Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
74 : Air Mata Bahagia


__ADS_3

Perginya Binar yang begitu lengket kepada Sepri, membuat Budi linglung. Tak ada lagi tatapan sedih apalagi kehilangan dari Binar, layaknya dulu. Kini, mata Binar hanya sibuk sekaligus tertuju kepada Sepri.


“Ayah, di apur dekat tanggul sana banyak ikannya loh!” ucap Binar.


“Ngapain jauh-jauh ke tanggul sih Nar. Kalau di belakang rumah kita saja ada kolam ikan. Tinggal ambil saja kalau mau makan ikan!” balas Ojan yang sudah kembali duduk sekaligus membonceng di depan Sepri.


“Oh iya yah Kak Ojan, ... aku lupa. Padahal di kolam kan ikannya juga banyak banget. Gede-gede mirip bude Nurma!” jujur Binar tapi sudah langsung sukses membuat Ojan tertawa.


“Bude Nurma emang gede!” teriak Ojan sambil melepas kacamata pinknya demi menatap Nurma di belakang sana dengan lebih jelas.


“Semp*rul emang si Ojan. Bilang aku gede ... gede. Gede apaan?!” batin Nurma benar-benar kesal. Saking kesalnya, ia sampai mengangkat jari te*ngah dan mengarahkannya kepada Ojan. Hanya saja, Ojan yang masih menatapnya, justru balas menunjuk jari teng*ah sebelah kiri kemudian menggunakannya untuk mengu*pil. “Su*eee emang dasar tuh orang ota*k seons!” gerutunya yang kemudian menatap sebal Budi yang ia pergoki melow memandangi undangan pemberian Ojan.


“Mereka saja sudah mau nikah, Mas. Mau ada acara resepsi besar-besaran. Loh kita, jangankan resepsi seperti yang pernah Mas janjikan, ijab kabul lagi saja belum!” sinis Nurma sengaja menyindir.


“Ijab kabul resepsi, tanpa itu saja kamu doyan. Suami melipir dikit langsung dicurigai! Emang cangkem(mulut) kamu yah Nur!” semprot ibu Syamsiah masih saja tidak terima jika putranya disenggol oleh Nurma. “Enggak mau dipegat(cerai), tapi kalau ada apa-apa serba nyindir!”


“Priiiii, pamali Priiii! Ini kita langsung pulang, jangan mampir ke mana-mana takutnya malah magrib-magrib masih di jalan bahkan lewat kuburan. Itu waktunya demit pada berkeliaran, Pri!” Ojan benar-benar bawel, tapi yang dibaweli tetap adem dan malah mengajak Binar untuk hafalan doa-doa.


***

__ADS_1


Tanpa terasa, waktu berjalan dengan cepat. Semua persiapan rampung dan janur kuning telah menghiasi sekitar kediaman dokter Andri dan ibu Septi.


Aura bahagia terpancar sempurna dari setiap wajah di sana. Sound sistem mulai dicek dan sengaja diatur dengan suara tidak begitu kerasa, selain arah pembuangan suara yang sengaja dijauhkan dari klinik, mengingat rumah ibu Septi bersebelahan dengan klinik.


Jika kalian kondangan dengan seragam pink, berarti kalian menjadi pasukan Ojan. Namun jika kalian memakai seragam bernuansa biru dongker, berarti kalian selaras dengan keluarga pak Kalandra dan ibu Arum. Akan tetapi jika kalian bagian dari keluarga pengantin, kalian wajib memakai nuansa keemasan. Hanya saja jika kalian memang berniat menghabiskan isi prasmanan, kalian cukup bawa baskom, kontainer, atau wadah lainnya tanpa harus bingung dengan seragam.


Di dalam rumah, Suci yang sudah memakai kebaya pengantin warna putih, tengah merasakan ketegangan luar biasa. Karena meski kini bukan pernikahan sekaligus ijab kabul pertama dalam hidupnya, pernikahannya dan Sepri benar-benar dihadiri oleh banyak orang penting. Saksi nikah saja para anggota DPRD setempat dan bahkan Bupati.


“Ayo, Mbak ....” Sundari tersenyum manis mengulurkan kedua tangannya kepada Suci. “Jangan tegang. Sudah dari kemarin enggak bisa tidur, eh ini demam panggung. Yuk, Mas Sepri sudah nunggu.”


“Mbak, aku juga jadi pagar ayu. Sepri bilang, aku enggak diterima jadi teman pengantin laki-laki. Si Sepri meragukan kejan*tananku gara-gara aku nekat pakai beskap pink sama blangkon pink, Mbak!” ucap Ojan yang baru saja datang dan sudah langsung membuyarkan ketegangan Suci. Suci yang sedang dibenarkan posisi mahkota di atas kerudung putihnya refleks tertawa.


“Heh!” refleks Sundari sudah langsung mengomel, “Pakai beskap saja diomeli mas Sepri. Apalagi kalau sampai mahkota ini dan ini memang punya Mbak Suci?”


“Lahhh ... itu kan punya Mbak Suci, bukan Sepri!” balas Ojan ngeyel.


“Sudah jangan bikin Mbak Suci ngakak sampai nangis,” tegur Sundari lagi.


“Ih, Mbak. Aku enggak minta kamu buat ngakak sampai nangis loh, jadi jangan minta tanggung jawab. Kalau Mbak mau minta tanggung jawab, tuh ke si Sepri. Kan Sepri yang nikahin Mbak. Apalagi kan sejak awal aku tahu Sepri naksir Mbak, Mbak sudah langsung jadi janda terl*arang buat aku!” ucap Ojan yang memang tak mau disalahkan.

__ADS_1


Drama ocehan Ojan terus berlanjut bahkan meski adik laki-lak Suci yang akan menjadi wali, sudah datang menjemput bersama ibu Manis.


“Alhamdullilah, Ci. Kamu bakalan jadi orang ‘keterima’!” bisik ibu Manis sembari menggenggam kuat-kuat sebelah tangan Suci keluar dari kontrakan Suci tinggal.


Suci tersenyum haru kemudian menoleh sekaligus menatap kedua mata sang ibu, meski kedua kaki mereka masih kompak melangkah dengan hati-hati. “Bismilah yah, Bu. Sekali lagi, terima kasih banyak karena semua rezeki sekaligus kebahagiaan yang aku rasakan juga tetap bagian dari doa terbaik Ibu. Dan sekali lagi ... sekali lagi ... mohon doa restunya Bu. Semoga, ini menjadi pernikahan terakhirku. Semoga, ... aku dan Mas Sepri bisa jodoh dunia akhirat! Karena memang pria sangat tanggung jawab seperti mas Sepri yang aku butuhkan sebagai suami sekaligus imam!” ucap Suci lirih tapi terdengar dalam bahkan oleh telinganya sendiri.


Ibu Manis yang sudah berlinang air mata, segera mengangguk. “Jangan nangis. Ini kamu udah cantik banget. Anak Ibu beneran cantiknya pakai banget. Ibu sampai pangling!” isaknya.


Sundari dan Ojan yang masih di belakang ibu Manis dan Suci, jadi ikut terbawa suasana. Keduanya tak hanya menitikkan air mata. Karena baik Sundari apalagi Ojan, sampai ingusan. Malahan, Ojan justru memeluk Sundari kemudian membenamkan wajahnya di punggung Sundari.


“Mas ... Mas. Ini aku jadi susah loh angkat ekor kebaya pengantin mbak Suci!” protes Sundari yang memang memperlakukan ekor kebaya pengantin Suci dengan sangat hati-hati. Tentunya, ia dan Ojan juga wajib menjaga sikap karena sudah banyak kamera turut merekam mereka. Baik kamera dari fotografer pernikahan dan salah satunya Akala. Maupun kamera para tamu sekaligus semua yang ada di sana.


Jika kalian bertanya di mana Binar, bocah perempuan yang berdandan layaknya Suci, sudah duduk di sebelah Sepri. Binar duduk di antara Suci dan Sepri.


“Ayah, itu Mamah!” heboh Binar benar-benar antusias.


“Masya Alloh setegang ini. Hatiku berbunga-bunga, tapi aku terlalu gugup,” batin Sepri memberanikan diri untuk menoleh ke belakang hingga tatapannya mendapati calon istrinya yang kini sangat cantik melebihi bidadari. “Ya Allah ... Masya Allah ... beneran itu ... benar wanita secantik Suci akan jadi istriku? Alhamdullilah ... alhamdullilah ... makasih banget ya Allah. Aku janji, hidup matiku hanya untuk membahagiakannya. Aku akan melakukan semuanya demi kebahagiaan keluarga kecil kami, agar kami bisa selalu bersama-sama, bahkan di kehidupan selanjutnya!” batin Sepri refleks tersenyum membalas Suci, meski karena itu, butiran bening jatuh dari kedua sudut matanya.


“Ini air mata bahagia ...,” batin Suci dan Sepri yang masih tersenyum dan kerap bertatapan, tapi juga sesekali menitikkan air mata. Air mata bahagia.

__ADS_1


Jadi, kalian ada di mana? Mau duduk sebelahan sama Budi sekeluarga atau malah persis di sebelah Nurma?


__ADS_2