dalam,” ucap Sepri sambil kembali menyuapi Sepri yang sudah langsung tersenyum ceria menanggapinya. Binar tampak sangat bahagia dan sampai memeluk Sepri menggunakan kedua tangan, setelah bocah itu menerima suapan dari Sepri.
__ADS_1
Menyaksikan kehangatan Sepri dan Binar, Ojan langsung melongo. “Mbah, ... Mbah, ini coba tolong aku diramal melalui telapak tangan. Kira-kira jodohku sudah sampai mana, soalnya google map saja suka nyasar-nyasarin. Takutnya ada cinta yang nyasar, tapi pas aku benar-benar sayang, dia malah bilang gudbay!” ucap Ojan sambil menyodorkan kedua tangannya kepada ibu Manis.
Ibu Manis yang sedang kepedesan gara-gara terlalu banyak menaruh sambal di soto babatnya, berangsur meminum es teh manisnya. “Saya bukan duku*n lah, Jan!”
“Ya bantulah Mbah. Dilu*dahi juga enggak apa-apa. Mbah tetap mbahnya Binar, dan enggak bakalan jadi demid pelaris kok. Ini rahasia pokoknya!” rengek Ojan.
Ibu Manis jadi kebingungan. Lain dengan Suci yang jadi mesem. Namun, Suci sengaja menarik beberapa tisu kemudian memberikannya kepada Sepri. Hanya saja karena Sepri justru kebingungan, ia sengaja menggunakan tisu tersebut untuk mengelap keringat di wajah Sepri. Sebab makan soto panas-panas diberi sambal, memang membuat semringah sekaligus berkeringat parah.
“Eh ... ehhhhhhh!” heboh Ojan ketika memergoki Suci nyaris mengelap keringat Sepri menggunakan tisu.
“Kenapa, Mas?” tanya Suci bingung dan belum jadi mengelap keringat Sepri.
Suci hanya tersipu kemudian tetap jadi mengelap keringat Sepri. Lain dengan Sepri yang sudah langsung mendelik kepada Ojan. “Ganteng jel*eknya laki-laki terlebih suami ibarat bonus, Mas Ojan. Yang penting tanggung jawab dan hanya fokus ke aku, enggak ada selingan apalagi hobi ‘jajan’ ke wanita lain,” ucap Suci yang kemudian berkata, “Buat apa wajah ganteng, kalau dia ringan tangan, suka ja*jan wanita, dan parahnya pendapatan serba pas-pasan tapi gayanya selangit?!”
“Lah, Mbak Suci ... kok kriteria terakhir yang wajah ganteng tapi ringan tangan, mirip banget sama Budi mantan Mbak? Hahahaha!” Ojan tertawa puas sambil menatap Budi yang ternyata sedang bengong mengawasi keromantisan Suci dan Sepri lengkap dengan Binar.
“Kupr*et memang si Ojan!” kesal Budi dalam hatinya, yang kemudian memanggil Binar. Terlebih, kedekatan Binar dengan Sepri benar-benar membuatnya cemburu. “Binar, sini ... Papah kangen.”
“Enggak mau. Aku enggak mau sama Papah kalau Papah tetap sama Bude. Aku juga enggak mau punya adik dari Bude. Aku maunya punya adik dari mamah sama Om Sepri!” balas Binar tak sedikit pun melirik sang papah.
__ADS_1
“Kamu sudah bunti*ng, Ci?” kaget ibu Syamsiah yang sampai detik ini masih tetap memakai kacamata hitamnya.
“Heh ibu Syamsiah, cukup mata situ saja yang buta, tidak dengan telinga apalagi hati Ibu! Heran, hobi banget bikin fitnah! Maaf-maaf saja, anak saya bukan menantu kesayangan Ibu yang semu*rah itu!” kesal ibu Manis. Tak mau keadaan makin runyam, Sepri sengaja memanggil karyawan di sana untuk melakukan pembayaran sekaligus pesanan yang dibungkus.
Menjaga jarak sekaligus membatasi komunikasi, menjadi hal yang Sepri pilih untuk mereka. Ia sengaja menjaga mental sekaligus kewarasan Binar, Suci, bahkan ibu Manis.
“Bu, mohon maaf. Ini nanti acara lamarannya mau terpisah apa sehari sebelum ijab kabul saja? Kemarin sudah bahas ini dengan Suci, tapi kami sepakat menyerahkannya kepada Ibu. Karena selain ibu merupakan orang tua Suci, sebagai pihak dari laki-laki, saya mengikuti arahan dari pihak wanita saja. Urutan sekaligus umumnya acaranya juga bagaimana, biar saya sesuaikan. Perlu apa, disebutkan saja. Nanti biar disiapkan sampai sekarang ....” Sambil terus fokus mengemudi, Sepri berbicara panjang lebar dengan nada pelan sekaligus lirih. Nada yang sangat sopan dan juga sangat kontras ketika ia sedang marah-marah kepada Ojan.
Ojan yang kembali duduk di belakang, terbengong-bengong menyimak sambil menyandarkan wajahnya ke punggung sofa ibu Manis maupun Suci duduk. “Ini mereka lagi bahas apa, sih? Aku jadi ngantuk banget. Ah Sepri mau merid, terus aku gimana? Ini jodoh ke mana, sih? Padahal kan kemarin, aku sudah nyo*l*ong melati pengantinnya Nina. Kok aku ya tetap enggak laku juga. Tapi omong-omong, itu melati ke mana, ya? Kok iya aku juga lupa itu melati ke mana. Pantes aku belum laku juga kayaknya memang aku salah. Kalau gini caranya, pokoke besok pas acara, aku wajib nyu*ri satu paket utuh melati pengantinya mbak Suci. Biar no gagal-gagal lagi!” batin Ojan yang kemudian memilih untuk meringkuk di sofa belakang.
Ojan ketiduran dan sengaja diam agar tidak mengganggu agenda memohon restu yang tengah Sepri lakukan kepada ibu Manis.
Meski ketika Ojan terbangun, pria itu sudah kuyup keringat dan memang kepanasan.
“Oalah gelapppp. Ini aku di mana? Neraka, kah? Ah, ini aku ditinggal di mobil Sepri. Priiiiiiiii!” heboh Ojan sambil menggedor-gedor pintu jendela mobil di sekitarnya.
“Daddy?” panggil seorang bocah laki-laki di luar sana. Bocah itu benar-benar ada di hadapan Ojan.
“Hah? Ada bocah yang tiba-tiba panggil aku Daddy? Itu beneran bocah, apa malah tuyel pesug"ihan yang sedang marak?” pikir Ojan langsung bengong dan berangsur komat-kamit merapal doa.
__ADS_1