
Paginya, Ojan masih belum pulang. Alasan yang membuat suasana di sekitar sana sangatlah sepi. Suci mengawasi suasana sekitar dari ujung ke ujung lagi, sejauh kedua matanya memandang. Suasana asri yang mulai menyatu dengan kehidupan Suci karena biar bagaimanapun Suci yakin, ke depannya ia akan tinggal di sana, mengontrak bersama Binar. Bukan tanpa alasan, karena selain tempat kerjanya memang di sana, di sekitar kontrakan juga banyak pilihan sekolah berkualitas. Terlebih bagi Suci, urusan sekolah sekaligus pendidikan untuk Binar memang nomor satu. Sementara alasan Suci belum ada pikiran tinggal bersama ibu Manis, Suci tidak mau merepotkan sang ibu yang sampai detik ini memang masih aktif bekerja.
“Sepi ...,” lembut Suci kepada Binar yang ia gandeng dan tengah turut mengawasi sekitar.
“Biasanya kalau ada Kak Ojan, jam segini Kak Ojan lagi ngajak anak ayamnya yang warnanya pink, senam!” ucap Binar makin bersemangat.
Suci juga tidak tahu kenapa Binar mendadak sangat bersemangat layaknya sekarang. Lebih bersemangat dari kemarin ketika dibawa ke sawah menemani Sepri panen. Padahal alasan sebenarnya Binar begitu, tentu karena kebersamaan mereka dengan Sepri dini hari tadi.
“Terus kalau enggak ada Kak Ojan, yang kasih makan anak ayam warna pink-nya siapa, Mah?” sergah Binar kepo.
Suci merenung sejenak, tapi Binar sudah berseru kegirangan memanggil-manggil Sepri. Ternyata Sepri baru saja keluar dari gudang gula. Garasi di sana baru saja dibuka.
“Ya Allah itu orang enggak pernah tidur, enggak punya rasa lelah, atau malah punya banyak nyawa?” batin Suci setelah melepas Binar lari menghampiri Sepri.
“Sudah mau berangkat?” lembut Sepri yang membiarkan tangan kirinya digandeng Binar. Malahan, ia sengaja memanggul Binar hingga bocah itu kegirangan. Namun dari depan, Suci mendadak menghampiri, tampak panik dan ekspresi yang merujuk pada kenyataan bahwa Suci tak mengizinkan Binar dipanggul.
“Takut kebiasaan, Mas. Takut enggak sopan juga. Nanti pasti minta dipanggul gitu lagi. Yang namanya anak kecil kan begitu,” ucap Suci benar-benar sungkan.
“Ya enggak apa-apa. Bahu, tangan, tubuh, bahkan hidupku akan selalu ada kalau buat Binar, kok!” yakin Sepri yang kemudian menengadah hanya untuk menatap Binar. Di atas sana, wajah Binar berbinar-binar. Senyumnya lebih cerah dan tak kalah hangat dari matahari pagi kali ini yang memang sudah menghiasi kebersamaan.
“Aduuuuh ... kalau gini caranya, Binar bisa ketergantungan ke mas Sepri,” batin Suci sudah buru-buru mengekor pada Sepri yang berdalih akan mengantar Binar ke sekolah.
“Om enggak ke sawah lagi?” semangat Binar.
__ADS_1
“Nanti agak siang. Soalnya mau urus gula dulu itu di dalam,” balas Sepri yang kali ini masih bertutur lembut.
“Aku mau ikut ke sawah lagi yah, Om. Yang di kemarin, kan, di saung?” Binar makin menggebu-gebu.
“Tapi nanti Binar gatal-gatal lagi, semalam saja gatal, tuh bentol-bentol, kan?” balas Sepri.
“Ah, enggak apa-apa, kan nanti diobati sama Mamah. Yah, Mah ... yah?” Kali ini Binar agak memaksa. Ia menegaskan, dirinya tak takut kulitnya hitam bahkan gatal. Karena Binar ingin sekuat Sepri yang Binar kata mirip superman.
Suci jadi kerap tersenyum mendengar obrolan Binar dan Sepri yang lama-lama jadi kocak. Andai ada Ojan, pasti keadaannya makin ambyar.
Ketika akan masuk ke sekolah Binar, Suci tak sengaja berpapasan dengan Ratna rekannya. Ratna yang mengendarai motor matic merah langsung tersenyum kepada Suci, meski ketika wanita berjilbab merah itu tak sengaja menoleh kepada Binar yang dipanggul Sepri, Ratna sudah langsung kebingungan. Suara klakson terbilang berisik juga menjadi terdengar lantaran Ratna yang kurang fokus, nyaris menabrak pengendara berlawanan arah darinya.
“Aku pikir itu si Budi, eh mas Sepri!” batin Ratna sengaja berhenti sambil tersenyum kikuk kepada Suci.
***
Sepri yakin Suci kelelahan, tapi sejauh ini Suci sengaja tak merasakannya.
“Ikut ke mana, Mas? Nanti malam masih tugas malam,” balas Suci.
Nanti malam ada acara pengajian di rumah mas Aidan untuk kepentingan pernikahan Akala, besok paginya. Karena meski pernikahan Akala hanya acara ijab kabul, mereka tetap menggelar pengajian dan doa bersama sekaligus syukuran.
“Kok Mas Sepri sampai ajak-ajak aku ke acara keluarga, ya?” pikir Suci yang jadi deg-degan.
__ADS_1
“Lagian tadi mbak Ratna izin, minta digantiin soalnya mertuanya yang di Yogyakarta kritis, Mas. Jadi bakalan enggak ada libur,” lanjut Suci.
“Perawat yang dua kan masih ada. Jadwalnya dibagi saja, apalagi kamu lagi sakit,” balas Sepri sudah mencemaskan Suci.
“Iya, Mas. Tapi sekarang beneran enggak ada perawat yang siap gantiin selain aku karena memang lagi ada urusan pribadi semua,” yakin Suci.
Karena obrolan di sana terdengar terlalu serius, Binar yang berdiri di antara mereka berkata, “Om, ikannya sudah aku kasih makan. Tapi aku bingung, kepiting sama yuyunya, dikasih makan apa?”
Karena Binar berdalih akan mengurus kepiting dan yuyunya dengan Sepri, Suci sengaja meninggalkannya karena ia harus segera menggantikan Ratna.
Ratna yang masih buru-buru membereskan berkas laporan piket sebelum diserahterimakan kepada Suci, jadi kerap melongok ke luar. Suci memergoki Sepri yang tengah menggandeng Binar sementara sebelah tangannya menenteng ember.
“Kenapa, Mbak?” heran Suci bertanya dengan lirih.
Ratna segera menoleh sekaligus menatap Suci. “Kalau mas Sepri sampai ngajak nikah, iyain saja!” bisiknya wanti-wanti.
“Hah?!” refleks Suci lirih dan memang sangat terkejut. Ia terdiam sejenak kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menahan dada. “Jantungku serasa copot hanya karena Mbak bilang begitu.”
“Lah apa salahnya? Kamu berhak bahagia, Ci. Sementara sejauh ini, kebahagiaan kamu itu Binar. Namun jika kamu bersama mas Sepri, selain Binar yang sudah langsung lengket, kamu pasti bakalan jadi ratu! Bahagia lahir batin kamu apalagi makin ke sini, mas Sepri makin perhatian. Orang sekaku itu, tapi kalau ke kamu sama Binar kok bisa lembut manis!” yakin Ratna masih berbisik-bisik. Namun di hadapannya, Suci malah jadi terlihat makin kebingungan.
“Tapi Mbak ....”
“Aku paham keadaan kamu karena aku menyaksikan betul-betul perjalanan hidup kamu, Ci. Bukan hanya kamu yang aku yakini telanjur trauma, tapi juga kamu yang ingin menjalani lembaran baru dengan tenang bersama Binar. Masalahnya kalau keadaannya sudah begini, Binar sudah cocok dan mas Sepri juga tulus sayang ke kamu, ya sudah sikat, diiyain saja! Uang dan hartanya bisa jadi alasan utama kalian bahagia. Enggak usah munafik karena hidup memang butuh duit! Penyayang, duit dan masa depan juga aman, urusan yang lain pasti bisa dikondisikan. Dirawat tuh mas Seprinya, kamu-kamu sendiri juga jadi glowing kalau perawatan rutin!” yakin Ratna sembari menyerahkan tiga berkas laporan piketnya kepada Suci.
__ADS_1
Suci refleks menghela napas. “Tapi mas Sepri enggak ada bilang dia suka ke aku apalagi ngajak nikah. Apanya yang harus diiyain, Mbak? Memang dasarnya mas Sepri orang baik, aku enggak mau kepedean apalagi aku saja belum beres masa idah.”
“Masalahnya kalian sama-sama ‘lempeng’. Tapi lihat saja kalau Ojan sudah rusuh. Huh pokoknya langsung iyain!” Ratna masih dengan keputusannya, ingin melihat Suci bersanding dengan Sepri. Karena selain Binar sudah dekat dengan Sepri, sejauh ini, Sepri juga sangat peduli sekaligus sayang ke Suci maupun Binar. Tentu itu jauh akan membuat Suci dan Binar berkali lipat lebih bahagia dari ketika keduanya bersama Budi sekeluarga.