Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
51 : Obrolan Hangat Dengan Calon Mertua


__ADS_3

Suci berpikir, apakah karma nyata tengah menghampiri keluarga mantan suaminya? Sebab bagi Suci, apa yang menimpa ibu Syamsiah dan juga Budi, terlalu tiba-tiba, menyakitkan, sekaligus fatal.


Tanpa disengaja, Suci menjadi merenungi dengan serius kenyataan tersebut. Terlebih setelah ia tahu dari dokter Andri mengenai sakitnya Budi dan ibu Syamsiah. Dari kedua mata ibu Syamsiah yang terancam katarak bahkan buta, juga kedua kaki Budi yang terancam lumpuh. Namun dari kedua vonis tersebut, yang menimpa Budi lah yang sudah langsung membuat Suci merasa tertamp*ar. Karena dengan kata lain, kedua kaki mantan suaminya akan lumpuh, sementara sejauh ini apalagi akhir-akhir ini, Budi makin sering memanggil Sepri dengan tambahan sebutan “bun*t*ung”.


“Berarti memang bener, bahwa ucapan, termasuk ucapan ke orang lain memang ibarat doa ke diri sendiri. Sedih sih karena biar bagaimanapun, mas Budi papahnya Binar. Namun jika melihat ulahnya selama ini, semoga dia bisa belajar sekaligus memetik hikmahnya,” pikir Suci, refleks balas tersenyum kepada ibu Septi yang ternyata sudah ada di hadapannya, dan bahkan sudah sibuk mengumbar senyum.


Namun setelah ibu Septi yang menjadi tersipu malu berangsur mendorong gemas lengan tangan kanan Sepri yang tidak menggandeng tangan kanan Binar, detik itu juga Suci langsung istighfar. Suci melakukannya dengan setengah menjerit, selain ia yang sampai mengakhiri gandengan tangan kanannya kepada sang putri. Suci terlalu kaget karena kekompakannya dan Sepri bersama Binar, malah diketahui ibu Septi sekaligus dokter Andri.


Ketika ibu Septi jadi sibuk tersipu dan tak segan menggo*da Sepri, Suci, maupun Binar, tidak dengan dokter Andri yang tetap tenang sambil menahan senyum. Namun dari senyum dokter Andri kali ini, pria itu tampak sangat bahagia atas kekompakan Suci dan Sepri bersama Binar.


“Ini segera menyusul mas Akala dan Nina, kan?” ucap ibu Septi. Namun karena baik Sepri maupun Suci jadi kebingungan dan keduanya terlihat tampak sangat gugup, ibu Septi sengaja mengalihkan tatapan sekaligus fokus perhatiannya kepada Binar.


Ibu Septi sampai agak jongkok menyamakan tinggi khususnya wajahnya dengan wajah Binar. “Binar, mamah Suci boleh nikah sama om Sepri? Boleh yah, biar om Sepri sama mamah Suci bisa sama-sama terus.” Ibu Septi benar-benar memohon, sedang berusaha membujuk Binar yang baginya bisa jadi kunci kemulusan hubungan Suci dengan laki-laki mana pun termasuk itu dengan Sepri.


Mendengar pertanyaan dari ibu Septi kepada Binar dan sudah langsung diizinkan oleh Binar dengan sangat bersemangat, baik Suci maupun Sepri jadi kikuk. Sesekali Sepri dan Suci juga saling lirik. Membuat ibu Septi yang menyadari itu jadi penasaran mengenai perkembangan hubungan putranya dengan Suci. Sejauh mana hubungan keduanya? Juga, apakah sang putra sudah mengungkapkan perasaan sekaligus niat baiknya kepada Suci, membawa hubungan mereka ke pelaminan setelah nanti Suci beres masa idah?

__ADS_1


“Hubungan kalian sudah sampai mana?” ucap ibu Septi hangat bersama senyuman ramahnya yang terus menyertai tatapannya kepada kedua mata Suci maupun kedua mata Sepri.


“Y-ya di sini, Mah ....” Sepri yang otaknya hanya terisi kerja, kerja, sekaligus mengurus Ojan, bingung dengan pertanyaan mamahnya. Kenapa sang mamah harus menanyakan apa yang sudah ada di depan mata dan harusnya tak perlu dijelaskan?


“Mas Sepri ya, ... tapi aku maklum kalau mas Sepri jawabnya begitu. Selama ini kan, hidup mas Sepri isinya hanya kerja dan mas Ojan yang setiap detiknya minggat!” batin Suci sudah langsung kikuk.


“Dibahas di rumah saja, jangan di sini,” ucap dokter Andri yang kemudian merangkul sang istri, menepuk-nepuk punggung ibu Suci penuh sayang.


Mau tak mau Suci terpaksa ikut karena Sepri yang masih irit bicara, juga sudah langsung mengajaknya. Jadi, kedatangan Suci kali ini ke rumah ibu Septi, bukan lagi sebagai pekerja dan atasan. Melainkan wanita sekaligus teman dekat Sepri, dan akan mengobrol dengan orang tua Sepri.


Suci dan Sepri duduk di sofa panjang, Binar ada di tengah, menjadi pemisah keduanya. Sementara dokter Andri duduk bersebelahan dengan ibu Septi di sofa tunggal tepat menghadap sofa panjang kebersamaan Sepri dan Suci. Sesekali, Sepri akan membuka toples berisi aneka camilan, cokelat, maupun permen dan Sepri berikan kepada Binar.


“Mbak Suci, biar Ibu tanya ke Mbak saja. Karena kalau tanya ke Mas Sepri, pasti enggak jadi. Mas Sepri biar urus momong Binar saja, ya,” lembut ibu Septi benar-benar manis kepada Suci. “Mumpung enggak ada Ojan, ya. Ayo kita ngomong serius!” Kali ini ia sengaja berbisik-bisik kemudian mengakhirinya dengan tersenyum geli.


“Ya sudah, ditanya-tanya,” lembut dokter Andri kepada sang istri. “Enggak usah tegang apalagi takut, Mbak Suci. Santai saja, ya. Apalagi bagi kami, Mbak Suci bukan lagi orang asing. Selain kami yang juga sangat merestui hubungan kalian.”

__ADS_1


“Ouh ... sudah langsung direstui?” pikir Suci makin deg-degan.


Ibu Septi yang sempat membiarkan sang suami mengambil pembicaraan, segera tersenyum lepas. “Gimana Mbak Suci, ... Mas Sepri sudah bilang, belum? Sudah jujur belum kalau Mas Sepri ingin seriusan dengan Mbak Suci?” Ia benar-benar penasaran, bagaimana tampang sekaligus cara Sepri dalam melakukannya.


Suci tak langsung menjawab, dan perlahan melirik Sepri yang ia pergoki tampak kikuk. Berulah beberapa saat kemudian, pria itu berangsur meliriknya, sementara di depan mereka, ibu Septi malah terbahak-bahak.


“Sebahagia ini ... akhirnya anakku mau nikah juga! Alhamdullilah banget ya Alloh. Alhamdullah, semoga dilancarkan dan makin dieratkan mirip hubunganku sama mas Andri!” batin ibu Septi. “Iya, kan, Mbak? Mas Seprinya sudah ngomong?”


Lagi, Suci yang tidak langsung menjawab dan memang tidak bisa melakukannya, melirik Sepri. Namun ia berangsur mengangguk sambil tersenyum canggung kepada ibu Septi tanpa mengabarkan bahwa cara Sepri mengajaknya menikah, mirip orang setengah sadar yang berusaha mengucapkan mantra.


“Kamu sampai dikasih bunga apa hadiah apa, enggak, Mbak? Kalau enggak, diserudug sama Mas Seprinya. Bisa buat toping es gepluk Ibu. Masa iya, kalah sama Ojan!” lanjut ibu Septi dan sudah langsung ditepuk-tepuk gemas punggungnya oleh dokter Andri.


Belum apa-apa, dokter Andri sudah tidak bisa berhenti tertawa.


“Sudah Mbak Suci. Kamu wajib ngomong, kasih tahu. Mas Sepri kurang apa dan wajib bagaimana. Kalau Ibu tebak, Mas Sepri pasti enggak ada romantis-romantisnya!” lanjut ibu Septi berharap caranya yang mengajarkan keterbukaan dalam hubungan kepada Sepri maupun Suci, bisa menjadi resep keduanya menjadi pasangan langgeng sekaligus saling menyayangi.

__ADS_1


Lagi, Suci berangsur melirik Sepri. Namun kali ini, Sepri yang tampak tegang, meliriknya sambil mengangguk-angguk. Alasan yang juga membuat Suci memberanikan diri untuk angkat bicara. Namun sebelum itu, ia sengaja menghela napas dalam guna meredam kegugupan yang membuat dada Suci berdebar-debar.


“Mas Sepri memang belum bisa romantis, tapi tanggung jawabnya bikin saya yakin, Bu. Dok,” jujur Suci dan sudah langsung membuat ibu Septi terbahak-bahak lagi.


__ADS_2