
Ini menjadi hari kedua setah Suci minta denda kepada Budi sekeluarga. Dan selama itu juga, setiap Binar tidur, bocah itu akan mengigau ketakutan sambil tersedu-sedu.
“Mamah ....” Binar terbangun dengan tubuh yang penuh keringat, selain kedua matanya yang basah. Ia memeluk erat sang mamah yang dalam mimpinya tengah dipuk*uli oleh Budi. Alasan yang juga membuatnya takut menutup mata karena di setiap ia tidur, ia selalu memimpikan kejadian yang sama. Karena walau hanya dalam mimpi, adegan Suci kembali dipuku*li Budi dengan kej*i tampak sangat nyata.
“Mamah baik-baik saja, Sayang. Mamah baik-baik saja,” yakin Suci sambil mendekap erat Binar. “Masih begini, padahal setiap hari, dr. Andri selalu mengajak Binar berdiskusi. Ya Allah ... kuatkan anak hamba. Tolong kuatkan ...,” batin Suci.
Kini masih dini hari, tapi Binar menolak tidur lagi. Binar tidak mau dan tampak sangat takut jika harus memejamkan mata. Gadis kecil itu sudah berulang kali mengatakannya kepada Suci dengan nada cepat sekaligus panik, khas orang ketakutan.
“Terus sekarang, Binar maunya apa?” lembut Suci masih berusaha mengimbangi Binar. “Mau ke klinik bantu suster yang jaga?”
Binar yang sampai menengadah hanya untuk menatap kedua mata Suci, buru-buru menggeleng. “Enggak, Mah. Jangan keluar, Mah! Nanti kalau papah tiba-tiba datang, terus papah puk*ul-puk*ul Mamah lagi, gimana?” sergah Binar masih belum baik-baik saja.
Suci menggeleng tegas. “Nggak akan. Di sini banyak orang baik. Semua yang di sini sayang banget ke kita. Malahan itu di luar, om Sepri lagi urus susun gula merah mau dikirim ke Solo.” Suci meyakinkan penuh sayang, memeluk Binar yang sampai detik ini masih ketakutan. Hingga ia nekat membawa bocah itu keluar kontrakan untuk membuktikan bahwa situasi di sana aman.
Di luar, ada sebuah truk yang terparkir di depan gudang gula merah milik Sepri. Tampak Ojan yang duduk sila di atas tikar sambil jaga lilin.
“Pri, ini jaga lilinnya sampai kapan, sih? Aku mau nikung para janda di sepertiga malam melalui doa ih!” bawel Ojan.
“Maksud kamu jaga lilin begitu buat apa? Bukannya bantu susun gula merah di truk!” balas Sepri sambil menaruh dua kantong gula merah yang disusun sedemikian rupa, ke truk.
“Kan kamu lagi beraksi, Pri!” balas Ojan dengan santainya. Ia masih duduk sila sambil menjaga lilin dan ia alasi piring.
“Dikiranya aku lagi ng*ep*et? Ini lagi kerja, kejar setoran, eh kamu malah,” semprot Sepri sampai detik ini masih cekatan mengurus segala sesuatunya, walau waktu sudah harusnya membuatnya istirahat.
__ADS_1
“Kan aku jagain lilin, Pri!” balas Ojan masih ngeyel.
“Ya sudahlah terserah. Hati-hati sarung kamu kebakar, nanti buru*ng kamu gosong!” ujar Sepri sengaja menakut-nakuti Ojan.
“Jangan lah Pri. Bur*un*gku masih ori!” ujar Ojan ketakutan. Ia buru-buru berdiri, tapi ulahnya justru membuat lilinnya tersempar dan berakhir membakar sarungnya.
“Pri ... Pri, bu*rungku mateng, Pri!” heboh Ojan sambil lari ke sana kemari tanpa terlebih dulu memadamkan api di sarungnya.
Sepri sendiri justru tertawa dan memang tak berniat membantu Ojan.
“Priiiiiiii!” seru Ojan di depan sana masih lari ke sana kemari.
Awalnya Sepri cuek dan justru merasa apa yang menimpa Ojan, tak ubahnya hiburan g*ra*tis. Namun setelah ia melihat Suci keluar dari kontrakan, ia sudah langsung terusik. Bergegas ia meletakan dua kantong gula merah yang ia susun, di truk. Ia memutuskan untuk menghampiri Suci yang ternyata sampai disertai Binar. Terlebih yang Sepri tahu, sejak menyaksikan Suci dip*ukuli Budi, Binar jadi sering mengigau kejadian tersebut. Selain itu, Binar juga jadi tidak bisa tidur dengan tenang, terlepas dari Binar yang malah takut tidur.
“Malu!” omel Sepri kepada Ojan.
“Aku sudah sunat, Pri! Ya sudah, itu sarungku, Pri!” ngeyel Ojan terpaksa pergi sesaat setelah memungut sarungnya yang masih berasap.
Tinggal Sepri dan Suci yang masih mengikut sertakan Binar di sana. Tampak Binar yang jadi sibuk memastikan situasi sekitar. Binar tampak jelas tengah berjaga-jaga sambil menahan takut.
Sambil jongkok di hadapan Binar, Sepri berkata, “Binar masih takut tidur, yah, Mbak?”
Sepri yang memang penuh keringat, mendapatkan pembenaran dari Suci. Bahwa alasan Binar ada di sana karena Binar terbangun setelah mimpi bu*ru*k, selain Binar yang takut untuk tidur lagi.
__ADS_1
Detik itu juga Sepri teringat nasihat mas Aidan maupun Azzam, yang memintanya untuk lebih dekat dengan Binar, jika Sepri ingin mendekati Suci.
“Kalau Binar enggak bisa tidur, ayo ikut Om bantu susun gula merah. Biar Mamah Binar tidur soalnya besok, Mamah kerja pagi! Sini,” ucap Sepri sengaja memberikan punggungnya kepada Binar.
“J-jangan, Mas. Jangan, nanti ngerepotin.” Suci sengaja menahan Binar, tak mau sang putri justru makin merepotkan Sepri yang Suci ketahui selalu sibuk tanpa kenal waktu lantaran pekerjaan pria itu memang sangat banyak.
“Sudah, Mbak. Banyak orang juga. Naik ke punggung Om, ya. Biar Mamah istirahat. Malam ini kita ronda saja sampai subuh. Nanti subuh kita salat berjamaah lagi!” yakin Sepri lagi.
Binar yang pada kenyataannya sangat haus kasih sayang seorang papah, memutuskan untuk ikut Sepri. Ditambah lagi seperti yang Sepri katakan, andai Binar ikut Sepri, Suci jadi bisa istirahat bahkan tidur dengan leluasa.
Sambil menyusun setiap kantong gula merah ke truk dibantu oleh seorang pekerja, dengan semangat Sepri menggendong Binar. Malahan agar bocah itu lebih nyaman, Sepri sengaja memakai kain jarit untuk menggendongnya. Tak lupa, Sepri juga memberi Binar satu kantong jajan yang ia ambil dari warungnya dan keberadaannya ada di sebelah gudang gula merah miliknya. Jadi, Suci sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekat. Malahan, Suci ketiduran di bangku tunggu tempat wanita itu mengawasi kebersamaan Binar dan Sepri.
“Kasihan banget ya kalian. Kalian benar-benar kekurangan kasih sayang,” batin Sepri menatap sendu Suci yang meringkuk di bangku taman dan memang ketiduran. Sementara di punggung Sepri, sampai detik ini, Binar tetap tidak mau memejamkan mata. Binar memilih menghabiskan jajan yang didapatkan dari Sepri sambil sesekali mengobrol dengan pria itu sebelum akhirnya Ojan datang, hingga membuat kebersamaan di sana jadi heboh.
“Jan, kalau ngomong mulutnya jangan mangap lebar, berisik!” omel Sepri. Tugas dini hari ini beres. Truk yang mengangkut gula merah baru saja pergi, dan ia juga sengaja membangunkan Suci. Karena selain Suci harus pindah ke kontrakan, di punggungnya, Binar juga sudah tidur.
“Ya ampun Mas, sampai keringatan parah gitu Masnya. Maaf banget ya. Maaf beneran maaf,” ucap Suci merasa tak enak hati lantaran gara-gara sampai menggendong Binar, Sepri terlihat sangat kelelahan.
“Enggak apa-apa, Mbak. Enggak apa-apa. Biar saya antar sampai kontrakan,” yakin Sepri.
“Ya sudah, biar sekalian aku temani biar enggak ada pihak ketiga. Pihak ketiga kan identik dengan set*a*n!” ucap Ojan dengan cerianya.
“Iya, kamu se*t*a*nnya! Heran, ... ‘batre’ kamu merek apa sih, Jan. Kayak enggak ada lelah loyonya blas. Pecic*ilan terus!” ujar Sepri benar-benar merasa tak habis pikir kepada Ojan yang memang masih sangat lincah sekaligus enerjik.
__ADS_1
Melihat Binar yang begitu lengket kepada Sepri, Suci jadi bersedih. “Binar pasti kangen banget ke papahnya, tapi papah yang sudah telanjur menjadi cinta pertamanya, justru bikin dia takut bahkan trauma,” pikir Suci masih melangkah di belakang Sepri yang masih menggendong Binar.