Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
75 : Pernikahan Impian


__ADS_3

Langkah Suci dan rombongan mulai diiringi tabuhan gamelan khas Jawa Tengah, di antara suara dari pembawa acara yang sesekali terdengar, mengabarkan acara ijab kabul dan sebentar lagi digelar.


Semua mata benar-benar tertuju kepada Suci tanpa terkecuali, dan kali ini Suci sengaja memberikan senyum terbaik kepada semuanya, khususnya Sepri. Menggunakan tisu yang ia dapat dari Sundari, Suci mengganti air matanya dengan senyum bahagia.


Di tengah dunianya yang seolah berputar lebih lambat, pandangan Suci tak sengaja mendapati rombongan Budi. Budi yang memboyong semua anggotanya kecuali sang bapak, baru datang dan tampak hendak duduk tak jauh dari area ijab kabul. Budi yang tak luput memperhatikan Suci langsung bengong cenderung syok.


“Nyesel yah, Mas? Yang namanya penyesalan memang adanya di belakang, lain lagi kalau Mas justru mau daftar, ya pasti wajib di awal-awal,” batin Suci mendadak sibuk menguatkan dirinya sendiri. Sebab melihat bahkan bertatap mata dengan Budi, membuatnya teringat kejadian naas dan berakhir dengan KDRT brut,*al, selain Budi yang dengan keji mengakui telah menikahi Nurma secara siri, meski tanpa terlebih dulu memberi tahu atau malah meminta izin Suci.


“Kalau ingat kejadian itu, sakitnya beneran luar biasa. Namun aku sadar, hidup ini enggak hanya melulu masa lalu. Hidup ini enggak hanya tentang luka agar kita bisa cepat jadi manusia maju. Apalagi kalau posisinya seperti aku yaitu punya Binar, mas Sepri, dan juga keluarga besar kami yang begitu mendukung kebahagiaan kami. Sekarang cukup lihat, siapa yang benar-benar bahagia?” batin Suci yang sudah langsung menyudahi tatapan sekaligus kesedihannya kepada Budi.


Suci sungguh melangkah pergi menuju Sepri, dan siap menjalani lembaran baru mereka sebagai sepasang suami istri yang sudah memiliki seorang anak dan itu Binar.


“Plaaaak!” Untuk ke sekian kalinya, dokter Andri nyaris jantungan hanya karena puku*lan gemas sang istri yang mendarat di punggungnya. Pukulan gemas nan penuh kebahagiaan yang sampai membuatnya nyaris tersungkur dari tempat duduk. Namun, dengan sabar ia berangsur mengatur napas kemudian duduk dengan benar, sebelum akhirnya merangkul sang istri penuh kasih sayang.


“Ya Alloh, Mas. Ini beneran bukan mimpi, ... Sepri anakku beneran mau nikah, Mas!” ucap ibu Sepri tersedu-sedu. Bulu mata palsunya sampai lepas sebagian. “Mas ini lepas ... Ih Mas, gimana nanti kurang badai kecantikanku!” rengeknya.


Namun lagi-lagi, dokter Andri yang menyikapi ibu Septi dengan sangat sabar, berkata, “Di mataku, kamu selalu yang paling cantik!”


Ibu Septi yang perasaannya sedang jungkir balik karena sang putra akhirnya mau menikah, sudah langsung memeluk dokter Andri sangat erat. “Bismilllah, yah, Mas. Semoga Sepri dan Suci samawa. Biar aku cepat bisa kayak yang lain, lah Mas. Elus-elus perut menantu yang hamil! Habis dandanin Binar tinggal elus-elus perut Suci, kan seru Mas. Tuh Mbak Arum anaknya kompak berjamaah nikah, hamilnya juga bareng. Masya Allah banget Mas lihatnya. Seneng banget aku!”


Lagi, dokter Andri menghela napas pelan sekaligus dalam. “Kalau Suci enggak langsung hamil, kan Mamah masih bisa elus-elus perut Papah. Segede gini mirip hamil tiga bulan.”

__ADS_1


Detik itu juga ibu Septi terbahak-bahak. Bulu mata palsu yang awalnya baru akan lepas, sudah langsung copot karena kehebohan tawanya.


“Hidup itu harus selalu disyukuri, Mah. Soalnya kalau memang sudah rezekinya, sudah waktunya, pasti dikasih. Rezeki kita enggak mungkin mampir apalagi nginep di rumah tetangga. Terlebih kalau kita sudah berusaha sungguh-sungguh. Yang suka mampir-mampir ke rumah tetangga terlebih nginep kan hanya Ojan,” ucap dokter Andri santai dan sampai detik ini masih menatap ibu Septi penuh cinta. Selain makin terbahak akibat kalimat terakhirnya yang sampai membawa-bawa Ojan, ibu Septi juga menempelkan gemas bibirnya di pipi dokter Andri.


Pemandangan romantis antara dokter Andri dan ibu Septi, kepergok oleh ibu Arum yang sudah langsung mengadukannya kepada sang suami.


“Kelakuane Septi!” komentar pak Kalandra yang kemudian tertawa diikuti juga oleh ibu Arum.


Kini, semua fokus mata kembali kepada Suci yang sudah hampir duduk. Ojan yang akan menarikan kursinya, tidak jadi dan memilih mundur lantaran sudah langsung Sepri yang melakukannya. Kenyataan yang jug sudah langsung menjadi bahan gombalan pembawa acara kepada Sepri dan Suci. Karena baginya, apa yang Sepri lakukan itu sangat romantis. Apalagi jika melihat tatapan Sepri yang penuh cinta kepada Suci. Si pembawa acara berdalih ingin secepatnya menyusul nikah juga.


“Heh, heh, heh!” heboh Sundari lantaran gadis itu memergoki Ojan yang akan menarik sebagian besar melati pengantin milik Suci.


“Biar langsung nyusul nikah ih Dek!” bisik Ojan melakukan pembelaan diri.


“Si Jam-Jam memang wedus!” sebal Ojan yang sungguh iri karena semuanya benar-benar berpasangan.


Dengan santainya, Azzam yang masih memangku Sundari berkata, “Modus, bukan wedus. Yang wedus kan situ, selalu dikorbankan perasaannya meski bukan lebaran kurban ... eh cieeeh Ojan!” Ia tidak bisa untuk tidak tertawa apalagi semuanya juga kompak menertawakan Ojan.


“Lah yang kemarin ke mana, katanya sudah dipanggil Daddy?” lanjut Azzam.


“Nah, anaknya panggil aku daddy, tapi mamahnya bilang sori, permisi, eh ... pergi enggak balik-balik lagi. Emang wajahku sehoror itu, ya? Langsung kabur saja!” ucap Ojan sekalian curhat.

__ADS_1


Mendengar itu, Azzam benar-benar tidak bisa menyudahi tawanya. Apalagi ketika Ojan terang-terangan akan mengambil semua melati pengantin Suci, setelah nanti Sepri dan Suci beres ijab kabul.


“Ini sih pernikahan impian. Enggak kebayang gimana bahagianya jadi Suci. Terus, ... kok Suci bisa secantik itu ya? Drastis banget perubahannya. Kekuatan duit memang bikin cepat cantik! Coba aku yang jadi Suci ... beh, kukuku pasti bisa bikin mata pembaca sakit saking berkilaunya!” batin Nurma dibuat takjub pada setiap kemewahan yang ada di sana. “ Si Sepri pun juga kelihatan jadi ‘melek’ banget. Hoki banget ih jadi Suci.”


“ ... Saya terima nikah dan kawinnya ....”


Dunia seolah mendadak berputar lebih lambat hanya karena kata ijab yang sedang Sepri lantangkan. Semuanya kompak diam menyimak, di tengah dada yang berdebar-debar.


“ ... dibayar tunai!” Sepri menyelesaikan ijabnya. Melalui ekor lirikannya, ia mendapati Suci masih menunduk dengan khusyuk.


“Bagaimana saksi? SAH?” ucap penghulu dan sudah langsung membuat hati Sepri campur aduk.


“Sepriiiiii, kok aku ditinggal nikah!” refleks Ojan berseru menangis histeris.


Azzam refleks men*abok mulut Ojan menggunakan sepatu pantofel sebelah kanan miliknya. Sebab meski ulah Ojan tidak sengaja, takutnya itu menjadi alasan ijab Sepri tidak disahkan.


“Sah ...!”


“Sah!”


“Sahhhhhhhh!”

__ADS_1


“Alhamdullilah .....”


__ADS_2