
Sepri sudah langsung maju dengan emosi yang menggebu-gebu. Jarak sekitar sepuluh meter dari Budi, ditempuhnya dengan sangat singkat. Sementara di belakang sana, Binar yang makin tersedu-sedu memilih lari mencari sang mamah.
Budi terlihat sangat asyik dan tak sedikit pun terusik. Tak hanya ketika Binar tak sengaja menyenggol sekaligus menjatuhkan beberapa barang dari rak. Namun, kini meski Sepri sudah berdiri di antara Budi dan si wanita pun, Budi tetap fokus menemani si wanita memilih pakaian hamil.
“Nanti malam aku pakai ini, ya. Kayaknya seru buat ekse*kusi!” ucap si wanita sambil memamerkan gaun malam sangat transparan warna hitam yang tengah ia pegang kepada Budi.
Fix, keduanya mau sama mau! Pikir Sepri.
“Penyakit selingkuhmu kambuh lagi, Bud? Memangnya kamu modal apa? Modal kont*o*l? Enggak tahu malu!” ucap Sepri sembari mendorong Budi sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya.
Budi langsung tersungkur dengan agak terban*ting menimpa rak pakaian yang seketika berantakan. Budi terlihat sangat syok, apalagi orang-orang di sekitar sana sudah langsung berdatangan, meski beberapa di antaranya juga hanya melongok.
“Ibunya tahu kalau laki-laki yang Ibu ajak buat eksekusi pakai gaun malam super se*ksi itu sudah punya istri? Istrinya sedang hamil tua bahkan mungkin sudah lahiran, sementara sebelum ini, harusnya Budi dipenjara karena kasus KDRT sama numpang hidup?” ucap Sepri meledak-ledak memarahi si wanita.
“Eh, Priiiii!” Susah payah Budi berdiri. Karena biar bagaimanapun, kaki kanannya memang masih pin*cang.
“Kamu diem, ya! Kamu jangan lupa, aku bisa menjebloskan kamu ke penjara kapan pun aku mau!” tegas Sepri sambil menunjuk-nunjuk wajah Budi. “Bikin malu kamu! Susah payah aku jaga Binar, tapi lagi-lagi karena kamu dan kelakuanmu, Binar sedih. Binar kecewa, Binar hancur dan itu karena penyakit selingkuhmu!”
__ADS_1
Beberapa dari mereka yang ada di sana, mengabadikan apa yang tengah terjadi, melalui bidik kamera ponsel.
Si wanita cantik nan necis yang masih memegang gaun malam hitam nan se*ksi dan berdalih akan dipakai nanti malam, langsung panik. “Eh yang sopan, ya! Enggak usah rekam-rekam! Saya laporin ke polisi loh!” tegasnya marah sambil menggunakan tas jinjing merahnya untuk menutupi wajah.
“Mau lapor ke polisi, ayo lapor! Mau polisi yang di mana? Saya ladenin! Laki-lakinya hobi selingkuh, wanitanya juga kegat*elan!” sergah Sepri. “Apa yang kalian lakukan sudah kelewatan loh. Itu anak Budi itu?”
Ojan yang baru melihat keributan di sana sudah langsung tertarik. Segera ia lari dan tak segan mena*brakkan diri kepada Budi agar ulahnya terkesan tidak disengaja. Hingga andai diperkara, ia bisa mengingkarinya. Tak lupa, ia meminta maaf sekadar untuk pemanis, kemudian bekerja keras mengumpulkan gas wabah dalam perutnya. Tak lama setelah ia memunggungi Budi, ia sengaja kentut dengan penuh perencanaan. Kentut yang tak bersuara tapi aromanya sangat membahana.
Sepri yang sudah terbiasa saja sudah langsung sempoyongan. Apalagi si wanita necis yang tampaknya sudah tahu seluk beluk Budi, termasuk itu status Budi yang sudah menikah. Tak lupa, Sepri sengaja memfoto si wanita yang membawa kabur Budi. Keduanya kabur dalam keadaan mual sekaligus sempoyongan, padahal keduanya tidak habis mengonsumsi alk*o*ho*l. Keduanya begitu murni karena kentut Paojan alias Ojan.
“Jan ... bau banget, sih?” lirih Sepri. Terlebih, semua yang di sana dan awalnya tengah menyimak sekaligus merekam kelakuan Budi dan wanitanya, juga sampai kebauan.
“Astaghfirullah ... astaghfirullah ...,” lirih Suci yang jadi sibuk istighfar sambil terus mengelus penuh sayang, kepala sekaligus punggung Binar yang masih ia dekap.
Suci sudah tahu semuanya karena adegan Sepri mengam*uk Budi, termasuk Ojan yang sampai mengeluarkan kentutnya, turut ia saksikan.
“Kebangetan ... bisa-bisanya masih begitu,” batin Suci lagi yang yakin, selingkuhan Budi bukan orang sembarangan dan bahkan lebih keja*am dari Nurma.
__ADS_1
“Kenapa enggak dibanti*ng inj*ek saja sih tadi, Mas?” protes ibu Septi.
“Jangan, Mbak. Kata mas Aidan enggak boleh. Nanti yang ada Sepri dipenjara. Kalau memang mau, mending kayak aku saja tadi. Gayanya seolah-olah enggak disengaja, padahal direncana. Tapi omong-omong, cemcemannya si Budi, kok kayak beda ya. Kaya kayaknya!” sergah Ojan yang mendadak mirip orang waras.
“Pokoknya gimana caranya, Mamah pengin marti*l kepala tuh dua orang tadi. Harusnya tadi mereka diikuti saja, digerebek!” kesal ibu Septi lagi sambil mencub*it gemas punggung Ojan yang juga sudah sibuk kesakitan meminta ampun kepadanya.
“Digrebek? Pas sama Nurma saja, satu rumah sama Suci, ternyata mereka bisa dengan enggak mikirnya nikah siri. Ini apa lagi, si wanita gat*elnya sampai bela. Bisa jadi, walau mereka belum nikah siri, mereka teramat menikmati hubungan mereka!” keluh Sepri yang kemudian pamit untuk menghampiri Binar. Kebersamaan mereka yang awalnya diwarnai kebahagiaan, mendadak sirna digantikan dengan kesedihan.
“Doakan saja Mbak, semoga mereka yang hobi selingkuh, kena penyakit kelamaan. Eh, kelam*in!” tegas Ojan yang kemudian buru-buru menyusul Sepri.
“Semoga beritanya viral, biar mereka dapat sanksi dari masyarakat luas. Namun, sepertinya ini memang hukuman nyata untuk Nurma. Karma dibayar kontan. Apalagi hubungan Nurma sama Budi sebelum akhirnya mereka nikah siri kan, dimulai sejak Suci hamil dan diprediksi hamil anak perempuan. Dan saat itu yang mulai kegat*elan memang si Nurma. Sudah dikasih modal hidup, kok tega-teganya nika*m Suci. Untung Suci sudah cerai dari Budi. Enggak kebayang andai belum. Hihhh, ngeri!” gerutu ibu Septi yang kemudian juga menyusul kebersamaan Sepri.
Setelah mengemban Binar, Sepri juga sudah langsung merangkul Suci. Kenyataan yang jujur saja sudah membuat ibu Septi teramat bersyukur. Karena meski Sepri putranya bukan manusia sempurna. Sepri seorang difabel yang selama ini selalu bekerja keras tak mau kalah dari orang normal, Sepri selalu mencintai keluarga mereka, khususnya keluarga kecilnya, dengan sempurna.
“Mulai sekarang, kita enggak usah mikirin papah Budi lagi. Sudah biarin saja tuh orang. Bikin malu banget! Yang penting kita enggak gitu. Sudah, gitu saja sekarang prinsip kita!” lirih Sepri sambil mengelus-elus punggung Suci yang masih ia rangkul. Sesekali, bibirnya juga akan mengunci kening Binar maupun Suci dengan kecup*an.
“Ya sudah, ayo kita lanjut belanjanya. Jangan sedih-sedih lagi, takutnya kalau kita sedih, mas Boy juga sedih!” yakin ibu Septi sambil mengelus-elus punggung Binar maupun Suci.
__ADS_1
Hanya saja, pengakuan jujur dari Binar yang berdalih malu dengan kelakuan Budi, membuat mereka khususnya Suci, kembali bersedih.
“Keterlaluan memang kamu Mas. Kebangetan! Masa iya harus caca*t permanen bahkan penyak*itan, kamu baru mau berubah?” batin Suci benar-benar kesal. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh di tengah dadanya yang bergemuruh.