
Meski ada beberapa dalil maupun hadist yang membolehkan seorang janda menikah tanpa wali, Suci tetap ingin menikah dengan wali. Namun setelah melakukan serangkaian pertimbangan, Suci setuju meminta bantuan sang adik, anak dari pak Kusno dengan istri yang sekarang, untuk menjadi walinya.
Perkara wali sudah selesai dan memang bisa mereka atasi, tapi kenangan bu*r*uk pada keadaan sang bapak, telanjur membuat Suci malu sekaligus sakit hati. Semenjak pertemuan itu, pertemuan yang membuat pak Kusno berakhir dipenjara saja, Suci jadi pendiam.
Sepri tengah membenarkan mesin diesel traktor di bengkel depan rumahnya, ketika sebuah motor berhenti di depan gerbang dan Sepri langsung mengenalinya sebagai ibu Manis. Tampaknya, ibu Manis menggunakan jasa ojek, dan sudah sibuk mengawasi keadaan dalam pekarangan rumah Sepri yang didalamnya disertai apotek, kontrakan, dan juga bengkel maupun beberapa gudang.
Sepri sengaja agak berlari, membukakan pintu, dan nyaris menyalami tangan kanan ibu Manis, andai pria itu tak menyadari bahwa baik tangan kanan maupun tangan kirinya, penuh oli.
“Maaf, Bu. Tangan saya penuh oli,” ucap Sepri tak jadi menyalami tangan kanan ibu Manis.
Ibu Manis yang masih tampak kesal, menatap Sepri sambil berkata, “Katanya dua hari yang lalu, kamu sama Suci ke rumah si Kusno, dan kamu memenjarakan dia?!” Ia meledak-ledak dan memang tak kuasa mengontrol emosinya.
Sepri sempat berpikir, calon ibu mertuanya tidak terima Sepri justru mengirim pak Kusno ke penjara. Namun di luar dugaan, ibu Manis yang menyayangkan keputusan Sepri, justru berharap agar Sepri langsung menyem*b*elih sekaligus melakukan hal yang bisa memb*u*nuh pak Kusno.
“Apaan, enggak merasa kasih makan apalagi membiayai hidup Suci dengan layak, kok masih saja berulah!” kesal ibu Manis yang kemudian menanyakan keberadaan Suci kepada Sepri.
“Mbak Suci masih kerja Bu. Mohon tunggu di rumah saja, biar sambil bisa santai. Binar juga baru pulang sekolah, di rumah bareng mamah saya,” ucap Sepri sambil mengikuti kepergian ibu Manis yang tetap melangkah ke keberadaan klinik.
“Saya mau tunggu Suci di kontrakan saja,” sergah ibu Manis yang sudah langsung mendapatkan kunci kontrakannya dari Sepri.
“Kuncinya sama kamu?” heran ibu Manis.
__ADS_1
“Biar kalau Binar mau masuk ke kontrakan, enggak harus bolak-balik ke mamahnya. Apalagi kan, hari ini jadwal saya semuanya serba di rumah,” balas Sepri dengan sangat santun.
Sepri bahkan menyiapkan sekaligus mengantarkan suguhan sendiri kepada ibu Manis.
Dijamu dengan banyak makanan sekaligus minuman, ibu Manis langsung tidak bisa berkomentar. Duduknya di tikar karakter ruang depan kontrakan Suci, sudah langsung tidak nyaman.
“Sebanyak ini siapa yang habisin, Mas?” tanya ibu Manis sengaja basa basi.
Mendapatkan pertanyaan barusan, meski ibu Manis masih belum mau sekadar menatapnya, kenyataan tersebut sudah membuat Sepri merasa sangat bahagia. Hati Sepri langsung Berbunga-bunga. Apa lagi sejauh ini, ketimbang mendapatkan hati Binar dan Suci, mendapatkan restu dari orang tua Suci, jauh lebih rumit.
“Mbak Suci baru beres kerja sore, Bu. Biar Ibu enggak bosan menunggu, tapi kalau memang butuh apa-apa, saya di depan,” ucap Sepri langsung terkejut lantaran Ojan turut memanggil ibu Manis “mbah” layaknya Binar.
Sepri yang tak sengaja memergoki sekaligus mendengarnya, langsung mesem. Sepri akui, Ojan akan sangat berjasa meluluhkan hati ibu Manis, untuk kelancaran restu hubungannya dan Suci.
“Mbah Manis yang tapi jutek, aku juga mau salim!” ucap Ojan sudah langsung menyalami tangan kanan ibu Manis dengan takzim.
“Hahahaha ... Kak Ojan!” Sampai detik ini, Binar masih menjadi orang yang paling bahagia. Ia mau-mau saja di pangku Ojan, kemudian dengan kompak memakan setiap sajian yang sudah memenuhi sebagian tikar karakter di sana.
Ketika Sepri sibuk menahan tawa, tidak dengan ibu Manis yang syok lantaran jatah makanan dan minumnya disikat habis oleh Ojan yang sesekali akan menyuapi Binar.
“Ini orang sebenarnya memang kes*uru*pan setiap saat, apa bagaimana? Kok iya, enggak punya rasa sungkan, apalagi malu blas?” pikir ibu Manis yang mau-mau saja menerima giting atau itu lidi penyekat bungkusan daun. Itu giting untuk pecel lontong.
__ADS_1
“Nah, pecel lontong begini paling mantap dimakan siang-siang biar makin kenyang!” sergah Ojan yang mendadak menjadikan suapan pertama untuk ibu Manis.
“Ayo ibu Manis yang wajahnya masih kurang manis, suapan pertama buat ibu, meski ini bukan kue ulang tahun!” segah Ojan meyakinkan.
“Mas, ini tolong, dong ... masa iya, nih orang kesu*ru*pan setiap saat?” keluh ibu Manis yang akhirnya meminta bantuan Sepri.
Sepri yang awalnya sudah berdiri di depan pintu, langsung mesem kemudian menghampiri ibu Manis. Sungguh, hanya dibutuhkan layaknya kini oleh ibu Manis saja, Sepri sudah langsung merasa sangat bahagia.
Kebersamaan di sana menjadi makin seru karena ibu Septi juga datang bersama eyang Fatimah. Sikap bar-bar ibu Septi yang memanggil sang suami dengan berteriak-teriak dari pintu kontrakan Suci, membuat eyang Fatimah yang selalu tampil elegan tak segan menggunakan sandal sebelah kanannya untuk menepuk penuh sayang—saking kerasnya—kepala sang putri.
“M-mah ...,” rengek ibu Septi masih sangat manja sambil mengelus-elus kepala yang terkena puk*ulan ma*u*t sandal sang mamah.
Eyang Fatiman yang walau buru-buru memakai sandalnya lagi, juga tetap menatap marah kedua mata ibu Septi. “Ya kamu, di depan besan masa enggak ada jaim-jaimnya, mirip Ojan yang setiap saat mirip orang ke*ra*sukan. Lihat itu lihat, ibunya Suci sampai keselek ketakutan lirik kamu!” bisiknya masih sibuk mendelik. Ya sudah sana, samperin, ngomong baik-baik, manis dikit dong ke suami.” Sampai detik ini, eyang Fatimah masih berbisik-bisik.
“Ah Mamah, alasan mas Andri klepek-klepek ke aku kan, ya karena aku gini. Mas Andri bilang, dia guemus banget ke aku!” balas ibu Septi ngeyel, masih pecicilan saking senangnya putra semata wayangnya mulai dekat dengan calon mertua. Ia sampai jingkrak-jingkrak, tapi sebelum sandal sang mamah kembali mendarat penuh cinta kepadanya, ia memilih minggat. Tak lupa, ia tetap pamit kepada ibu Manis.
Ibu Manis yang tengah dituntun minum es manis oleh Sepri, mengangguk-angguk saja. Yang mana, kenyataannya yang diam membuatnya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang memang jadi senam dadakan gara-gara sikap bar-bar ibu Septi.
“Itu tadi kayaknya adiknya si Ojan deh. Ini keluarga beneran banyak yang ajaib. Ya ampun, aku nyaris jantungan dan mendadak keselek pecel!” batin ibu Manis masih belum baik-baik saja. Alasan yang juga membuatnya ayo-ayo saja dituntun minu. es teh manis oleh Sepri.
“Berkat kehebohan Mamah, aku jadi mulai dekat dengan calon mertua,” batin Sepri, benar-benar merasa bahagia.
__ADS_1