
Suci merasa, waktu yang ia miliki berjalan dengan sangat cepat. Alasan yang terjadi karena sampai detik ini, Suci masih tidak menyangka. Suci masih sulit untuk percaya, bahwa dirinya sudah keluar dari lingkungan toxic Budi sekeluarga, yang menjadikan anggapan ‘anak pertama perempuan kurang bawa hoki’ sebagai hak paten menilai seorang istri. Tentunya, Suci juga tidak akan pernah lupa, dirinya pernah menjadi korban KDRT dari sosok laki-laki pengec*ut yang selalu beranggapan kekera*san sekaligus melukai wanita, sebagai sarana mendapatkan pengakuan bahwa laki-laki itu kuat dan wajib ditakuti. Jadi, ketika kini Suci tak sengaja menyaksikan berita vir*al atas meninggalnya seorang wanita yang berstatus sebagai istri sekaligus seorang ibu karena KDRT dari suami sekaligus mertua, Suci benar-benar tidak bisa untuk tidak menangis. Tersedu-sedu Suci sambil meletakan ponselnya, hingga Sepri yang tidur sambil mendekap perutnya dari belakang, terusik.
Dengan mata masih setengah terpejam, di tengah suasana remang kamar Suci yang ada di kamar ibu Manis, Sepri melongok, memastikan wajah istrinya. Iya, Suci menangis sementara layar ponsel wanitanya itu tergeletak tak jauh dari tangan kanan Suci, dengan keadaan layar menyala. Dan Sepri sudah langsung paham setelah ia memastikan layar ponsel sang istri. Berita wanita yang meninggal karena KDRT, dan memang sedang ramai di bahas termasuk itu di televisi dan sekelas Sepri yang jarang menonton televisi saja sampai mengetahuinya. Kemarin pagi saat menyalakan televisi untuk Binar, berita itu tak sengaja tayang. Detik berikutnya pula Binar bertanya, “Yayah, KDRT itu apa?” tentu Sepri langsung bingung, tapi Sepri tidak berani untuk tidak memberi Binar penjelasan akurat. Karena bagi Sepri, Binar yang cerdas wajib tahu. Paling tidak jika pengetahuan Binar tidak sampai bermanfaat untuk orang lain, Sepri berharap edukasi yang ia berikan akan bermanfaat bagi Binar.
“Berarti, ... yang dilakukan papah, bude, sama mbah dulu itu KDRT, dong Yayah?” itulah komentar Binar dan sudah langsung membuat Sepri tercengang. Lebih tercengangnya lagi, ketika Binar lanjut bertanya, “Kenapa enggak dilaporkan ke polisi? Mereka kan sudah jahat ke Mamah. Yang bikin wajah Mamah lula parah juga mereka, kan?”
Namun sampai detik ini, kejadian kemarin dan masih di rumah orang tua Sepri, belum sampai Sepri ceritakan kepada Suci. Meski kemungkinan Binar menyampaikannya secara langsung dirasa Supri besar kemungkinan memang sangat mungkin. Binar anak yang cerdas dan sangat kritis. Binar paling anti penind*asan apalagi jika sampai menimpa orang yang disayang. Kepada Ojan pun, Binar sangat sayang dan akan menjadi garda terdepan andai ada anak-anak bahkan orang dewasa yang dengan sengaja mengatai terlebih mengo*lok-o*lok Ojan.
__ADS_1
“Sampai detik ini aku masih bertanya-tanya loh Yayah. Apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka, para suami dan mertua keji? Andai mereka sudah enggak cocok, ya cukup lepas. Andai mereka enggak mau mengembalikan baik-baik, beneran cukup biarkan pergi, jangan dihabi*si,” lirih Suci sengaja menjaga suaranya demi menjaga Binar yang juga masih lelap di sebelahnya. Selain itu, ia juga sengaja menghadap sang suami.
Satu hal yang Suci syukuri semenjak ia menikah dengan Sepri. Karena bagaimanapun kondisi suaminya, bahkan ketika Sepri sedang sangat sibuk sekaligus tampak sangat lelah, suaminya itu selalu membuatnya maupun Binar nyaman. Alasan yang juga membuat Suci dengan begitu mudah akan berbagi pikiran, mengajak suaminya untuk berdiskusi dari hati ke hati layaknya sekarang.
Hubungan Suci dan Sepri bukanlah hubungan rumah tangga pada kebanyakan, yang menjadikan kerja, cari nafkah, urus anak, kemudian menjadikan urusan ranjang sebagai penutup, aktivitas rutin yang wajib mereka jalani sehari-hari. Karena walau sebentar bahkan meski kadang tak sengaja, obrolan dari hati sekaligus mengungkapkan pikiran layaknya sekarang, selalu mereka jalani. Memang tak sampai berjam-jam, dan tak jarang akan mereka lupakan dengan begitu saja. Namun dampak dari hal yang mungkin akan dianggap sepele oleh sebagian orang sekaligus pasangan, justru tak ubahnya obat mujarab bagi Suci yang memang pernah merasakan luka mental parah, akibat rumah tangga orang tuanya, juga rumah tangganya sebelum bersama Sepri.
“Orang seperti mereka biasanya memang sakit. Susah sembuhnya kalau mereka saja enggak mau, apalagi kalau tanpa pengawasan,” ucap Sepri yang kemudian menatap kedua mata Suci. Dalam dekapannya, istrinya itu menyimak dan sudah langsung menengadah hanya untuk menatap kedua matanya. “Sakit seperti mereka enggak kenal kasta. Mau orang kaya, mis*kin, mau mereka berpendidikan, bahkan paham agama, kalau dasarnya otaknya dakjal, ya terjadilah.”
__ADS_1
Hati Suci langsung diselimuti rasa hangat selain di sana yang memang jadi berbunga-bunga. “I love you, Yah! Aku beneran ngefans banget ke Yayah. Karena setelah semua yang terjadi, Yayah bisa sekeren ini!” lirih Suci yang sudah mendekap erat tengkuk Sepri.
Senyum lembut sekaligus hangat menjadi warna utama di wajah Sepri. Kedua mata Sepri memang menjadi basah, tapi itu wujud dari kebahagiaannya yang paling dalam. Dicintai bahkan sangat dicintai oleh istri sendiri selaku wanita yang juga sangat ia cintai—itu menjadi surga dunia yang tak ternilai karena terlalu berharga bagi orang sepertinya.
“Sebelum tidur, salat malam dulu yuk. Bismillah, buat kebersamaan bersama,” lembut Sepri sambil mengelus kepala kemudian punggung Suci. Sesekali, ia juga membenamkan wajahnya di kepala sang istri dan menikmati aroma wangi dari sana yang memang selalu memberinya ketenangan luar biasa.
Sebelum benar-benar bangun, Suci yang masih mendekap tengkuk Sepri menggunakan kedua tangannya, sengaja mengerucutkan manja bibirnya. Detik berikutnya, Sepri yang sudah paham dengan kebiasaan istrinya itu langsung tersipu dan perlahan mengecu*p bibirnya. Dalam hatinya, Sepri berujar, “Maaf yah, Bud. Wanita sekelas Suci terlalu istimewa buat kamu yang dakjal dan sudah bikin dia bahkan Binar sangat trauma. Semoga kamu segera sembuh dari sakit kamu, agar kita bisa sama-sama jadi orang tua baik untuk Binar.”
__ADS_1
Karena setiap tidur Sepri selalu melepas kaki palsunya, Suci dengan sigap tanpa lupa untuk hati-hati demi menjaga kehamilannya, menyiapkan kaki palsu suaminya. Suci bahkan sengaja memasangkannya sementara Sepri yang makin mencintai sang istri karena bakti yang selalu Suci jalani, tak hentinya tersenyum sambil sesekali menahan rambut sepunggung milik Suci yang memang masih tergerai.
Kemudian yang akan terjadi ialah Sepri yang mengulurkan tangan kanannya, dan dengan segera, Suci yang sudah langsung tersipu sekaligus menatap sang suami penuh cinta, meletakan tangan kirinya di telapak tangan kanan Sepri. Itulah salah satu romantis versi mereka dan akan selalu mereka jalani hingga akhir usia.