
Kelakuan Budi yang tetap saja hobi selingkuh membuat Suci apalagi Binar berduka. Namun kecelakaan yang menimpa Rere dan Adam, membuat semuanya kompak ke Jakarta, menggunakan mobil berbeda.
Kejadian tersebut benar-benar mengejutkan semuanya karena posisinya, Excel dan mamahnya saja sedang di kampung. Rere dan Adam hanya berdua di Jakarta. Mobil yang Rere kemudikan dan saat itu sedang bersama Adam, terjun dari jalan layang.
“Mbak, kamu mau duduk di belakang?” tanya ibu Septi yang walau berbicara saja tidak bisa lembut, tetap paling perhatian.
Karena meski masih sama-sama cerewet layaknya ibu Syamsiah, Suci mengakui keduanya tetap memiliki sikap sekaligus watak berbeda. Ibu Septi memang cerewet bahkan bar-bar, tapi wanita itu benar-benar peduli sekaligus mengurus Suci maupun Binar. Kini saja, Binar sudah lelap di pangkuan ibu Septi di tempat duduk bagian tengah.
“Mamah mau ke belakang?” lembut Sepri yang menyetir sendiri di sebelah Suci.
Suci berangsur menggeleng sambil mengulas senyum. Malahan ia pamit tidur karena ngantuk.
“Yang tenang, ... Mamah mau bobo,” ucap Sepri lembut sembari menggunakan tangan kirinya untuk mengelus-elus perut sang istri. Sebab yang di perut Suci memang makin aktif terlebih jika sedang malam apalagi ketika mendengar suara ibu Septi dan Ojan.
Namun meski Suci awalnya sudah tidur, wanita itu tetap teringat Binar. Suci terlalu khawatir, kelakuan Budi justru membuat Binar sulit percaya ke lawan jenis bahkan parahnya, Binar justru mengalami penyimpangan se*ksua*litas. Binar jadi tidak suka lawan jenis, tapi justru menyukai sesama je*nis.
“Duh, amit-amit. Enggak ... jangan sampai,” tepis Suci dalam hatinya. Namun, kasu*s semacam itu benar-benar ada. Karenanya, kini kepala Suci benar-benar terasa pusing.
“Jan, kamu masih hidup, Jan?” seru ibu Septi sambil mendongak sekaligus melongok tempat duduk penumpang paling belakang. Di sana memang ada Ojan dan eyang Fatimah. Mereka hanya pergi tanpa dokter Andri lantaran pria itu tidak bisa meninggalkan tugasnya.
Sebenarnya, harusnya Suci juga masih terikat pekerjaan. Namun kepergian ke Jakarta kali ini sengaja Sepri lanjutkan untuk cuti hamil. Sepri yang sangat menyayangi Suci tak mau sang istri kecapaian karena beban masa lalu Suci saja, bagi Sepri sudah sangat berat.
“Aku masih hidup, Mbak Septi. Cuman, aku sedih banget apalagi katanya dek Rere koma,” ucap Ojan lemas sambil meringkuk di pangkuan eyang Fatimah.
“Ya bismilah saja, Jan. Rere dan Adam segera sehat. Mana tahu gara-gara habis koma, si Rere malah minta dinikahin cepat-cepat,” ucap ibu Septi sambil sesekali mengusap lengan Binar.
__ADS_1
Mendengar itu, Ojan berangsur duduk. “Memangnya koma sama hamil, itu sama, ya, Mbak? Koma itu hamil, apa gimana? Tapi kan, aku belum merasa bikin? Kok mendadak minta cepat-cepat dinikahin?” serius Ojan yang memang sangat penasaran.
Ibu Septi sudah langsung geleng-geleng. “Ngomong sama Ojan memang bikin makin cepat menemui ajal!”
“Sudah, kamu tidur lagi saja,” tegur eyang Fatimah benar-benar sabar. Ia bahkan merangkul sekaligus menidurkan Ojan layaknya bocah meski kini, Ojan bukan bocah lagi. Usia Ojan sudah empat puluh empat tahun.
“Semoga semuanya memang baik-baik saja. Mas Budi segera taubat, mbak Rere dan Adam juga selamat,” batin Suci yang perlahan kembali memejamkan kedua matanya seiring ia yang meraih sekaligus menggenggam tangan kiri Sepri yang awalnya tengah mengelus-elus perutnya.
***
Video Budi dan selingkuhan barunya sudah langsung viral. Namun karena Nurma sudah tidak punya ponsel, wanita itu mengetahui kabarnya dari para tetangga.
Tiga ibu-ibu yang berbelanja sekaligus numpang gosip, sengaja memamerkan videonya kepada Nurma.
“Kamu ingat apa yang pernah kamu lakukan ke Suci dan Binar, Nur?”
“Coba sekarang si Budi di mana?”
“Itu posisinya sudah sampai nikah, atau malah zi*na?”
“Ya kurang lebih, begitulah rasanya Nur. Maaf, bukannya enggak iba apalagi enggak punya hati. Yang namanya tatangga kan ya. Eh, tetangga maksudnya. Yang namanya tetangga kan jadi saksi lika-liku kehidupan dunia. Sementara gara-gara kamu, warga sini sempat gempar melebihi terkena gempa!”
Tiga ibu-ibu yang silih berganti berbicara dengan sangat menjiwai, sukses mengobrak-abrik hati seorang Nurma. Nurma dengan perut besarnya sudah tak hentinya berlinang air mata.
“Ternyata benar ... Budi beneran selingkuh! Kenapa enggak langsung mati saja kalau gitu caranya! Tahu-tahu aku sedang hamil tua begini! Tahu-tahu makan saja harus aku yang urus segala sesuatunya. Pantas selama ini, kerja siang malam nyaris jarang pulang, duit enggak ada. Pantas setiap pulang kecapaian dan bibir saja—ah! As*u kamu Bud!” batin Nurma segera masuk ke rumah tanpa memedulikan ketiga ibu-ibu itu lagi.
__ADS_1
“Nah, itu mau gimana itu?”
“Tapi emang dasar keluarga di sini enggak bener sih. Buktinya, pak Munasir saja sampai enggak pulang-pulang!”
“Enak banget ya jadi Budi. Modal pel*et apa gimana?”
Ketiga ibu-ibu di sana tak jadi belanja. Ketiganya kompak pergi dan memilih belanja sayur ke tukang sayur keliling yang kebetulan lewat. Tentunya, gosip Budi yang sudah viral di berita kabupaten bahkan negara mereka, menjadi bahan perbincangan hangat mereka bersama warga lainnya.
“Bu, ini gimana, Bu? Saya minta tanggung jawabnya ke Ibu. Budi benar-benar selingkuh. Kabarnya viral, Bu!” Nurma mengadu di tengah tangis berikut kesedihannya yang sulit ia akhiri.
Ibu Syamsiah yang awalnya masih tiduran dan memang baru bangun, tak langsung menjawab.
“Bu!” tagih Nurma.
“Lah, memangnya aku harus bagaimana?” balas ibu Syamsiah tak mau ambil pusing.
“Loh, harus bagaimana, gimana? Budi itu anak ibu, aku istrinya dan sekarang aku sedang hamil besar, Bu!” sergah Nurma makin emosi.
“Lah, awal mula kamu sama Budi pun gitu, kan? Bahkan sampai sekarang, kalian juga belum resmi. Ya pokoknya itu urusan kalian. Jangan bawa-bawa aku lah, aku sudah tua gini, lihat saja susah!” balas ibh Syamsiah yang sungguh tidak mau ambil pusing.
Jawaban ibu Syamsiah benar-benar membuat Nurma kecewa. Bahkan meski pada kenyataannya, dulu, Nurma juga memulai hubungannya dan Budi dengan banyak kesalahan sekaligus dosa. Bagi Nurma yang merasakan sakitnya menjadi korban, tak sepantasnya ibu Syamsiah angkat tangan.
“Harusnya Ibu lebih tegas dong, Bu!” tuntut Nurma sudah sangat geregetan sekaligus emosi. Kedua tangannya mengepal kencang di sisi tubuh.
“Lebih tegas gimana Nur? Yang namanya orang tua kan hanya bisa mengarahkan, sementara yang menjalani itu kalian. Kamu juga dulu gitu, kan? Memangnya, Suci kurang apa ke kamu? Sekelas Suci saja tetap kamu tika*m. Apa daya kamu yang sedap dipandang saja, enggak,” balas ibu Syamsiah yang kemudian malah menyerahkan Budi kepada Nurma. “Kalau mau urus ya harusnya kamu yang urus! Dia kan suami kamu!”
__ADS_1
“Pokoknya aku mau laporin mas Budi ke polisi, Bu! Aku sakit hati banget! Malahan kalau bisa, mending mas Budi sama selingkuhannya mati! Aku mau, mereka mati! Aku mau mereka mati mengenaskan, Bu!”