
“Sudah ...?” lirih Sepri yang kemudian menuang setiap gelas menggunakan air panas dari panci.
Keesokan harinya, singkong keju yang Suci dan Sepri buat, menjadi teman sarapan di rumah ibu Manis. Ada segelas kopi hitam untuk Sepri, segelas teh manis untuk ibu Manis, segelas susu cokelat milik Binar, juga segelas susu stroberi dan tak lain susu hamil untuk Suci. Yang mana lagi-lagi, ibu Manis memergoki Sepri turut sibuk membantu Suci menyiapkan semua itu. Hanya saja, ibu Manis sengaja pura-pura tidak melihat dan justru menyibukkan diri. Padahal kedua matanya dengan jeli merekam setiap keromantisan Suci dan Sepri.
Nuansa hubungan Sepri dan Suci memang sangat berbeda dari hubungan Suci dengan Budi, dan ibu Manis mengakuinya. Memang masih romantis terbilang normal, tapi bagi ibu Manis, interaksi keduanya benar-benar manis.
“Binar sudah tahu kalau dia mau punya adik? Ibu perhatikan, dari kemarin semenjak kalian baru datang, Binar jadi perhatian banget ke mamahnya. Binar sudah sibuk berusaha menjaga adiknya yang di perut mamahnya,” ucap ibu Manis sengaja mendekati Sepri yang sedang mengawasi Binar, di halaman depan rumah ibu Manis.
Di dekat jalan sana, Binar yang sudah mandi, tengah berusaha menangkap capung menggunakan jaring khusus yang Sepri buatkan. Binar tampak sangat bahagia dan begitu serius menangkap setiap capung yang dijumpai di antara rumput yang masih basah oleh embun pagi khas suasana pedesaan.
Kini, semuanya kembali ke kebersamaan Sepri dan ibu Manis. Sepri yang memang masih kaku sekaligus canggung jika untuk urusan interaksi dengan orang apalagi ibu Manis, refleks tersenyum sambil menunduk santun. “Kemarin saat mamahnya mengabarkan bahwa memang hamil, Binar memang langsung tanya-tanya. Dan saya sengaja menjelaskan, andai Binar punya adik, berarti Binar jadi ada teman. Jadi kalau mau ngapa-ngapain juga seru. Dari punya pakaian atau mainan bisa kembaran, ke mana-mana bareng, saling sayang ... baru dikasih arahan gitu saja, Binar sudah langsung seneng banget, Bu. Alhamdullilah, Binar tumbuh jadi anak yang pintar. Sekarang pun, anaknya makin rajin. Salatnya enggak pernah putus, sore juga rutin TPQ, puasa Senin Kamis pun mulai ikut meski saya dan mamahnya belum izinin full.”
“Puasa Senin Kamis?” lirih ibu Manis sembari menatap Sepri penuh terka. Namun ia yakin, ada alasan kuat kenapa sang cucu sampai mengenal puasa Senin Kamis.
Sepri yang masih membatasi pandangannya kepada ibu Manis, dan cenderung menunduk, berangsur mengangguk-angguk. “Kebetulan saya sudah terbiasa Senin Kamis, Bu. Kemarin mamahnya Binar sempat ikut juga. Namun karena tahu mamahnya Binar sedang hamil, dan kami pun mau jaga banget biar enggak mengikuti jejak saya, ya sebisa mungkin distop dulu. Jadi, alasan Binar kenal puasa Senin Kamis ya karena setiap saya dan mamahnya sahur, Binar ikut. Jadi ya ... jadi kebiasaan.”
Dalam hatinya ibu Manis berujar, kenapa Sepri masih saja canggung sekaligus kelewat santun kepadanya, padahal ia berharap, mereka biasa-biasa saja. Terlebih sejauh ini, ibu Septi apalagi Ojan, sangatlah bar-bar. Dan karena sikap keduanya yang bar-bar itu juga, ibu Manis merasa tidak ada perbedaan kasta, meski keluarga Sepri memang berasal dari keluarga berada.
__ADS_1
“Binar, sini rambutnya dikuncir dulu, biar enggak berantakan,” seru Suci dari belakang. Suci membawa tas kecil dan memang berisi sisir sekaligus aneka ikat rambut sekaligus jepit.
Sepri dan ibu Manis sudah langsung menjadikan kedatangan Suci sebagai fokus perhatian. Tampak Binar yang juga sudah langsung menghampiri Suci sambil berlari. Di depan rumah semi permanen yang berada di tengah sawah dan memiliki halaman luas, kebersamaan di pagi ini terasa sangat hangat walau tanpa banyak suara apalagi kemewahan.
“Yayah tolong jagain jaringnya!” seru Binar sangat bersemangat.
Sepri sudah langsung mengambil jaring yang Binar titipkan kepadanya. Namun kemudian, Sepri sengaja menggunakan jaringnya dan langsung berhasil mendapat beberapa capung. Binar sudah langsung heboh karenanya.
“Bentar Yayah taruh di toples ya,” ucap Sepri bersemangat.
“Kasihan Yayah. Capungnya juga pengin main. Buat main biasa saja, dan jangan lama-lama. Kasihan,” ucap Suci sambil terus mengikat rambut Binar menjadi dua bagian—kanan kiri dalam ikatan tinggi.
“Bu, hari ini mamahnya Binar pengin jalan-jalan. Mumpung lagi libur dan Binar pun juga libur. Jadi, Ibu sekalian ikut ya. Nanti sekitar pukul sembilan kita berangkat jalan-jalan pakai mobil,” ucap Sepri bersamaan dengan Suci yang beres menguncir rambut Binar.
Detik selanjutnya, Suci langsung tersenyum lantaran sang ibu sudah langsung meliriknya sambil mesem.
“Jadi manja yah, sekarang?” ucap ibu Manis sambil menahan senyumnya, dan menatap sang putri semata wayang dengan lirikan penuh arti.
__ADS_1
Tanpa bisa dicegat, ulah sang ibu membuat Suci refleks tertawa. Kemudian, Suci juga refleks mendekap manja tubuh sang suami dari samping. “Ibu jangan ikut-ikutan almarhum yang belum meninggal dan apa-apa serba kejam padahal mereka jauh dari kata sultan. Lagian, suami sama mertuaku yang sekarang juga minta aku buat istirahat sekaligus menikmati hidup secara total!” rengek Suci dan sang mamah yang menjadi tersipu, berangsur geleng-geleng sambil mengakhiri lirikannya kepada Suci.
“Hanya kita, si Paojan enggak diajak?” tanya ibu Manis yang mendadak teringat Ojan, terlebih biar bagaimanapun jalan-jalan yang akan mereka jalani bertujuan untuk senang-senang. Karena entah kenapa, ia merasa sangat bersalah andai bersenang-senang tapi tanpa Ojan.
“Kak Ojan diajak saja Pah. Kita mau jalan-jalannya ke mana, sih?” Binar sudah langsung heboh, yang mana sekitar dua jam kemudian, Ojan sudah ada si dalam troli berukuran besar, dan didorong langsung oleh ibu Manis.
Ojan tak mau kalah dari Binar yang dimasukkan ke troli belanja oleh Sepri di mal kunjungan mereka dan memang ada di kabupaten.
“Ini gantian dong, Jan. Mbah ya encok lah kamu ini!” omel ibu Manis menyerah karena kewalahan mendorong Ojan yang menjelma jadi balita tak tahu diri.
Sepri dan keluarga kecilnya sengaja meninggalkan kebersamaan ibu Manis dan Ojan. Toh, ibu Manis juga yang ingin Ojan ikut. Jadi, andai Ojan malah hanya merepotkan mertuanya itu, Sepri beranggapan kenyataan tersebut tak ubahnya bonus untuk ibu Manis.
Membeli kebutuhan bulanan, Suci yang juga mengurus segala sesuatunya, tak lupa membelikan keperluan untuk penunjang penampilan Sepri. Saking dirawatnya sang suami, selain jadi bikin pangling karena tentu saja beda dari sebelum mereka menikah, ibu Septi sampai berterima kasih sekaligus berdalih, gara-gara dirawat Suci, Sepri jadi terlihat layaknya manusia tulen. Entah apa yang ibu mertuanya Suci itu pikirkan, tapi Suci akui, cara pikir ibu mertuanya benar-benar ajaib. Namun sejauh ini, baginya, ibu Septi dan dokter Andri, benar-benar jadi mertua idaman.
“Alhamdullilah, Ci. Sejak nikah sama Sepri, jalan-jalan pakai mobil bahkan belanja di mal, jadi hal biasa buat kamu sama Binar. Semoga, kalian bahagia terus. Semoga, kalian juga tetap bersahaja dan enggak pernah sombong. Apalagi Sepri kan sebegitu sederhananya, semoga memang ini yang terbaik buat kalian,” batin ibu Manis merasa sangat adem, sangat damai menyaksikan interaksi Suci dan keluarga kecilnya.
“Pri, aku juga mau susu meski aku belum hamil. Jangan cuma Mbak Suci yang disediakan stok susu hamil dong Pri!” rengek Ojan masih bertahan di dalam troli milik ibu Manis.
__ADS_1
“Sebenarnya kamu mikirnya gimana? Masa iya kamu pengin hamil?” omel ibu Manis.
Suci dan Sepri bahkan Binar, sudah langsung tertawa menyaksikan Ojan yang seketika mendapat siraman rohani dari ibu Manis.