
Dendam, itulah yang Nurma rasakan. Nurma sangat ingin balas dendam kepada Budi maupun selingkuhannya. Terlebih layaknya di video yang telanjur viral, meski Sepri sudah memberi Budi maupun si wanita peringatan keras, si wanita tetap membela Budi. Bertanda bahwa wanita itu juga tahu, bahwa Budi sudah beristri bahkan kini tengah hamil tua.
Ibaratnya, posisinya sama persis dengan apa yang sudah Nurma lakukan kepada Suci. Yang mana saat itu, Nurma merasa sangat puas ketika Budi menghaj*ar Suci hingga berdar*ah-dara*h bahkan sekarat, tak lama setelah Suci memergoki mereka dan membuat Nurma maupun Budi menjadi bahan tontonan warga, dalam keadaan tak berbusa*na.
“Sudah jangan berisik lah Nur. Lagian posisi kamu saja belum jelas. Pernikahan kamu dan Budi tetap belum sah, bahkan meski hanya di mata agama karena dulu, kalian menikah tanpa izin suci, sementara setelahnya, Budi belum memperjelas hubungan kalian lagi!” tegas ibu Syamsiah.
“Bahkan kandunganku sudah lewat HPL. Ini sudah bulan ke sepuluh akhir!” Nurma meraup kasar wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia tak hanya dendam, tapi juga emosi. “Sementara selingkuhannya juga sedang hamil!!!”
“Pokoknya tekadku bulat, andai Ibu enggak bisa mengatasi Budi, aku beneran akan lapor ke polisi!” lanjut Nurma.
“Lapor ke polisi bagaimana?”
Suara barusan merupakan suara Budi dan terdengar sangat santai, seolah semuanya baik-baik saja. Seolah pria itu tak memiliki beban. Membuat Nurma makin naik pitam dan segera memastikan. Benar, Budi dengan gayanya yang necis, gagah sekaligus wangi layaknya bujang, menatapnya dengan banyak terka cenderung marah.
Tanpa babibu, Nurma mendekat kemudian meluda*hi wajah Budi. Namun Budi yang terkejut, tak segan maju kemudian menem*peleng Nurma hingga wanita itu terbant*ing.
“Kurang a*jar kamu ya! Suami baru pulang kerja, capek bukannya dilay*ani, malah dilud*ahi. Dasar wanita enggak tahu di*ri!” marah Budi yang detik itu juga menendang perut besar Nurma sekuat tenaga.
Detik itu juga jerit kesakitan Nurma menggelegar. Sekelas ibu Syamsiah yang menyaksikan dengan kepala dan matanya sendiri sampai merinding.
“T-tolongggg!” Tangis Nurma meraung-raung.
Rasa sakit yang begitu luar biasa sungguh Nurma rasakan. Terlebih bukannya takut karena ia sudah meminta tolong meraung-raung, Budi yang juga ia dapati beraroma alk*ohol tetap menendang perut bahkan wajahnya sekuat tenaga. Budi benar-benar tak berubah dan malah makin parah.
__ADS_1
Beda dari ketika Suci yang mengalami KDRT, kali ini ibu Syamsiah yang berjalan saja menggunakan tongkat, berusaha menghentikan Budi. Namun, usahanya tak mampu membuat Budi berhenti. Barulah setelah tetangga berbondong-bondong masuk, Budi menghentikan ulahnya.
Budi tertang*kap basah ketika menjambak Nurma dan hendak menga*du wajah berikut kepala wanita itu dengan lantai.
Raungan kesakitan Nurma makin menjadi-jadi lantaran ketuban wanita itu pecah. Belum lagi kondisi Nurma masih bermasalah dengan tensinya yang tinggi.
“Suci ...,” batin Nurma. Di saat nyaris sekarat layaknya kini, yang Nurma ingat benar-benar hanya Suci. Karena andai dulu dirinya tidak terus menerus menggod*a Budi dengan sangat agresif, Budi sudah terbilang bucin kepada Suci. Namun sebucin-bucinnya Budi kepada Suci, pria itu tetap oleng kepadanya. Terlebih sedikit banyaknya, Nurma tahu apa yang Budi sukai. Sebab di masa lalu, mereka pernah pacaran bahkan nyaris punya anak andai Nurma tidak abor*si.
Nurma berpikir, apakah kini, ia tengah mulai menuai karmanya? Sebab ia berpikir, masih karenanya, Budi jadi kecand*u*an selingkuh sekaligus KDRT. Terlepas dari semuanya, Nurma juga jadi tidak yakin, dirinya maupun calon bayinya, akan baik-baik saja.
Berbeda dengan Nurma, Suci justru tengah menikmati sarapan istimewa, di sebuah restoran bersama keluarga besar Sepri.
“Nanti Mbak Suci sama Binar, menginap di rumah saya saja ya. Biar kalian bisa istirahat,” ucap Chole sembari menikmati menu sarapannya.
“Hihhhh Binar, udah makin gede saja! Padahal baru tiga bulan enggak ketemu!” ucap Chalvin yang sudah langsung mencubit gemas pipi Binar.
Mendapati itu, Helios yang langsung tersipu berkata, “Mbak Laras, ... itu kode kalau suamimu pengin anak perempuan!”
Detik itu juga tawa menjadi pecah mewarnai kebersamaan mereka. Mereka refleks menepi sejenak dari kecelakaan yang menimpa Rere dan Adam. Alasan yang membuat ibu Septi dan eyang Fatimah maupun Ojan, tidak bergabung dengan mereka. Karena sebagai wali dari Ojan, keduanya sengaja di rumah sakit untuk terjaga. Terlebih setelah melihat Ojan, Adam yang sudah memanggil Ojan ‘daddy’ langsung jadi semangat dan tak sesedih sebelumnya.
Waktu mereka di Jakarta juga sekalian Sepri dan Suci manfaatkan untuk istirahat. Keduanya benar-benar diajak menginap di rumah Chole dan Helios yang sangat besar sekaligus mewah.
“Nanti kalau Mas Sepri mau ke rumah sakit, biar Mbak Suci dan Binar sama aku. Soalnya di rumah sakit enggak enak. Mending di sini bisa sambil istirahat. Kalau mau jalan-jalan juga ayo. Eh, sudah belanja keperluan lahiran belum?” ucap Chole yang mengantar keluarga kecil Sepri ke kamar tamu yang keadaannya mirip kamar hotel berbintang. Mewah dan fasilitasnya lengkap.
__ADS_1
Menyinggung keperluan lahiran, Suci refleks melirik Sepri penuh sesal. “Kalau tahu mau ke Jakarta, kemarin enggak usah belanja. Maksudnya, belanjanya di sini saja,” lirihnya benar-benar manja.
Chole yang menyaksikan itu sudah langsung cekikikan. Gemas sendiri pada interaksi Suci dan Sepri. Terlebih bersama Suci, Sepri yang terkenal kaku jadi terlihat lembut bahkan agak romantis.
“Kalau memang mau belanja lagi juga enggak apa-apa. Nanti minta temenin Chole, disesuaikan saja waktunya,” lembut Sepri.
Setelah obrolan romantis antara Suci dan Sepri usai, sebagai tuan rumah yang tersisa lantaran Helios sang suami sudah pergi kerja, Chole mempersilahkan Sepri dan Suci, beserta Binar, untuk istirahat.
Ditinggal Chole, Suci jadi bisa mengawasi suasana di sana dengan leluasa. “Ini rumah, yah, Mas?”
Mendapati sang istri yang sampai menengadah hanya untuk menatap langit-langit berpilar emas di kamar keberadaan mereka, Sepri langsung tersenyum geli. “Ini bukan rumah, tapi sudah tergolong istana, Mah. Pengin rumah yang begini juga, ya?” lembut Sepri.
Suci langsung mesem dan buru-buru menggeleng sambil menatap sang suami. “Enggak, Mas.”
“Kenapa, gitu?” balas Sepri yang tersenyum heran.
“Ngeri. Ngeri biaya buatnya. Ngeri menempatinya, takut dirampok!” ucap Suci seiring tawanya yang pecah. Ia sengaja duduk di sebelah Sepri kemudian mendekap manja pinggang suaminya, selain ia yang juga sudah langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Sepri.
Binar yang baru naik ke ranjang tidur dan gayanya tak kalah mewah dari nuansa ruangan di sana yang mengusung arsitektur Eropa, langsung merangkak menghampiri mereka sambil tersenyum haru.
“Yayah sama Mamah bakalan saling sayang terus, kan?” tanya Binar mendadak sedih. Sebab ulah Budi yang sudah bersama wanita lain, benar-benar bukan hanya Nurma, telanjur membuatnya terluka.
“Tentu. Mamah sama Yayah kan saling sayang!” sambut Suci langsung ceria dan berusaha meyakinkan Binar. Suci langsung sibuk membuat Binar percaya, agar ketakutannya terhadap dampak fatal akibat ulah Budi, tak pernah menimpa sang putri. Dibantu Sepri, mereka tak segan pamer kemesraan kepada Binar, dan itu sukses membuat Binar menitikkan air mata.
__ADS_1
“Aku sayang banget ke Mamah sama Yayah. Sayang banget juga ke dek mas yang masih di perut Mamah!” isak Binar sembari memeluk Sepri dan Suci sangat erat.