
“Maaf untuk semua kekuranganku ...,” lirih Sepri dengan mata berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan kesedihan sekaligus lukanya jika itu menyangkut kaki kanannya, sementara Suci yang baginya sempurna, justru dengan sangat mudah mencintainya.
Permintaan maaf dari Sepri sudah langsung membuat hati Suci terenyuh. Refleks ia mengangguk-angguk di tengah kedua matanya yang basah. Karena apa pun keadaan Sepri, baginya pria itu sempurna terlebih cara Sepri mencintainya, menerimanya berikut kekurangannya. “Aku juga, Mas. Maaf karena Mas bukan yang pertama. Namun jika boleh mengulang waktu, maunya aku langsung nikah sama Mas. Aku enggak mau dan memang enggak rela mas Budi jadi bagian dari kehidupanku apalagi Binar. Yang aku mau, Binar beneran anak biologis Mas. Apalagi kalau ingat perlakuan mas Budi yang beneran keji—”
“Apa pun dan bagaimanapun, sampai kapan pun, Binar memang anakku!” sergah Sepri yang memang akan makin sensit*if jika membahas nasib Binar.
Air mata Suci makin sibuk berjatuhan hanya karena pengakuan Sepri barusan. Karena semua hal yang menyangkut Binar terlebih Binar seorang perempuan yang tetap membutuhkan ayah kandung sebagai wali, memang akan selalu sensit*if untuknya. Bahkan meski Sepri juga sudah langsung memulai, menyapa bibirnya dengan ci*uman kemudian sesapan, Suci tetap belum bisa menyudahi air matanya.
“Bantu turunin ritsleting dulu Mas. Ini di punggung,” lirih Suci yang kemudian berangsur memunggungi Sepri.
“Sepri ... Sepri ... kamu lagi dinas malam, ya? Sudah diban*ting belum durennya? Apa dipelatok?”
Suara Ojan yang terdengar berbisik-bisik dari sela pintu bagian samping, langsung membuat Suci bahkan Sepri menahan senyum mereka. Tubuh Suci yang memunggungi Sepri menjadi terguncang lebih pelan karena tawa yang wanita itu tahan. Namun, diam-diam, dalam hatinya Suci juga berterima kasih kepada Ojan. Karena ulah Ojan barusan, Suci jadi bisa keluar dari kesedihannya.
“Makin lama aku makin yakin, Ojan sudah mulai penuh dan nyaris sepenuhnya waras!” ucap Sepri yang kemudian berusaha memboyongnya ke kasur yang ada di bawah.
Di sana memang ada kasur tambahan dan ukurannya lebih pendek dari kasur Binar berada. Kasur yang tak sampai disertai ranjang tersebut sengaja Sepri siapkan, agar andai mereka ingin berc*inta, mereka bisa melakukannya dengan leluasa, asal Binar sudah tidur layaknya sekarang.
“Priiii, istighfar, Pri. Keramas dulu, salat sepertiga malam buat nikung rezeki. Ya iya nikung rezeki, kan sekarang kamu sudah punya istri!”
__ADS_1
Suara Ojan kembali terdengar dari sela pintu. Suci yang sengaja menggunakan kedua tangannya untuk membekap bibir guna meredam suara yang keluar dari sana, langsung melengos dari hadapan wajah Sepri. Tubuh Suci menjadi terguncang pelan, tapi bukan lagi karena efek perc*intaannya dengan Sepri. Melainkan karena ucapan Ojan yang masih saja berisik menggod*a mereka. Dan baru saja, bersama deru napas yang terdengar makin lemah dari Sepri, wajah suaminya itu terbenam persis di sebelah wajahnya. Walau tak lama berselang, wajah itu mendadak ada di hadapannya. Sepri menatapnya dengan panik.
“Kenapa, Mas?” lirih Suci yang perlahan menyudahi kedua tangannya dari bibir. Menggunakan kedua tangan itu, ia mengusap wajah maupun dada berikut lengan sang suami yang sudah penuh keringat, hanya untuk membahagiakan sekaligus memu*a*skan kebutuhan batin mereka.
“Mah, aku kebablasan ... barusan aku keluarinnya ‘di dalam’.” Sepri benar-benar panik karena sebelumnya, mereka sudah sepakat untuk KB mandiri, menunda kehamilan dini, agar mereka bisa istirahat sambil fokus memanjakan Binar. Namun, bukannya marah atau setidaknya ikut panik, Suci yang masih ia tindih justru tertawa geli kemudian memejamkan kedua mata. Suci terlihat pasrah sekaligus santai-santai saja.
“Mah ...,” lirih Sepri masih menagih, menunggu kepastian dari sang istri. Sebab kemungkinan jadi—dan otomatis Binar akan punya adik, benar-benar besar karena Suci pun sedang di masa subur.
“Legaaaaa banget ya, Pri? Akhirnya, di rumah ini cuma tinggal aku yang perjaka. Duh, kalau gini caranya, aku jadi takut diji*lat seton! Priii, aku takut, Pri!”
Kali ini, Sepri yang masih deg-degan, takut dimarahi Suci, tak lagi bisa tertawa. Lain dengan Suci yang jadi makin lemas karena menertawakan ocehan Ojan, tapi susah payah Suci tahan.
“Enggak apa-apa, Pah. Jadi ya alhamdullilah, toh kita sudah nikah. Mamah Septi juga sudah pengin banget gendong anak dari Mas,” lirih Suci masih bertahan memejamkan kedua matanya.
“Kamu kan mau lanjut sekolah, biar minimal jadi Bidan, Mah.”
“Iya, enggak apa-apa. Nanti pasti tetap bisa bagi waktu. Lagian sekarang, aku kan hidup dengan keluarga Mas yang enggak mungkin membuatku kerja rodi. Kalian pasti akan heboh mengurusku, memperlakukanku layaknya ratu. Nanti ke Binar pun, pelan-pelan bisa kita kasih arahan biar enggak tantrum kayak Abee. Bismillah, dikasih yang terbaik.” Detik berikutnya, ia berangsur membuka kedua matanya, sementara kedua tangannya berangsur membingkai dan agak mengangkat wajah Sepri agar mereka bisa bertatapan.
“Bahas anak, aku jadi pengin cepat-cepat punya anak! Punya anak di keluarga ini pasti seru. Pas hamil Binar kan, beneran kurang perhatian Mas!” rengek Suci dan sudah langsung membuat Sepri menahan senyum, selain suaminya itu yang menjadi tersipu malu.
__ADS_1
“Berarti, mulai sekarang kita punya misi bikin adik buat Binar, ya?” ucap Sepri dan langsung disambut tawa kecil oleh Suci yang juga sudah langsung tersipu.
“Enggak tahu kenapa, tiba-tiba saja aku merasa jadi orang yang paling bahagia, Mas!” ucap Suci seiring tawanya yang tak lagi tak tersisa. Ia menggantinya dengan senyum haru, seiring kedua tangannya yang buru-buru mendekap kepala Sepri.
“Bismilah, ... selamanya akan begitu!” ucap Sepri dan sudah langsung diaminkan oleh Suci.
“Sekarang istirahat sebentar. Habis itu kita mandi, salat sepertiga malam. Habis itu, boleh minta lagi?” ucap Sepri sengaja memberi instruksi sekaligus meminta jatahnya lagi.
Suci yang mendengarnya langsung menahan senyum sambil mengangguk-angguk. “Boleh, Mas. Boleh banget! Berarti ini wajib pasang alarm biar bisa rebus air buat mandi.”
“Memangnya Mamah belum tahu kalau tiga hari lalu, di sini sudah pasang air panas?” sergah Sepri yang perlahan memisahkan diri Suci.
“Oh, ya?” Suci menatap tak percaya wajah Sepri. Ia meraih selimut dari sebelahnya, kemudian membaginya kepada Sepri hingga mereka sama-sama menyelimuti tubuh satu sama lain menggunakan selimut tersebut.
“Iya ... kemarin saja Binar sudah praktek mandi pakai shower hangat,” yakin Sepi sambil menatap Suci yang juga masih menatapnya.
“Niat banget membahagiakan anak istri, ya?” ucap Suci yang kemudian mendekap manja tubuh sang suami. Bahkan, ia sengaja menjadikan bahu kanan suaminya untuk bantal kepalanya.
Diperlakukan seperti itu, Sepri hanya tersipu. Pria itu terlalu bahagia apalagi kini, apa yang ia alami menjadi pengalaman pertama untuknya. Lebih membuatnya makin bahagia lagi, karena semua yang ia lakukan itu juga sudah sukses membuat Suci bahagia.
__ADS_1