
Tak sedikit pun Binar melirik Budi. Binar begitu lengket kepada Sepri dan hanya datang menghampiri Budi untuk salaman. Selebihnya, Binar larut dalam kebahagiaan resepsi pernikahan Suci dan Sepri yang memang sukses besar.
Pernikahan Sepri dan Suci dihadiri banyak tamu penting. Dari kalangan biasa, kolega, maupun sanak saudara. Yang paling mencolok, hadirnya Ojan di sana benar-benar menyemarakan suasana.
Hingga malam, tamu masih berdatangan. Selain Binar yang sudah sampai tidur di sofa pelaminan, Suci juga sudah tampak kelelahan. Belum lagi, Abee putra Nissa selaku anak dokter Andri dari pernikahan sebelum dengan ibu Septi, begitu lengket dengan Suci. Kedekatan tersebut terjadi karena dua minggu lalu, ketika bocah berusia dua tahun itu sakit, Suci yang mengurus bertepatan dengan Nissa yang saat itu sedang mengikuti pembelajaran tambahan di Klaten Yogyakarta.
“Bee, itu Bulik(bibi) mau mandi. Ayo Abee pindah ke kamar,” ucap Bagas yang tak lain ayahnya Abee. Ia tak mungkin membiarkan sang istri mengemban putra mereka berlebihan karena perut Nissa yang sudah makin besar.
Yang Sepri ketahu dari Suci, Abee merasa jadi kurang disayang oleh mamah dan ayahnya, semenjak kehamilan Nissa makin besar. Abee sendiri yang cerita ke Suci, hingga Sepri tak berani mendekati bocah lain. Sepri sengaja melakukannya karena takut membuat Binar cemburu dan otomatis putri sambungnya itu juga terluka.
“Mas Sepri, ... Mas juga bawa anak istri Mas istirahat. Kalian istirahat saja. Di sini biar Mamah sama papah yang urus. Masih ada Pakde dan Bude juga,” ucap ibu Septi yang sampai detik ini memang masih ditemani pak Kalandra maupun ibu Arum.
“Ada aku juga, Mah. Calon mantu paporit!” ucap Azzam yang masih saja cekikikan duduk di sebelah Sundari.
Dari semua saudaranya, Azzam memilih tinggal di sana untuk bantu-bantu sekaligus menemani Sundari. Terlebih kita sama-sama tahu, semua saudara Azzam termasuk Akala adiknya, sudah menikah.
“Iya, Pri. Nanti aku pakai cadar pink buat gantiin Mbak Suci, terus Jam-jam pakai sarung ala-ala ninja, biar wajahnya enggak kelihatan buat gantiin kamu. Nanti kami yang duduk di situ buat salaman sama para tamu!” ucap Ojan sangat bersemangat dan tak segan cekikikan meski Azzam berdalih tak sudi disandingkan dengan Ojan di pelaminan, bahkan walau untuk pura-pura.
Di tempat mereka tinggal dan masih menjadi bagian dari kabupaten Cilacap Jawa Tengah, acara hajatan kadang memang sampai pukul dua belas malam, jika memang tamunya masih berdatangan. Layaknya kini, meski sudah pukul setengah sebelas malam, efek tamu masih banyak yang berdatangan, mereka masih di sana untuk menyambut tamu.
“Ayo, Bulik antar ke kamar Abee ya.” Suci memutuskan untuk mengantar Abee ke kamar lantaran bocah itu terus menempel kepadanya.
__ADS_1
Mendapati itu, Ojan yang masih memakai serba pink meski pria itu sudah ganti pakaian, buru-buru lari sekaligus menyusul. Ia sengaja mengikuti Sepri yang turut mengantar Suci sambil mengemban Binar.
“Pri, Pri ... kalau Abee terus nempel ke Mbak Suci, alamatnya kalian gagal bant*ing duren! Hohoho!” bisik Ojan sudah langsung jingkrak-jingkrak girang.
“Waras kamu, Jan?” balas Sepri dengan suar lirih juga sambil melirik sinis Ojan.
“Pakta, Pri. Paktaaaa!” yakin Ojan sengaja menjadi kompor untuk Sepri.
Sadar Ojan sedang berusaha menjadi kompor, Sepri sengaja menghela napas sekaligus dalam agar tampangnya bisa makin santai.
“Loh, kok kamu enggak panik apalagi takut enggak bisa bant*ing duren, Pri?” tanya Ojan kebingungan.
“Sue kamu Pri! Kalau ada yang mau sama aku, aku pasti nikah!” semprot Ojan. Niat hati membuat Sepri panik bahkan takut, justru ia sendiri yang jadi kebakaran jenggot. Ojan jadi kepikiran, kapan ia nikah? Kenapa jodohnya tak kunjung datang?
Lebih ngenesnya lagi, setelah mengantar Abee ke kamar, sambil terus melangkah, Suci tak segan memeluk Sepri dari samping.
“Nempel terus!” sebal Ojan yang tetap melepas kepergian Suci dan Sepri. Kedua sejoli yang masih disertai Binar itu masih melewati anak tangga menuju lantai atas.
Makin mereka sampai di lantai atas, suasana di sana juga makin sepi. Lebih sepi lagi setelah akhirnya mereka sampai di kamar Sepri dan Sepri sudah langsung menutup sekaligus mengunci pintunya dengan hati-hati.
Bukan hanya Suci yang sebenarnya sudah langsung deg-degan. Karena Sepri yang belum terbiasa berurusan dengan wanita justru lebih parah. Namun, Suci yang pernah gagal di pernikahan sebelumnya berniat untuk lebih belajar menjadi istri yang lebih baik lagi. Dan bermodal rasa sayangnya kepada Sepri, ia sengaja untuk memulai terlebih kenyataan Sepri yang pendiam, menuntutnya untuk lebih berusaha bahkan agresif.
__ADS_1
“Mas mau mandi lagi?” tanya Suci lembut.
Sepri yang baru akan merebahkan Binar, berangsur mengangguk-angguk. “Gerah banget soalnya.”
“Tunggu sampai enggak keringatan, ya. Jangan langsung mandi biar enggak masuk angin,” ucap Suci yang segera menuju meja rias dan kebetulan ada belakang Sepri. Ia melepas mahkota kecil dari sana dan berbeda dari mahkota yang sempat melorot gara-gara Ojan.
Ketika akhirnya tatapan mereka bertemu, Suci langsung memasang senyum. Suci bisa merasakan ada ketakutan tersendiri yang tengah Sepri tahan atas kenyataan pria itu yang mendadak diam. Suci berpikir, mungkin Sepri minder karena sebentar lagi, Suci akan melihat kaki kanan Sepri sepenuhnya. Terbukti, meski Suci sudah beres melepas kerudungnya, Sepri tetap kebingungan duduk di pinggir Binar.
“Kakinya mau dilepas kan, Mas? Jangan malu apa minder yah ... biasa saja karena aku pun mencintai Mas dengan segala kekurangan Mas. Namun buat aku, Mas enggak kurang apa pun. Buatku, Mas sempurna. Apalagi tanggung jawab Mas ke aku, Binar, bahkan ke ibuku. Itu beneran sudah lebih dari cukup, Mas!” lirih Suci meyakinkan. Ia sengaja duduk di sebelah Sepri, menatap pria yang sudah menikahinya itu dengan tatapan yang begitu lembut. “Sekarang yang terpenting buatku, aku beneran ingin rumah tangga yang benar. Aku ingin rumah tangga yang bahagia. Cukup kita dan anak-anak kita. Di luar itu enggak perlu dipermasalahkan karena aku juga bukan orang yang sempurna.”
Mendengar bujuk rayu Suci, Sepri jadi nelangsa. Matanya berembun, tapi ia memaksakan dirinya untuk tersenyum.
“Ini Mas enggak mau aku langsung saja? Mumpung Binar sudah tidur? Habis itu tinggal mandi,” ucap Suci masih santai dan kemudian sengaja membuka setiap kaitan kemeja lengan panjang warna putih yang masih Sepri kenakan.
Jantung Sepri sudah langsung jedag-jedug tak karuan hingga dadanya bergemuruh hebat, dan Sepri merasa sangat sesak. “Memangnya kamu enggak capek?”
Suci yang awalnya menahan senyum, perlahan menjadi tersipu. “Sekalian dicapein saja Mas, habis itu baru sekalian istirahat!” yakinnya. Masih bersikap sangat manis. Ia tengah berusaha menjadi istri yang baik untuk Sepri yang telah mencintainya dengan sempurna.
Namun karena Sepri masih saja diam meski kedua mata pria itu menatap setiap lekuk wajah Suci penuh rasa kagum, Suci sengaja merapatkan wajah mereka seiring kedua tangannya yang perlahan mendekap tengkuk Sepri.
“Ayo, Mas!” lembut Suci menuntun sang suami untuk memulai.
__ADS_1