Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
69 : Mengenai Jodoh


__ADS_3

“Mas, sebenarnya, Mas sudah tahu belum kalau kita mau dijodohkan?”


Apa yang baru saja Elena katakan, tidak hanya mengejutkan Suci, tapi juga Sepri yang otomatis akan menjalani. Ditambah lagi Sepri yakin, Suci mendengar apa yang Elena katakan barusan.


Tidak ada angin apalagi hujan, tiba-tiba Elena yang baru datang dan Sepri pun belum begitu mengenal gadis itu, mendadak membahas perjodohan.


“Mas kelihatan terkejut banget,” ucap Elena yang lagi-lagi memasang senyum terbaiknya sambil menatap Sepri penuh keteduhan.


“Ya Alloh, ini apa lagi?” batin Suci yang sudah berlinang air mata. Namun, dengan cepat Suci menyeka sekitar matanya. Ia menatap wajah Binar selaku alasannya bertahan. Iya, Binar, bocah yang selalu membuatnya melakukan yang terbaik. “Secantik itu, masih muda, sementara aku enggak mungkin langsung mengakhiri apa yang ada dan telanjur bikin Binar, bahkan ibu bahagia sekaligus setuju,” batin Suci yang juga menjadi tersedu-sedu.


Sepri menoleh ke belakang, selaku pintu menuju ruang dalam dan salah satunya merupakan kamar Suci maupun Binar berada. “Mbak Elena, saya sudah akan menikah!” ucap Sepri meyakinkan.


Untuk sejenak, Elena terdiam, kemudian menunduk sebelum akhirnya gadis cantik itu mengerjap. “Memangnya saya enggak boleh kuliah dan beresin semuanya dulu, yah, Mas?”


Mendengar balasan dari Elena, Sepri jadi tak kalah bingung dari Elena yang mengira, Sepri ingin menikah dalam waktu dekat untuk acara perjodohan mereka.


“Y-ya boleh ... itu kan hak sekaligus urusan Mbak Elena. Mbak Elena yang berhak tentuin segala sesuatunya karena itu ... itu hidup Mbak!” ucap Sepri berusaha memberikan jawaban terbaik, meski ia memang bukan tipikal yang bisa berucap manis apalagi bijak.


Yang membuat Sepri tidak habis pikir, kenapa Elena sampai mau dijodohkan dengannya, bahkan kini kembali tersenyum semringah menatapnya, setelah gadis itu tampak kebingungan.


“Saya akan menikah dengan mamahnya Binar, Mbak Elena,” ucap Sepri sudah langsung merasa jauh lebih tenang. Namun detik itu juga, Elena langsung diam.

__ADS_1


Pengakuan Sepri benar-benar membuat Elena terkejut. “Mas Sepri bercanda?” Dan Elena juga sudah langsung sangat bingung. Masa iya, pria yang akan dijodohkan dengannya, justru akan menikah dengan wanita lain? Atau malah, mereka akan menjalani hubungan poligami? Belum apa-apa, Elena sudah langsung merasa ngeri. Ia bahkan refleks menggeleng, dan memang karena bergidik. Bulu halus di sekujur tubuhnya, menjadi kompak berdiri.


Sepri yang masih menatap Elena penuh keseriusan, segera menggeleng.


“Memangnya mamahnya Binar, sudah enggak punya suami?” lanjut Elena.


Di dalam kamar, Suci yang awalnya tersedu-sedu, langsung diam. Suci begitu penasaran dengan balasan yang akan Sepri berikan.


“Intinya, saya enggak mungkin menikahi istri orang, Mbak Elena. Dan sepertinya memang sudah ada kesalah pahaman karena kurangnya komunikasi di antara kita. Yang saya ingat, dulu mas Excel memang pernah meminta saya untuk menikah dengan salah satu adik perempuannya. Namun setelah saya dengan mamahnya Binar, ... semuanya sudah lebih dari cukup. Mamah Binar memang wanita yang selama ini saya cari sekaligus butuhkan untuk menjadi istri, teman hidup sehidup semati.”


“Mas Sepri ...,” batin Suci sudah langsung berbunga-bunga, setelah sebelumnya dibuat termehek-mehek gara-gara ada wanita muda dan sangat cantik yang mengabarkan bahwa wanita itu akan dijodohkan dengan Sepri. Suci yang sadar diri dirinya sudah kalah, langsung merasa minder bertubi-tubi.


“Mbak Elena, saya benar-benar minta maaf. Enggak usah dipikirkan, anggap saja kita keluarga. Tentunya, saya maupun mamah Binar yang lebih dewasa dari Mbak Elena, juga sudah menganggap Mbal Elena seperti adik sendiri,” ucap Sepri yang sungguh berharap, walau tak jadi ada perjodohan antara dirinya dan Elena, hubungannya dan Excel sekeluarga, akan baik-baik saja.


“Ini gimana, ya? Saya rasa, saya wajib langsung jelasin ke keluarga Mbak,” ucap Sepri yang kemudian pamit.


Sepri tidak langsung pergi dari kontrakan Suci. Karena yang ia lakukan justru masuk ke ruang kontrakan Suci lebih dalam. Ia meninggalkan Elena seorang diri di luar, yang mana Elena tampak sangat gelisah sekaligus malu.


“Mah ... kamu belum tidur, kan?” lirih Sepri dari balik tirai merah selaku penutup yang merangkap jadi pintu kamar.


Karena Suci tak kunjung menjawab, Sepri berinisiatif masuk dengan hati-hati. Toh selain di sana hanya ada Binar selain ia yang memang memiliki tujuan darurat sekaligus penting, Sepri memang tidak punya banyak waktu. Mumpung Excel sekeluarga masih di rumahnya karena ia memang harus tetap menjaga hubungan baik mereka, tanpa harus membuatnya menikahi Elena.

__ADS_1


“Loh ... kok kamu malah nangis?” lirih Sepri bertepatan dengan Suci yang akhirnya bangun sambil menyeka sekitar matanya.


“Gimana enggak nangis?” lirih Suci kembali tersedu-sedu. Ia tak berani menatap Sepri dan memilih menunduk.


“Sudah ... sudah, jangan nangis. Yakinlah ini hanya salah paham karena kurangnya komunikasi. Hubungan kita kan terbilang singkat, padat, langsung mau ke pernikahan. Sementara sejauh ini orang-orang, termasuk orang terdekatku tahunya aku lajang.” Sepri buru-buru menyeka air mata Suci menggunakan kedua jemari tangannya.


Setelah membantu Suci berdiri, Sepri juga membenarkan kerudung yang menutupi kepala Suci, meski ulah buru-burunya itu malah membuat sebagian rambut Suci kelihatan keluar dari kerudung.


“Bentar, aku beresin sendiri, Mas.” Suci agak melipir dan sengaja membelakangi Sepri. Ia masih malu menunjukkan penampilannya jika tanpa memakai kerudung, di hadapan Sepri terlebih mereka belum menikah.


Sepri yang sempat bengong, berangsur menghela napas dalam. “Aku bawa Binar, ya?” ucapnya segera mengemban Binar.


“Memangnya mau lama, yah, Mas?” tanya Suci sudah beres merapikan kerudungnya.


“Tidur di rumah juga enggak apa-apa. Kamu lagi masak, apa seterika, enggak? Di rumah banyak kamar, kamu enggak usah bingung begitu!” lanjut Sepri masih meyakin Suci.


Beberapa menit kemudian, kedatangan Sepri yang mengemban Binar menggunakan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi menuntun Suci, sudah langsung membuat Elena makin tak karuan.


Tanpa terlebih dulu berdiri, Elena segera meminta maaf. “Ini aku beneran minta maaf yah, Mbak. Mas. Sumpah aku beneran enggak tahu kalau kalian sudah mau menikah. Yang aku tahu, Mas Sepri beneran masih lajang dan memnag belum punya calon. Sementara alasanku ayo-ayo saja mau dijodohkan dengan Mas Sepri karena aku tahu, Mas Sepri dan keluarganya orang baik. Karena jujur, kasus yang menimpa kak Rere beneran bikin aku trauma, takut buat buka hati aku. Pokoknya aku beneran minta maaf banget, apalagi ke Mbak Suci. Tadi pasti Mbak dengar, ya? Aku sudah nyakitin Mbak. Maaf banget yah, Mbaaak!” ucap Elena sampai bersujud-sujud.


Suci yang jadi merasa serba salah, sengaja menyudahi ulah Elena. Ia menghampiri sekaligus merengkuh Elena, membantunya berdiri. “Yang penting setelah tahu, Mbak Elena tahu apa yang harus Mbak lakukan. Enggak usah takut enggak punya jodoh baik Mbak. Karena yang namanya jodoh kan cerminan dari diri kita. Ibaratnya, mengenai jodoh pun tetap kita juga yang tentuin!” ucap Suci antara memberi semangat sekaligus peringatan keras.

__ADS_1


__ADS_2