Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
86 : Senam Hamil


__ADS_3

Sepri kembali membagi senyumnya kepada sang istri yang tengah mengikuti senam hamil rutin di tengah lapangan sana. Di tengah kesibukannya membalas pesan maupun telepon menggunakan ponsel, Sepri juga tetap mengawasi Binar yang masih anteng bermain di wahana taman sebelah.


Menemani sang istri senam hamil sambil mengasuh Binar, memang sudah menjadi bagian dari rutinitas Sepri di setiap Minggu pagi. Sepri sengaja menyediakan waktu khusus karena tak mau kehilangan momen yang tak mungkin terulang itu. Andaipun ada kepentingan mendesak, Sepri baru akan melakukannya setelah acara senam usai. Meski dari semuanya, hanya Sepri yang terjaga di sana karena ibu-ibu hamil selain Suci, tidak sampai ditemani suami.


“Hahaha ... Kak Ojan, pakai daster pink gitu cantik banget!”


Tawa heboh Binar dari belakang, sudah langsung membuat Sepri melotot. Mata Sepri yang baru teralih dari ponsel, tak jadi teralih ke Suci.


“Astagfirullah Paojan! Ngapain kamu begitu?!” Sepri buru-buru mengantongi ponselnya ke saku celana bahan panjang warna hitam yang dikenakan. Ia sudah langsung menghampiri Ojan yang memang memakai daster pink, sambil menenteng kantong berisi aneka camilan sekaligus dua botol minuman penyegar.


“Mau ikut senam, Pri. Biar perutku kempes. Kan kamu sendiri yang bilang, sebelum aku nikah, perutku wajib kempes. Dikiranya semudah itu ngempesin perut. Iya kalau cukup ditusuk terus beres. Lah ini, makin lama makin melendung, enggak ada tanda-tanda mau kempes. Malaikat Izrail saja bilangnya mustahil perutku kempes kecuali aku kena lambung sama tipes!” yakin Ojan.


“Aku foto ... atau malah video kirim ke mas Excel bahkan ... Rere, loh!” ucap Sepri sengaja mengancam. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dan siap mengabadikan Ojan dengan penampilan layaknya sekarang. Namun, sebelum ia berhasil mengabadikan, Ojan malah sudah lebih dulu kabur dan menjadi bagian dari barisan peserta senam. Ojan sengaja duduk di barisan tengah, berbagi matras.


“Kacau ... kacau ...,” lirih Sepri geleng-geleng pasrah menyaksikan Ojan yang sudah bikin heboh di acara senam hamil.


“Yayah ... Yayah ....” Heboh Binar masih cekikikan menertawakan penampilan Ojan.

__ADS_1


“Apa Sayang?” balas Sepri yang awalnya akan kembali memastikan beberapa pesan WA masuk di ponselnya, dan kebanyakan bahkan semuanya memang untuk urusan pekerjaan.


Meski statusnya bukan bos perusahaan besar, Sepri yang memang seorang juragan jual beli padi, gula merah, kontrakan, dan juga aneka ikan, juga tak kalah sibuk karena sampai detik ini, semuanya masih serba Sepri urus sendiri. Termasuk urusan panen, jika memang sedang tidak banyak pekerjaan, Sepri akan tetap terjun langsung mengurus sendiri. Entah langsung memboyong Suci dan Binar lengkap dengan Ojan, atau ketiganya baru menyusul ketika jam makan siang.


“Kok Yayah enggak pakai daster kayak Kak Ojan. Biar seru loh, Yah!” rengek Binar dan sudah langsung membuat Sepri mendelik.


Buru-buru Sepri menggeleng kemudian merangkul kepala Binar, dan membenamkannya ke pinggangnya.


“Kenapa, Yah?” rengek Binar menagih jawaban. Namun kali ini, ayah sambungnya itu malah terlihat panik bahkan takut.


“Jangan ikut-ikutan. Itu enggak bener itu!” ucap Sepri tak yakin, balasan yang ia berikan kepada sang putri sudah tepat.


Sudah Sepri duga, ulah Ojan bisa berbahaya bagi masa depan Binar yang telanjur lempeng. Jadi, Sepri harus makin pintar dalam mengarahkan Binar.


“Pokoknya, bantu saya kempesin perut ya, Moms. Soalnya sudah makan nanas muda biar keguguran, eh tetep enggak. Bertanda, saya memang harus makan mamah muda, bukan lagi nanas mudah. Hahahah, eh ciyeee Moms di sini pada baver! Hahahaha!” heboh Ojan yang sukses mengocok perut ibu-ibu hamil di sana. Bahkan Suci yang biasa menghadapi Ojan dan beberapa kali memang sampai ngompol, kini sengaja pamit ke kamar mandi.


Suci tak mau, ia kembali ngompol di depan banyak orang hanya karena kelakuan Ojan.

__ADS_1


“Kalau Moms butuh pelawak buat hiburan acara-acara, acara apa pun kecuali demo sama kematian, cukup hubungi saya yah, Moms. Harga bisa dikondisikan. Ini beneran tolong dibantu, lagi kejar setoran buat bekel nikah, soalnya!” yakin Ojan yang sengaja menurunkan daster bawah lehernya, hingga B-H pinknya terlihat.


Belum apa-apa, wanita hamil di sana sudah histeris tertawa. Yang mana tawa mereka makin menjadi-jadi, ketika Ojan mengambil gepokan kartu nama dari dalam B-H-nya.


“Ini ditaruh sini, biar enggak diambil tuyul. Lagi marak kan mereka beraksi di mana-mana. Soalnya meski kartu nama, nyetaknya kan pakai duit. Andaipun mereka nekat masuk ke br*a, ya sudah sekalian nanti aku suruh *****!” ucap Ojan yang sigap membagi kartu namanya, dan sebelumnya disimpan di dalam B-H pink.


“Jangan pada lemes dong ibu-ibu. Semangat. Ini jangan lupa pada ngundang saya, ya. Asal bukan acara tawuran apalagi kematian. Soalnya kalau tawuran, niat hati menghibur atau malah mengarahkan ke jalan yang benar biar masuk sorga, yang ada saya malah dikubur gara-gara jadi korban mereka. Sementara kalau kematian, ya Alloh, langsung ditelu*h iya, ada yang meninggal kompak berduka, kok aku malah dakwah haha hehe!” ucap Ojan lagi. Termasuk pelatih senamnya juga sampai ia kasih.


“Ibu lemas, Bu? Ya sudah, saya saja yang mimpin senam hamilnya!” ucap Ojan dengan semangat, dan lagi-lagi mempromosikan diri.


“Gini-gini, saya juga pinter senam. Senam apa pun termasuk senam jaminan hutang! Tarif sekali pertemuan bisa dikondisikan, ya. Bagi-bagi rezeki lah ya, biar saya bisa beliin anak saya balon sama es krim. Soalnya saya dapat janda muda anak satu. Ya tahu lah ya, kondisi gitu kan butuh duit lebih biar saya jadi suami sekaligus daddy baik!” ucap Ojan sudah langsung melakukan gerakan senam setengah joged dan malah membuat yang di sana, termasuk pelatih perempuan yang digantikan, kompak ngompol.


“Enggak bener memang si Ojan!” cibir Sepri ketika akhirnya ia beres mengantar Suci ke kamar mandi. Mereka telah kembali, tapi Suci tak berniat kembali menjadi bagian dari acara senam.


Gaya Ojan yang sangat energik, dirasa Suci apalagi Sepri, terlalu ngeri. Keduanya memutuskan untuk yoga secara mandiri sambil tetap berjemur di bawah hangatnya matahari pagi.


Satu hal yang diam-diam mencuri perhatian sekaligus pikiran Suci. Ini tentang Nurma yang sampai detik ini belum ia ketahui sudah lahiran atau belum. Karena sejauh ini, rekannya yang praktik di puskesmas maupun yang buka praktek mandiri di kecamatan mereka tinggal, belum mengabari jika Nurma melakukan persalinan. Padahal, Nurma tak mungkin melakukan persalinan di klinik keluarga Sepri. Bukan perkara biaya yang memang lebih mahal, tapi mengenai harga diri Nurma beserta Budi sekeluarga yang terlalu tinggi karena sudah tidak mau berurusan dengan Suci lagi.

__ADS_1


“Masa iya, Nurma hanya melahirkan lewat dukun beranak?” pikir Suci yang masih ingat, dirinya dilarang ke puskesmas dan diwajibkan melahirkan di rumah hanya dibantu duku*n beranak. Keadaan keji yang suci alami hanya karena anak pertama yang akan ia lahirkan kala itu, berjenis kelamin perempuan.


__ADS_2